
Happy Reading♡
Maaf ya kalo feel-nya ga dapet:(
*
*
*
Kak Rey memintaku untuk memanggil para penduduk elf dan menyuruh mereka untuk berkumpul di sebuah lapangan. Mereka hanya mengangguk lalu berkumpul teratur. Meski begitu, raut penasaran tidak bisa mereka tutupi.
Aku sendiri juga tidak tahu, aku memilih untuk bergabung dan berkumpul bersama mereka. Menunggu sebentar, lalu kak Rey dan Lily muncul dari balik pintu. Huft, panas. Aku tidak mendengarkan apa yang kak Rey bicarakan didepan sana. Mataku hanya fokus pada gadis yang berhasil membuatku merona. Dialah Lily.
Aku terus saja memperhatikannya. Hingga saat ia maju ke depan dan memperkenalkan dirinya pada kami. Suaranya lembut, bagiku itu sangat menggemaskan. Begitu dia bersuara, mereka bersorak gembira. Bahkan aku mendengar ada yang mengajak Lily untuk menikah. Cih, aku mendengus. Lily kembali mundur, mempersilakan kak Rey untuk kembali maju. Aku bisa melihat gadis itu seperti mencari seseorang ditengah keramaian.
Shit!
Aku mengumpat. Dari sekian banyak elf, kenapa dia harus melihatku? Padahal aku sedang menghindar dari dirinya. Dan yang terjadi sekarang, wajahku kembali memerah. Dasar wajah ini! Kau berkhianat pada pemilikmu sendiri.
Aku langsung mengalihkan pandangan. Kemana saja, asal tidak melihat dia.
*****
Aku hanya mengangguk pasrah ketika kak Rey memintaku untuk tidur dirumahnya saja. Karena rumahku akan dipakai Lily untuk sementara.
Aku sibuk melemparkan anak panah dengan busurku pada sebuah pohon. Membidik lalu melepaskan anak panah pada tengah pohon yang sudah ku beri tanda. Ini panahku yang ke sekian kalinya menancap disana. Aku merasa sangat bosan.
Melihat hari yang sudah menjelang malam, aku bergegas untuk masuk ke dalam rumah kak Rey. Baru selangkah melewati pintu masuk, aku mengalihkan pandangan pada rumahku yang berada disana.
"Gelap" gumamku pelan. Tanpa berfikir panjang, aku berlari kesana. Feeling-ku mengatakan terjadi sesuatu yang tidak baik.
Seorang gadis berlari keluar rumah tepat saat aku sampai didepan pintu, alhasil keningnya menabrak dadaku. Dia terjatuh. Lalu berteriak panik dan menjauh ketika aku mendekatinya. Ku tenangkan dia dan mengatakan namaku. Ketika dia tahu yang datang adalah aku, tubuhnya langsung berlari dan menghamburkan dirinya ke dalam pelukanku. Bahunya bergetar hebat. Dan ternyata feelingku benar, Lily sedang ketakutan.
__ADS_1
Aku mencoba menenangkannya. Tanganku meraba-raba dinding dan menekan sebuah tombol yang terhubung dengan lampu rumahku.
Klik!
Ketika melihat cahaya, gadis ini sedikit tenang. Ia melonggarkan pelukannya. Aku segera mengambil kursi yang terletak disudut rumahku dan mendudukkan Lily diatasnya. Lalu, aku mengambil segelas air putih dan meminumkannya pada gadis ini.
Ini terasa sedikit deja vu. Dimana aku meminumkan Lily air tadi pagi. Entahlah apa yang tiba-tiba merasukiku, jemariku tergerak untuk mengelus surai hitam Lily yang sedikit bergelombang itu.
Hening, canggung lebih tepatnya.
"Kau takut gelap?" tanyaku memecah sunyi. Ia menjawab jika ia sangat bahkan benci terhadap gelap. Aku menghela nafas. Lalu aku menyuruhnya untuk tidur dikamarku, dan mengatakan aku akan pulang dan menginap dirumah kak Rey.
Aku baru ingin melangkah, tetapi tangan kecilnya memegangiku. Aku menoleh, ternyata manik coklat itu sudah berkaca-kaca dan bulir bening berakhir jatuh dipipinya. Ia memintaku untuk tidak pergi dan menemaninya sampai ia tertidur.
Aku terdiam, haruskah aku menemaninya? Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku.
Melihat aku tidak merespon, Lily menangis sesegukan. Aku kembali kebingungan untuk menenangkan gadis ini. "Jangan pergii" katanya sambil mengerucutkan bibir.
Huft, baiklah. Aku akan menemaninya. Aku berjalan menuju kamarku lalu menepuk-nepuk sisi ranjang, menyuruhnya tidur disini. Dia menurut saja, dan jemariku terulur mengambil selimut kulit tebal yang biasa ku pakai.
"Kenapa tadi kau bisa tiba-tiba muncul saat aku ketakutan?" tanyanya
Aku menghela nafas "Karena aku heran melihat rumahku yang masih gelap, makanya aku segera kesini untuk mengecek keadaanmu"
Ia hanya mengucapkan 'oh'. Aku mengelus dahinya pelan, memberikan sihir penenang dengan dosis sedang. Kemudian kelopak mata gadis ini perlahan menutup dan ia masuk ke alam mimpi.
Aku beranjak bangkit, meninggalkan Lily yang sudah tertidur lelap. Sebelum itu, aku sudah memberikan sihir didepan pintu. Mencegah makhluk lain untuk masuk. Karena, Lily masih baru disini. Aromanya begitu memabukkan, membuat siapa saja akan terlena dan terbuai olehnya.
*****
(Dini hari, ketika 2 ekor makhluk yang bernama Troll berusaha memasuki jendela rumahnya)
Aku terbangun ketika Kak Rey mengguncang bahuku kuat. Samar-sama aku melihat wajahnya yang panik. Ia mengatakan sesuatu yang hampir membuat jantungku melompat.
__ADS_1
Tanpa berfikir panjang, aku segera mengambil busur dan anak panah yang kutaruh dibawah lemari dan berlari keluar rumah sambil mengendap-endap. Aku bisa melihat dua bedebah sialan itu merusak jendela dan berusaha menaikinya.
Aku mempraktekkan latihanku kemarin. Membidik lalu melepaskan anak panahku yang sudah diberi racun.
Shuu
Yeah, usahaku tak sia-sia. Anak panah itu berhasil menancap di kepala salah satu Troll. Racunnya bekerja dengan cepat, membuat Troll yang terkena panahku menggelempar kesakitan dan terkulai di tanah. Para penduduk menghambur keluar rumah sambil membawa pedang ketika mendengar teriakannya.
Troll yang satunya sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari, tetapi sebuah jaring besar sudah lebih dulu melilit tubuhnya yang gempal itu. Aku tidak perduli, segera aku memasuki rumahku dan mencari Lily.
Deg!
Pupil mataku melebar, Lily terbaring lemah digenangan darahnya sendiri. Sebuah panah tertancap cukup dalam diperutnya. Tanganku mengepal menahan amarah. Aku langsung merengkuh dan menggendongnya, lalu berlari ke arah rumah Tabib.
Beruntung aku tidak terlambat. Jika aku terlambat sedikit saja, nyawanya tidak akan tertolong lagi. Aku dan seorang tabib bernama Elan, menggabungkan sihir penyembuh lalu menyalurkannya ke arah Lily. Lukanya cukup dalam dan ia kehilangan banyak darah. Tentu itu membuat kami berdua harus berusaha dengan extra.
Perlahan tapi pasti. Lukanya perlahan menutup. Hanya tinggal menyisakan bekas. Aku sangat lelah, energiku tersedot habis. Untuk berjalan saja aku sudah tidak mampu. Pandanganku berkunang-kunang, kepalaku terasa berat seperti ditimpa batu besar, ada sesuatu yang hangat mengalir dari hidungku, aku yakin itu darah. Aku merasa semuanya memburam dan gelap. Akhirnya, aku jatuh tak sadarkan diri.
Begitu pula dengan Elan, tetapi dia tidak pingsan sepertiku. Ia hanya pusing dan lidahnya terasa pahit. Baru kali ini dia mengobati seseorang sampai harus menuangkan sihir penyembuh tingkat tinggi. Dampak yang akan diterima Lily mungkin hanya pusing dan mimisan.
*
*
*
Haii haii
I comeback! Ga ada yg kangen kan:(
Hmm, ga ada yg mau like ni? Ga ada yg mau komen? Yaudah gpp. Mau baca aja udah bersyukur.
Salam sedih
__ADS_1
Sywll: )