Kehidupan Diatas Awan

Kehidupan Diatas Awan
Liam Pov 1


__ADS_3

Happy Reading♡


Maaf kalo ga dapet feelnya:(


*


*


*


Aku Liam. Aku seorang manusia, bukan elf. Aku tidak ingat bagaimana aku bisa ke dunia ini. Yang jelas, aku sudah tinggal di desa ini sejak aku dilahirkan. Aku juga tidak tahu siapa orang tuaku.


Oh ya, aku ada sedikit kenangan yang tak ingin ku lupakan. Saat itu, hujan deras. Aku yang baru berumur 6 tahun tersandung akar pohon dan jatuh tersungkur ke tanah. Suasana desa sangat sepi, karena semua elf memilih untuk tidur atau berdiam diri didalam rumah jika sedang hujan. Bajuku basah kuyup, lututku terluka dan terasa perih terkena air hujan. Aku bangkit dan berjalan tertatih-tatih. Lalu, seorang lelaki menyapaku sambil membawa jubah untuk melindungi dirinya dari air. Ia meletakkan jubah itu di atas badanku, tak perduli dirinya akan basah. Aku tak mengenal siapa dia, tetapi aku mendongak dan berterimakasih padanya. Aku mengajak lelaki itu untuk singgah kerumahku, tapi ia menolak. "Aku harus kembali, istriku akan melahirkan putri kami" katanya lalu pergi menghilang. Aku sangat penasaran, aku ingin mengikutinya tapi suara tegas menghentikan niatku. Itu kakak Rey, dia menatapku dengan raut cemas dan marah. Oke, aku tahu ini salahku. Bocah kecil yang nakal berkeliaran ditengah hujan deras dengan senangnya tanpa tahu bahaya mengintai. Aku hanya pasrah ketika kakak Rey menarik dan membawaku pulang, aku sangat berharap aku bisa bertemu lelaki itu lagi nanti.


Lanjut!


Kini aku sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Alis tebal, rahang kokoh, tatapan setajam elang, bertubuh tinggi, itu aku. Ku akui wajahku cukup tampan, buktinya para gadis elf di desa ini ramai yang mengagumiku. Namun tidak ku perdulikan, aku tidak tertarik dengan mereka. Hei kau, jangan menganggapku tidak normal. Aku masih normal, hanya saja para gadis elf disini tidak ada yang sama dengan tipe ku.


Hari itu aku sedang berjalan bersama kuda putihku, menyusuri perbatasan desa dan hutan sembari melatih sihir. Tetapi, baru setengah perjalanan aku dikejutkan dengan pemandangan tak biasa didepanku. Seorang gadis tergeletak tak sadarkan diri dihamparan rumput. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia dari dunia bawah awan atau dunia manusia.


Sekilas aku melirik kakinya yang sedikit tersingkap karena ia mengenakan dress selutut berwarna biru. Kakinya sedikit memar, aku yakin itu patah. Iba, aku menggendong gadis itu menuju rumahku untuk diobati.


*****


Aku bisa melihat tatapan tak percaya dari para gadis elf ketika menatapku menggendong gadis ini. Aku tidak memperdulikan mereka. Aku berjalan santai ke dalam rumahku dan membaringkan gadis ini diranjang kamarku. Aku duduk di sebelah kakinya. Bermodalkan sihir penyembuh yang diajarkan kak Mery, aku mencoba untuk menyembuhkan kakinya yang patah ini. Sedikit susah, karena ini pengalaman pertamaku menggunakan sihir penyembuh pada manusia. Biasanya aku mencoba ini pada hewan atau elf.


Perlahan cahaya hijau keluar dari telapak tanganku. Aku meniup dan mengusapkannya ke kaki gadis itu. Kesal karena tak membuahkan hasil, aku sedikit menambahkan dosis pada sihirku. Ya sedikit, tetapi aku tak sengaja sedikit menyakiti gadis itu. Ia terbangun, lalu menatapku dan menggumam kecil. Aku tidak bisa mendengarnya. Bibirnya pucat, dengan sigap aku mengambil air dan meminumkankannya pada gadis tersebut.


Aku terus menatapnya, jujur tidak ada gadis elf secantik dia. Baik, aku hanya memujinya saja. Dia mengucapkan terimakasih. Aku hanya mengangguk, tetapi aku tak sengaja membaca pikirannya yang mengatakan bahwa aku tampan. Spontan aku mengucapkan terimakasih pada gadis ini.


Blush!

__ADS_1


Pipinya merona. Dia terkejut melihatku yang bisa membaca pikiran. Hehe, ini kelebihanku. Baiklah, suasana kembali canggung. Aku kembali mengobati kakinya. Tidak berapa lama kemudian, ia bertanya. Menanyakan dirinya berada dimana, aku hanya menjawab jika dirinya berada di dunia atas awan.


Skip, karena kalian sudah tau ceritanya.


Huhh, sihir tadi benar-benar menguras energiku. Tebakan ku tepat, sekitar 30 menit, tulang kakinya bisa menyatu sempurna. Walau, jika dibawa berlari akan sedikit nyeri.


Aku membawanya berjalan keluar, menuju rumah kak Rey. Manik coklat gadis ini tak berhenti menelusuri desa ini. Beberapa penduduk elf menyapa dirinya. Dia membalasnya, ku kira dia akan diam atau tidak perduli.


Setelah berjalan sebentar, kami sampai didepan rumah kak Rey. Aku mengetuk pintu dan menunggu seseorang membukanya.


Ceklek!


Pintu dibuka. Terlihat seorang wanita paruh baya, menatap kami lalu tersenyum. Dia kakak Mery, wanita yang menemukan dan merawatku sedari kecil. Dia mempersilakan kami untuk masuk. Wait!, aku merasakan keraguan dan ketakutan dari gadis disamping ku ini.


Aku meyakinkan dirinya, bahwa tidak ada yang berniat jahat disini. Aku menarik lalu menggenggam tangan mungilnya untuk masuk ke dalam rumah. Dia pasrah.


Kami masuk ke dalam sebuah ruangan, ruang dimana kak Rey pakai untuk bermeditasi dan berlatih sihir. Kini didepan kami duduk seorang lelaki bermahkota kecil yang usianya terpaut 4 tahun diatasku.


Ia duduk diatas batu yang tidak terlalu besar dan dikelilingi lilin-lilin kecil. Matanya terpejam, tetapi terbuka ketika kami masuk keruangannya. Manik emas-merah itu menatap kami dengan intens. Kami menunduk hormat padanya, wajar, karena ia pemimpin desa ini.


Ia terbang turun menggunakan sihirnya. Aku bisa melihat, ia menatap Lily. Huh dasar gadis ini, ditatap begitu saja sudah gemetar ketakutan. Tetapi, pesona kak Rey menenangkan dirinya.


Skip lagi!


Kak Mery membawa Lily untuk berganti pakaian. Lalu kak Rey segera mencerca ku dengan beberapa pertanyaan.


"Kau menemukannya dimana?" tanyanya serius.


"Dihamparan rumput, kenapa?" jawabku. Mendengar jawabanku, kak Rey menggumam dan mendesis kesal.


'Sial! Kenapa ia bisa jatuh disitu? Padahal aku sudah mengatur portalnya mengarah pada tempatnya' kira-kira begitulah gumamannya

__ADS_1


"Apa dia terluka?" Raut cemas tercetak jelas diwajah tampan lelaki ini.


"Tentu, salah satu kakinya patah. Tapi sudah ku obati" ujarku. Kak Rey menghembuskan nafas lega, dan tersenyum samar.


Pembicaraan kami terhenti, ketika orang yang dibicarakan datang. What? Apa aku tidak salah lihat? Apa mataku yang sudah tidak berfungsi sebagaimana fungsinya?


Didepan kami, berdiri seorang gadis dengan gaun hijau tua khas desa ini membalut tubuhnya. Surai hitam yang semulanya dikuncir kuda kini terurai indah. Dia sangat-sangat cantik.


Blush! Astaga, pipiku merona. Jantung berdegup tak karuan.


Kak Rey lebih dulu melihat rona wajahku. Dia terkekeh, refleks aku mengipas-ngipaskan wajahku. Berusaha menghilangkan rona wajah sialan ini. Tak tahan, aku memilih untuk keluar saja.


Shit!


Bayangan Lily terus menghantui pikiranku. Bibirnya yang merah delima itu mengusik akal sehatku. Sial! Tidak mungkin aku jatuh hati padanya, ya! Tidak mungkin. Mungkin itu hanya karena aku baru melihat gadis secantik dirinya.


*


*


*


**Hai haii!!!


Maaf ya ceritaku ga sebagus cerita author yang lain. Typo yang masih bertebaran. Huhh, jelek kan ceritaku?: (. Judul ceritanya juga udah aku ubah, karena urusan pribadi hehe.


Tapi tolong, aku minta sarannya untuk cerita ini ke depannya. Oh iya, biasanya 1 part itu pasnya berapa kata sih? Mau pendek takut kependekan, mau panjang takut kepanjangan, hehe.


Juga, aku mau minta maaf kalo upnya jarang ( hiya hiyaa kayak dicariin aja ). Gatau dah, mood aku buat up down banget. Mana sepi pembaca lagi. Okelah sudah cukup bacotannya. See you againn:)


Tekan likenya dan komen ya kaka!

__ADS_1


Salam cerewet


sywll♡**


__ADS_2