Kata & Rasa

Kata & Rasa
Gwe pahlawanku


__ADS_3

Sakura Pov


Aku baru beberapa bulan tinggal dikota ini, asalku dari daerah pinggiran kota. Sejak kecil aku memang agak pendiam, itu karena wajah dan perawakanku lebih mirip ayah daripada ibu. Ayahku berasal dari Jepang, sedangkan ibuku asli orang Indonesia. Kata ayah beliau bertemu dengan ibu saat ayah dimutasi dari Jepang ke Indonesia. Ayah dulu kagum pada ibu yang giat bekerja dikantornya, ya meskipun sebagai pegawai kantoran biasa. Tapi atas ide dan saran dari ibu perusahaan ayah mendapatkan thender yang bernilai besar. Setelah itu mereka menjalin hubungan dan menikah, sampai sekarang mereka masih saling bekerja sama dalam berbagai hal. Meskipun ibu sudah tidak bekerja lagi di perusahaan ayah.


Nama ayahku Suki Michiro, sedangkan nama ibuku Ratna Dewi. Ibu adalah orang yang sangat aku sayangi, selalu ada disaat aku terpuruk. Ayah juga menjaga dan menyangiku, tapi beliau harus sering keluar kota untuk mengurusi cabang kantor ayah disana. Aku juga mempunyai kakak laki laki yang masih kuliah dijurusan bisnis manajemen di kota yang sama dengan kota yang aku tinggali sekarang. Namanya Haru Michiro.


Kakak adalah orang pertama dari keluargaku yang tahu kalau aku dibully saat SMP. Dia sangat marah saat itu karena aku tak pernah bilang apa apa pada keluarga tentang kasus bullyingku. Pikirku saat itu kakak pasti sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir sekolahnya di SMA dan ujian masuk Univeritas di kota. Padahal sebelumnya aku sering bercerita pada kakak tentang apapun yang ingin kuceritakan, daripada dengan ibu yang pasti lelah dengan semua kegiatan sebagai ibu rumah tangga, ditambah membantu ayah dengan pekerjaan kantornya yang sering dibawa pulang kalau ayah tidak menginap dikantornya.


Dari dulu aku memang pendiam, tapi tak separah setelah kasus bullying yang aku alami. Saat itu aku masih kelas 7 smp semester 2.


Flashback


"Hai adik kelas, cantik banget. Kenalan dong, nama kakak revan dan ini temen temen kakak, toni sama dino." Kata kakak kelas yang sepertinya juga anggota OSIS sambil mengayunkan tangannya untuk bersalaman denganku.


"Halo kak, aku sakura." jawabku sekenanya sambil menjabat tangannya dan sedikit senyum. Aku masih setia menunggu kakakku menjemputku. karena kakak tidak memperbolehkanku naik angkutan umum selama kakak masih bisa mengantar dan menjemputku. katanya mumpung kakak masih disini dan belum mulai kuliah dikota. usia kakak dan aku yang terpaut sekitar 5 tahunan membuat kakak selalu menganggapku sebagai adik kecilnya yang tak pernah dewasa.


Tak lama setelah perkenalan dengan kakak kelas itu, kakak datang dengan motor maticnya.


"Permisi kak saya duluan." akupun pamit pada kakak kakak kelas yang masih betah berdiri didepanku.


"Iya sakura, hati hati ya." jawab kak Revan sambil senyum ke kakaku yang meliriknya dengan pandangan yang aneh menurutku.


Saat dijalan aku terus terusan diinterogasi oleh kakaku.


"Tadi siapa dek?"


"tadi kakak kelas yang minta kenalan denganku kak, dia sepertinya juga anggota OSIS." jawabku santai, karena memang begitu adanya.


"yakin cuma kakak kelas yang minta kenalan? bukan gebetan? atau jangan jangan kamu udah pacaran lagi?" waw pertanyaan beruntun kakak malah membuatku jadi ingin ketawa. Dia seperti ibu yang sering bertanya padaku tentang teman dan orang orang disekolahku.


"yakin kak, jangankan gebetan apalagi pacaran, aku saja kenal kak revan juga barusan."


"terus kok kamu bisa tau kalau dia anggota OSIS? katanya baru kenal?"


"memang baru kenal kak, tapikan dia saat MOS dulu juga sempat memperkenalkan dirinya. makanya aku tau."


"ohh gitu, emmm....."


"kenapa kak? kok kayaknya mau ngomong sesuatu tapi nggak jadi?" tanyaku karena nadanya yang menggantung pembicaraan.


"nggak, kakak cuma nggak mau kamu pacaran dulu. kamu masih terlalu kecil buat ngerti soal pacar pacaran. masih banyak ilmu dan pelajaran dikehidupan ini yang masih harus kamu dapetin. ngerti?"


"iya kak, lagian siapa yang pacaran sih? aku kenalan kan siapa tau bisa jadi teman yang baik. kata ibu banyak teman itu lebih baik daripada banyak musuh."


"iya, pokoknya kakak mau kamu harus utamakan belajar daripada hal hal yang nggak penting seperti itu."


Sampai dirumah aku langsung salim dan mencium punggung tangan ibu, masuk kamar, ganti baju dan turun keruang makan untuk makan siang yang belum kulakukan disekolah. karena menurutku masakan ibu lebih enak dibandingkan makanan disekolah.


"kakak mana dek? kok nggak dipanggil turun buat makan siang bareng sekalian?" tanya ibu yang belum melihat kakak dikursi tempat biasa kakak duduk untuk makan.


"nggak tau bu, sebentar ya bu sakura panggilin kakak dulu."


aku naik ke atas lagi menuju kamar kakak. 'Tok tok...' "kak mau makan siang bareng nggak? udah ditungguin ibu nih."


"Iya dek bentar kakak masih ganti baju, kamu turun duluan nanti kakak nyusul."


tak berapa lama kakak turun dan ikut makan siang bersama.


3 minggu kemudian


Disekolah aku merasa agak kurang myaman, pandangan kakak kakak kelas tidak seperti biasanya saat aku melewati lorong kelas 8.


"nana, kenapa ya aku merasa pandangan kakak kelas agak menakutkan?" tanyaku pada nana yang berjalan bersamaku ke kelas kami.


"entahlah sakura, aku juga merasa agak takut. pandangan mereka lebih seram daripada pandangan guru BK saat menghukum murid yang bandel." jawab nana sambil mengusap usap lengannya seperti kedinginan.


tiba tiba langkah kami terhenti oleh kedatangan kak Siska, wajahnya seperti orang yang menahan marah.

__ADS_1


"Sakurakan? ntar pulang sekolah temui gue dikelas gue, kalo lo nggak dateng gue samperin lo kekelas atau bahkan kerumah lo."


Ada apa ini? kenapa aku malah jadi seperti tersangka kasus pencurian?


"i iya kak..."


sepulang sekolah


aku menghampiri kak siska dikelasnya sendirian tanpa teman. disana juga ada teman teman kak siska, kak revan dan teman temanya yang aku lupa namanya.


"a ada apa ya kak?" tanyaku dengan gugup.


"nggak usah sok polos deh lo!" bentak kak siska sambil mendorongku dengan keras hingga aku terjatuh.


"sis udahlah sis, gue minta putus dari lo tuh karena sikap lo yang kasar kayak gini. bukan karena orang lain apalagi sakura!" teriak kak revan yang langsung memghampiri kak siska.


"bohong lo, beberapa minggu yang lalu gue liat lo didepan gerbang sama ni cewek. ngapain kalian disana kalo lo gak digodain dia?"


"gue pengen kenalan sma dia, kenapa? ada yang salah? daripada lo nyalahin orang lain mendingan lo ngaca dulu kenapa gue bisa minta putus dari lo. gue nggak tahan sama sikap kasar lo yang kayak gini, teriak teriak ke orang laen, bentak bentak orang seenak lo!" bentak kak revan ke kak siska yang membuat kak siska langsung mengangkat kursi dan membantingnya kebawah tanpa melihat kalau aku masih terduduk disini karena tak berani beranjak saat mereka masih bertengkar tadi, dan akhirnya... 'brakkk....


"aaakkhhhh" jeritku kesakitan saat kursi itu menghantam kakiku. semua yang disana kaget dan langsung menghampiriku.


"sakura, kamu nggak papa?" tanya kak revan dengan panik karena melihat kakiku yang berdarah terkena patahan kayu tajam dari kursi yang dibanting kak siska tadi.


"hu hu sakit kak..." tangisku sambil menahan rasa perih di kakiku yang coba kugerakan. aku mencoba berdiri dibantu kak revan dan beberapa teman kak siska.


"sis gue nggak mau ikut campur masalah lo kalo kayak gini." ucap salah satu teman kak siska yang langsung diiyakan dengan teman kak siska yang lain. "van gue pulang dulu deh, gue nggak mau ikutan kalo ada kekerasannya kayak gini." teman teman kak siska langsung pergi setelah berkata begitu.


"Toni, Dino sini bantuin gue mapah sakura ke uks." pinta kak revan ke teman temannya.


"iya ayo." jawab teman temannya bareng.


"dan buat lo siska, gue bakal laporin kejadian ini ke bk. gue yakin para guru juga belum pulang semuanya." sinis kak revan ke kak siska.


"tapi van, gue nggak sengaja." bela kak siska yang aku yakin itu memang benar.


"lo udah ngedorong dia, trus lo banting kursi ke dia. lo bilang nggak sengaja? trus gue mesti percaya sama lo yang udah gue hafal kelakuan lo kayak gimana gitu? jangan ngarep lo!" kata kak revan sambil berbalik dan mulai memapahku keruang uks.


"ada nomornya kakakku kak." kataku sambil menyerahkan handphoneku dan mulai memanggil kak haru. kulihat kak revan sedang berbicara ditelephone dan agak sedikit menekuk wajahnya seperti orang yang menyesal, lalu kulirik teman temannya yang masih setia disampingnya dengan pandangan agak cemas ke kak revan.


"giman van?" tanya kak dino.


"bentar lagi kakaknya sakura bakal kesini, kalo kalian mau pulang pulang aja duluan. gue masih harus nemenin sakura disini sampe kakaknya dateng. biar gimanapun ini semua juga karena gue."


"nggaklah bro, kita bakal tetep nemenin lo disini buat nunggu kakaknya sakura." ucap kak toni menenangkan kak revan.


"thanks ya udah setia nemenin gue disaat gue kena masalah kayak gini, gue bersyukur banget punya temen kayak kalian berdua. nggak kayak temen temenya siska yang langsung pada kabur, gue nggak tau ni gimana rasanya diposisi siska. saat seneng aja pada ngumpul kayak semut, lagi kena masalah aja langsung bubar jalan sama juga kayak semut." oceh kak revan dengan tersenyum miris. diangguki oleh kedua temanya pun dengan sedikit senyum untyk lelucon ringan kak revan.


tak lama setelah itu kak haru datang bersama beberapa guru yang belum pulang termasuk guru bk dan juga pak satpam.


"gimana ceritanya kok bisa kayak gini?" tanya bu Indah sebagai guru bk. "Revan, coba cerita ke ibu." kak revan menceritakan semua kejadian bersama kedua temanya, sedangkan beberapa guru wanita langsung membersihkan lukaku dan mencoba menghentikan darah yang keluar.


"darahnya sudah berhenti keluar, tapi lukanya agak dalam dan ada sedikit serpihan kayu didalamnya. sebaiknya langsung dibawa kerumah sakit saja untuk mengeluarkan serpihan kayunya dan menjahit lukanya." ucap seorang guru kepada kakak yang masih cemas dengan keadaanku, aku tidak tau siapa guru itu karena aku merasa kepalaku agak sesikit pusing dan berat, hingga semuanya menggelap.


Begitu aku bangun aku melihat ibu dan kakak ada disamping ranjangku. kulihat atap ruangan yang kutempati. "aah ternyata aku ada di rumah sakit, apa lukaku separah itu sampai aku harus dirawat dirumah sakit." batinku. Kusentuh tangan ibu yang tidur tertunduk disebelah kiriku, dan kakak yang teridur dengan menopang wajahnya. aku baru sadar kalau ayah juga ada disini, sedang duduk disofa sambil melipat kedua tanganya didada dengan wajah ditekuk, yang kuyakin beliau juga tertidur. mereka pasti kelelahan menjagaku.


Ibu terbangun karena sentuhanku, lalu membangunkan kakak dan ayah juga. mereka menanyaiku dengan berbagai pertanyaan yang aku sendiri bingung harus menjawab bagaimana, hingga penyataan ayah membuatku langsung melihat ayah.


"Sakura, mulai bulan depan kamu pindah sekolah ke sekolah yang ada asrama putrinya ya nak? maukan? ayah pikir itu lebih baik, karena kak haru nggak bisa antar jemput sakura lagi, ayah dan ibu juga nggak bisa nemenin sakura terus. nanti kalau ada hari libur ibu akan jemput sakura untuk pulang. bagaimana sakura? ayah juga nggak mau kalau terjadi hal seperti kemarin jika kamu pindah kesekolah yang ada murid putranya. Dan untuk anak yang bernama Siska itu, ayah sudah meminta pihak sekolah untuk menindak lanjuti kasus ini. jika dia bersalah maka dia akan si keluarkan dari sekolah." kata ayah panjang lebar yang membuatku langsung terdiam karena membayangkan jauh dari keluarga yang selama ini menjagaku.


Tanpa sadar air mataku menetes tak mau berhenti, ibu langsung memeluku sambil menangis dan berkata semua akan baik baik saja. kakakpun juga memeluku, kulihat ayah memandang kami dengan rasa sayang bercampur terluka. Ya, keluargaku sangaaat sempurna bagiku. Meskipun sebentar lagi kami akan berjauhan, tapi aku yakin kami masih bisa bertemu dan melepas rindu selama kami masih berhubungan dan menjaga komunikasi kami.


Berapa tahun kemudian saat penerimaan siswa baru di SMK.


Aku akan memulai lagi masa masa mos sebagai siswi SMK, aku mengambil jurusan akuntansi. Saat mos banyak siswa laki laki yang mencoba ngobrol denganku, tapi aku terlalu takut untuk menanggapi mereka. bukan karena apa, tapi aku masih memiliki rasa takut bersosialisasi dengan orang orang disekitarku terutama teman laki laki.


Dikelas yang kutempati, aku melihat ada seorang siswi yang bisa berbicara dengan bebas, seperti tak ada beban untuk memulai perbincangan. membuatku merasa sedikit iri padanya karena dia leluasa mengutarakan pendapatnya ke siswa lain, bahkan ke guru sekalipun. Ingin rasanya aku berbicara dengannya, tapi setiap waktu istirahat dimulai selalu ada seorang siswa yang menghampirinya. sepertinya dia siswa dari jurusan otomotif jika dilihat dari simbol diseragam yang dia gunakan.

__ADS_1


Sebelum waktu istirahat berakhir aku pergi ke toilet. selesai dari toilet aku langsung berjalan menuju kelas. tapi jalanku dihadang seseorang, membuatku terkejut setelah melihat siapa orang yang menghadangku. Ya... senior yang dulu membuatku memiliki trauma seperti ini. siapa lagi kalalu bukan kak siska.


"hey sakura, ketemu lagi kita." katanya dengan senyum yang menakutkan. "lo kok ngikutin gue sampe kesini sih? napa? lo kangen ya sama gue karena udah lama nggak ketemu? hm?" cecarnya sambil menaikan sebelah alisnya.


" Ha halo kak siska, ma... maaf kak.. s..saya harus kembali ke kelas. s..su.. sudah akan mulai jam pelajaran lagi kak." kataku terbata bata karena aku gugup dan gemetaran.


"kenapa buru buru? ngak mau maen kayak dulu lagi? disini udah nggak ada yang ngelindungi lo. nggak kayak dulu yang masih ada Revan." ucapan kak siska membuatku tercengang dan semakin gugup.... tanpa kusadari aku berjalan mundur dan mepet ke tembok sehingga membuat kak siska dengan leluasa bertindak sesukanya seperti ini, menjambak rambutku lalu memiringkan wajahku dan menekanya ketembok.


"lo tau nggak? gara gara lo gue dikeluarin dari sekolah, gue diputusin sama revan, dan parahnya gue mesti pindah kesini ikut tante gue karena ortu gue bilang mereka nggak sanggup lagi ngurusin gue. lo tau nggak gimana rasanya jauh dari keluarga dan tinggal sama sodara yang galak?" bisik kak siska ditelingaku dengan suara yang agak sedikit tertahan seperti orang yang akan mengamuk.


'kalau saja kak siska tau kalau aku juga jauh dari keluargaku karena pindah keasrama dan mengalami trauma, apa mungkin kak siska masih berkata dan bersikap seperti ini?'


"Kenapa lo diem? malah nangis lagi? kenapa? lo takut ya? takut karena nggak ada orang yang nolongin lo lagi kayak waktu itu?"


"Siapa bilang nggak ada yang mau nolongin dia?" ucapan itu sukses membuat aku dan kak siska terkejut.


"Eh anak kecil, nggak usah ikut campur deh lo. ini bukan urusan lo!" hardik kak siska pada siswi itu. Yang aku kenali sebagai teman sekelasku yang bernama gwera. ya,,, siswi yang bertubuh kecil tapi lebih berani daripada aku.


"Ah yang bener ini bukan urusan gue? yakin lo?" senyum mengejeknya membuat kak siska tambah emosi dan langsung melepaskan cekalan tanganya dari rambutku dan menghampirinya.


"maksud lo apa?" bentak kak siska


"masak nggak ngerti sih? lo nggak tau apa gue sama dia tuh temen sekelas?" kata kata gwera membuatku menyadari sesuatu. dia menegenaliku sebagai teman sekelasnya, itu berarti dia memperhatikanku juga selama ini. hal itu membuatku langsung menyunggingkan senyum, hal yang jarang kulakukan selain didalam lingkup keluarga.


"nih kalo nggak percaya liat logo kelasnya. nah kalo udah ngrti mending urungin niat busuk lo yang udah kecium dari kantin. niat lo tuh baunya bener bener busuk banget ngelebihi bangke tikus digot depan rumah gue, sampe gue eneg dan pengen muntah aja dimuka lo." tatapan gwera jadi sinis ke kak siska.


"heh lo nggak pernah makan bangku sekolahan ya? mulut lo tuh kurang ajar banget. baru jadi junior berapa hari aja nyolot banget lo!"


"lhah emang situ pernah makan bangku sekolahan? gimana rasanya? enak? gurih? manis? atau pahit? asem kali ya kalo diliat dari wajah lo. Mending gue baru jadi junior berapa hari udah berani nyolot ke orang yang ngaku senior tapi sikapnya nggak banget kayak lo. senggaknya gue nggak pake kekerasan, lhah kalo lo? ada junior baru berapa hari udah gatel aja pengen ngebully." cecar gwera dengan wajah sok polosnya sambil mengedipkan mata dan bibir yang sedikit menyungging.


"heh brengsek lo, omongan lo tu makin lama makin bikin emosi ya!" teriakan kak siska dibarengi dengan tangan yang siap memukul gwera.


'plakk...' "gimana rasanya ditampar? enak? sakit? atau perih? duh lo ngaku kaka senior kok nggak ada wibawanya sih? rendah banget harga diri lo sampe mau nampar junior lo. gue kasih tau ke lo ya. kalo gue bales omongan lo pake omongan mestinya lo bersyukur, bukan malah mau maen kasar. lo tau nggak? gue bisa lebih dari yang lo buat ke gue, lo baik ke gue, gue juga bisa baik ke lo. tapi kalo lo ganggu gue, gue juga bisa bikin hari lo nggak tenang." pandangan gwera agak sedikit menggelap seperti orang yang menahan marah, tapi senyum mengejeknya tak lepas dari wajahnya yang manis.


"gwera, gimana? udah selesai urusan lo?" tanya siswa yang selalu menghampiri gwera diwaktu istirahat. dia berada didekat kami tapi aku sama sekali tak tahu. mungkin karena terlalu fokus pada kak siska dan gwera.


"udah dong, mestinya udh kelar dari tadi kalo aja nih setan satu nggak pake tangan."


"trus lo nggak apa apa kan?"


"lo yakin nanya gitu ke gue yang lo liat sendiri gue masih berdiri anteng disini, sedangkan lawannya aja udah ngelus ngelus pipi gitu."


"hhhmmhhh.... ya udah kalo gitu ayok balik kekelas, ngapain masih dsni?" ajak siswa tadi membuyarkan lamunanku.


"iye bentar, eh lo cewek cantik wajah pucet, mau bareng kekelas apa cuma mantengin nih orang yang lagi ngelusin pipinya?" ajakan gwera ke aku dengan berteriak membuatku langsung berlari kecil menghampirinya.


"awas lo ya, tunggu pembalasan dari gue. dasar setan lo!" teriak kak siska.


"dih setan teriak setan, nggak ngaca dulu lo? noh kaca banyak dispion motor diparkiran." balas gwera yang membuatku dan siswa tadi senyum senyum sendiri.


"terimakasih ya gwera, salam kenal. namaku....


" stop gue tau nama lo, dan biasa aja sama gue. gue cuma nggak suka ada bullying didepan gue. lagian napa sih tu cewek dendam banget ke lo? mau cerita nggak? kalo nggak sih juga nggak papa, gue nggak maksa. cuma gue sangsi aja kalo bantuin orang yang salah."


"emm nanti sepulang sekolah mau nggak nemenin aku nungguin kakaku, kita bisa sambil ngobrol. aku akan ceritain semuanya."


"emm, gimana nara? bisakan kita pulangnya agak sorean?" tanyanya pada siswa yang ternyata bernama nara.


"bisa aja sih gue."


"ok, gue tunggu ntar didepan kelas gue bareng sama si sakura."


"ok deh. duluan ya, gue balik kekelas."


"yo'i."


sepulang sekolah kami akhirnya bertemu didepan kelas, akupun menceritakan semua kejadian masa laluku.

__ADS_1


Flashback end


awal pertemananku dan gwera memang agak ekstrim, tapi aku suka dengan pertemanan ini. semoga kami bisa berteman selamanya.


__ADS_2