Kata & Rasa

Kata & Rasa
Speechless


__ADS_3

Sayyara Pov


"waw", hanya itu kata kata yang bisa kuucapakan. Setelah melihat kelakuan Gwera yang lagi lagi membuatku sulit untuk mendeskripsikan pikiranku tentangnya. Gimana ya..... dia tuh kayak orang yang berbeda disetiap waktu yang berbeda, sesuai kondisi yang dihadapi. Kadang dewasa, kadang kekanakan, kadang manja, kadang menyeramkan, tapi lebih sering kekonyolan dari pikiran absurdnya yang ditunjukan. yah seperti orang yang memiliki banyak kepribadian. Ini kali kedua aku dibuat speechless olehnya.


Bagaimana tidak, dia bisa membantah semua kata kata kakak kelas yang selalu memusuhi Sakura dengan membalikan kata katanya ke kakak kelas itu yang bernama Siska. Bahkan Gwera bisa menjawab pertanyaan Guru yang menginterogasinya dengan sangat santai dan lancar tanpa rasa gugup apalagi rasa takut jika disalahkan. Kurasa dia selalu benar disetiap perbuatan yang dilakukanya. Atau dia hanya memaksa kami untuk berpikir bahwa apa yang dia lakukan itu memang benar.


Dia bukan orang yang mau disalahkan jika benar, tapi dia juga bukan orang yang akan kabur jika dia salah. Benar benar orang yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya, bukan seorang munafik yang pengecut. Kekagumanku berawal sejak awal aku sekolah disekolah ini. saat itu aku memang sudah sekelas dengannya dan pernah melihatnya membantu Sakura menghadapi kak Siska. Bahkan dia berani menampar kakak kelas itu sebelum dia yang ditampar. Tapi aku jarang berinteraksi dengannya. bukan karena aku pemalu seperti Sakura, tapi lebih tepatnya karena aku tak perduli dengan lingkungan sosial disekitarku. Sampai kata katanya membuatku berfikir apakah selama ini aku memang terlalu cuek pada sekitarku, bahkan keluargaku sendiri?


Flashback


Sesaat setelah jam pelajaran dimulai seusai istirahat, seorang guru datang kekelas dan memanggil Gwera dan Sakura. Sontak semua murid memandangi mereka berdua secara bergantian, Gwera terlihat sangat santai tapi berbanding terbalik dengan Sakura. Karena yang datang memanggil mereka adalah guru BK, Pak Ardi. Berbagai pemikiran muncul dikepalaku, untuk apa mereka dipanggil keruang Bk? Apa karena kejadian didekat toilet tadi? Apa orang yang ditampar tadi mengadu pada Pak Ardi? Ah apa perduliku? lagian itu salah mereka sendiri, siapa suruh baru masuk beberapa hari udah bikin masalah. Tapi kalau dipikir pikir yang membuat masalah itukan si kakak kelas itu. ah bodo amatlah, nggak ada urusanya sama aku ini.


Saat semua murid dikelas ini sedang sibuk memperhatikan bu Susi yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Bagus memanggilku untuk ikut keruang BK. Akupun kaget, kenapa aku dipanggil kesana? aku rasa aku tak melakukan kesalahan apapun. Tapi aku tetap mengikuti pak Bagus yang juga merupakan wali kelasku. Sesampainya diruang bk, aku semakin kaget melihat mata Sakura yang sembab dan raut wajah kakak kelas yang memerah, entah karena tamparan Gwera saat istirahat tadi atau karena menahan marah.


Aku dipersilahkan duduk oleh pak Ardi dan langsung diberi pertanyaan tentang kejadian yang menimpa Sakura. Pak Ardi memperlihatkan cctv dikomputernya dan disana terlihat kejadian yang terjadi saat istirahat tadi.


"Apa kamu melihat kejadian saat istirahat tadi? yang menimpa dua teman sekelasmu dan seorang kakak kelas? Karena kami melihat siluet seseorang dibalik tembok didepan toilet perempuan, dan kata temanmu itu adalah kamu." tanya pak Ardi.


" emm saya hanya lewat kok pak." jawabku mencoba santai karena aku tak mau diikutsertakan dalam masalah apapun yang merepotkan.


"kamu yakin hanya lewat? karena disini terlihat siluet itu yang ternyata adalah kamu, sedang berdiam diri dibalik tembok tanpa mau keluar dari tempat tersebut." jelas pak Ardi. "Tolong katakan apa yang kamu dengar dari perbincangan mereka, karena Gwerani bilang Siska yang mengancam Sakura terlebih dahulu." pinta pak Ardi.


"Saya tidak mendengar apa apa kok pak." kataku mencoba mengelak.


"yakin lo nggak denger apa apa? emang lo budeg apa? jarak sedeket itu lo nggak denger? padahal tempat itu sepi banget, jarang para murid ketoilet itu. padahal kalo di kelas aja lo bisa nyimak pelajaran meski kisruh, lo tetep nyambung nyambung aja tuh kalo ditanya. kenapa sekarang lo mendadak tuli?"


sumpah aku kesel banget sama omongannya, ya meskipun iti bener sih. tapi akukan nggak budeg. aku cuma nggak mau tertular musibah dari mereka. yah akhirnya akupun mengatakan apa saja yang kudengar saat itu, dan menjawab apa yang ditanyakan oleh pak Ardi. kasus itu akhirnya diselesaikan dengan pemanggilan para orang tua dan wakil murid yang bersangkutan, tentu saja tanpa aku, karena aku hanya sebagai saksi. sedangkan Gwera dan Siska mendapat skorsing 3 hari untuk menyesali perbuatan mereka.


saat berjalan kembali kekelas Sakura berterima kasih padaku dan meminta maaf pada Gwera sambil menangis.


"Gwera, maaf aku membuatmu mendapat masalah. hiks... hiks...."


"dan terima kasih untukmu karena sudah mau membantuku, tapi maaf sebelumnya aku belum tau namamu." kata Sakura padaku.


"nama gue Sayyara, gue nggak ada niat buat bantuin lo. gue cuma nggak suka aja dimasukin kemasalah lo yang nggak penting itu. lagian gue heran ya sama lo yang udah bikin masalah di awal sekolah, malah nyeret nyeret gue lagi." kataku kesal pada Sakura karena masalahnya.


"maaf, aku nggak bermaksud begitu." jawabnya sambil menangis.


"eh, yang nyeret lo itu gue, bukan dia. yang minta pak Ardi manggil lo itu juga gue bukan dia, karena gue hafal bentuk tubuh orang walau cuma sekilas. dan bentuk tubuh lo yang tinggi dan rambut panjang lo itu lebih gampang buat diinget meski cuma siluet doang." sergah Gwera.


"terus? gue mesti salut gitu sama lo? yang udah bisa inget sama gue meski cuma liat sekilas doang?" kataku dengan senyum meremehkan yang tersungging dibibirku.


"nggak sih, cuma gue mau ngomong gini ke lo. lo bakal kesepian kalo lo gak punya temen karena nggak perduli sama sekitar lo apalagi ketemen temen lo. kalo sama temen yang sekelas aja lo nggak perduli, bisa jadi lo juga nggak perduli sama keluarga lo. atau bahkan keluarga lo yang nggak perduli sama lo, itu bakal bikin lo tambah kesepian. yaahh seenggaknya kalo nggak ada keluarga yang deket sama lo, lo masih punya temen buat nemenin hidup lo. karena kita itu hidup bersosialisasi. tapi bukan berarti lo harus bergantung sama orang lain sih, karena kita itu mati sendiri." katanya panjang lebar sebelum masuk ke kelas.


aku sangat terkejut dengan kata katanya yang begitu keras menampar perasaanku. speechless dengan perlakuan dan kata katanya padaku. 'huh, dia hanya cewek bertubuh kecil yang nggak tau apa apa tentang gue. sekarang dia coba ikut campur kemasalah dihidup gue? hha hha bener bener lucu', pikirku.


sepulang sekolah aku berjalan menuju halte yang tidak terlalu jauh dari sekolah untuk menunggu angkutan umum. aku melihat Gwera, Sakura, dan seorang siswa laki laki yang sering mengahampiri Gwera didepan gerbang sekolah. akupun tak perduli dan tetap melanjutkan langkahku.


lama aku menunggu angkutan umum yang mengarah kealamatku, alamatku memang jarang ada angkutan umum yang melewatinya. ingin aku pesan taksi atau ojek online, tapi tadi pagi aku lupa membawa handphone, sialnya lagi aku nggak bisa pake motor karena ban motorku bocor. itu sebabnya aku buru buru dan lupa bawa handphone karena ayah yang harus berngkat pagi untuk meeting diperusahaanya.


aku agak takut saat ada beberapa orang berpenampilan preman yang memghampiriku. hanya ada aku dihalte ini. mereka mencoba menggodaku dan mencolek colek tanganku. sampai ada suara yang menghentikan kegiatan mereka.


"heh, ngapain kalian? nggak malu apa godain anak sekolah?" itu suara Gwera, aku kaget mendengar suaranya yang bernada menantang.


"wuiihhh ada satu lagi cewek yang dateng tuh, eh tapi dia bawa cowoknya." kata preman 1


"persetan sama cowoknya, kita berlima tuh cowok cuma sendiri. ya meski badanya lumayan sih, tapi kalo cuma sendiri mana bisa ngalahin kita berlima?" remeh preman 2.


"ya, lumayanlah kita bisa maen sama dua cewek. apalagi yang didepan kita, wajahnya cantik. kalo yang dikawal cowoknya anaknya kayak anak kecil, tapi mendinglah wajahnya manis gitu." timpal preman 3.


aku cuma melihat kearah Gwera dan teman cowoknya dengan pandangan ketakutan, tapi tak kulihat raut gentar apalagi takut pada wajah Gwera. samar samar aku mendengar kata kata teman gwera.


"gwera, mendingan lo duduk aja dimobil. biar gue yang ngurusin tuh preman."


"nggak, dia temen gue, sekelas sma gue. gue nggak bisa diem aja ngeliat mereka mau ngelecehin dia. dan meskipun dia bukan temen sekelas gue, gue bakal tetep bantu dia. karena kami sesama perempuan." tegas Gwera membuat rasa aneh menyarang hatiku. rasa sakit dan terharu bercampur membuatku merasa sesak hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata.

__ADS_1


"ah banyak drama, bisa nonton gratis nih kita." kata seorang preman yang membuat preman lainya tertawa mengejek.


"udah deh mending kita langsung maen aja, gimana?". preman yang lain menimpali.


tiba tiba terdengar suara pukulan yang lumayan keras.


'bughh....' suara tonjokan tangan Gwera bersarang diperut bagian atas seorang preman yang lebih tinggi darinya, dilanjut dengan tendangan yang membuat preman itu terjatuh kedepan. preman yang lain sempat terdiam karena kaget dan langsung menyerang Gwera dan temannya. aku nggak tahu gimana Gwera bisa melawan mereka dengan tetap bersikap tenang dan santai dengan wajah yang meremehkan. sedangkan temannya hanya sempat melawan dua dari lima preman itu.


"sialan, gimana bisa cewek sekecil itu mukul kita sampe babak belur kayak gini? bener bener sial. tapi tuh anak beneran gede tenaganya, nggak keliatan dibadanya yang kecil gitu. masih kerasa banget pukulan tuh anak."


"iya, bener banget lo."


"kabur dulu deh, kita cabut aja. nggak bakal bisa gue ngadepin dia kalo kayak gini, apalagi kalian udah k.o gitu."


"ya, ayo cepet cabut sebelum mereka berdua bikin kita lebih bonyok lagi." Kata para preman bersahutan, wajah dan badan mereka sudah babak belur akibat perkelahian antara mereka dengan Gwera dan temannya.


setelah para preman itu pergi, aku mencoba mengucapkan terima kasih kepada Gwera dan temannya. tapi lagi lagi kata kata Gwera membuatku terpaku.


"Gwera, makasih udah mau nolongin gue, makasih juga buat temen lo yang juga mau bantuin gue." kataku tulus.


"gue Dianara Narendra, panggil aja Nara." ucap teman gwera dengan sedikit senyum.


"sekarang lo ngerti gimana rasanya punya temen? rasanya bersosialisasi, rasanya ada orang yang perduli ke lo? bukanya gue mau sok sokan ke lo. gue cuma pengen tanya aja ke lo gimana rasanya ada orang lain yang bisa ngegandeng tangan lo waktu lo lagi terpuruk sendiri. karena sendiri itu menyiksa, tapi nggak berarti lo harus bergantung ke orang lain. lo nggak bisa ngeremehin kehidupan orang lain dan ngebandingin sama kehidupan lo. kalo udah gini lo pasti bisa ngebayangin apa yang dirasain Sakurakan?" kata kata Gwera dengan nada seriusnya yang sukses membuatku terpaku dan tak henti menangis meratapi keangkuhanku.


"udah udah, mending lo kita anterin pulang aja, giaman?" tanya nara.


"ya, mending lo ikut kita aja. daripada lo disini digangguin preman lagi." kata Gwera dengan senyum ramah hingga membuat matanya menyipit hampir merem dan terlihat lesung pipitnya mempermanis wajahnya.


"hiks.... hiks.. iya" kataku masih menangis sambil mengikuti mereka. perubahan sikapnya yang bisa secepat itu sempat membuatku terkejut, tak tau harus menanggapi bagaimana. tapit akhirnya aku setuju diantar pulang oleh mereka.


Flashback off


Jika dulu aku hanya diam dan cuek pada orang orang disekitarku, sekarang aku lebih perduli pada mereka. Terutama ketiga temanku, Gwera, Sakura, dan Nara. Gwera bukan gadis kasar yang selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan, tapi dia juga bukan gadis kecil bersifat lemah lembut yang bisa disepelekan. Dia benar benar tangguh, itu menurutku. Entah bagaimana menurut orang lain yang berhadapan dengannya.


Sekarang lagi lagi dia berhadapan dengan Siska, si kakak kelas yang sebentar lagi mendapatkan ijazah kelulusan dari sekolah ini, itupun kalau dia bisa lulus. Pasalnya yang aku tahu dia bukanlah orang yang pandai, ya memang pandai bukan jaminan kelulusan. Tapi entahlah, dia selalu membuat orang ragu padanya karena karakternya.


Tadi siang saat sedang asik diperpustakaan, yang merupakan tempat favorit Gwera, kak Siska menghampiri Sakura dan bilang mau bicara empat mata dengannya. Aku yang mendengarnya langsung menyenggol lengan Gwera yang ada disampingku. saat Gwera melihatku, aku memintanya melihat kearah dimana Sakura bersama kak Siska berada.


"Biarkan saja, nggak semua masalahnya harus kita campuri. biarkan dia memutuskan sendiri langkah yang dia ambil untuk kehidupanya. jangan biarkan dia bergantung pada kita. kita memang temannya, tapi bukan berarti kita harus turut andil dalam setiap keputusan dikehidupanya. kita akan membantunya disaat dia benar benar membutuhkan kita. bukan disaat dia bisa menghadapi masalahnya sendiri, karena itu takkan membuatnya menjadi pribadi yang tegar dan kuat saat dia kehilangan kita." kata Gwera menjelaskan.


Sebenarnya aku agak keberatan dengan pemikiran Gwera yang seperti itu, yang seolah olah berkata bahwa teman dibutuhkan disaat sedang kesulitan, tanpa berbagi kebahagiaan. tapi setelah dipikir pikir benar apa yang dikatakanya. Jika kami terlalu jauh masuk kedalam kehidupan orang lain, maka itu akan membuat orang tersebut sulit untuk mandiri. Aku selalu terlambat menyadari maksud dari kata kata Gwera. Padahal dia mengatakan semua itu dengan sederhana dan jelas jika sedang serius, tapi aku akan langsung mengerti kata katanya jika dia sedang bercanda.


Sudah hampir 10menit aku menunggu Sakura kembali, aku merasa tidak tenang.


"gue keluar bentar, lo disini aja sama Nara." kata Gwera yang mengagetkanku.


"ya." jawabku singkat


"Nara, gue keluar bentar." kata Gwera ke Nara yang hanya dijawab anggukkan kepala dengan pandangan yang menatap ragu.


Aku tetap merasa tak tenang, akhirnya kuputuskan untuk mencari mereka dan mengajak Nara.


Tak berapa lama kami mencari Gwera dan Sakura, aku melihat Sakura menangis sambil memegang pipinya dan tangan Gwera yang mencengkeram kerah seragam Siska. Nara langsung berlari dan akupun ikut berlari menghampiri mereka, disamping Siska ada 3 kakak kelas lainya. aku nggak perlu mengenal mereka karena mereka bukan hal yang penting bagiku. Prioritasku sekarang adalah Sakura dan Gwera, para sahabatku.


"oh jadi sekarang lo minta bantuan ke temen temen lo? huh... pengecut." cibir Siska, teman temannyapun tersenyum sinis.


"Nggak nyadar lo? siapa yang pengecut disini? lo mau ngebully Sakura kayak tahun lalu, tapi lo bawa rombongan kecoak buat ngeroyok dia?" cecar Gwera yang sukses membuat komplotan siska naik darah.


"lo ngatain kita kecoak? lo pikir lo siapa?" kata salah satu temen siska.


"kalian ngerasa ngeroyok Sakura nggak? kalo ngerasa ya berarti kalian ngerasa jadi kecoak juga dong." balas Gwera sengit.


"sialan lo, mesti dikasih pelajaran nih anak." timpal teman siska yang lain.


"nggak perlu, gue udah ngeresap semua pelajaran dengan baik kok. Bahkan pelajaran etika dan kehidupanpun udah gue kuasai. justru gue yang ragu sama kalian kalo kalian mau ngasih gue pelajaran. ntar bisa bisa gue malah salah haluan lagi, trus bisa jadi juga nih bentar lagi gue yang ngasih kalian pelajaran." ucap Gwera meremehkan.

__ADS_1


"apa perlu gue ikut campur gwe?" tanya Nara.


"nggak perlu, ini urusan cewek. cowok anteng dulu. lagian cuma kecoak jorok jadi lo nggak perlu urusin, biar gue aja yang nempeleng mereka." jawab Gwera. Nara tetap memanggil Gwera seperti itu karena dia memang suka memanggilnya seperti itu. meskipun Gwera udah bilang kalu dia udah nggak mengharuskan kami memanggil dengan nama pemberiannya yang absurd itu....


"lo lama lama makin kurang ajar ya." hardik Siska.


"nggak tuh, waktu kecil gue pernah dihajar. dan itu lebih dari cukup buat jadi pelajaran berharga buat gue." lantang Gwera.


" sialan lo!" bentak salah satu teman siska dan akan menampar Gwera. Aku melangkah maju dan mencekal tangan orang itu.


"sekali lo nyentuh temen gue, lo lawan gue!" sarkasku. lalu pak Ardi datang dan menyuruh kami semua datang keruangannya.


Diruangan pak Ardi.


"Kenapa lagi dengan kalian? apa kalian pikir sekolah ini tempat bermain kalian? tempat debat kalian? atau sasana tinju kalian? apa sekolah hanya tempat untuk bertengkar? untuk pamer dengan apa yang kalian punya hah? jawab bapak!" teriak pak Ardi.


"tidak pak." hanya Gwera dan Nara yang menjawab.


"lalu kenapa kalian selalu bertengkar dan main pukul, main tampar seolah itu hal yang wajar untuk anak sekolahan seperti kalian? mau jadi apa kalian nanti? katakan apalagi masalahnya sekarang, jangan bilang penyebabnya masih sama dengan tahun lalu? Sakura, coba katakan kenapa wajahmu seperti itu? " tanya pak Ardi.


Sakura mengatakan semuanya, dari dia diperpustkaan sampai sekarang berada di ruangan pak Ardi.


"Siska, saya tidak habis pikir dengan kelakuan kamu yang seperti ini. Sebentar lagi kamu akan lulus dari sekolah ini, kenapa kamu malah membuat kenangan buruk tentang kehidupanmu disekolah? dan kalian bertiga, kalian juga sama sama akan lulus, tapi kalian malah ikut ikutan berbuat buruk seperti itu"


"saya nggak terima pak, saya selalu dicap buruk disekolah, bahkan dikeluargapun saya dikucilkan. semua ini karena dia!" tunjuk Siska ke Sakura. "kalau dulu waktu SMP tidak ada kasus itu, saya nggak akan jadi seperti ini." bela Siska.


"Tapi bukan berarti kamu bisa berlaku kriminal seperti ini, kamu bisa saja dituntut kalau terus terusan seperti ini." kata pak Ardi dengan wajah yang stres.


"maaf pak, permisi. saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Siska." kata Gwera tiba tiba.


"hmm baik silahkan." jawab pak Ardi


"ok Siska, gue langsung aja...


" heh nggak sopan banget lo panggil kakak kelas langsung namanya!" jeda salah satu teman siska.


"huh, gue nggak perlu sopan ke orang yang nggak bisa sopan keorang lain. mereka nggak pantes dapet kesopanan dari orang." jawab Gwera menatap sinis teman siska. "balik ke hal yang mau gue omongin ke lo, sekalian gue omongin disini. biar kalian semua tau dan pak Ardi juga tahu." setelah itu Gwera kembali menatap siska dan berbicara padanya. "dulu lo bilang lo diputusin pacar lo karna Sakura, dikeluarkan dari sekolah karna Sakura, bahkan dikucilkan keluarga lo pun juga karna sakura? lo yakin semua karena Sakura? bukan karna tingkah laku lo sendiri?" tanya Gwera.


"jelas karena Sakura, siapa lagi kalo bukan dia." jawab Siska.


"menurut gue lo salah, bukan karena gue temen Sakura terus ngebelain dia. Tapi karena gue juga cewek, gue coba ngertiin lo dan dia. Yang pertama. lo kemakan sama emosi sesaat lo kedia karna cowok yang lo suka minta putus dan ngebela dia didepan lo, nggak mau denger penjelasan dan nggak percaya lagi sama lo. itu yang ngebikin lo dendam banget sama Sakura." Gwera menjeda sejenak kalimatnya untuk bernafas.


"Yang kedua. lo dikeluarin dari sekolah lo dulu karena kasus itu yang menyebabkan luka di kaki Sakura, hingga dia harus dioperasi dan tidak sadarkan diri selama sehari dan baru siuman esok harinya." hela Gwera mengambil nafasnya.


"Dan yang ketiga. lo nyalahin Sakura karena lo dikucilin sama keluarga lo sendiri, sampe lo dititipkan ke tante lo yang lo bilang galak itu? lo mestinya nyadar, keluarga lo nggak akan ngebuang lo kalo bukan karena mereka yang jengah dengan tingkah laku lo. kalo lo nggak diperhatiin dan pengen diperhatiin sama mereka mestinya lo tau apa yang bisa bikin mereka perhatian ke lo, nggak perlu hal yang negative kalo lo bisa lakuin hal yang possitive buat narik perhatian mereka."


"dari semua keadaan lo yang gue omongin tadi koreksi kalo ada yang salah." pinta Gwera ke Siska.


Siska hanya diam tak menjawab.


"gue kasih tau ke lo. Pertama, lo diputusin pacar lo karna dia nggak betah sama emosi lo dan tingkah lo yang semena mena keorang lain. Kedua, lo dikeluarin dari sekolah karena kasus yang lo lakuin itu merupakan kasus kriminal yang bisa mencoreng nama baik sekolah kalo lo masih ada disana. mungkin sama halnya seperti yang sekarang lo lakuin ke Sakura, dengan menampar dan mencoba mengeroyoknya. Dan yang ketiga. lo dikucilin keluarga lo karna lo bertingkah kasar dan finalnya lo dititpin ke tante lo. itu karna kekasaran lo yang nggak bisa mereka tangani sampe sampe mereka minta bantuan ke tante lo yang keras dalam mendidik anaknya. gue tanya ke lo, prestasi apa yang udah lo kasih buat keluarga lo? nggak perlu yang muluk muluk kayak prestasi disekolah, misalnya aja prestasi dilingkungan rumah lo? nggak adakan? lo terus nyalahin orang lain buat hal yang sebenarnya lo udah tau salah siapa, so... lo yang sebenarnya pengecut. lo nggak tau dan nggak mau tau apa yang dialami Sakura. setelah dia sembuh dari luka itu dia dikirim ke asrama karena trauma. dia takut bertemu dengan teman teman cowok karena takut dibully lagi. keluarganya juga khawatir hal seperti itu akan terjadi lagi. keluarganya bisa aja nuntut lo. tapi nggak karena Sakura bilang itu akan membuatmu terpuruk jika sampai khalayak umum tau." cerocos Gwera tanpa henti sambil menahan amarahnya yang terlihat jelas diwajahnya.


"jadi gue harap sebelum lo nyalahin orang lain, tolong introspeksi diri lo sendiri dulu. biar lo tau salah atau benarnya. usai mengatakan itu gwera menatap pak Ardi dan berkata "sekian pak, hanya itu yang ingin saya katakan. terima kasih atas waktu yang diberikan untuk menjelaskan hal tadi." kata Gwera mengakhiri penjelasanya.


"hhmm iya sama sama. lalu Siska apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya pak Ardi.


Siska masih bengong, mungkin dia masih menyerap setiap kata kata yang dikeluarkan Gwera tentang kehidupan Sakura akibat ulahnya. hingga ia tersadar karena senggolan dari temannya.


"S..Sakura, gu..gue mau.... gue mau minta maaf ke lo. maafin gue, Gwera bener, gue gak pernah introspeksi diri dan nggak mau tau sama orang lain. gue bener bener minta maaf." pinta Siska tulus dengan air mata yang mengalir dan sulit berhenti.


"hu'um, iya aku udah maafin kok." balas Sakura sambil menangis, mungkin karena terharu.


Dan sialnya gue juga netesin air mata. huh si Gwera bener bener bisa bikin orang kualahan kalo dia yang ngadepin. Gue lihat Nara masih setia menatap Gwera sambil tersenyum bangga, terlihat jelas diwajahnya. mungkin dia berpikiran seperti ini "ini baru calon cewek gue, yang bakal jadi calon istri dan ibu bagi anak anak gue." Mungkin seperti itu yang ada dipikiranya. tapi ntahlah, pikiran dan hati orang nggak ada yang tau.


"ya sudah kalau begitu masalah ini bapak anggap sudah selesai sampai disini, jadi bapak minta tidak ada lagi hal hal seperti ini yang terjadi. kalian bisa keluar, bapak tidak akan memberi surat panggilan orang tua atau wali karena bapak yakin kalian tidak menginginkan hal itu terjadi." jeda pak Ardi dan dilanjutkan "Dan untuk kamu Gwera, bapak bangga mempunyai murid yang mampu berfikir dan bersikap dewasa seperti kamu. Tidak termakan emosi dan amarah."

__ADS_1


"He he he terimakasih pak. kami permisi dulu kembali ke perpustakaan." kata Gwera sambil tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat, dan menampilkan lesung pipitnya. Hal itu sontak membuat kami semua yang ada disini merasa speechless, termasuk gue yang ntah keberapa. Dan ternyata setelah kami kembali ke perpustakaan tak berselang lama bel pulangpun berbunyi. kulihat Sakura selalu tersenyum bahagia, sampai kakaknya menjemputnya seusai kerja.


______________________________________________


__ADS_2