
Happy Reading💜
"Bagaimana dok?"
"Dave harus segera operasi, tolong bujuk dia. Dave bilang kau sudah seperti adik baginya, jadi mungkin dia mau untuk operasinya. Kuharap secepatnya, aku permisi dulu"
Gadis itu tak menghiraukan kepergian Axel -dokter yang menangani Dave, ia hanya terpaku pada kata "adik". Jadi selama satu tahun ini Dave memandangnya hanya sebagai adik? Ya, memang seperti itu bukan? Dave bahkan tidak pernah menjawab pernyataan cintanya. Dia saja yang terlalu percaya diri bisa menggeser posisi gadis yang prianya cintai.
"Kei..."
Bahkan dalam tidur pun ingatannya tak pernah luput dari gadis itu. Siapa sebenarnya gadis yang sangat Dave cintai? Selama satu tahun mengenalnya, Dave hanya selalu menggumamkan satu nama, 'Kei'. Siapa Kei? Haruskah ia menemukan 'Kei' agar Dave-nya sembuh? Ia tidak peduli jika perjuangannya tidak dilirik sedikit pun, yang penting kesembuhan Dave. Ia tidak mau Dave menderita karena pengobatan yang nyatanya tidak memberikan pengaruh apa pun.
Dia selalu menemani Dave kala menjalankan Radioterapi-nya. Ia bisa lihat jika Dave sangat kesakitan karena sinar radiasi yang tinggi. Dave lebih menderita karena pengobatannya bukan penyakitnya. Axel bilang sudah sekitar tiga tahun Dave mengidap Leukimia akut. Bisa dipastikan tidak bisa sembuh jika hanya dengan Radioterapi saja, diperlukan Transplantasi Sumsum tulang. Dan kebetulan Axel sudah mendapat pendonor yang cocok dengan Dave, tapi sayangnya Dave tidak mau.
"Kei maaf..."
Dave kembali mengigau, bergerak gelisah dalam tidur dengan peluh yang membasahi wajahnya.
"Dave, bangun. Kau hanya mimpi, bangunlah!"
Gadis itu sedikit mengguncang tubuh Dave, Dave mulai membuka matanya, dia mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang memasuki retinanya.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?"
Tidak ada jawaban, Dave meliarkan pandangannya, cat serba putih, tangan di infus. Hah, rumah sakit lagi pikirnya. Dave kemudian menatap presensi yang selama satu tahun terakhir selalu menemani harinya, terdapat gurat khawatir pada wajah cantik itu.
"Aku baik, beritahu Axel aku ingin pulang."
Gadis itu menggeleng,
"Ara.."
Ya, Kirania Arabelle Aidleline adalah si cerewet yang selama satu tahun ini menganggunya. Dia mengenal gadis ini di kampus, saat itu Ara dibully dan Dave menyelamatkannya, membelanya, setelah itu tidak ada yang berani mengganggu Ara lagi. Dan sejak itu pula benih cinta tumbuh dihati Ara, maka dari itu dia selalu mengekori Dave kemana pun. Bahkan tak segan untuk menyatakan jika dia menyukai Dave.
"Tidak. Dave harus operasi, Ara akan beritahu Kei. Dave pasti mau jika dibujuk olehnya."
Mode child-nya sudah kembali, Dave tersenyum. Ara begitu menyayanginya begitupula sebaliknya, tapi Dave menyayangi hanya sebatas kakak pada adiknya. Perihal Kei, jadi teringat kejadian tadi sore. Gadisnya begitu bahagia, semoga saja selalu seperti itu.
Flashback On
"Yakk, kenapa berhenti?!"
Dave tidak menghiraukan gerutuan Ara, pandangannya terpaku pada dua sejoli yang kini tengah beradegan mesra. Hatinya teiris begitu melihat pria itu memainkan pipi dan mengacak gemas surai hitam gadisnya. Keira menunjukan eksperi malu-malunya pada pria lain yang sebelumnya hanya milik Dave seorang.
Terlena dalam lamunan, ia tak menyadari jika gadis di seberangnya juga kini tengah menatap dengan perasaan yang sama. Mereka mengunci tatapan satu sama lain, selang beberapa detik tubuhnya ditarik paksa ke dalam mobil. Dia menyadari setelah Ara bertanya, terasa ada yang mengalir dari hidungnya. Dia mimisan, kepalanya pusing seperti di putar-putar berulang kali, hingga lirihan di penghujung kesadarannya yang menyayat hati Ara.
__ADS_1
"Maaf Kei..."
Pun Ara hanya bisa menahan sakit yang menghujam hatinys. Ia menghapus beberapa bulir bening yang mengalir bebas di pipinya menggunakan punggung tangannya, kemudian kembali mengemudikan mobil menuju rumah sakit.
Flashback Off
"Dengar Ara, tidak ada jaminan operasi itu akan berhasil. Hanya 25%, aku sudah terlalu lama menunda jadi kesempatan berhasilnya hanya sedikit."
Dave mencoba menjelaskan kendati sebenarnya ia tak mau jika harus menjalankan operasi. Dia hanya punya dua pilihan, menunggu ajal menjemputnya sedikit lebih lama atau menjemput ajal dengan cepat melalui meja operasi. Tidak ada yang menguntungkan bukan?
Karena terkadang dunia memberi pilihan yang tidak pantas untuk di pilih penghuninya. Manusia.
"Dave, tidak ada salahnya mencoba. Ara yakin pasti berhasil kok, Ara janji setelah operasi berhasil tidak akan mengganggu Dave lagi. Ayolah."
"Bukan itu Ara, bagaimana jika tidak berhasil? Aku hanya tidak ingin mati cepat dengan operasi, biarkan saja ini mengalir. Biar ini menjadi balasan karena aku telah menyakiti seseorang dulu. Dan, kau tidak perlu pergi."
Dave mengusap air mata Ara, dia telah membuat seseorang meneteskan air matanya lagi.
"Jangan menangis, Ara."
Ara mengangguk, meski ia kesal karena gagal membujuknya. Rasanya Ara perlu menghubungi seseorang.
***
"Ra?"
"Ish, ketusnya. Kau tahu tidak baik bersikap seperti itu pada kekasihmu sendiri, mengerti cantik?"
Blushh
Berkali-kali Daren membuatnya tersipu dan spot jantung hari ini. Mereka tengah menyiram tanaman -lebih tepatnya hanya Keira karena Daren hanya mengganggunya dengan terus menanyakan berbagai pertanyaan yang seharusnya tak perlu ditanyakan oleh orang sedewasa Daren, seperti; "Ra ini bunga apa?", "Ra, kenapa harus berwarna merah, kenapa tidak biru, kuning atau hitam?. Ck yang benar saja, mana ada bunga berwarna hitam.
"Sini biar aku yang siram."
"Big No! Pergi sana kau hanya menggangguku."
Daren tidak menyerah, dia tetap mencoba mengambil paksa selang dari tangan Keira. Akibat acara tarik-menarik itu, jadilah tubuh mereka basah kuyup. Keira menatap tajam pada Daren, pun yang ditatap hanya diam. Keira benar-benar marah, ia menundukan kepala, menatap kemana saja selama itu bukan Keira.
Tiba-tiba saja tawa Keira meledak, lucu melihat wajah bersalah Daren. Pun Daren mengetahui jika gadisnya kini tengan menertawainya merasa geram juga terjebak. Ia mengambil selang dengan gerakan cepat hingga Keira pun tak menyadarinya karena masih fokus dalam tawanya.
Mereka berlari kesana-kemari, bermain air dengan tawa mereka masing-masing. Seperti di drama saja. Tapi ini nyata dan lebih membahagiakan. Daren kini menatap Keira yang tengah bermain air dengan Kiki -kucing berbulu tebal yang mereka adopsi satu tahun lalu. Baru kali ini Daren melihat Keira tertawa lepas lagi, apalagi saat bersamanya. Daren bahagia, karena untuk sejenak Keira melupakan kejadian kemarin sore.
"Sudah cukup Kiki, sudah mau sore. Kita mandi, nanti kalau masuk angin gimana?. Daren! Ayo mandiiii."
"Mandi bersama?"
__ADS_1
Plakk
Keira menampar tangan Daren menggunakan sandalnya. Enak saja mandi bersama. Keira melengos begitu saja setelah aksinya itu bersama Kiki dalam gendongannya. Daren mengikutinya dengan gerutuan yang senantiasa ia gumamkan. Keira terkekeh mendengarnya.
Setelah mandi kini mereka diruang keluarga tengah menonton tv, yang sebenarnya tidak ada yang menarik. Hanya drama-drama yang membosankan bagi Daren. Mereka menonton dengan Keira berbaring dan paha Daren sebagai bantalannya dan Kiki dalam pelukan Keira. Sedang Daren duduk dan tengah mengeringkan rambut gadisnya meski sulit dengan posisi seperti ini.
"Daren kau lapar tidak?"
"Sedikit, kau lapar ya? Ayo masak."
"Aku sedang ingin kepiting pedas, bagaimana kalu kita pesan saja?"
Daren mengangguk, ia mengambil ponsel dan memesan beberapa makanan sekaligus pendampingnya.
"Sudah aku pesankan, kita tinggal tunggu saja."
Mereka kembali pada kegiatan masing-masing tanpa merubah posisi. Daren melihat Kiki yang dengan antengnya tidur di atas Keira. Di atas dada Keira. Daren juga kan ingin.
"Ra?"
"Hmm,"
"Kalau aku juga mau seperti Kiki boleh tidak?"
Keira masih belum bereaksi, mungki belum menyadari kalimat Daren. Daren menatap was-was, ia sudah membangunkan singa yang tengah tertidur. Tiga puluh detik Keira menyadari permintaan itu, sontak ia bangun dan menatap tajam pada Daren.
"Darenn!!!"
Keira menurunkan Kiki sebentar setelah itu menimpuknya dengan bantal sofa yang ada disana. Kenapa jadi mesum begini? Otak polos Daren sudah terkontaminasi, pasti sering menonton yang tidak-tidak.
"Kau sering menonton itu kan? Yak! Kenapa jadi mesum."
"Tidak, ampun. Aku hanya menonton sekali dan itu dulu sekali. Ampun, ayolah Ra ini sakit."
Sekali katanya? Tetap saja kan, ia akan terus menimpuk jika saja bel rumah tidak berbunyi. Mungkin layanan pesan-antar.
"Lihat, makanan kita sudah datang. Aku akan mengambilnya."
Daren berjalan menuju pintu utama, ia membuka pintu tapi yang ada di hadapannya ini bukanlah layanan pesan-antar yang ditunggunya.
"Sorry, who are you?"
___
Okay lah, mereka itu nyiram taneman pas sore ya. Kan klo nyiram taneman suka pagi dan sore ya kan biar adil. Oke itu aja sih. Moga suka💜
__ADS_1