
Ditempat lain setelah kepergian Gwera dan Nara, suasana dimeja warung nasi soto yang mereka datangi terasa hening meskipun warung tersebut masih cukup ramai. Namun tak ada kata kata yang bisa membuat mereka bertiga merasa nyaman. Hingga akhirnya Sayyaraa memutuskan untuk kembali ke rumah dengan menaiki ojek online yang sudah dia pesan.
"mmm permisi kak Haru, ojol saya sudah datang. saya permisi pulang dulu."
"hhmm." jawab Haru singkat.
"Sakura, aku pulang dulu ya. jangan terlalu dipikirkan kata kata Gwera tadi. mungkin dia cuma kebawa emosi. kan tahu sendiri gimana tadi dia di sekolahan." pamit Sayyara pada Sakura seraya menenangkannya.
"iya, aku nggak akan sedih dengan kata kata Gwera kok. Dia pasti punya alasan untuk apa yang dia katakan. kamu pulangnya hati hati ya. maaf aku nggak bisa anter kamu pulang." jawab Sakura dengan raut muka yang tetap terlihat sedih meski sudah ditutup tutupi.
"iya, kamu juga hati hati. mari kak haru." lalu Sayyara pun pergi dengan ojol yang dipesannya.
Sedangkan Haru dan Sakura pun juga bersiap untuk pergi meninggalkan warung soto tersebut.
Dimobil, Haru tetap saja memasang wajah masam. seperti marah, kesal, tapi sekaligus senang. Sakura yang baru pertama kali melihat wajah kakaknya yang seperti itupun memberanikan diri menanyai sang kakak.
"kak, kenapa kaka tadi bicara seperti itu pada Gwera? dia kan hanya membantu Sakura kak. dan setelah dipikir pikir apa yang dikatakan Gwera memang benar kak. Tidak seharusnya Sakura membicarakan keburukan orang lain meskipun orang itu pernah berbuat salah pada Sakura. Jika Sakura yang diperlakukan seperti itu Gwera pasti juga tidak akan terima. Apalagi kak Siska sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatanya lagi." kata Sakura panjang lebar menjelaskan apa yang ada di pikirannya pada kakaknya.
__ADS_1
"Tapi kakak nggak suka dia lihatin kamu kayak gitu dek, seolah olah kamu gak boleh ngomong apa yang terjadi padamu disekolah pada kakak. kakak kan berhak tahu masalahmu disekolah. kakak nggak mau kamu disakiti lagi seperti saat kamu SMP dulu." jawab Haru menggebu gebu.
"iya kak, Sakura tahu. tapi mungkin maksud Gwera bukan itu. tadi kakak nggak lihat ada banyak anak sekolahan yang memakai seragam sama seperti Sakura. mungkin Gwera pikir jika mereka mendengar masalah ini dan menyebarluaskannya itu bisa menjadi masalah baru lagi." jawab Sakura mencoba membela Gwera. karena kedekatanya dengan Gwera yang terjalin hampir 2 tahun masa sekolah itu, dia bisa sedikit mengerti dengan jalan pikir Gwera.
"kamu yakin dia hanya bermaksud begitu? tegas Haru.
" iya kak. kakak kenapa sih selalu saja berpikiran buruk tentang Gwera?" selidik Sakura karena merasa Haru selalu negative thinking pada Gwera.
"ya habisnya kamu selalu aja belain Gwera. kakak masih inget waktu pertama kali kakak ketemu dia. waktu itu kamu juga kena masalah kan. trus waktu kita mau pulang, nggak sengaja kita lihat dia berantem sama preman di halte dekat sekolah. apa tuh namanya kalau bukan anak badung?" sanggah Haru atas tuduhan Sakura yang mengangggapnya selalu negative thinking ke Gwera.
"iya iya terus aja belain Gwera. sampe segitunya amat sih dek kamu belain Gwera? kakak jadi penasaran, sebenernya kamu dikasih apa sih sama Gwera sampe gitu banget ngebelainya. padahalkan dia bukan siapa siapa. tapi kamu terus aja jawab omongan kakak kalau menyangkut Gwera." oceh Haru karena merasa kesal pada Sakura.
"Gwera tuh udah kayak kakak aku sendiri di sekolahan kak. dia selalu jagain Sakura, nemenin Sakura dan ngajarin Sakura banyak hal. Dia juga ngajarin Sakura gimana caranya ngelawan kalau ada orang yang jahat ke Sakura." jelas Sakura pada Haru, agar kakaknya itu tidak terus terusan berburuk sangka pada Gwera.
"sesuka itu kamu pada Gwera? sampai sampai menganggap dia seperti kakakmu sendiri?".
" iya kak. Sakura suka banget sama Gwera. kalau saja Nara nggak suka sama Gwera, pasti Sakura akan minta kakak untuk jadian sama Gwera." kata Sakura sambil bergumam pelan.
__ADS_1
Tapi tanpa disadari oleh Sakura, Haru mendengar gumamanya meskipun samar samar. Dan tampak senyum tipis dari bibirnya menghiasi wajah tampannya.
sesampainya mereka di apartemen Haru, mereka masuk kekamar masing masing. Haru masih memikirkan tentang apa yang dikatakan Sakura, bahwa sebenarnya Sakura ingin agar Haru dan Gwera bersama, bukan sekedar bersama, tetapi menjadi pasangan kekasih.
Haru mencoba menampik pikiran itu dengan menggelengkan kepalanya, namun kata kata sang adik tetap terngiang dipikirannya. hingga membuatnya senyum senyum sendiri membayangkan bagaimana kisah cintanya jika berpasangan dengan Gwera? apakah dia akan kencan seperti layaknya kekasih pada umumnya? seperti kencan di cafe? di mall? di tempat wisata? atau direstoran mewah seperti yang dikatakan oleh teman temannya semasa kuliah?
Disaat dia beberapa kali menghirup aroma tubuh Gwera, entah itu dari shampoo atau dari parfume Gwera. Tak pernah dia melupakan aroma yang begitu membuatnya tak bisa menahan diri jika bertemu dengan Gwera, sering kali dia merasa marah jika Nara datang bersama Gwera atau menjemput Gwera pulang. Dia sering tak bisa mengontrol diri seusai menjemput adiknya pulang, karena ketika menjemput Sakura pulang maka dia akan bertemu Gwera dan juga Nara. maka karena itu dia sering kembali kekantor seusai menjemput Sakura dari sekolahnya dan mengantarkan Sakura kembali ke apartemennya terlebih dahulu sebelum memulai aktifitasnya untuk melupakan rasa yang membuatnya tak karuan.
Sering dia berpikir untuk mencari tahu sebenarnya perasaan seperti apa yang dia miliki terhadap Gwera. Dia tak ingin melihat Gwera bersama laki laki lain, tertawa dan bercanda dengan laki laki lain. setiap dia melihat hal seperti itu, entah dengan Nara atau dengan teman sekolahnya yang lain maka dia akan emosi.
Terkadang terbesit dipikirannya untuk membuat Gwera menjadi miliknya seutuhnya. hanya miliknya seorang. Haru bahkan pernah memiliki rencana untuk memanfaatkan Sakura. Namun rasa sayangnya kepada adik satu satunya itu membuatnya tak tega memanfaatkan Sakura.
Tapi setelah apa yang didengar dari gumamannya Sakura di mobil tadi, membuat Haru kembali menginginkan Gwera. Dulu dia sempat berpikir, "masih samakah perasaan ini jika suatu saat nanti aku tak bisa memilikinya?". Namun sekarang gairah itu datang lagi, hasrat untuk memiliki Gwera seutuhnya. Meskipun tadi dia berkata kasar pada Gwera, tapi dia tak pernah bermaksud melukai perasaan gadis tersebut. Dia hanya tak bisa mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya. entah sejak kapan dia menjadi seperti itu. Seolah olah apa yang ingin dia katakan dan lakukan untuk Gwera selalu saja tak sejalan dengan tindakanya.
Haru tak merasakan lelah dibadanya setelah dia membersihkan diri dan selalu memikirkan Gwera. hanya senyum yang selalu ada di wajahnya. Dia berpikir untuk membuat rencana agar Gwera bisa menjadi miliknya. tentu saja dengan bantuan sang adik. Namun yang menjadi penghalang baginya saat ini adalah Nara, teman dekat Gwera. yha untuk sementara dia hanya ingin beristirahat dan membayangkan Gwera berada disampingnya. Tanpa mau memikirkan orang lain yang mungkin ada di sekitar gadis itu.
______________________________________________
__ADS_1