Kehidupan Diatas Awan

Kehidupan Diatas Awan
Misteri


__ADS_3

Happy Reading♡


*


*


*


Matahari begitu terik. Tampak seorang gadis cantik, memegang busur dan satu anak panah. Ia berusaha membidik pohon yang sudah diberi tanda.


Shuu


Anak panahnya melaju cepat. Sayangnya, itu meleset. Sinar matahari yang menyengat membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. Ia menyeka bulir-bulir keringat yang menetes di dahinya.


"Lily, sudahlah. Sepertinya kau kurang bisa dalam memanah. Kita belajar yang lainnya saja" ujar Rey, tak tega melihat gadis yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu menahan panas ditengah teriknya matahari.


"Baiklah" Lily mengangguk patuh. Ia berjalan masuk ke dalam rumah Rey.


"Ini, minumlah dulu" Rey memberikan segelas air pada Lily. Jemari gadis itu menyambut gelas dan meminumnya dengan cepat.


"Terimakasih" ucapnya. Huft, ternyata memanah tak semudah yang ia bayangkan. Ia bahkan menghabiskan 30 anak panah hanya untuk satu titik di sebuah pohon. Dan semua anak panahnya meleset jauh.


Hal itu membuat dirinya sedikit kesal. Bibirnya mengerucut dan alis yang sedikit menukik ke depan. Ia terlihat sangat imut.


Rey hanya tertawa melihat raut wajah Lily, tangannya terulur untuk mencubit gemas pipi gadis disampingnya itu. Rasa sebal Lily semakin menjadi-jadi, ia membalas mencubit kedua pipi Rey. Akhirnya, terjadilah lomba cubit-cubitan.


"Huh, sakit" cebik Lily kesal. Ia memegangi pipinya yang mungkin akan molor ke bawah.


"Siapa suruh kau sangat menggemaskan, jadi kedua tanganku ini tak tahan untuk tidak mencubit pipimu itu" bela Rey.


"Hei kak! Aku ini sedang kesal, jangan menambah kekesalanku lagi" Lily mendengus dan memalingkan pandangannya.


Tawa Rey pecah seketika. Tidak sah jika sehari saja tidak menggoda adiknya itu. Menurut Rey itu menyenangkan, kadang ia sampai tertawa terbahak-bahak sehabis menggoda Lily.


Jika sudah begitu, Lily akan menggunakan senjata terakhirnya. Ia akan menggelitik perut dan pinggang kakaknya itu hingga dia (Rey) mengaku kalah.


"Huft" keduanya menghela nafas bersamaan.


"Kak, ajarkan aku sihir" pinta Lily. Ia memasang puppy eyes andalannya. Itu membuat Rey mengangguk luluh. Ia tak tahan melihat ekspresi memohon adiknya itu.


"Baiklah, ayo ke halaman belakang" ajak Rey. Lily mengikutinya dari belakang Rey.

__ADS_1


***


"Ayolah Lily, jangan menyerah" Rey berusaha menyemangati adiknya itu.


"Tidak bisaa" Lily merengek. Sudah berulang kali ia mencoba, tetap saja gagal.


"Cobalah sekali lagi, kau harus tenang. Tarik nafasmu dalam-dalam lalu hembuskan, tenangkan pikiranmu" Rey menjeda kalimatnya sebentar


"Bayangkan salah satu elemen, biarkan elemen itu memenuhi pikiranmu. Jika sudah, arahkan tanganmu ke depan lalu hentakkan" sambungnya.


Lily mencoba instruksi yang diajarkan Rey. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, ia memejamkan mata dan membayangkan elemen api. Ia biarkan elemen itu menguasai pikirannya. Tangannya mulai terarah ke depan, dengan ragu ia menghentakkan tangannya.


Deg! Lily terkesiap. Telapak tangannya menghadap ke atas. Tepat diatas itu ada sebuah gumpalan seperti bola kecil yang panas.


"Bagus Lily, kau melakukannya dengan baik!" Puji Rey.


"Sekarang, kau satukan kedua telapak tanganmu untuk mematikan sihirnya" titah Rey, Lily menurut. Ia menyatukan kedua tapak tangannya dan bola api itu lenyap.


Bugh


Lily terduduk di atas tanah. Ia sangat lelah, sihir api tadi seakan menyerap energinya. Rey yang melihat itu langsung menghampiri Lily dan menatap gadis itu khawatir.


"Hei, kau baik-baik saja?" raut wajah cemas terpampang jelas di wajah tampan Rey. Ia bisa melihat wajah adiknya sangat pucat.


Hal ini lah yang membuat Rey sedikit enggan untuk mengajarkan Lily sihir. Wajar, karena Lily masih baru disini. Jadi energi Lily belum cukup untuk berlatih sihir yang memerlukan banyak energi.


Rey membaringkan tubuh lemah itu diatas tempat tidur miliknya. Wajah Lily tampak pucat. Sekarang ia menyesal menuruti keinginan adiknya itu, kenapa dirinya mudah sekali terbuai dengan ekspresi puppy eyes andalan Lily.


Rey menghela nafas gusar. Elan sedang ke dunia bawah awan ( dunia manusia ) hari ini. Rey kurang tahu mengenai sihir penyembuhan. Ia lebih memilih untuk menjadi pendekar, tetapi ia juga cukup hebat dalam dunia sihir.


Manik emas-merahnya itu tak henti menatap wajah adiknya. Ia bingung harus melakukan apa.


"Bodoh" tiba-tiba Rey mengumpat "kenapa aku tidak memanggil Liam saja!"


Rey merutuki kebodohannya dalam hati. Ia mulai memejamkan mata, menghubungi Liam melalui sihir telepati.


"Liam, datanglah kemari. Aku butuh bantuanmu"


*****


Disisi lain

__ADS_1


Liam mendudukkan tubuhnya diatas hamparan rumput. Ia habis berburu rusa, tetapi hari ini ia tidak mendapatkan apapun. Entahlah, hari ini ia tidak bisa fokus.


Ia menyeka keringat yang menetes dipelipisnya. Ia mengelus leher kuda putih kesayangannya itu. Kuda itu mengendus- ngendus wajah Liam. Liam terkekeh geli, namun langsung terdiam ketika menerima telepati dari Rey.


"Liam, datanglah kemari. Aku butuh bantuanmu"


Liam beranjak bangkit begitu telepati itu menggema di indra pendengarannya. Ia lekas menaiki kudanya, menarik tali pelana dan menghentakkannya. Kuda putih itu langsung berjalan ke rumah Rey.


Liam menebak pasti ini tentang Lily. Gadis yang sudah beberapa minggu ini ia hindari. Wajah cantik dan anggun Lily begitu menghantui pikirannya.


"Ck" Liam berdecak. Ia memacu kuda untuk berjalan lebih cepat.


*****


"Ada apa?" Liam berjalan ke arah Rey yang mondar-mandir diluar rumah dengan tergesa-gesa. Tanpa aba-aba Rey langsung menarik tangan Liam menuju kamarnya.


"Kenapa bisa seperti ini?" Liam mengerutkan dahi, menatap Rey yang memasang raut wajah bersalah. Kedua tangannya mengusap rambut Lily yang terurai, menyalurkan sihir.


"Aku mengajarinya sihir, dia yang memintanya. Aku menyesal, melupakan energinya yang belum sepenuhnya kembali. Maafkan aku" Rey benar-benar merasa bersalah. Ia mengaku sangat bodoh hari ini.


"Sudahlah, dia hanya pingsan bukan mati" ujar Liam datar. Mendengar itu membuat Rey melotot. Santai sekali nada bicaranya.


"Kau ini!" Rey memukul bahu Liam keras. Tak perduli sang empunya mengaduh kesakitan.


"Rasakan itu!" kata Rey lagi. Liam mendengus kesal. Inilah sifat mereka jika hanya berdua. Bersikap layaknya adik dan kakak. Lain lagi jika ada orang lain disekitarnya. Liam akan menghormati Rey sebagaimana penduduk lainnya.


"Egghh" suara rintihan lemah itu keluar dari bibir pucat Lily. Ia merasa kepalanya seperti habis dihantam batu, pusing. Kedua kelopak matanya seolah diberi lem.


Sebenarnya ia sudah sadar sedari tadi. Matanya tidak bisa dibuka, berat. Jadi ia hanya mendengar percakapan Rey dan Liam.


"Aku mengajarinya sihir, dia yang memintanya. Aku menyesal, melupakan energinya yang belum sepenuhnya kembali. Maafkan aku"


Ucapan Rey tadi terngiang di telinganya. Energi yang belum sepenuhnya kembali? Ya Lily akui kalimat itu mungkin terasa biasa saja, tetapi ia menangkap sedikit kejanggalan. Seperti misteri. 'Yang belum sepenuhnya kembali' berarti energinya sudah pernah ada atau sedang dipersiapkan?.


*


*


*


**Maaf ceritanya ga jelas. Cuman mau bilang tolong like sama komen. Klo gamau ya gpp, terserah pembaca. Kalian mau baca ceritaku aja udah seneng bgt:)

__ADS_1


Salam datar


Sywll**.


__ADS_2