Keira'S Life Story

Keira'S Life Story
Bring not Leave


__ADS_3

Happy reading💜


Sudah satu minggu sejak Keira mendengar suara itu. Sejak saat itu tidur Keira pun terganggu, ia memerlukan obat itu kembali hanya agar bisa tidur dengan tenang. Beruntungnya Daren sibuk dengan urusan rumah sakit yang dikelolanya sekarang, jadi Keira tak perlu khawatir jika Daren tahu dan mendapat amukannya nanti.


Ia tidak tahu jika hanya karena suara akan berdampak besar baginya. Sejak Saat ia mendengar suara itu hidupnya kembali seperti dulu, tidak ada ketenangan barang sedetik pun. Selalu ada resah meski tak kentara, tapi begitu mengganggu. Siapa dia? Suara siapa yang ia dengar hingga mengganggu kenormalan hidupnya?


Keira terus memikirkan sang pemilik suara hingga lupa akan tidurnya. Kerap kali ia terjaga hingga pagi hari hanya karena terus memikirkan suara itu. Tidak, ini tidak boleh terjadi lagi. Ia sudah berjuang selama ini, dan perjuangannya sia-sia hanya karena suara yang ia dengar? Ck, yang benar saja. Ia tidak boleh mengecewakan orang-orang yang telah menaruh harap padanya. Ia harus sembuh, ia tidak boleh mengecewakan orang yang telah mendukungnya selama ini. Termasuk Daren.


Jadi, untuk malam ini ia harus tidur.


***


Keira terlelap dalam tidurnya, terbuai akan mimpi yang didapatnya. Tapi tidak, bukan mimpi indah seperti yang selalu Keira harapkan dalam setiap doa sebelum tidurnya.


Kini mimpi itu hadir kembali mengganggu ketenangan tidur sang putri, mimpi yang selalu hadir saat pria itu meninggalkannya. Mimpi buruk yang dengan perlahan merenggut setengah kehidupannya.


Dia, Keira bergerak gelisah dalam tidurnya, diiringi dengan peluh yang membasahi wajah cantik itu. Ia terus menggumamkan satu nama, "Dave". Sebegitu inginkah Dave menghancurkan hidup gadis itu hingga selalu hadir membayangi bahkan saat Keira tertidur? Atau mungkin Keira yang begitu mencintai hingga tak bisa melupakannya? Jika saja melupakan semudah membuat kenangan, maka dengan senang hati akan Keira lakukan. Tapi ini sangat sulit hingga hampir tidak mungkin baginya untuk melupakan. Ia tidak bisa, tidak akan pernah.


"Hah...hah....hah..."


Keira terbangun, kemudian ia menangis. Seberapa keras ia berusaha, ia tak pernah berhasil. Ia Sudah terlanjur menyerahkan sepenuh hatinya pada pria itu, hingga sangat sulit untuk orang lain masuk kedalamnya.


"Kenapa kau bodoh sekali Keira."


Ucapnya frustasi sembari mengacak rambutnya. Ia lelah, mengapa sangat sulit sekali pria itu pergi dari hatinya? Jika akhirnya hanya memberi luka, kenapa harus datang membawa bahagia dengan begitu meyakinkan?


Menyibak selimutnya kasar, ia berjalan menuju balkon kamarnya. Jam 2 pagi, mobil masih berlalu lalang tanpa henti. Dan lihatlah dunia terlihat begitu bahagia akan derita yang didapatnya. Langit cerah dengan bintang dan bulan yang menyinari dengan indahnya. Tidakkah dunia merasa iba sedikit saja padanya? Tidak bisakah Tuhan memberi bahagia untuknya? Berapa kali pun ia berdoa, berharap dan berapa kali pun bibir itu basah karena mohonnya, Tuhan tetap tidak memberikan bahagia untuknya.


Sampai kapan? Sampai kapan ini akan terus berlangsung? Ia pergi ke negara asing hanya karena ingin melupakan segala pesakitan itu. Ia mencoba membuat bisnisnya sendiri, perusahaannya agar bisa mengalihkan pikirannya. Mencoba mencari pengalihan dengan dekat dengan pria, tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa itu dalam hatinya.


Bahkan sang sahabat yang kini menjadi kekasih pun tak cukup mengalihkan perasaan itu.


Bunyi suara dari sandi pintunya terdengar, ia mengernyit bingung ini bahkan baru jam dua pagi. Keira melirik pada jam diatas nakas termpat tidurnya, matanya membola ini sudah jam enam pagi. Selama itukan ia melamun? ia mengalihkan pandangannya pada Daren yang baru saja masuk dengan beberapa barang belanjaannya. Daren tersenyum lebar dengan menunjukan dua tentengan belanjanya. Keira balas tersenyum, hanya segaris dan itu Mengundang perhatian Daren.


Ia menaruh belanjaannya di pantry, kemudian menatanya dalam lemari es. Setelah itu ia berjalan mendekati gadisnya.


"Kau tidak tidur ya?"


Tanyanya hati-hati, ia tahu jika Keira akan bermimpi lagi. Apakah Keira juga menemukan apa yang ia temukan minggu lalu? Tidak mendapat jawaban, ia kembali bertanya.

__ADS_1


"Ra, ada apa? Aku membeli bahan makanan, bagaimana jika kita memasak. Sudah lama aku tidak memakan masakan mu, ayo."


Ajakannya tidak digubris sedikit pun oleh Keira. Dia hanya menatap Daren dengan tatapan bersalahnya. Daren sangat baik, ia merasa tidak pantas untuknya.


"Jangan pernah berpikir seperti itu, kau yang terbaik. Jadi ayo aku sudah sangat lapar Ra,"


Keira tersenyum, bagaimana Daren bisa tahu isi pikirannya? Ia mengangguk jangan sampai dirinya mengecewakan Daren lagi dengan terus meratapi takdirnya.


Mereka mulai menyiapkan bahan masakan, sudah hampir seminggu ia tidak bertemu gadisnya karena pekerjaanya sebagai seorang dokter. Jadi hari ini ia sangat bahagia, meski tahu jika keadaan Keira berbanding terbalik dengannya. Ia hanya mencoba untuk tidak bertanya dulu meski sebenarnya ia sangat penasaran dengan kembalinya sikap dingin Keira.


Akhirnya setelah duapuluh menit berkutat dengan dapur mereka menyelesaikan masakannya.


"Duduklah aku akan menyiapkannya untukmu."


Daren menurut, Keira mulai menata makanan di meja makan kemudian menyiapkan makanan untuk Daren.


"Terimakasih istri,"


Total keira membeku, pipinya terasa panas apa? Istri? Yang benar saja.


"Wah kau malu? Kenapa jadi salting begitu?"


"Apa? Tidak, aku- aku biasa saja. Dan kau! kita ini belum menikah ja-


"Belum? Berarti akan, benar tidak?"


"Bukan, bukan begitu. Aish sudahlah makan sana, katanya sangat lapar tadi. Aku akan ambil minum."


"Airnya ada di hadapanmu Ra,"


Ucap Daren dengan senyum tertahannya.


Dan aish kenapa Keira bisa lupa jika ia sudah mengambilnya tadi. Dengan perasaan campur aduk tapi malu lebih menonjol, Keira duduk dihadapan Daren. Ia melirik sekilas dan ternyata Daren masih dengan senyuman aib nya, dia mengejek Keira. Maka yang Keira lakukan selanjutnya adalah makan dengan perasaan dongkolnya.


***


"Kau tidak ada pasien?"


"Tidak, dan kau sendiri?"

__ADS_1


"Aku kan bosnya jadi fine fine saja."


Daren hanya mendecak pelan, sombong sekali mentang-mentang bos jadi seenaknya begitu.


Ia mendudukan dirinya di sofa,


"Sini,"


Ajak Daren, Keira mematuhi setelah mencuci piring. Ia menidurkan tubuhnya disofa dengan paha Daren sebagai bantalannya. Terasa nyaman bagi Keira. Daren mengambil remot tv lantas menyalakannya. Selama menonton ia hanya menyusap pelan kepala Keira tanpa mengindahkan acara tv nya.


"Ra? Kau tidak ingin kembali ke indonesia? Ibu bilang jika ibumu menelponnya untuk menanyakan kabarmu."


Keira mendongak,


"Ck, mereka sudah pulang? Tumben sekali menanyakan kabarku, kenapa tidak langsung padaku saja?"


"Jangan begitu, aku yakin orang tuamu juga sangat menyayangimu."


"Iya iya, lagipula jika aku kembali aku hanya akan mengingat luka itu lagi. Aku kesini untuk meninggalkan luka itu dan aku tidak akan kembali jika hanya mengingatkanku pada lukaku."


"Menurutku kau bukan meninggalkan luka tapi membawa luka. Sudah dua tahu lebih bahkan kau belum bisa melupakannya atau menyembuhkan lukamu. Kau pergi ke negara Asing dengan membawa lukamu. Tempat bukan patokan seseorang dapat menyembuhkan luka atau tidak, tapi hati. Jika hatimu merelakannya maka kau akan melupakannya Ra, kau datang ke Paris tapi kau belum bisa menyembuhkan luka itu. Kau tahu level tertinggi cinta itu mengikhlaskan, merelakan. Kumohon, aku hanya tidak ingin kau seperti dulu lagi Ra."


Ucap Daren panjang lebar tanpa menghentikan elusannya pada rambut Keira.


Tidak ada jawaban dari Keira, ia hanya menangis Daren bisa merasakan celananya basah karena air mata Keira.


"Ra?"


Tangisnya semakin pecah, bahunya bergetar diiringi suara tangis tertahan Keira. Ia mendudukkan Keira kemudian memeluknya erat sembari mengelus punggung dan mengecup pucuk kepalanya sesekali. Ia tahu ini menyakitkan bagi Keira tapi Daren juga tidak ingin melihat gadisnya terus terpuruk dan terjebak dalam masa lalunya.


Keira pergi dari negara asalnya untuk menyembuhkan luka dan melupakan semua pesakitan itu. Tapi yang ia lakukan hanya pergi dengan membawa luka bukan meninggalkannya.


"Maaf Daren."


Lirih Keira disela isak tangisnya.


____


**Like rate vote nya ya, itu akan sangat membantu🤣💜

__ADS_1


see u next part💜**


__ADS_2