
Happy Reading💜
Lima hari telah berlalu sejak pertemuan yang tidak terduga itu, sejak saat itu kondisi Keira kembali menurun. Tidurnya terganggu, Keira kembali membutuhkan obatnya. Ia mencoba untuk tidak memikirkan dan mengingat itu, kendati masih sangat sulit untuk ia lakukan.
Pun Daren hanya bisa pura-pura untuk tidak mengetahui atau menyinggung perihal kejadian lima hari lalu, itu akan semakin mengingatkan gadisnya pada masa lalu. Kerap kali Daren mendapati gadisnya hanya melamun atau menangis di sepertiga malam. Hatinya teriris kala melihat gadisnya terisak pilu.
Sama halnya dengan sang gadis, Daren pun tidak mendapatkan waktu istirahatnya, ia hanya akan istirahat jika memang Keira sudah benar-benar lelap dalam tidurnya. Sebegitu sayangnya ia pada gadisnya. Sejak kejadian itu ia tidur satu kamar dengan Keira, tentunya tidak satu ranjang. Ia cukup tahu diri dan bisa menjaga batasannya, merusak bukan Daren sama sekali. Ia hanya berjaga jika saja Keira tiba-tiba menangis di sepertiga malam.
Daren tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, haruskah ia merelakan cintanya atau tetap menahan gadisnya, kendati tidak ada secuil pun rasa pada gadis itu? Kedua pilihan itu sama menyakitkannya bagi Daren. Memang ia tidak pernah menuntut apapun dari gadisnya, tapi jika hidup bersamanya membuat gadis itu tidak bahagia, lantas untuk apa bersama?
Dari awal Daren memang tidak mempunyai pilihan. Hanya mencintai tanpa dicintai.
Daren pikir cintanya saja cukup untuk mereka berdua, tapi ternyata cinta satu pihak belum tentu membahagiakan keduanya. Memang bahagia untuknya, tapi Keira? Ia tahu jika gadisnya tidak benar-benar bahagia bersamanya. Sekuat apapun, sebesar apapun usahanya untuk menumbuhkan cinta dan menyembuhkan luka Keira, ia tetap tidak berhasil.
Kenapa hanya dalam satu minggu Dave bisa mengambil seluruh atensi dalam hidup Keira? sedangkan dia membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan sampai saat ini pun, ia tetap tidak berhasil. Apa yang Dave miliki dan dia tidak? Mengapa sangat sulit sekali menjangkau bahkan hanya untuk mengetuk pintu hati gadis itu?
Daren mulai pesimis.
Entahlah, hanya saja jika Keira memang tidak akan pernah menerima siapa pun lagi dalam hidupnya. Hatinya.
Kali ini Daren akan mencoba sekali lagi, tapi jika ulurannya tidak kunjung mendapat sambutan, lantas dia bisa apa? Mungkin Daren akan menyerah. Mungkin.
Hari minggu, hari dimana semua orang akan mendapat waktu istirahatnya dan berquality time bersama keluarga atau orang terdekat, termasuk Daren. Ia akan mengajak gadisnya jalan-jalan sore, melupakan sejenak semua pesakitan masing-masing.
Menatap sejenak dirinya dalam cermin setinggi tubuhnya itu sambil menggumamkan doa. Ia berharap cintanya bersambut, dan ia akan menyelesaikan dan meluruskan semuanya, secepat mungkin.
Sesekali ia bernyanyi ria dalam perjalanan menuju rumah gadisnya, mungkin sudah tidak sabar ingin bertemu meski baru beberapa jam lalu bertemu. Ya, siang tadi ia pulang ke apartemennya untuk mandi dan mengganti baju. Daren sangat senang saat gadisnya menerima tawarannya untuk pergi keluar hari ini.
Setengah jam akhirnya ia sampai dirumah minimalis tapi tampak mewah dan elegan itu, rumah Keira selama tinggal di France (Prancis). Berdehem sejenak menghalau gugup yang ada, tentu saja ini kencan ke dua -menurutnya.
Ting
Tong
"Aish, kenapa bodoh sekali?"
Gerutunya pada diri sendiri, jelas saja Daren kan tahu passcode nya. Kenapa harus menekan bel?
Tepat saat akan mengetik kode sandi, pintu telah terbuka bersamaan dengan sang pemilik rumah.
"Hai, cantik."
Setelah mengatakan itu, ia buru-buru masuk tanpa di persilahkan. Ia gugup. Pun Keira hanya diam mematung dengan jantung yang berdegup kencang dan pipi yang memerah. Ia menghela nafas, kemudian menyusul Daren yang kini melangkah menuju dapur.
"Ck, kau belum masak? Aku lapar."
Lirihan Daren terdengar lucu di rungunya, pasalnya Daren berucap lirih seperti anak kecil yang tidak mendapat permen. Ia tersenyum kecil lantas mengacak rambut Daren yang semula tertata rapih kini sedikit berantakan, Sontak mendapat tatapan tajam dari presensi yang kini menyandang gelar sebagai kekasihnya itu.
"Yakk, aku menata ini hampir satu jam. Kau! Harus menata ulang nanti. Sekarang masak sana! Aku lapar."
__ADS_1
Gadis itu tidak menjawab, hanya terkikik geli.
Keira mulai berkutat dengan masakannya, ia akan memasak sayuran sebagai bahan utamanya. Sekali-kali harus makan makanan sehat.
"Daren, aku masakan sup ya? Dari kemarin kau hanya makan mie dan daging. Sekali-kali makan sayur biar sehat."
"Sup kesukaanku kan? -Keira mengangguk- Itusih tidak apa, aku senang malah."
"Terimakasih, istri."
Deg
Untuk kedua kalinya Daren memanggilnya seperti itu. Ia kembali spot jantung sekarang, istri? Apa bisa ia menjadi istri yang baik nanti? Untuknya? Baiklah, fokus dulu sekarang. Ia kembali berbalik untuk melihat masakannya tanpa menjawab pernyataan Daren. Ia malu, sedikit.
"Daren bisa ambilkan mangkuk, di rak piring paling bawah sebelah sana."
Ucapnya sembari menunjuk rak piring menggunakan sodet, Daren mengangguk.
Dirasa lama, Keira kembali bersuara.
"Dar-
Glekk
Keira menelan salivanya susah payah, Daren memberikan mangkuk sembari memeluknya dari belakang. Oh, ini tidak baik.
Daren menyodorkan mangkuk tanpa melepas pelukannya, dia malah semakin mengeratkan pelukan disusul dengan lirihannya yang menyayat hati Keira.
"Jangan tinggalkan aku."
Sementara di tempat lain, seorang pria kini tengah menatap jengah presensi yang selama ini mengikutinya kemana pun ia pergi. Pria itu tak habis pikir, kenapa gadis di hadapannya ini terus saja mengganggunya meski sudah ia larang bahkan ia bentak sekalipun.
Satu tahun terakhir ini dia selalu diikuti seorang gadis. Gadis yang selalu mengisi hari-harinya satu tahun terakhir ini. Awalnya ia geram karena merasa di buntuti, tapi semakin lama ia jadi sudah terbiasa. Bahkan jika gadis itu tidak ada, ia akan merasa kesepian.
"Dave!"
Ya, pria itu adalah Dave.
"APA!"
Sontak saja teriakkannya menjadi sorotan dalam cafe itu, ia membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf. Pun gadis itu hanya tertawa geli, setelah mendapat tatapan tajam dari Dave ia pun menghentikan aksinya.
"Aku ingin itu,"
Tunjuknya pada segelas matcha kesukaan Dave, mendapat isyarat penolakan, gadis itu mengerucutkan bibirnya dan sedikit mengeluarkan jurusnya, matanya mulai berair.
"Ck, minumlah. Lagian kenapa pesan cappuccino tadi?"
Dave mengalah, karena memang selalu seperti itu. Pada akhirnya Dave akan kalah pada gadis itu.
__ADS_1
"Waw enak! Aku suka!"
Seru gadis itu dengan riangnya, pun tak luput dari perhatian Dave. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis, tipis sekali hingga tak nampak jika dilihat sekilas.
Dave beranjak dari duduknya, sudah cukup menenangkan diri setelah kejadian itu. Ia melangkah setelah sebelumnya sudah meletakkan beberapa lembar uang di bawah gelas.
"Aku ikut!"
Dave tidak menghiraukannya, percuma. Mereka berjalan dengan Dave di depan gadis itu, tiba-tiba-
Brukk
"Yak, kenapa berhenti!"
***
"Kau suka?"
"Tentu saja, terimakasih Daren."
Mereka tengah berada di taman, mereka pernah kesini sebelumnya, saat kencan pertama. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada di taman itu, Daren memeluk dari samping. Merasakan kehangatan dengan melihat pemandangan sore yang begitu indah.
Tidak banyak percakapan, mereka hanya menikmati kebersamaan dalam diam dan dekapan satu sama lain. Dirasa angin sore mulai menusuk, mereka memutuskan untuk pulang.
"Eum... Bagaimana kalu kita ke cafe dulu. Cafe temanku dekat dari sini, kau mau?"
Keira mengangguk, ia juga ingin minuman hangat saat ini apalagi chocolatos panas kesukaannya. Setelah lima belas menit mereka sampai di cafe, parkiran cukup padat jadi Daren menepikan mobilnya di seberang jalan cafe itu.
Mereka turun dari mobil, kemudian Daren menggenggam tangan Keira untuk bersiap menyebrang,
"Aku bukan anak kecil, asal kau tahu."
Koreksi Keira, ia bukan anak kecil yang harus di pegang tangannya ketika hendak menyebrang. Pun Daren hanya menangkup wajah memainkan pipi sambil berkata "kau masih kecil untukku" kemudian mengacak gemas pucuk surai hitam itu, lalu menggenggam tangan Keira kembali. Keira tersipu dibuatnya. Tanpa mereka tahu, seseorang melihat adegan itu denga sesak luar biasa dalam hatinya.
Daren melihat ke kiri dan kanan, dirasa aman ia mulai melangkahkan kakinya. Tapi baru beberapa langkah, terpaksa ia kembali menghentikannya lantaran sang gadis hanya diam mematung dengan pandang lurus kedepan. Daren mengikuti arah pandangnya, dan yang ia temukan adalah hal yang akan membuatnya kehilangan cintanya. Selanjutnya hanya lirihan Keira yang terdengar dan sedikit banyaknya menyakiti Daren.
"Dave..."
____
on ig: @_reiirj
Fiuhh Akhirnya bisa up juga🤣
like rate follow vote nya ya💜
maaf klo gaje🤣
see ya!💜
__ADS_1