Kehidupan Diatas Awan

Kehidupan Diatas Awan
Takut


__ADS_3

*


*


*


Lily dan Mery masuk ke ruang dimana disitu terdapat banyak pakaian yang tergantung rapi. Mery menjentikkan jari, lalu satu helai baju melayang dan mendarat di tangannya.


"Ini, cobalah disana" Mery memberikan Lily sebuah gaun polos dibawah lutut berwarna hijau tua dengan brenda putih di ujungnya. Mery juga menyuruh Lily mengganti baju di sebuah bilik.


Ternyata gaun itu sangat pas di badan Lily, Ia terlihat anggun dan elegan. Dengan segera mereka berdua kembali ke ruangan dimana Tuan Rey berada.


Sesampainya disana, Tuan Rey dan Liam tampak membicarakan sesuatu. Tetapi, mereka berdua menghentikan pembicaraannya ketika Lily dan Mery sudah kembali.


Liam berdehem melihat Lily yang terlihat sangat anggun, wajah tampannya memerah. Mendadak ia merasa gerah. Segera ia menunduk hormat pada Tuan Rey dan bergegas keluar


Bukan tanpa alasan, Liam terpesona pada Lily. Tubuh tinggi yang ramping, kulit putih mulus, manik coklat terangnya,hidung mungil yang mancung, bibir tipis merah delima, Lily benar-benar seperti boneka cantik yang hidup. Andai aku laki-laki mungkin aku juga akan terpesona padanya.


Tuan Rey tersenyum tipis melihat kepergian Liam. Memang, tak bisa dipungkiri Lily benar benar cantik. Jujur, baru kali ini ia melihat Liam terpesona dengan seorang wanita. Karena Liam adalah seorang yang susah untuk membuka hatinya.


Lily mengenyitkan dahinya heran, ada yang salah? begitu isi pikirannya.


"Tidak, tidak ada yang salah" ucap Tuan Rey "Sepertinya bocah itu terpesona melihatmu"


Blush!


Ucapan Tuan Rey membuat pipi putih Lily merona


Tuan Rey terkekeh. Ia berjalan mendekat dan menarik tangan Lily menuju ke sebuah pintu, awalnya Lily mengira itu ruangan yang lainnya.Tapi, ternyata bukan ruangan tetapi sebuah lapangan luas yang kini dipenuhi oleh


para elf. Lily terkejut, kenapa mereka dikumpulkan? batinnya keheranan.


"Mereka disini untuk menyambutmu, penduduk baru" Rey tersenyum manis.


Raut wajah mereka berbinar cerah. Bahkan ada yang membawa bunga. Jujur, Lily merasa sedikit terharu, ia mengira mereka akan mengucilkan dirinya. Namun yang terjadi mereka sangat menyambut dan menerima kedatangannya yang tak disengaja ini.

__ADS_1


"Perhatian semuanya" kata Tuan Rey "Hari ini kita kedatangan penduduk baru, kalian mau menerimanya disini?"


Mereka menjawab dengan kompak "Tentu saja!"


"Baiklah, Lily perkenalkan dirimu" pintanya.


Perlahan Lily melangkah kedepan lalu tersenyum manis "Halo semua, namaku Lily.


"Halooo.."


"Dia cantik sekali


"Manisnya"


"Lily, menikahlah denganku!"


Lily tersipu dan menunduk, lalu mengundurkan diri membiarkan Tuan Rey kembali maju.


"Dia manusia yang baik. Jadi, aku harap kalian tidak berniat buruk dengannya. Dan bla bla bla .."


Manik coklat Lily menyipit, mencari salah seorang dari ramainya para elf. Tidak sulit karena orang yang dia cari berambut hitam legam seperti rambutnya yang terurai sebahu.


'Sadar Lily! Ingat Ron yang masih kau cintai sampai saat ini!' Ia menggumam kecil. Namun, hatinya kecilnya tak mampu berbohong jika ia sedikit mengagumi Liam.


Tiba-tiba Lily merasa perutnya sedikit perih, astaga! dia baru ingat jika perutnya belum terisi apapun. Ingin makan tetapi apa makanan di dunia ini sama dengan makanan di dunia manusia?


Ia tak sadar jika dirinya melamun sedari tadi. Sedikit terkejut ketika tangan Tuan Rey menyentuh dan kembali menarik tangannya, masuk kembali ke dalam rumah.


"Lapar?" tanyanya lembut "Tenang saja, makanan disini juga sama dengan makanan yang ada di dunia manusia" jawabannya cukup membuat hati Lily bernafas dengan lega.


"Pelayan!" Tuan Rey memanggil salah seorang pelayannya. Lalu datang 3 orang wanita yang hampir seumuran dengan Lily menghampiri keduanya. Rambut pirang dan manik mata hijau mereka membuat Lily berdecak kagum.


"Bawakan kami makanan" titah Tuan Rey. Mereka bertiga mengangguk dan segera pergi.


Lily hanya diam tak bersuara, matanya menikmati interior rumah ini, klasik dan elegan. Lily menyukainya, aura rumah ini juga tenang dan damai membuat siapa saja yang masuk akan merasa nyaman.

__ADS_1


*****


Lily masuk kerumah Liam. Ia melepaskan sepatu mungilnya dan meletakkannya di sebuah rak. Ia menatap seisi ruangan yang sedikit berantakan. Lalu, ia mengambil dan menaruh kembali perabotan yang terjatuh dilantai, menyapu dan mengepel rumah Liam. Alhasil, rumah itu kini menjadi lebih rapi dan bersih.


Ia melirik ke arah jendela, terlihat matahari yang diufuk sana mulai tenggelam, segera ia mengambil obor yang tersimpan di bawah perapian. Tapi dimana ia akan mendapatkan api? Dari tadi ia tidak menemukan sebuah korek, sementara hari mulai gelap dan suasana rumah sedikit mencekam.


Keringat dingin mulai membasahi dahinya, ia memiliki riwayat phobia terhadap gelap. Kakinya segera melangkah keluar rumah, tetapi tiba-tiba ia menabrak sesuatu hingga ia terjatuh kelantai.


"Aww" Lily meringis, mengusap dahinya yang terbentur dada seseorang. Eh, sebentar, dada? Sontak Lily semakin ketakutan, ia melihat seorang lelaki didepannya. Wajahnya tidak terlihat karena hari sudah gelap.


"Siapa itu!?" Pekik Lily ketakutan. Ia meringsutkan tubuhnya mundur ketika kaki lelaki didepannya melangkah maju.


"Hei! Tenanglah! Ini aku Liam" ucapnya.


"Liam?" Segera Lily beranjak bangkit lalu menghamburkan dirinya ke arah Liam. Lily tak perduli jika Liam menganggapnya gila, ia sangat ketakutan.


Liam sedikit mundur ketika Lily memeluk dirinya. Ia bisa merasakan tubuh kecil yang berada dalam pelukannya ini gemetar ketakutan "Tenanglah, aku disini" katanya menenangkan.


"A..aku takut" cicit Lily pelan. Entah sejak kapan bulir bening sudah meleleh di pipinya, ia semakin memeluk erat tubuh didepannya ini.


"Tenang, aku akan menyalakan lampunya" Jemari Liam meraba dinding dan menekan sebuah tombol, klik! Lampu tergantung di sebelahnya menyala.


Melihat cahaya, Lily sedikit tenang. Ia mengendurkan pelukannya, dan tak lagi menangis. Hanya wajahnya yang sembab.


Liam mengambil sebuah kursi kayu, mendudukkan Lily disitu dan mengambil segelasĀ  air putih. Sedikit tak tega, melihat Lily yang pucat pasi. Sedikit demi sedikit ia meminumkan airnya pada Lily. Ia bisa melihat jemari Lily yang masih gemetar ketika menerima gelas darinya.


Refleks ia mengelus pelan rambut Lily yang sedikit bergelombang itu. Menyalurkan sihir penenang pada gadis didepannya. Mereka berdua saling terdiam, canggung lebih tepatnya.


"Kau takut gelap?" tanyanya memecah keheningan.


"Sangat, aku benci gelap"ucap Lily pelan, meremas kuat gaun hijau yang dikenakannya.


"Sekarang tidurlah di kamarku, aku akan menginap di rumah Tuan Rey" Baru saja Liam akan melangkahkan kakinya untuk keluar, tetapi tangan kecil Lily menahannya.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2