
Sejak malam itu, kami bersama. Kulihat Daren Sangat bahagia. Dan aku? kurasa aku akan mencobanya. Daren selalu berusaha melakukan hal-hal konyol untuk membuatku tersenyum.
Daren sangat baik, bahkan lebih baik dari Dave. Tapi kenapa sulit sekali untuk menyukainya? aku terlihat jahat disini, bersama Daren tapi masih memikirkan pria lain.
Aku masih mencoba untuk hanya melihatnya saja, meski Daren bilang tidak perlu memaksakan diri. 'Cinta, aku tidak perlu itu. Cukup kepercayaanmu dan kau ada disampingku. Itu sudah cukup', katanya.
Tapi, bukankah itu tidak adil untuknya? aku merasa semakin bersalah, Daren terlalu baik.
***
Ting
Tong
"Keiraaaaa, bangun!"
Pagi-pagi sekali Daren datang ke rumah Keira. Untuk apa lagi jika bukan mengajak nya pergi?
Berulang kali ia memencet bel rumahnya, bahkan sesekali mengetuk- atau lebih tepatnya menggedor pintu. Tapi tidak kunjung terbuka.
Salahkan Keira yang sampai saat ini belum juga memberi tahu nomor password pintunya pada Daren. Ah, Daren akan menanyakan itu nanti. 5 menit menunggu, akhirnya pintu terbuka bersama dengan sang empunya.
"kenapa lama sekali sih, aku kedinginan. Awas!"
Sedikit mendorong hingga Keira mundur beberapa langkah. Daren marah.
"Hey, ini rumahku. kenapa tidak ijin masuk dulu? kau tidak sopan."
"Kau lama sekali, diluar dingin. lagi pula kau kan sahabat dan kekasih ku, apa salahnya? Aku minta password nya, agar aku tidak perlu merusak pintumu lagi."
Keira menggerlingkan matanya, pergi ke kamar dan kembali dengan membawa mantel.
"Pakai ini, sudah tahu sekarang musim dingin kenapa masih memakai kaos tipis sih."
Lagi lagi Daren hanya mendengarkan gerutuannya. Daren senang, itu berarti Keira mengkhawatirkannya.
"Ayo cepat bersiap, aku akan mengajak mu kesuatu tempat."
Keira berdehem, lantas pergi menuju kamarnya untuk bersiap.
Dilanda bosan, Daren berkeliling melihat-lihat koleksi foto Keira. Banyak sekali foto yang dipajang, bahkan saat Keira kecil. Terus melihat-lihat hingga tatapannya terkunci pada satu foto. Foto itu terletak di belakang pigura foto lainnya, tidak terlihat jika kita hanya melihatnya sekilas.
__ADS_1
Bibirnya melengkung, menciptakan senyuman kecil di sana. Ada sedikit rasa sakit saat melihat bagaimana bahagianya dua insan yang berada di foto itu.
"Kurasa kau tidak akan melupakannya. Jika dia kembali, apa kau akan tetap bersamaku?"
Gumamnya, sendu.
"Kau sedang apa?"
Daren terkejut hingga foto yang berada di tangannya terjatuh, semua berserakan di mana-mana. Keira melihat itu, ia sedih foto itu hancur dan dia juga menyakiti Daren. Tidak seharusnya ia masih menyimpan foto itu.
"Ra, aku tidak bermaksud. Maaf."
Lihatlah, jelas ini bukan kesalahan nya. Tapi Daren tetap meminta maaf. Harusnya Keira bersyukur, dan berhenti mengharapkan orang itu.
Tidak bersuara, Keira memandang foto dan Daren bergantian.
"Ra-
"Tidak apa-apa, tidak seharusnya aku masih menyimpannya. Sudahlah ayo, nanti akan ada bibi Su kesini untuk membersihkannya."
"Baiklah."
***
Lama berkelana dengan pikiran masing-masing, akhirnya Daren memulai konversasi.
"Ra, kita sarapan dulu. Aku sudah memberi tahu ibu jika kita akan datang."
Seketika Keira menoleh, dia sungguh merindukan ibu dari sahabat sekaligus kekasih nya itu. Sejak orang tuanya tinggal di luar negeri karena urusan bisnis, ibu Daren sudah seperti orang tua bagi Keira.
"Benarkah? aku juga sudah merindukan ibu."
ucapnya dengan riang.
***
"Aku pulaaang,"
Teriak Daren. Keira hanya menggelengkan kepalanya, ini sudah biasa baginya. Mereka berjalan memasuki rumah. Keadaannya sepi, tidak biasanya. Pikir mereka berdua.
"Kau duduklah dulu, ak-
__ADS_1
"Keira?"
Kalimat Daren terputus lantaran suara lain menginterupsi. Kedua presensi itu menoleh ke arah suara, senyum mereka berkembang.
"Ibu,"
Keira bangkit dari duduknya, kemudian berlari memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. Mereka berpelukan erat, Daren melihat itu hanya tersenyum. Kemudian menghampiri dan bergabung dalam pelukan itu.
Sepersekian detik, mereka melerai pelukan. Sang ibu kemudian mencium kening kedua anaknya itu. Keira sudah seperti anak untuknya.
"Aku senang saat Daren bilang kalian akan datang. Ibu sangat merindukanmu Ra."
"Ibu, anakmu itu aku. Tapi kau malah merindukan Keira."
ucap Daren dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat sembari pergi menuju meja makan.
Sang ibu pun terkekeh kecil begitu juga dengan Keira.
"Ayo kau belum sarapan kan?"
Keira hanya mengangguk dan berjalan beriringan bersama ibu menuju ruang makan.
***
Sarapan selesai, dan sekarang mereka berkumpul di ruang keluarga. Hanya bertiga, ayah sedang perjalanan bisnis ke luar negri, dan Kakak Daren melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Mereka mengobrol dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka. Terkadang mereka tertawa karena kekonyolan Daren. Jika di lihat-lihat mereka seperti keluarga bahagia.
"Jadi kalian bersama sekarang?"
Pertanyaan itu menjadikan ruangan tiba-tiba senyap. Melihat raut wajah Keira yang terlihat sendu, ibu kembali menimpali.
"Ibu senang jika kalian bahagia, Daren tidak memaksamu 'kan? dia bilang jika pernah beberapa kali ditolak oleh mu. Jadi ibu pikir, kau mau karena Daren memaksa. Ibu hanya ingin kalian bahagia, kau maupun Daren."
"Ibuuu,"
Daren merengek seperti anak kecil, dan itu membuat suasana kembali hangat. Keira melihat pertentangan antara ibu dan anak yang menurutnya itu lucu, dan itu membuatnya bahagia.
'Bahagia? ya, aku bahagia saat bersama Daren."
"Dia tidak memaksaku Bu. Mungkin, aku yang memintanya untuk memulai hubungan kami."
__ADS_1
like rate ya👐