
Happy reading💜
Keira masih menangis dalam pelukan Daren, Ia hanya merasa tidak berguna. Dia sendiri yang meminta Daren agar membantunya untuk melupakan Dave, tapi dia juga yang menyakiti Daren dengan memberikan harap. Sudah berapa kali ia menangis dalam pelukan Daren? Sudah berapa kali ia mengeluh padanya? Dan sudah berapa kali ia menyakiti sahabatnya dengan terus memberi harap tapi tak kunjung membuahkan hasil? Bahkan Keira pun tidak bisa menghitungnya.
Daren yang selalu ada saat ia terpuruk selama ini, Daren yang selalu rela dirinya tersakiti hanya agar Keira bahagia. Daren yang selalu bertahan dan tersakiti karena selalu mengharap cintanya. Ia tidak sadar jika selama ini ia yang menyakiti disini, ia sudah begitu banyak membuat luka untuknya. Meski Daren tidak menunjukkan, tapi Ia tahu bagaimana sakitnya mencintai tanpa dicintai. Seperti Daren saat ini, Daren begitu sangat mencintainya tapi dia? Entahlah, perasaannya gamang, kadang ia merasa jika sudah mencintai Daren. Kadang debaran itu ada, Tapi tidak semendebarkan saat ia dekat dengan Dave.
"Sudah jangan menangis, itu juga menyakitiku."
Daren berujar memecah keheningan. Keira masih menangis sesegukan.
"Ra?"
Keira mendongak kemudian melepas pelukan. Mengusap sisa air mata dengan punggung tangannya, ia tersenyum hangat pada presensi dihadapannya.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji." Ucapnya sembari mengacungkan jari kelinglingnya.
Dan lihatlah Mata sembab, hidung merah dan bibir mengerucutnya. Aish itu sangat lucu. Dan karena itu Daren harus menahan senyumannya.
"Really?"
Keira mengangguk seperti anak kecil, Daren pun mengaitkan kelingkingnya pada jari Keira. Setelahnya mereka tertawa bersama, Kehangatan mulai mengisi dinginnya suasana disana.
"Daren obatku habis,"
Lirihnya, ia hanya takut Daren marah karena ia masih mengonsumsi obat itu. Dan itu artinya kesehatannya kembali memburuk.
Pun Daren tahu apa penyebab turunnya kondisi Keira, dan pastinya ini akan sangat menyakitkan untuk gadisnya. Ia tidak bisa melihat raut wajah Keira, karena gadis itu menundukan kepala. Ia tahu jika Keira takut ia akan marah. Dan tentu saja ia akan marah, tapi untuk saat ini ia akan menahannya demi kebaikan Keira. Tidak ada gunanya marah, itu hanya akan memperburuk kondisi Keira.
"Baiklah kita ke rumah sakit nanti. Tapi kuharap ini yang terakhir Ra, mengerti?"
"Iya Terimakasih,"
Keira berujar dengan senyumannya. Ia akan berusaha lebih keras lagi, sudah cukup semua pesakitan ini. Daren ada, ia tidak perlu khawatir.
Dan setelahnya mereka menghabiskan waktu dengan menonton film seharian dirumah keira.
***
"Sekarang tidurlah, pikirkan yang baik-baik saja okay? Aku akan menemanimu sampai kau tertidur, kalau butuh apa-apa aku ada dikamar tamu. Mengerti?"
Keira mengangguk, sampai kapan ia harus merepotkan orang lain hanya agar dirinya tidur tenang? Ini sungguh membebaninya, perasaan bersalah yang selalu hadir saat Daren merelakan banyak waktu untuk menenangkannya.
Daren mulai mengusap rambut gadisnya, selalu ia lakukan saat menemani Keira tidur. Terasa sangat nyaman bagi Keira hingga perlahan ia mulai memejamkan matanya. Daren tersenyum lembut ia berdoa dalam hati agar segera hadir cinta untuknya dalam hati Keira meski sedikit saja. Ia tidak akan mengeser posisi Dave karena ia tahu gadisnya tidak akan pernah bisa melakukan itu, tapi biarkan ia menjadi pengisi hati Keira dengan hati barunya.
Keira mulai lelap dalam tidurnya nafasnya teratur dan tenang. Daren menghentikan elusannya. Ia mengecup dahi Keira lalu beranjak pergi menuju kamar tamu untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Pagi menyingsing, mentari bersinar dengan warna cerianya. Menyusup masuk mengintip lewat celah gordeng, hingga mengganggu tidur siapa saja yang masih betah berada dalam mimpinya. Keira membuka matanya perlahan, melirik jam diatas nakas samping tempat tidurnya. 07:00 AM.
__ADS_1
"Terimakasih Daren,"
Monolog Keira, setelah satu minggu ia kembali mendapatkan tidurnya. Dan semua itu karena Daren, semua kebaikan yang ia dapat hanya karena Daren ada untuknya.
Menyibak selimut, ia berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Saat menuruni tangga seketika wangi masakan menyambangi penghidunya. Ia berjalan menuju dapur dan yang ia temukan Daren tengah memasak dengan buku resep sebagai panduannya. Ia bisa terlihat wajah serius itu, "perfect' Keira berdialog dalam hatinya.
Seketika senyumnya terbit, ia melihat sekeliling dapurnya yang terlihat sedikit berantakan dengan sayuran berceceran dimana-mana. Keira melangkah mendekati presensi itu lantas memeluknya dari belakang. Pun yang dipeluk hanya diam tanpa bereaksi sedikitpun, jantungnya bergemuruh. Daren gugup.
"Sini, biar aku saja. Kau menghancurkan dapurku asal kau tahu."
Keira terkekeh, Daren masih belum memberikan reaksinya.
"Yak, Daren!"
Pemuda itu mengerjap, tersadar dari rasa terkejutnya.
"Ah tidak, sedikit lagi matang. Kau duduk saja, eum- nanti kau bereskan ya?"
"Ish,"
Keira meringis sembari mendudukan dirinya di kursi meja makan. Pun Daren tersenyum melihat gadisnya seperti tengah menahan kesal.
Beberapa menit kemudian Daren kembali dengan masakannya.
"Bagaimana?"
"Lumayan, hanya kurang garam jadi sedikit hambar."
"Tapi ini enak kok, aku suka. Terimakasih"
***
"Hai cantik,"
Gadis itu tersenyum malu memalingkan wajahnya, kemana saja asal tidak menatap presensi didepannya. Bisa gawat jika ia ketahuan malu dan pipinya merona. Hari ini Daren akan menemani gadisnya kerumah sakit setelah tadi pulang untuk membersihkan diri dan mengganti baju.
"Ayo cantik,"
"Yak, berhenti memanggilku seperti itu."
"Kenapa? Kau malu? Itu panggilan sayangku, mengerti cantik?
Selama bertahun-tahun ia bersahabat dengan Daren, ia baru tahu jika Daren mempunyai sisi yang agak cheesy. Mau tak mau ia harus menahan senyumannya.
Keira berjalan lebih dulu menuju mobil sebelum pipinya benar-benar merah karena Daren terus menggodanya. Terdengar suara tawa dibelakangnya,
"Cepat!"
__ADS_1
Keira berteriak, Daren pun berlari menyusul. Ia mengemudikan mobilnya dengan masih menahan tawanya.
Chen hospital
"Kau duluan,"
Seperti biasa Daren akan mengurus administrasinya terlebih dulu.
Keira berjalan menuju ruangan dokter Eliza sekaligus teman Daren yang kini menjadi temannya juga. Hah, karena mimpi itu ia harus kembali kerumah sakit dan berurusan dengan obat-obatan itu lagi. Sesampainya disana bukannya masuk, Keira hanya terdiam dengan pandangan kosongnya.
"Ra? Kenapa tidak masuk?"
Suara Daren menghentikan lamunannya, ia mengerjapkan matanya lalu masuk tanpa menggubris pertanyaan Daren. Dan sejak kapan Daren disana pikirnya. Daren hanya menatap sendu, kemudian menyusul masuk.
"Aaah, kupikir kau tidak memerlukannya lagi Ra. Tapi ternyata kau datang lagi, sekarang ada apa? Bukankah mimpi itu sudah berakhir?"
"Aku mendengar suara seseorang dan membuat mimpi itu hadir lagi. Aku hanya perlu untuk jaga-jaga saja."
"Baiklah aku akan meresepkannya lagi, kau harus berjanji ini yang terakhir."
Keira mengangguk, kemudian ia pamit untuk ke toilet. Daren menyarankan agar ia menemaninya, tapi Keira menolak. Ini hanya ke toilet pikirnya. Dan ada satu hal yang harus ia pastikan juga.
***
"Ini sangat beresiko, kau sendiri yang bilang. Jadi biarkan saja ini sampai aku mati dengan sendirinya."
Dokter dengan nametag Axel G Adelard itu hanya bisa menatap pasiennya dengan tatapan sendu. Ia berusaha menyakinkan agar pasiennya menjalani operasi, tapi ia juga tak bisa menjamin operasi itu akan berhasil. Hanya 25% dari 100% tingkat keberhasilannya. Tapi tidak ada salahnya mencoba bukan?
Ia hanya lelah dan merasa kasihan kala pasien sekaligus sahabatnya itu harus terus menderita dengan sakitnya. Fisik maupun batin. Ia tahu apa yang terjadi pada sahabatnya selama kurang lebih tiga tahun terakhir ini.
"Jangan menatapku seperti itu, Aku pergi."
Pemuda jangkung itu membalikkan badannya, alangkah terkejutnya kala ia mendapati presensi dihadapannya dengan wajah menahan amarah dan air mata yang menggenang. Ia bisa melihat luka,rindu dan cinta dari tatapan itu, ini yang tak mau ia lihat dan memutuskan pergi waktu itu. Ia tak mau jika harus melihat itu saat menjelang kematiannya nanti. Dan sekarang dunia malah mempertemukannya kembali dengan gadis yang ia cintai namun juga ia berikan luka.
Dunianya seakan runtuh, ia tahu jika ini akan terjadi tapi tidak secepat ini. Jantungnya bergemuruh sangat kencang, ia berucap lirih
"Keira."
Gadis itu melangkah hingga tepat dihadapan presensi yang selalu ia tunggu. Keira menatap dengan tatapan betapa bencinya ia pada presensi dihadapannya.
Pun pemuda itu tahu arti akan tatapan yang Keira berikan. Ia benar- benar perlu diingatkan sekali, bahwa gadis yang dulu begitu mencintainya kini teramat membencinya.
Sebab, satu tamparan keras segera menemui pipinya.
____
like rate vote follow ya, itu akan sangat membantu💜😊
__ADS_1
maaf kalo ada typo gais:v
see ya!💜