
Happy reading💜
Pertanyaan Daren terus berputar bagai film usang dalam kepalanya. Tentu saja ia tak menjawab, lebih tepatnya ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tidak punya jawaban atas pertanyaan Daren. Padahal ia hanya tinggal menjawab 'tidak, aku akan tetap bersamamu". Semudah itu tapi sangat sulit untuk keira. Setelah tadi beralasan ingin pergi ke toilet, lalu ia harus beralasan apalagi sekarang?
"Ra?"
"Ya?"
Keira mengerjap pelan. Ia menetralkan kembali raut wajahnya kemudian menjawab, meski sebenarnya itu bukanlah sebuah jawaban bagi Daren.
"Daren- eum aku- aku lapar, ayo cari makanan." Jawab keira gelagapan, ia berjalan mendahului Daren. Sungguh ia ingin tenggelam saja, bisakah bumi menelannya saja saat ini? Ia sungguh bingung harus melakukan apa saat ini.
Pun Daren tahu, keira hanya ingin menghindar dari pertanyaannya. Dan inilah yang Ia takutkan, Dave kembali dan ia akan kehilangan. Daren tidak pernah memaksa keira untuk mencintainya karna ia tahu itu tidaklah mungkin. Gadisnya hanya mencintai satu orang, dan itu bukan dirinya. Tapi bisakan ia berharap? Bisakah semesta menyatukannya dengan gadis yang selama ini ia tunggu kendati sang gadis tidak sedikit pun mencintainya? Bisakah semesta membuat gadis itu mencintai dengan hati barunya? Tidak perlu seperti sebesar cinta keira untuk Dave. Sedikit saja, hanya sedikit pun tak apa ia akan menerimanya dengan senang hati.
"Daren?!"
Lamunannya terhenti kala suara gadis itu menyambangi rungunya. Ia tersenyum tipis kemudian berjalan menghampiri.
"Kau ingin makan apa?"
"Kurasa aku ingin kepiting pedas,"
Jawab keira dengan semangatnya, seketika menciptakan senyuman kecil dibibir Daren. Syukurlah, keadaan tidak secanggung tadi.
"Baiklah ayo."
***
Mereka makan dengan tenang, sesekali Daren membuat keira tertawa dengan leluconnya yang terasa garing bagi orang lain. Sudah lama sekali rasanya keira tidak sebahagia ini, sedikit demi sedikit Daren mengembalikan semuanya. Ya, keira semakin yakin jika ia harus menata hatinya kembali dan belajar mencintai sang sahabat yang kini menjadi kekasihnya.
Sudah cukup selama ini ia menyakiti hati dan diri hanya karna satu orang saja. Ia harus bangkit dan bahagia bukan? Jika Dave bahagia setelah meninggalkannya, maka kenapa ia tidak bisa? Ia akan membuktikan jika ia bisa melupakannya, lagi pula Daren lebih baik dari Dave, ia pasti bisa.
Tanpa sadar keira tersenyum saat melihat bagaimana lahapnya Daren saat makan hingga belepotan kemana-mana. Ia pun berinisiatif mengambil tissu lantas mengusap membersihkan sisa makanan disekitar mulut Daren. Pun Daren hanya terdiam mematung, ini bukan mimpi bukan? Keira mengetahui reaksi Daren pun terkekeh gemas.
"Kau ini berlebihan sekali, kau seperti belum makan satu minggu saja. Kau tidak malu apa orang lain melihatmu seperti orang yang baru menemukan makanan enak disini."
Keira terus membersihkan sekitar mulut Daren dibarengi dengan omelannya. Sudah seperti ibu yang mengomeli anaknya. Daren tetap tak bergeming ia masih shock, ini pertama kalinya keira bersikap manis seperti ini. 'Semoga ini menjadi awal yang baik' ucap Daren dalam hatinya.
Menetralkan kembali reaksinya, Daren tersenyum hangat. Dan itu menjalar ke dalam hati keira, hatinya ikut merasa hangat kala senyum itu terbit. 'kumohon cepat datanglah cinta, aku tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi' mohon keira.
"Terimakasih cantik,"
Blushhh
__ADS_1
Pipinya merah merona, keira sudah lama tidak merasakan malu karna pujian seorang pria. Kenapa Daren tiba-tiba jadi so romantis seperti ini?
"Waah, pipimu merah. Kau malu?"
"Tidak kok, ap- apasih."
Jawab keira tergugu.
"Aku tahu kau pasti malu kan? Aishh lucunya."
Daren terus menggoda keira, hingga mencubit pipinya yang kini sama warnanya dengan kepiting rebus yang mereka makan tadi.
"Yak, tanganmu kotor ishh."
Gerutunya kesal. Ah pipinya pasti bau amis dan lengket sekarang. Dasar.
Daren terbahak, ini akan jadi hobi barunya. Menggoda keira. Ia suka melihat keira menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya, aish itu sangat lucu.
Tawanya terhenti kala suara keira menginterupsi.
"Aku ke toilet dulu. Gara-gara kau wajahku lengket. Jangan kemana-mana, awas kalau kau pergi."
Keira bicara dengan mode kesalnya lantas pergi tanpa memberikan kesempatan bagi Daren untuk menjawab.
Di toilet
"Aishh dasar Daren."
Keira membasuh mukanya dengan air, kemudian mematut kembali dirinya di cermin. Kebiasaan keira jika kemana pun pergi pasti membawa alat make up nya.
"Perfect,"
Ia bergumam, setelah selesai dengan ritualnya ia kembali memasukan alat make up itu kedalam tasnya kemudian melangkah keluar dari toilet.
"Thank you."
Deg
Keira menghentikan langkahnya, suara itu. Ini tidak mungkin pikirnya, ia membalikkan badanya mencoba untuk mencari presensi dimana suara itu berasal. Ia tidak mungkin salah dalam mengenali seseorang, bahkan hanya satu kali bertemu ia bisa tahu itu siapa. Keira terus mencari, ia liarkan pandangannya kesegala sudut di restoran itu tapi nihil. Ia tidak menemukan apa yang ia cari.
Jika pendengarannya tidak salah, lalu kenapa ia tidak menemukan orangnya? Ia mendesah frustasi kemudian melangkah menuju meja dimana Daren menunggu dengan tatapan kosongnya.
"Hei, kau kenapa?"
__ADS_1
"Yak, Daren!"
"Darenn!!"
Keira sedikit berteriak hingga mengundang tatapan dari beberapa pengunjung disana. Ia tersenyum malu lantas menunduk meminta maaf.
"Kau kenapa Ra?"
What the... Apa-apaan pikirnya, harusnya keira bertanya seperti itu padanya. Kenapa Daren melamun sampai keira harus berteriak memanggil hingga mengundang tatapan sinis dari pengunjung disini.
"Yak, harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau kenapa melamun tadi, aku berteriak memanggilmu tapi kau tidak dengar. Ada apa?"
Daren tidak menjawab, ia hanya menatap lekat sang gadis. Tentu saja yang ditatap merasa risih.
"Ke- kenapa malah menatapku seperti itu? Kau dengar tidak sih?"
"Ck iya iya, aku menatapmu karna kau cantik. Kau pasti berdandan untukku kan?"
"Kau kenapa percaya diri sekali huh,"
Jawabnya sembari memalingkan muka, jujur saja ia malu dan....senang.
"Wajahmu merah lagi, apa aku sudah berhasil?"
'Berhasil? Apa maksudnya? Benarkah aku malu karena Daren memujiku? Jujur saja hatiku sedikit menghangat dan kupu-kupu seperti beterbangan dalam perutku. Benarkah? Jika iya, maka aku akan sangat bahagia. Semoga saja cinta itu segera hadir.'
"Sekarang kau yang melamun. Tunggu disini aku akan bayar dulu okay? Jangan kemana-mana."
"Iya, memangnya aku akan kemana."
Ucap keira pelan setelah Daren pergi untuk menagih bill makanan mereka.
Beberapa menit kemudian Daren kembali,
"Ayo," ajaknya kemudian diangguki keira. Mereka berjalan beriringan keluar dari restoran tersebut.
Daren membukakan pintu mobil untuk gadisnya, keira tersenyum lalu masuk. Tidak ada perbincangan di dalam mobil, hanya lagu yang menemani perjalanan pulang mereka.
Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Tapi yang pasti untuk saat ini hanya resah yang Daren rasakan. Apalagi pertanyaan yang belum terjawab kian menambah sesak dalam hati. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini, semua baik-baik saja hingga saat kedatangannya merusak segala mimpi dan angan Daren. Ini bagai benang kusut yang takkan pernah kembali lurus.
_____
**like rate vote follow nya ya, itu akan sangat membantu😄💜
__ADS_1
see u next part💜**