Kehidupan Diatas Awan

Kehidupan Diatas Awan
Tuan Rey


__ADS_3

*


*


*


Samar-samar ia mendengar suara tapak kaki kuda yang mendekat ke arahnya. Namun pandangan mata Lily mulai kabur, kepalanya terasa sangat pusing sekali.Haus, itu yang Ia gumamkan sebelum akhirnya Ia kembali terbaring pingsan.


*****


Kesadaran Lily mulai kembali, Ia terbangun lalu berusaha mengatur cahaya yang masuk ke kornea matanya. Hal pertama yang Ia lihat adalah seorang lelaki tampan, sedang mengobati kaki kirinya dengan cahaya hijau yang keluar dari telapak tangannya.


"Haus ..." lirih Lily


Lelaki itu menoleh. Melihat wajah cantik Lily yang terbaring pucat. Dengan sigap, Ia mengambilkan segelas air yang terbuat dari kayu dan meminumkannya pada Lily


Entah mengapa, Lily merasa sedikit lebih segar dan bibirnya yang tadi pucat kembali memerah.


"Te..terima..kasih" ucap Lily, menunduk malu karena lelaki tersebut terus menatapnya.


Dia tampan sekali, batinnya


"Terimakasih" katanya. Sontak pupil mata Lily membesar. Astaga! Apa dia bisa membaca pikiran? Pipi putihnya langsung merona malu.


"Ya, aku bisa membaca pikiranmu" katanya lagi.


Wajah Lily memerah. Ia malu sekali. Lalu, Lelaki tersebut mengulurkan tangannya ke arah Lily dan berkata "Namaku Liam"


Jemari Lily menyambut uluran tangan Liam " Aku Lily"


Hening, suasana menjadi canggung. Liam menunduk dan melanjutkan kegiatannya mengobati kaki Lily yang patah. Perlahan cahaya hijau itu keluar lagi dari telapak tangan Liam. Lily melongo melihatnya.


Satu menit, dua menit, Lily baru sadar Ia berada dalam dunia yang berbeda. Ia melihat sihir dengan mata kepalanya sendiri. Oh astaga! Ini dimana?!


"Permisi Liam, aku ada dimana sekarang?" tanya Lily

__ADS_1


"Kau sekarang berada di Dunia atas langit, Aku tak sengaja menemukanmu terbaring tak sadarkan diri di hamparan rumput. Aku melihat kaki kirimu patah, dan aku memutuskan untuk mengobatinya dirumahku" jelasnya.


Lily sedikit tersentuh "Terimakasih sudah mau menolongku, Liam" Liam hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan


Liam masih fokus mengobati kaki Lily yang patah, dengan telaten Ia meniup pelan cahaya hijau dan mengusapkannya ke kaki Lily. Perlahan tapi pasti, Lily merasa kakinya tak sesakit tadi dan mulai bisa digerakkan.


30 menit berlalu, kini Lily sudah bisa berjalan dengan lancar meski masih sedikit terasa sakit, namun ini sudah lumayan.


Liam mengajak Lily keluar dan bertemu penduduk disana. Lily berada di desa Raven, sebuah desa kecil yang menjadi desa satu-satunya yang hidup makmur sedari dulu


Penduduknya juga ramah, mereka adalah suku elf yang bertelinga runcing dan berambut pirang. Manik mata mereka berwarna hijau terang yang indah.


Mereka hidup seperti manusia biasa pada umumnya, tetapi mereka juga bisa menggunakan sihir. Setiap musim semi, mereka akan membuat rumah-rumah kecil untuk para peri hutan yang membantu pekerjaan mereka. Jika, musim semi berakhir, maka para peri akan pergi dan pulang ke hutan.


Sekarang awal masuknya musim panas, biasanya peri angin yang akan ke desa Raven, membantu menyebarkan angin sepoi agar para elf tak terlalu kepanasan.


Liam dan Lily berjalan ke sebuah rumah kecil yang terletak agak jauh dari rumah para elf. Rumah tersebut berdinding kayu yang bernuansa klasik. Rumah ini sangat bersih dengan pot-pot bunga yang tertata dengan rapi.


Liam mengetuk pintu rumah, menunggu sebentar lalu pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang tersenyum pada Liam dan Lily. Auranya begitu elegan.


Lily terlihat ragu. Ia baru mengenal mereka semua, dan bagaimana jika mereka mempunyai niat buruk terhadap dirinya?


Liam yang mengetahui isi pikiran Lily menggenggam dan menarik pelan tangan Lily, meyakinkan bahwa mereka tak mempunyai niat apapun


Lily pasrah. Ia mengikuti langkah kaki Liam dari belakang. Aura tenang dan damai rumah ini sedikit menenangkan hati Lily yang diselimuti rasa takut. Mereka berjalan memasuki ruangan. Disana tampak seorang Lelaki tampan dengan mahkota kecil di kepalanya, duduk bersila dengan mata yang terpejam dikelilingi lilin-lilin kecil di atas sebuah batu yang tak terlalu besar.


Ketika mereka datang, lelaki tersebut membuka matanya dan terbang turun dari batu. Manik mata emas dan merah itu seakan menghipnotis manik coklat Lily. Namun dengan cepat, Lily tersadar dan menatap takut ke arah lelaki itu


"Tuan" Liam dan wanita paruh baya tadi menunduk hormat. Karena segan dan takut, Lily juga ikutan menunduk. Lelaki itu bernama Tuan Rey, pemimpin desa Raven yang terkenal karena ketampanan dan manik matanya yang indah.


"Kemari" Ia menunjuk dan menyuruh Lily berjalan ke arahnya. Lily menurut saja karena takut. Dengan tangan yang gemetar, Ia berjalan pelan ke arah Tuan Rey.


"Jangan takut, Lily, aku tak akan memakanmu" katanya lembut. "Kemarikan tanganmu"


Perlahan Lily mengulurkan tangannya yang gemetaran itu. Tuan Rey menyambut dan menggenggam tangan Lily, menyalurkan

__ADS_1


kehangatan dan ketenangan agar Lily tak merasa takut. Ternyata berhasil. Tangan Lily tak lagi gemetaran, hanya sedikit dingin.


"Kau putri dari John dan Hana, benar?" tanya Tuan Rey


Lily terkejut. 'Darimana dia tahu nama Ayah dan Ibu?'


Tuan Rey hanya tertawa pelan "Tentu saja aku tahu, aku bisa mengetahui pikiran dan masa lalu seseorang hanya dari melihat atau memegang tangannya saja"


Ia menghela napas ketika mengetahui masa lalu Lily yang sangat menyedihkan "Kau masih belum melupakan lelaki itu ya?" tanyanya.


Lily ikutan menghela napas "Sedikit" percayalah, itu kebohongan terbesar Lily. Ia sama sekali tak bisa melupakan lelaki yang sangat berarti baginya itu.


"Maaf membuatmu sedih" kata Tuan Rey.


Lily menatap wajah tampan didepannya ini "Tidak apa-apa,Tuan" ujarnya sambil sedikit tersenyum.


Mata Tuan Rey beralih pada wanita paruh baya yang berdiri disamping Liam. Wanita itu adalah orang yang paling dekat dengannya sejak kecil "Kak, tolong bawa Lily ke ruang pakaian dan berikan dia baju khas desa ini"


Wanita yang bernama Mery itu mengangguk dan meminta Lily untuk mengikutinya. Lily menunduk hormat pada Tuan Rey lalu berlari kecil menuju Mery. Keduanya langsung pergi dari ruangan tersebut ke ruangan lain. Ternyata, jika terlihat dari luar rumah ini terlihat kecil namun isi didalamnya cukup luas juga.


Lily dan Mery masuk ke ruang dimana disitu terdapat banyak pakaian yang tergantung rapi. Mery menjentikkan jari, lalu satu helai baju melayang dan mendarat di tangannya.


"Ini, cobalah disana" Mery memberikan Lily sebuah gaun polos dibawah lutut berwarna hijau tua dengan brenda putih di ujungnya. Mery juga menyuruh Lily mengganti baju di sebuah bilik.


Ternyata gaun itu sangat pas di badan Lily, Ia terlihat anggun dan elegan. Dengan segera mereka berdua kembali ke ruangan dimana Tuan Rey berada.


*


*


*


Next!^_^


Jgn lupa favorite and like nya kaka

__ADS_1


__ADS_2