Kata & Rasa

Kata & Rasa
Pandangan yang membosankan


__ADS_3

Gwera Pov


Ugh laper banget abis emosi. pengen makan soto ah ntar dikantin, sekalian jalan pulang. Tapi mesti bisa nenangin si putri salju dulu. daritadi nangis terus, nggak capek apa tuh mata ngeluarin air terus?


"Sakura, diem dong. masak daritadi nangis mulu sih? si Siska kan udah minta maaf, udah nggak gangguin kamu lagikan. kenapa masih nangis terus sih? nggak capek apa tuh mata? nggak pegel tuh leher? kalo nangiskan malah tambah bikin sakit leher." omelku, tapi malah bikin sakura tambah mewek. duh salah lagi ya omongan gue?


"ya udah sih biarin dulu dia luapin rasa harunya. semuakan karena lo juga Gwe. jawab Sayyara.


" lhah kok gue sih?" tanyaku.


"iyalah karena lo, siapa suruh lo bikin kita nangis tadi di ruang bk? didepan pak Ardi pula?" omelan sayyara bikin gue pengen ketawa.


"ya kan kalian sendiri yang nangis, masak gue yang salah. lagian kayak gitu kok bisa bikin nangis sih? itukan berarti perasaan kalian yang terlalu lembek." gue nggak mau kalah.


"iya iya perasaan kami yang terlalu lemah, sampai sampai bisa terharu hanya karena kata kata dari seseorang." timpal Sakura, mungkin dia ingin menghentikan perdebatan antara gue sama Sayyara.


"udah ah, gue laper nih. abis dari perpus ntar kekantin dulu yuk? gue pengen soto. Nara, lo nggak ambil tas dulu? biar ntar gampang kalo mau keluar, nggak perlu nunggu lama lama." saranku ke Nara.


"hmm, tunggu bentar ya. gue ambil tas dulu. sambung Nara.


"ok" kataku dan Sayyara.


"iya" kata Sakura.


sambil nunggu Nara, kami bertiga asik dengan pikiran sendiri. kalo gue sih biasa, menikmati setiap buku yang pengen gue baca. Sayyara tetap asik ngobrol sama Sakura. Mereka tersenyum dan tertawa bersama. gue sih cuma ikutan senyum aja, ya gue udah lega juga bisa bikin mereka tenang tanpa gangguan dari kakak kelas itu.


'teet.. teet... teeeettt...' akhirnya bel pulang bunyi juga, pikirku.


" Gue nunggu Nara bentar ya, kalian kekantin aja duluan." kataku.


"hu'um, iya." kata sakura dan sayyara serempak. "kita tunggu ya, tapi emang kantin masih buka?" tanya sakura.


"ya ntar kalo udah tutup kita makan soto diluar aja." kataku.


"kalo gitu kita nunggu Nara aja sekalian. daripada sendiri sendiri." ucap sayyara.


"ok deh, terserah aja kalo gitu." jawabku.


baru sekitar 3 menitan si Nara muncul sambil bawa tas dan bilang kalo dia lupa ngasih tau kita bertiga bahwa sepulang sekolah diadakan rapat OSIS dadakan.


"duh kok bisa sih rapat OSIS dadakan tapi nggak ngasih kabar, kan bisa lewat hp. emang gunanya hp tuh apa coba? percuma dong gue punya hp kalo gak dipakai." gue ngomel terus sampai diruang OSIS. yah akhirnya kami berempat juga kesini meski sambil ngomel.


"sebelumnya maaf karena saya mengadakan rapat dadakan. ini menyangkut perubahan rencana untuk acara perpisahan dengan kakak kelas kita nanti. ada ide masukan lain yang agak menarik. yaitu acara akan dilangsungkan sehari semalam. dengan tema berbeda, dipagi hingga sore hari kita adakan pensi dari anak anak kelas 10 dan 11, tentu dengan keterbatasan waktu, kita juga harus membatasi keikutsertaan dalam pensi ini. sedangkan dimalam harinya kita adakan pesta topeng. bagaimana?" tanya Reno si ketua OSIS.


"budget darimana? buat pensi aja udah ngeluarin banyak biaya, apalagi untuk pesta topeng? emangsih kita mendapat banyak donasi dari para donatur karena prestasi OSIS dan anak anak sekolah. tapi itukan untuk Sekolah kalau ada hal yang penting. bukan untuk hal hal yang seperti ini." kataku sebagai bendahara OSIS, karena aku berfikir ini bukan hal yang penting.


"tenang aja Gwera, untuk pesta topengnya kita adakan ditempat yang sama kok, jadi nggak perlu keluar biaya lagi. kitakan punya gedung olah raga. jadi nggak perlu repot untuk lokasi, untuk konsumsi kita dapat bantuan dari kelas tata boga, tapi tentunya kita tetap memberi budget yang sepantasnya, itu nanti biar bu Dyah aja yang ngatur. untuk kostum di pesta topeng itu kita buat bebas tapi sopan. terserah teman teman mau memakai pakaian model apapun, asalkan itu tidak kelewat batas. lalu untuk dekorasinya semua anggota OSIS diharap berkontribusi dalam penataan peralatan dan keperluan lokasi. dan di pesta topeng ini kita bisa ajak pasangan, bagi yang punya pasangan ya. kalo yang single sih mungkin bisa ajak saudara atau teman. bagaimana?" panjang lebar penjelasan Reno.


"berarti boleh ajak kakakku dong?" tanya Sakura.


"lhoh emang sakura nggak punya pacar ya?" tanya Edi si seksi humas OSIS sambil ngeliat sakura dengan senyum senyum. huh pengen gue colok tuh mata, cowok kalo liat cewek cantik langsung pada melotot. lihat aja ntar gimana kalo kakaknya sakura tau. wahh bisa rontok tuh mata. gue bayangin gimana lucunya wajah edi didepan kakaknya sakura sambil senyum senyum sendiri.

__ADS_1


"belum," jawab sakura sambil menggeleng.


"boleh aja sakura, boleh ajak saudara, teman atau kerabat. tapi hanya 1 orang saja yang boleh diajak. takutnya kalau semua anggota OSIS ajak orang luar bisa bisa siswa lainya pada iri." jawab reno.


nggak banyak anggota OSIS lainya yang komentar. mungkin mereka merasakan hal yang sama denganku. yaitu kelaparan.


"oh iya Gwera ini saya beri catatan keperluan apa saja yang dibutuhkan, dan untuk bernegosiasi dengan guru guru yang bersangkutan saya serahkan ke kamu. karena kamu sebagai bendahara jadi saya minta semua biayanya diperinci agar kita bisa tahu seberapa efektifnya ide ini." kata reno sambil memberikan catatan keperluan untuk acara perpisahan kakak kelas nanti. inikan masih sebulan lagi, lumayan jga sih waktunya buat nyiapin semuanya, pikirku.


"ok, emmm sekarang udah boleh keluar belom? gue laper banget nih?" tanyaku ke semua anggota OSIS yang lain, terutama ke Reno.


"hha hha ok ok kalian sudah boleh keluar. sorry banget ya kalau rapatnya lama." jawab reno dengan senyum ramah yang langsung dijawab dengan anggukan dan kata 'iya' dari anggota OSIS lain.


gue langsung keluar dan ngajak temen temen gue kekantin. tapi seperti yang diduga, kantin udah tutup. biasanya kantin masih buka sekitar 15 menitan dari bel pulang sekolah. tapi mungkin emang rapatnya yang kelamaan jadi kantinnya keburu tutup.


"gimana? kita langsung pulang atau beli makan dulu?" tanya Nara kepadaku.


"gue laper nar, beli makan dulu yuk." pintaku dengan wajah memelas. ok... ini bukan waktu yang tepat buat masang tampang kasihan, tapi gimana lagi? gue beneran laper.


"ok deh, gue ambil mobil dulu diparkiran, kalian bertiga tunggu gue didepan sekolah aja." saran Nara dan melenggang pergi.


"ok, iya." gue jawab barengan sama Sayyara.


"emm aku kan dijemput kakaku. aku ajak kakaku juga ya?" tanya Sakura ke gue.


"ya ajak aja, tapi emang kakak lo mau ikut sama kita? dia aja kalo lihat gue kayak lihat musuh bebuyutan gitu. padahal gue gak pernah ngapa ngapain dia, gue nggak pernah ngerasa ngelakuin hal yang buat dia rugi, jangankan senyum, natap gue dengan tatapan biasa aja nggak pernah seinget gue." jawabku sambil berjalan.


"nanti aku coba untuk bilang ke kak haru agar dia nggak galak sama kamu gwera."


"eh udah udah kita nunggu Nara disana aja, tuh kak Haru juga udah nungguin lo Sakura." kata kata Sayyara sukses bikin sakura menoleh ke arah yang ditunjuknya dengan senyum yang mengembang.


"halo kak, kak sebelum pulang kita makan dulu yuk? tadi aku mau makan dikantin tapi udah tutup kantinya. kita makan bareng temen temenku ya kak?" pinta sakura ke kakaknya. langsung aja tuh kakaknya sakura liatin gue kayak orang nggak terima adeknya mau makan bareng temenya. duh over banget sih nih manusia satu...


"sorry kak, jangan ngeliatin Gwera kayak gitu kak. ntar bisa jadi salah paham." kata Sayyara ke kakaknya sakura.


"dimana temen cowokmu itu? biasanya kamu keluar bareng dia, dia nggak ikut makan bareng kalian?" tanya kak Haru ke... gue? hah? beneran nih dia ngajak ngomong gue? apa gue cuma lagi halu karena laper aja kali ya... eemm mungkin emang karena gue lagi laper nih makanya bisa kepikiran kalo gue diajak ngomong sama kakaknya sakura.


"Gwe, Gwera, ditanya malah bengong." ucap sayyara sambil menyenggol lenganku. yang itu berarti gue nggak lagi halukan...


"eh Nara ikut kok. dia ambil mobil di parkiran." jawabku cepat sambil tersadar dari lamunanku.


"oh... kirain nggak ikut. dek pipimu kenapa?" Sakura kaget saat tiba tiba kakaknya memegang pipinya yang masih agak bengkak karena tamparan kak siska tadi. dan tentu saja lagi lagi kak haru melayangkan tatapan tajam kearahku. yah emang gue pikirin, mau tajam kek, lancip kek, tumpul kek, yang jelas dia nggak pernah menatapku dengan biasa.


" emm ini tadi karena jatuh kak." jawab sakura yang coba berbohong. tentu saja itu nggak mempan. diakan bukan orang yang bisa bohong, dan lagi bodoh kalo ada orang yang bisa dibohongin sama dia.


"jangan bohong ke kakak sakura, siapa yang ngelukain kamu? biar kakak beri dia pelajaran." tuh kan over banget jadi kakak. gue keseringan denger kalimat kayak gitu jadi udah nggak heran lagi. bentar lagi pasti wajahnya jadi merah padam karena emosi. tuh tuh kan bener... apa kata gue, bentar lagi bakal nanya yang macem macem deh ke sakura.


"Gwera, bisa bantu sakura untuk menjelaskan apa yang dialaminya disekolah kepada saya? karena saya yakin kamu pasti terlibat seperti tahun lalu." tanya kak Haru ke gue. lhah tumben tumbenan nih orang satu mau ngajak gue ngomong. kalo gue disuruh nyeritain sekarang ya bakal mati kelaparanlah gue.


"mending diomongin setelah makan aja." timpal Nara tiba tiba. huh~ selamet... akhirnya gue makan juga...


"baiklah. kita ke restoran terdekat aja." ajak kak haru.

__ADS_1


"nggak. gue pengen makan soto, disitu aja. deket kok dari sini." kataku.


"kalo deket ngapain nunggu temenmu ambil mobil? kalian kan tadi bisa langsung kesana.


" karena deket kalo pake mobil, jauh kalo jalan kaki. ah ribet amat sih kak. gue udah laper, kalo mau ikut ayok, kalo nggak ya udah nggak usah ribet. bawel banget sih jadi cowok." gue ngedumel sambil masuk kemobilnya nara. diikuti Sayyara dan nara, sedangkan sakura ikut kemobilnya kak haru. huh bikin bete aja tuh orang. tuh warung soto kan jaraknya 2 blok dari sekolah. kalo jalan kaki ya pastinya capeklah. yang ada ntar gue pingsan karena kelaparan.


dan sesampainya kami diwarung soto, gue langsung cari tempat yang nyaman untuk kami berlima. karena warung soto ini ada lesehannya juga jadi lumayan nyaman untuk orang yang kecapean.


Nara pesen nasi soto kesukaan gue. dan gue cuma anteng sambil merem dan meletakan kepalaku diatas meja. huh... nyamannya, gue bisa tidur nih kalo udah makan. tak lama makanan datang, karena emang pegawainya banyak dan pelayanannya cepat, jadi meskipun ramai tetap cepat dapat pesanannya.


"silahkan mbak mas pesanannya." kata mas mas pramusajinya.


"iya mas makasih." jawabku dan Sayyara, sedangkan sakura hanya menganggukan kepala sambil senyum. jangan tanya kedua cowok tadi gimana responya. ya mereka cuma diam sambil menerima mangkok berisi nasi soto tadi dan mengoperkannya ke kami. Nara ngambilin gue kecap, sambal, jeruk nipis, sendok dan garpu, jangan lupa tempe goreng dan sate jeroannya. ugh... rasanya kayak jadi putri dicerita dongeng aja yang mesti dilayani....


"makasih nar, tapikan gue bisa ambil sendiri. gue udah gede, bukan anak kecil lagi." kataku sambil menerima sendok dan garpu dari nara.


"gue tahu lo bukan anak kecil lagi. kitakan tumbuh bersama dari kecil. makanya kita bisa dan harus saling menjaga. dan gue bakalan jagain lo." jawaban nara malah bikin gue bingung. hari ini orang orang pada kenapa ya? kok kayaknya ribet amat gitu hidup mereka. sampe sampe mau makan aja pake basa basi nggak jelas dulu. au' ah terang..... mending gue langsung makan aja deh... sekilas gue liat Sayyara dan Sakura senyum senyum sambil mengaduk makanan mereka, tapi nggak untuk kak haru, dia natap gue dan nara bergantian dengan tatapan yang eemmm.... entahlah. gue nggak tau, dan nggak mau tau. yang gue mau sekarang cuma makan dan ngisi tenaga gue. tentunya biar lancar cerita ke kak haru tentang kejadian yang menimpa sakura disekolah tadi.


selesai makan gue langsung nyeritain kejadian disekolah tadi, tentu saja secara singkat, dan gue nggak mau nyeritain kata kata gue ke kak siska. biar gimanapun itu masalah dia dan kehidupanya. tapi Sakura dengan antusias malah ngomongin hal itu. ya gue cuma mandang dia dengan tatapan tanpa ekspresi. dan itu cukup buat dia terdiam. mungkin karena diamnya sakura kak haru jadi liat ke gue lagi.


"kenapa kamu lihatin sakura seperti itu?" tanyanya ke gue.


"emang kayak gimana?" gue balik tanya.


"pandangan yang tanpa ekspresi itu apa maksudnya?" kata kak haru menyelidik.


" gue cuma capek". balasku jengah.


"pantas saja kamu capek. karena disekolah kerjaannya malah berantem terus." balasnya mencemoohku. ya gue sih cuma diem aja. gue anggep itu bukan hal yang penting.


"kak, Gwera udah bantuin aku, udah nolongin aku, kok kakak malah ngomong begitu?" kata sakura sambil memegang lengan kakaknya.


"ya dia melihatmu seolah kamu bersalah padanya."


"Gwe, udah selesaikan makanya. kita langsung pulang aja yuk. kasihan nanti bunda nungguin kamu." ucap Nara tiba tiba sambil mengeluarkan dompet ingin membayar. tapi belum sempat dia mengambil uang, kak haru berkata dia yang akan membayar.


"semua saya yang bayar, biar nggak ada hutang budi lagi diantara kami dan kalian." kata katanya sukses membuatku menjawab.


"Kak Haru ingin tahukan kenapa saya memandang sakura dengan tatapan jengah? itu karena dia mengatakan aib orang didepan orang lain. memang benar awalnya saya yang mengatakan semua hal itu dihadapan kak siska dan mereka yang ada di ruang bk, itu untuk menyadarkan kak siska bahwa penilaiannya selama ini ke sakura itu salah. itu saja, bukan untuk bahan perbincangan orang orang. itu hanya akan menambah luka dan benci kak siska ke sakura jika banyak orang yang tahu. sedangkan sakura sendiri tahu bagaimana rasanya dibenci dan dikucilkan oleh orang lain. seperti kak siska. hanya saja sakura lebih beruntung dengan adanya keluarga didekatnya, meski dia mengalami trauma. ada orang yang masih menggenggam tangan dan memeluknya. sedangkan kak siska, saya rasa sudah cukup untuk menegurnya dengan kata kata saya tadi. Lalu untuk hutang budi, hutang budi seperti apa yang anda maksud? apakah anda tidak memiliki teman? sampai sampai teman adik anda saja anda perlakukan seperti orang asing yang menolongnya. jika memang seperti itu maka saya tidak terima pembalasan hutang budi seperti ini. Jika anda ingin membalas budi seperti yang anda maksud, maka latih dan bantu adik anda menjadi orang yang mandiri. bukan orang yang manja dan tak mampu membela diri meski sudah ditampar berulang kali. jadikan adik anda orang yang kuat menghadapi orang lain, menghadapi kenyataan. bukan membantunya untuk bersembunyi dan menutupnya dari dunia luar. itu balas budi yang harus anda lakukan pada adik anda jika anda benar benar ingin membalas budi kepada saya. bukan dengan membayar tagihan makanan saya, karena saya masih mampu untuk membayar kebutuhan saya sendiri. permisi." cerocosku dengan cepat membayar makananku dan berbalik keluar pintu warung. meninggalkan Nara menuju mobilnya. tak lama kemudian Nara dan Sayyara menyusul kemobil.


"emm kayaknya gue naik ojek online aja deh. gue udah pesen ojek nih. kalian pulangnya hati hati ya." kata Sayyara padaku dan Nara.


"ok deh kalo gitu." jawab nara.


"hmm" gumamku. ah sekarang gue jadi ngantuk. gue jadi pengen tidur.


"Nar gue tidur bentar ya, ntar bangunin aja kalo udah sampe rumah."


"iya, ya udah lo tidur aja dulu. lo pasti capek dari pagi emosi terus. ntar gue bangunin kalo udah sampe." jawab nara.


Nara pun mengemudikan mobilnya dengan tenang, hingga aku terlelap.

__ADS_1


to be continue......


__ADS_2