Kehidupan Diatas Awan

Kehidupan Diatas Awan
Abed


__ADS_3

Happy Reading♡


*


*


*


*


*


Lily memejamkan mata ketika angin sepoi menerpa wajah cantiknya. Ia duduk ditepi danau dengan kaki yang menjuntai ke dalam air. Sesekali ikan-ikan kecil menyentuh kakinya. Lily melamun, dengan mata yang menatap kosong ke tengah danau.


"Hai"


Lily menoleh ke belakang. Seorang gadis elf bergaun coklat tua seperti Lily tersenyum manis. Lily membalas senyumannya.


"Boleh aku duduk disampingmu?" tanyanya pelan. Lily mengangguk, mempersilakan gadis itu untuk duduk.


Gadis tersebut langsung mendudukkan dirinya disamping Lily. Ia terlebih dulu melepaskan sepatunya dan ikut menenggelamkan kakinya ke dalam air.


"Kau Lily kan?" Ia menatap Lily.


"Ya, kau sendiri?"


Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan "Aku Dena"


Lily menyambut uluran tangannya "Aku Lily, dan kau sudah tahu itu" katanya sambil tertawa pelan.


"Tentu" ucapnya.


Suasana sedikit canggung, karena Lily juga bukan orang yang pintar mencari topik obrolan. Tiba-tiba gadis itu, maksudku Dena bangkit dari duduk. Ia mengenakan kembali sepatunya.


"Ikut?" Dena menawarkan.


"Kemana?" Lily mengernyitkan dahi. Lalu telunjuk Dena menunjuk ke arah sesuatu. Lily mengikuti arah telunjuk Dena. Seketika manik coklatnya berbinar.


"Aku ikut!" Lily menarik kakinya dan mengenakan sepatu. Ia beranjak bangkit dan menarik tangan Dena.


Mereka berdua berlari menuju ke sebuah pohon, disana terdapat puluhan apel merah yang ranum. Batang pohonnya juga tidak terlalu tinggi.


Lily memanjat ke atas. Ia meraih apel yang terdekat dan melemparnya ke bawah. Dena yang tidak ikut memanjat, ia menyambut apel yang dilempar.


Setelah dirasanya cukup, Lily turun dari pohon. Ia menggigit kecil daging apel dan terdiam sejenak.


"Ini.." Raut wajah senang tercetak dibawah Lily "Manis sekali!" Lily memakan habis satu apel tersebut dalam waktu singkat.

__ADS_1


Dena juga ikut memakan apel tersebut. Sesekali ia tertawa kecil melihat tingkah Lily. Sesaat ia terdiam. Tatapannya menajam.


Ia melepaskan apel yang berada digenggamannya. Ia menatap sekeliling dengan waspada.


"Awas!" Sebuah anak panah hampir mengenai Lily. Untung Dena cepat tanggap dan mendorong gadis itu dengan kuat. Lily meringis nyeri ketika bokongnya mendarat ditanah.


Ia membelalak ketika baru sadar jika ia hampir mati, melihat anak panah tersebut yang meleset dan tertancap di dahan pohon.


"Ternyata kau tidak sebodoh yang ku kira" Seorang lelaki keluar dari semak-semak. Ia menatap remeh ke arah mereka sambil tersenyum tipis.


"Pergi!" bentak Dena. Ia menatap nyalang lelaki yang melangkah ke arah Lily. Segera ia menarik tangan Lily dan menyembunyikan gadis itu dibelakangnya. Ia menjadi tameng untuk Lily.


"Hei, aku ingin berkenalan dengannya" kata lelaki itu. Disusul dengan tawa kecil yang sedikit aneh.


"Pergilah vampir sialan!" bentak Dena lagi


Lelaki itu tidak menggubris Dena. Ia terus melangkah maju. Lelaki berkulit pucat itu mengulurkan tangan ke arah Lily. Namun dengan cepat ditepis oleh Dena.


"Jangan macam-macam!" ancam Dena.


"Tidak akan, sudah ku bilang jika aku hanya ingin berkenalan" tukasnya. Jika diperhatikan lagi, dia memiliki manik merah menyala. Bibir yang merah, tampak kontras dengan kulit pucatnya. Hidung mancung, alis tebal. Dia tampan, hanya tampak sedikit mengerikan.


"Aku Abed, putra mahkota kerajaan vampir" katanya sambil menatap ke arah Lily.


Gadis yang berada dibelakang Dena itu hanya terdiam. Menatap manik merah Abed sebentar lalu kembali menunduk.


Angin berhembus pelan. Membuat ranting dan dedaunan sedikit bergoyang. Abed tampak menarik nafas dalam ketika aroma harum tubuh Lily menusuk indra penciumannya yang tajam. Ia menelan salivanya dengan kasar, aroma ini seperti mengajaknya untuk ...


Abed segera pergi dari sana. Ia langsung berteleportasi ke dalam kamarnya. Disana ia menghempaskan tubuhnya kuat ke ranjang. Sesekali mengusap wajahnya, aroma itu sungguh membuat Abed hampir terbuai.


Dena menghembuskan nafas lega ketika Abed menghilang.


"Lily, berhati-hatilah dengan para vampir. Mereka itu licik dan tidak berperasaan. Haus darah dan kekuasaan" ucap Dena dengan nada pelan.


"Baiklah" Lily mengangguk.


"Ayo kembali" ajak Dena. Mereka berlari keluar dari sana, lalu menuju ke desa.


*****


Keduanya berpisah di depan rumah Lily. Dena harus pergi ke suatu tempat. Sebenarnya Lily ingin ikut, tetapi melihat raut wajah serius Dena, ia mengurungkan keinginannya itu.


Lily tidak pulang ke rumah. Melainkan pergi berjalan-jalan di alun desa. Sesekali menyapa penduduk yang lewat. Rambutnya yang dikuncir kuda melambai-lambai mengikuti gerakan berjalan si empunya. Ia sendiri tidak sadar jika ia sudah berjalan terlalu jauh hingga perbatasan.


Lily terhenyak ketika melihat seekor kuda coklat yang memakan rumput di perbatasan desa. Kuda itu cantik sekali. Lily ingin memeganginya, tetapi ia takut.


Mata kecoklatan kuda tersebut seolah menghipnotis Lily untuk melangkah ke dalam hutan. Lily terbuai, kakinya melangkah masuk.

__ADS_1


Suasana berbeda Lily rasakan saat menginjak rumput disini. Sedikit gelap karena rerimbunan yang lebat, dan sedikit ... aneh.


Ia merasa tak aman, tak seharusnya Lily terbuai datang kesini. Lily mencari kuda yang tadi, tapi kuda itu sudah hilang! Apa ini jebakan?


"Hai sayang" Seketika tubuh Lily menegang ketika suara berat disertai nafas hangat itu berhembus dileher jenjangnya. Lidahnya seolah kelu, manik coklatnya membelalak.


"Kau merindukanku ya?" Suara itu terkekeh. Lily terlonjak ketika sebuah benda kenyal dan basah itu mengecup lehernya. Ia tak lagi mematung seperti tadi.


Kaki Lily melangkah mundur.


Manik merah menyala itu menatap lekat padanya. Tubuh Lily berhenti ketika punggungnya menabrak batang pohon besar. Jantung berdebar kencang, ia ketakutan.


"Sayang" suara itu kembali terdengar. Lelaki itu semakin mendekat dan kedua tangannya mengungkung disamping kepala Lily.


Lily menunduk dan meremas gaun coklatnya. Ia berharap Liam atau Rey menyelamatkan dirinya.


Wajah Lily mendongak ketika jari telunjuk Abed mengangkat dagunya. Ia terpaksa menatap manik merah itu. Wajah mereka sangat dekat, bahkan hidung mereka saja hampir bersentuhan. Abed hendak mendekatkan bibirnya, tetapi ia berhenti ...


"Tidak" Abed menggumam. Ia melepaskan kungkungannya dan menjauh dari Lily. Matanya terus menatap Lily dan mengatakan 'tidak'.


Lily kebingungan sendiri. Tetapi saat itulah ia sadar jika ini kesempatannya untuk kabur. Baru saja ia mengambil ancang-ancang untuk berlari, teriakan Abed menggema.


"Tidakk!!" Abed berteriak histeris sambil memegangi kepalanya. Setetes darah keluar dari hidungnya. Ia meraung kesakitan.


Lily berhenti. Menatap ke arah Abed yang kini terbaring ditanah. Ia iba, tak tega melihat lelaki itu menangis dan kesakitan.


Ia hendak mendekat tetapi ancaman Abed menghentikannya.


"Pergilah. Aku tidak ingin menyakitimu" ancam Abed. Manik merahnya tampak berbeda sekarang, dan dua taring mulai muncul di sudut bibirnya.


Lily segera pergi. Ia juga takut jika Abed akan menggigit dirinya.


*


*


*


*


*


Hai. Jgn lupa vote and komen.


Salam datar


Sywll.

__ADS_1


__ADS_2