
*
*
*
"Kau tahu? Lily ingin bunuh diri dengan ini"
"Apa karena masalah perjodohan itu?" Ayah tampak terkejut.
"Ya, dia terus saja menangis. Sungguh demi apa pun Aku sangat ingin menolongnya" ucap Ibu lirih.
Ayah terdiam, tampaknya Ia memikirkan sesuatu. Namun kemudian, Ia membawa Ibu masuk ke dalam rumah karena angin malam yang dingin mulai menusuk kulit mereka
Ketika di dalam rumah, mereka berdua membahas bagaimana caranya membantu Lily. Otak cerdik Ibu berpikir keras untuk menolong putrinya agar tidak tenggelam dalam lembah kesedihan. sedangkan Ayah? Ia hanya diam dan larut dalam pemikirannya sendiri.
Malam semakin larut, Mereka berdua akhirnya menyerah, tak ada yang bisa mereka lakukan.Tapi mereka akan mencoba mendatangkan psikolog untuk Lily.
Tapi akhirnya, semua usaha mereka sia-sia. Jiwa Lily seakan hilang, tatapan matanya tampak kosong, Ia enggan makan dan minum. Tubuhnya yang semula berisi kini kurus ringkih. Wajahnya semakin tirus dengan kelopak mata yang menghitam.
Kini, Lily duduk menyendiri di dalam kamar.Baru saja Ibunya mengantarkan makanan, namun Ia biarkan saja. Dunia ini baginya sudah tak berarti lagi.
Bagaimana dengan Ron? Ron sangat terpukul mendengar keadaan Lily ketika Ibu meneleponnya. Ron merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan Lily. Namun,nasi telah menjadi bubur. Hati Lily sudah dibekukan oleh rasa sakit yang mendalam.
*****
Matahari semakin terik. Sejak kemarin lusa Ayah dan Ibu pergi keluar kota untuk mencarikan Lily psikolog yang bisa menanganinya. Alhasil, Lily hanya seorang diri dirumah.
Merasa sedikit jenuh, Lily memutuskan untuk berjalan-jalan ke perpustakaan kecil yang terbengkalai di belakang rumahnya.
Ia keluar dari kamarnya,menapaki tangga dengan pelan dan berjalan menuju perpustakaan belakang. Ketika Lily sampai disana, Ia heran karena terlihat sebuah tapak kaki anak kecil yang berjalan ke arah dalam perpustakaan. Karena penasaran, ia mengikuti tapak kaki tersebut.
Tapak kaki anak kecil itu membawa Lily ke sebuah meja yang dimana terdapat sebuah buku usang. Rasa penasaran Lily semakin bergejolak
Kemudian jemarinya terulur dan mengambil buku tersebut. Lily membuka buku tersebut. Terlihat bukunya dipenuhi tulisan-tulisan aneh yang sama sekali tak Lily mengerti
__ADS_1
Helai demi helai telah ia buka. Hingga sampailah Lily pada halaman terakhir, terdapat sebuah kalimat seperti sebuah mantera,entah sadar atau tidak Lily membacanya.
Namun apa yang terjadi? Tulisan yang ada dibuku mulai memudar dan hilang. Kemudian secercah cahaya putih yang menyilaukan mata keluar dari buku. Lily sangat kebingungan, cahaya putih tersebut melingkupi tubuh Lily dan membawanya masuk kedalam buku.
Sementara itu...
Ayah dan Ibu baru saja kembali dari luar kota. Mereka berhasil menemukan seorang dokter psikologi yang terkenal dan hebat. Ibu berjalan menaiki tangga menuju kamar Lily dengan langkah yang tergesa gesa.
Sesampainya didepan kamar Lily, Perlahan ia mengetuk pintu
Tok tok tok
Tak ada jawaban.
Ibu mengetuk pintu sekali lagi dan berharap Lily mau membukanya
Tok tok tok
Rasa khawatir Ibu memuncak. Ia akan mendobrak pintu kamar Lily, tapi tak mungkin Ia melakukannya sendiri. Ibu segera berlari menuruni tangga dan menemui Ayah yang duduk dan mengobrol bersama dokter psikolog yang mereka bayar untuk menyembuhkan Lily
"Ada apa? Mana Lily?" tanya Ayah.
Ibu tersenyum terpaksa melihat psikolog yang terlihat sedikit kebingungan melihatnya yang sedikit panik
"Maaf Tuan, ada sedikit masalah" kata Ibu sembari melontarkan tawa canggung
"Tidak masalah, Saya akan menunggu" Psikolog yang bernama Hans tersebut tersenyum ramah dan meneguk pelan teh yang sudah disuguhkan
Ayah dan Ibu mengangguk dan berlari menaiki tangga,menuju kamar putri mereka. Sesampainya disana, Ayah mengetuk pintu dan memanggil Lily. Tak ada jawaban, Ayah langsung mendobrak pintu kamar Lily.
Sedikit sulit karena pintunya sangat kokoh namun akhirnya usaha Ayah berhasil, pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan isi kamar yang hening. Kamar yang didominasi warna mocca-cream itu tertata rapi namun suasananya sedikit sendu.
"Kosong" gumam Ayah
Buliran kristal bening mulai mengalir di sudut mata Ibu. Ia mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Bayangan visual bunuh diri seolah terpampang nyata dimatanya. Ia membayangkan Ia menangis melihat tubuh putrinya yang terbujur kaku tak bernyawa.
__ADS_1
"Tidak! ini tidak boleh terjadi!" Ibu berlari meninggalkan kamar lalu pergi ke seluruh penjuru rumah,mencari keberadaan putrinya
Namun hasilnya nihil, Ia tidak menemukan putrinya dimanapun. Sementara Ayah menunjukan raut wajah tenang dan tak khawatir sama sekali.
"Sayang, tenanglah. Aku yakin putri kita baik-baik saja" ucap Ayah menenangkan Ibu yang menangis sesegukan
"Sayang, putrimu hilang! Ibu mana yang tak khawatir dan menangis melihat anak semata wayangnya menghilang!" teriaknya
Ayah diam dan merengkuh tubuh Ibu, membiarkan dada bidangnya basah oleh airmata. 'Lebih baik diam jika tak mau memancing amukan singa betina' begitulah isi pikiran Ayah.
Mereka berdua masuk dan menemui Hans yang masih setia menunggu mereka sambil membaca koran. Ayah membicarakan perihal Lily yang hilang dan meminta maaf dan menawarkan Hans agar menginap dirumah mereka dulu. Mereka berjanji apabila selama 3 hari Lily belum juga ditemukan, Ayah akan menanggung biaya ongkos untuk Hans pulang kekota.
Hans menyetujuinya, Ia menginap dan tidur dikamar Lily.
*****
Lily terhisap masuk kedalam buku aneh yang ia temui di perpustakaan belakang rumahnya. Lily merasakan silau saat cahaya putih tersebut melingkupi tubuhnya dan ia langsung tak sadarkan diri.
Bruk!
Lily terjatuh di hamparan rumput yang luas. Lily terbangun dan merasakan kaki kirinya sakit sekali. Ia berusaha untuk berdiri dan berjalan dengan tertatih. Suaranya berteriak meminta pertolongan
"Dimana ini?" Lily mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Disini sedikit aneh karena 'rumput' yg ia pijaki ini berwarna keunguan tak seperti warna rumput pada umumnya.
Lily menyipitkan matanya. Beberapa meter dari sini terlihat seperti ada rumah-rumah penduduk dan asap api yang mengepul. Lily mulai berjalan namun kakinya terlalu sakit untuk melangkah. Akhirnya Lily hanya duduk dihamparan rumput 'aneh' ini. Ia kesakitan dan kehausan karena matahari disini sangat - sangat terik
Samar-samar ia mendengar suara tapak kaki kuda yang mendekat ke arahnya. Namun pandangan mata Lily mulai kabur, kepalanya terasa sangat pusing sekali.Haus, itu yang Ia gumamkan sebelum akhirnya Ia kembali terbaring pingsan.
*
*
*
Next!^_^
__ADS_1
Jgn lupa favorite and like nya kaka, maaf jika cerita nya terkesan buru buru dan tidak sebagus novel author lain nya. Cerita ini sebenarnya terinspirasi dari sesuatu, dan aku ga bisa bilang sekarang hehe. Dukung aku dong dgn vote novel ini biar aku semangat buat up:) sekian.