Kehidupan Diatas Awan

Kehidupan Diatas Awan
Tragedi


__ADS_3

*


*


*


"Sekarang tidurlah dikamarku, aku akan menginap di rumah Tuan Rey" Baru saja Liam akan melangkahkan kakinya keluar, tetapi tangan kecil Lily menahannya.


Liam menoleh, menatap manik coklat Lily yang mulai berkaca-kaca. Air mata menggenang disudut matanya dan akhirnya jatuh menetes di pipi Lily.


"Jangan pergi, aku takut" Lily berucap pelan. Menahan Liam yang akan pergi meninggalkannya.


"Temani aku hingga aku tertidur" kata Lily lagi. Jawaban itu membuat Liam bingung, haruskah ia menemani Lily? Ia sendiri takut jika tiba-tiba ada hasrat sialan menggoda dirinya untuk menerkam Lily.


Melihat Liam hanya diam, Lily langsung menangis. Membuat Liam kebingungan untuk menenangkannya.


"Jangan pergii" Lily mengerucutkan bibir dengan mata yang masih meneteskan bulir bening.


Akhirnya Liam luluh, ia tak kuasa melihat manik coklat itu memohon padanya.


"Baiklah," Liam berjalan ke arah kamarnya diikuti oleh Lily dibelakang. Liam menepuk-nepuk ranjang, menyuruh Lily tidur disitu.


Lily hanya menurut. Ia merebahkan dirinya lalu menyambut selimut kulit yang tebal dari Liam.


"Liam, boleh aku bertanya sesuatu?" Lily menatap manik hitam pekat Liam yang juga menatapnya balik. Liam hanya mengangguk, mendengarkan hal yang ingin gadis ini tanyakan padanya.


"Kenapa tadi kau bisa tiba-tiba muncul saat aku ketakutan?" tanya Lily


Liam menghela nafas "Karena aku heran melihat rumahku yang masih gelap, makanya aku segera kesini untuk mengecek keadaanmu" jawabnya.


Mendengar itu, Lily hanya ber oh ria. Tangan Liam bergerak mengelus dahi Lily Sesaat Lily merasakan kelopak matanya memberat, semakin berat dan akhirnya ia tertidur. Liam menatap lekat Lily, dia yang menyalurkan sihir penenang dengan tingkat sedang, itu bisa membuat seseorang tertidur lelap.


Liam beranjak bangkit, kakinya melangkah keluar rumah. Ia menuju rumah Tuan Rey, sembari memperhatikan sekitar desa yang terang.

__ADS_1


*****


Dini hari


Lily terbangun ketika mendengar suara yang cukup berisik di jendela kamar Liam. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya seraya mengusir kantuk. Perlahan ia melangkahkan kaki jenjangnya ke arah jendela dan mengintip.


Deg!


Makhluk apa itu?! Lily melihat dua manusia, ralat, monster berukuran sedang,  tengah kasak-kusuk berusaha membuka jendela kamarnya. Mereka bertubuh gempal, wajah yang menyeramkan, kulit mereka seperti dibalut batu-batu kecil, dan mereka membawa senjata aneh yang tak pernah Lily lihat.


Lily gemetar ketakutan, bagaimana ini? Haruskah dia berteriak minta tolong? Tetapi jika ia melakukan itu takutnya monster itu akan menangkap dan membunuhnya. Jika ia hanya diam saja, nasibnya juga mungkin akan ditangkap dan dibunuh.


Prangg!!


Monster itu kesal karena jendela dikunci dengan rapat, tanpa berpikir panjang mereka memecahkan kaca jendelanya. Hal itu membuat kaca jendela hancur berkeping-keping. Lily yang tidak jauh dari situ juga tak sengaja terkena serpihan kaca yang terlempar ke arahnya.


Mata para monster itu terkejut ketika melihat ada gadis cantik yang gemetar ketakutan di dalam rumah. Segera mereka masuk melalui jendela tersebut tapi tak berhasil karena tubuh mereka yang gempal. Mereka tidak mau masuk melalui pintu karena ada sihir listrik disana yang akan menyetrum mereka.


Lily semakin ketakutan, wajahnya putih pucat. Tak ingin membuang waktu ia segera berteriak sekuat tenaga, berharap ada yang mendengarnya.


Buh!


Lily memuntahkan darah dari mulutnya. Ia merasakan perutnya sangat sakit. Suaranya  tercekat di tenggorokan, kepalanya terasa sangat pusing, perlahan ia terbaring dilantai dan tak sadarkan diri.


Sementara itu, Liam bangun ketika Tuan Rey memanggilnya dengan keras. Samar-samar Ia melihat wajah Tuan Rey yang panik dan memucat.


"Ada apa Tuan?" tanyanya sembari menguap kecil.


"Cepat! Lily dalam masalah!" pekiknya sambil menunjuk ke jendela rumahnya.


Liam segera bangkit dan melihat ke arah luar, astaga! Troll! Makhluk aneh yang bernama Troll itu sedang berusaha menaiki jendela rumahnya (rumah Liam)!


Liam langsung menyambar senjata panahnya yang tersimpan di bawah lemari dan berlari keluar.  Diam-diam ia berjalan mendekati troll tersebut, lalu ia membidik dan menembak  kepala troll itu dengan anak panahnya yang beracun.

__ADS_1


Shu!


"Arrgghhh" salah satu Troll itu berteriak kesakitan memegangi kepalanya yang ditancap anak panah. Cairan merah mengucur deras hingga akhirnya ia terkulai ditanah dan mati.


Troll yang satunya panik melihatnya temannya sudah mati dengan genangan darah yang keluar dari kepalanya. Segera ia berlari namun jaring tebal sudah lebih dulu melilit tubuhnya yang gempal. Ia meronta - ronta ketika melihat para elf sudah mengerumuni dan mengacungkan pedang padanya.


Note!:


Sebenarnya, sewaktu Lily berteriak, mereka memasang sihir peredam disekitarnya. Jadi sekeras apapun Lily berteriak tidak akan ada yang mendengar kecuali mereka sendiri. Ketika salah satu Troll teriak, sihirnya pecah dan teriakannya terdengar oleh penduduk. Kok Tuan Rey bisa tahu Lily dalam bahaya? Jadi saat itu Tuan Rey sedang melatih kemampuan sihirnya di sebuah ruangan. Selesai berlatih ia berjalan keluar rumah untuk menikmati suasana desa yang tenang. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan pemandangan 2 ekor Troll yang berusaha memasuki jendela rumah Liam. Ia teringat Lily yang berada di dalamnya, segera ia membangunkan Liam dan menyuruhnya untuk menyelamatkan diri. Kenapa ga Tuan Rey aja yang nyelamatin Lily? Untuk itu belum bisa dijelaskan sekarang, insya allah bakal dijelaskan di pertengahan cerita okee?


Kembali ke cerita sebelumnya


Troll itu meronta - ronta ketika melihat para elf sudah mengerumuni dan mengacungkan pedang padanya. Tanpa teman, ia hanya seorang pecundang yang ketakutan. Cukup dengan menatapnya tajam saja bisa membuatnya menangis.


Srett!


Tali yang ada diujung sudut setiap jaring ditarik, diikat lalu digantungkan ke sebuah dahan pohon yang cukup besar menggunakan sihir. Troll gempal yang berada di dalamnya meringkuk ketakutan. Terlebih ketika manik hijau penduduk elf menatap sinis padanya. Dia sangat-sangat takut.


Liam membiarkan para penduduk menghakimi troll sialan itu, ia masuk ke dalam rumahnya dan menemukan Lily yang sudah memucat kehilangan banyak darah dengan panah yang tertancap diperutnya. Ia mengepalkan tangannya, yang jelas ia tak akan mengampuni Troll itu besok!


Segera ia merengkuh dan menggendong tubuh mungil yang lemah itu,lalu membawanya ke rumah seorang tabib yang ada di desa mereka.


*****


Nyawa Lily hampir melayang, beruntung mereka mempunyai sihir penyembuh yang cukup banyak. Jadi, sekarang Lily hanya tertidur. Luka di perutnya juga sudah diobati, hanya menyisakan bekas luka saja.


Mulai hari ini, Desa Raven akan memperketat keamanan desa mereka, setiap jam nya mereka akan berkeliling, memastikan semuanya baik-baik saja


*


*


*

__ADS_1


Next!


Jangan lupa like dan Favoritenya kaka


__ADS_2