
Setelah Nara pulang kerumahnya, bunda Rania menyuruh anak anaknya untuk berkumpul diruang tengah. Ruang keluarga yang selalu mereka jadikan tempat untuk mengobrol atau bahkan sekedar berkumpul meski dengan kegiatan masing masing. Di keluarga ini selalu di tanamkan rasa kasih sayang, perhatian, perduli dan toleransi. Tak jarang mereka selalu terbuka dengan anggota keluarga, meski sebenarnya para anggota laki laki di keluarga ini yang lebih terbuka pada anggota perempuan di keluarga ini. Entahlah, sepertinya laki laki dikeluarga ini lebih percaya pada bunda Rania dan Gwera, daripada percaya pada ayah, kakak atau bahkan adik laki laki.
Jika sedang berkumpul seperti ini, Gwera dan adik adiknya akan menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar. Gwera memang pandai dalam banyak hal, apalagi untuk mengatur waktu. Karena itulah ibunya tak perlu repot repot mengingatkan padanya tentang apapun itu, kecuali tentang perasaan orang lain dan beberapa hal yang bersangkutan dengan kebahagiaannya.
Tak terkecuali saat ini, setelah Gwera selesai mengajari adik bungsunya belajar sambil sesekali bermain ibunya bertanya pada Gwera tentang bagaimana keadaan Gwera di sekolah. Bunda Rania tak ingin ada kejadian yang membahayakan putri semata wayangnya ini seperti yang lalu lalu.
"Gwera, bagaimana keadaanmu di sekolah? semua baik baik saja kan?"
"iya bunda, di sekolah gwera baik baik saja kok. bunda jangan khawatir, Gwera kan bisa jaga diri." jawab Gwera sambil tersenyum manis.
"Bagaimana bunda nggak khawatir? bunda takut kejadian tahun lalu di awal kamu masuk sekolah terulang lagi nak. ingatkan saat pulang sekolah kamu pernah ada memar di wajah? saat bunda tanya kamu kenapa, kamu malah bilang cuma memar karena latihan bela diri. lalu saat bunda tanya pada Nara dengan sedikit memaksa akhirnya bunda tahu kalau kamu berantem sama preman. jelas bunda khawatir hal itu terulang lagi. Gwera, tolong jujur pada bunda. Ceritakan hal hal yang ingin Gwera ceritakan pada bunda, pada anggota keluarga ini. Jangan dipendam sendiri nak, masih ada kami anggota keluargamu." ucap bunda sambil mengelus kepala Gwera.
"iya bunda, Gwera akan cerita hal hal yang ingin Gwera ceritakan pada bunda dan anggota keluarga ini. Bunda tenang saja. Dan terima kasih bunda, karena bunda selalu ada untuk Gwera, untuk kami keluarga bunda." Balas Gwera sambil memeluk bundanya.
"Benar ya, jangan bohong pada bunda hanya agar bunda jadi lega saja."
"iya bunda."
Dana si adik bungsu menarik baju bundanya dan berkata bahwa ia juga ingin dipeluk seperti Gwera. Bunda tersenyum dan memeluk Dana, lalu Gwera melihat kearah Nanda yang masih sok sibuk mengerjakan tugas sekolahnya sambil sesekali melirik padanya. Bukanya Gwera tak menyadari kecemburuan sang adik pada adik bungsunya, namun Gwera ingin tahu seberapa kuatnya pertahanan Nanda melihat mereka berpelukan. Sambil sedikit tersenyum Gwera bertanya pada Nanda tentang tugasnya.
"apa tugas sekolahmu masih belum selesai Nanda?"
"sudah kok kak, baru saja selesai." jawab Nanda sambil membereskan bukunya.
"mau kakak peluk juga?" tanya Gwera sambil tersenyum, seolah olah tidak tahu perasaan Nanda.
"Apaan sih kak, Nanda kan udah gede".
" yakin nggak mau? ntar sewot kayak tadi lagi, bilangnya kaka cuma perhatian sama Dana. Bener nih gak mau? jangan ngambek lho ya."
Dengan kata kata itu sukses membuat Nanda berjalan kearahnya dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Nanda sayang sama kakak, sayaaaaang banget. kakak jangan terluka ya. kakak bisa ceritain semua ke Nanda kalau ada apa apa. kakak nggak sendirian. Nanda akan terus belajar bela diri untuk ngelindungin kakak." Kata kata Nanda membuat bunda Rania dan Gwera rerharu, lalu bunda Rania juga memeluk Nanda dan Gwera.
"Bela diri untuk melindungi dirimu sendiri dulu Nanda, baru lindungi orang lain. kalau kamu melindungi orang lain tanpa melindungi dirimu sendiri, sama aja bodoh. karena kalau kamu terluka kamu tidak bisa lagi melindungi orang lain. jadi kamu harus menjaga dirimu sendiri dulu baru melindungi orang lain." nasehat Gwera mendapat anggukan dari Nanda.
"Aku juga akan melindungi kakak, karena aku juga sayang kakak." ocehan Dana membuat mereka tertawa, tapi mendapat cibiran dari Nanda.
"tumbuh dulu jadi orang gede, baru bisa ngelindungin kakak. kalo kecil segitu siapa yang bakal lindungi siapa?" cibir Nanda sambil senyum.
" nanti Dana bakal jadi orang gede, lebih gede dari kak Nanda, dari ayah dan kak Raka juga." sewot Dana merasa diejek kakanya terus terusan.
Lalu mereka melepas pelukan dan berniat melanjutkan kebersamaan dengan bermain bersama. Mereka berempat bermain permainan yang sudah usang namun tetap membuat mereka tersenyum ceria. apalagi kalau bukan permainan ular tangga, permainan yang mengandalkan keberuntungan. dalam permainan ini, yang kalah harus mencium pipi para pemenang. bukan tanpa alasan ayah dan bunda mereka membuat taruhan permainan seperti itu. Hal itu untuk mengingatkan pada anak anaknya bahwa bagaimanapun keadaanya, baik maupun buruk, beruntung maupun tidak, marah atau tidak, mereka tetap satu keluarga, yang harus selalu menyayangi, mengasihi, melindungi, membantu satu sama lain.
Mereka larut dalam keceriaan permainan tersebut hingga petang, bahkan mereka lupa kalau mereka belum mandi. Bunda yang melihat jam pun terkejut karena jam sudah menunjukan pukul 17.48.
"Astaga, ternyata sudah hampir malam. sudahi dulu permainannya anak anak. ayo mandi dulu, besok besok dilanjut lagi mainnya. Bunda juga harus siap siap untuk makan malam nanti. Kasihan kan ayah dan kakak kalian kalau pulang dari kantor belum ada makanan. mereka pasti lelah." Ajak bunda Gwera pada anak anaknya.
"iya bunda". jawab ketiga anaknya serentak.
Lalu mereka berjalan ke kamar mereka masing masing untuk mandi. Selesai mandi Gwera membantu Bunda memasak didapur. Sedangkan Nanda dan Dana membantu menyiapkan alat alat makan dimeja makan.
"Assalamu'alaikum, bunda ayah pulang." ucap ayah Ardi.
"Assalamu'alaikum." ucap Raka.
"Wa'alaikumsalam wr wb." jawab Bunda, Gwera, Nanda dan Dana serentak. Bunda menyalami ayah Ardi dan mencium tangannya, diikuti ketiga anaknya di belakangnya dan mendapat balasan ciuman dikening oleh ayah Ardi. tentu saja tanpa Nanda, karena dia merasa malu jika mendapat ciuman dari ayahnya. dia lebih memilih pelukan sebagai simbol kalau dia laki laki daripada harus dicium dikening oleh ayahnya. Lalu Raka menyalami bunda dan mencium tangannya, begitupun adik adiknya. untuk Gwera, dia akan mencium kening dan kedua pipi satu satunya adik perempuannya itu. Bahkan jika dia tidak bertemu saat pulang kerja, maka dia akan melakukannya sebelum makan malam saat semuanya sudah berkumpul. Itu kebiasaannya sejak kecil, sebagai tanda sayangnya dia pada adik adiknya, terutama pada Gwera. Walau kadang mendapat protes dari Gwera karena malu masih diperlakukan seperti anak kecil meski dia sudah besar. Tapi tetap tak digubris protes sang adik, yang ada malah digoda kalu Raka akan mencium pipi Gwera saat di tempat umum. Tentu saja itu hanya gurauan untuk menggoda sang adik, tapi jika keadaan memaksa maka dia dengan senang hati melakukanya. seperti selama ini jika dia ingin menghindari para wanita yang mengejarnya seperti lebah, maka dia akan meminta bantuan adiknya untuk berpura pura menjadi kekasihnya, karena usia mereka yang hanya terpaut 4 tahun. Meski Raka masih kuliah tapi dia sudah magang di kantor ayahnya dan berencana melanjutkan S2 nya.
"Ayah sama Raka mau langsung makan apa mandi dulu?" tanya bunda Rania yang hendak menyiapkan air hangat untuk mandi untuk suaminya tercinta.
"Kalau ayah mandi dulu bunda, tadi ayah banyak meeting di luar, jadi agak lengket badan ayah rasanya." jawab ayah.
"sama bunda, Raka juga mau mandi dulu. biar agak fresh." timpal Raka.
__ADS_1
"ya sudah, kalau gitu bunda mau menyiapkan air hangat untuk mandi ayah. Raka juga cepat ya mandinya. kasihan adik adikmu sudah menunggu untuk makan malam. Tadi bunda juga mengundang Nara untuk makan malam disini. keluaragnya sedang ada urusan, jadi mereka menitipkan Nara pada keluarga kita."
"ah bunda, mereka kayak sama siapa aja sih masih sungkan begitu. ya sudah aku pergi ke kamar buat mandi dulu ya bunda. Para adekku tersayang tungguin kakak ya, jangan dihabisin makanannya, kakak juga laper." pamit Raka.
"hmm" jawab Nanda singkat.
"iya kak." jawab Dana sambil mengangguk angguk.
"iya kak cepetan nggak pake lama, jangan sambil nyanyi kak. suara kakak merdu banget, apalagi kalau diem, beuhhhh mantep dah suaranya." jawab Gwera sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum pada Raka yang disambut tawa dari anggota keluarga lainnya.
"Gwera, telfon Nara gih. suruh dia kesini, sebelum ayah dan kakakmu selesai mandi."
"iya bunda." jawab Gwera sambil mengambil handphonenya untuk menelfon Nara memintanya untuk segera datang. karena ayah dan kakaknya sudah pulang.
Tak berapa lama Nara pun datang dan membawa buah buahan yang ada dirumahnya.
"eh kok repot repot bawa buah segala sih? nih pasti lo beli gak kira kira deh, kebanyakan trus lo angkut kerumah gue?" tanya Gwera dengan menyipitkan mata seolah olah mengintrogasi Nara.
"yee bukan gue kali yang beli. ini mama kemarin beli macem macem buah, ada salak, nanas, mangga, anggur, pir, apel juga. tapi mama lupa kalau mau pergi keluar kota dan menginap beberapa hari. ya daripada dirumah gak ada yang makan gue bawa kesini aja. siapa tahu ada yang pengen bikin rujak." jelas Nara sambil senyum dan menaik turunkan alisnya.
"ooohhhh gitu. mm... makasih deh, tapi kalo soal bikin rujak mending besok aja deh, atau dibikin salad buah aja. tapi kalo gue sih suka mangganya aja. nih mangganya khusus buat gue ya, mumpung masih asem. enak nih klo dimakan gini aja." pinta Gwera dan langsung mengambil dua buah mangga yang masih muda.
"ya terserah, inikan buat keluargamu."
"makasih". senyum Gwera langsung mengembang. membuat Nara ikut rersenyum. tanpa mereka sadari mereka sedang menjadi tontonan menarik bagi anggota keluarga tersebut.
" ehem!,,,, sudah bisa kita mulai makan malamnya? aku sudah lapar, adik adiku yang lain juga sudah kelaparan menunggu kalian selesai serah terima buah buahan seperti penjual dan pembeli buah." Goda Raka pada Nara dan Gwera.
"oh,,, iya kak. ayo makan." ucap Nara kikuk menatap ayah dan kakak Gwera yang sudah datang ke meja makan.
"ini nanti bunda kupasin ya buahnya, tapi sehabis makan. sekarang kita makan dulu. jangan lupa berdo'a." ucap bunda sambil membawa buah kedapur dan kembali ke meja makan.
__ADS_1
Setelah itu mereka makan malam bersama dengan tenang, memakan buah yang sudah dikupas dan dipotong kecil kecil seusai memakan makanan pokok. sedangkan Gwera asik memakan buah mangga muda kesukaannya. tanpa diganggu siapapun, karena anggota keluarga ini tak begitu suka buah mangga muda kalu bukan dirujak.
___________________########________________