Keira'S Life Story

Keira'S Life Story
Meet


__ADS_3

"Keira..."


Plakkk


Suara tamparan menggema dalam ruangan itu. Keira tidak pernah menduga ini sebelumnya, tidak pernah terbersit lagi dalam hatinya agar semesta kembali mempertemukan mereka. Ia sudah memutuskan untuk belajar mencintai Daren sepenuhnya, tanpa ada bayangan pria itu disana.


Belum cukupkah semua rasa sakit dan luka yang ia terima selama ini? Apa dunia benar-benar tidak menginginkan eksistensinya? Apakah dunia ingin ia mati perlahan dengan semua luka itu, hingga menghadirkan kembali seseorang yang ingin ia buang saat ini?


Kenapa harus sekarang mereka kembali dipertemukan? Kenapa harus seterlambat ini? Tak tahukah dunia jika ia sangat menginginkan presensi dihadapannya kembali sedari dulu? Kenapa pria itu datang saat ia memutuskan untuk merelakan dan melupakannya? Dan yang lebih penting, kenapa mereka bertemu disini, diruangan ini?


Ruangan Dokter Axel,


Keira tahu jika Axel sering menangani pasien dengan penyakit serius. Apa ini berarti dia juga sakit? Lalu kenapa malah memilih pergi dan menanggung semuanya sendiri? Ia tak menyangka jika firasatnya akan berakhir seperti ini.


Flashback on


"Aku ke toilet dulu Daren."


"Aku antar ya?"


keira menggeleng pelan. Daren mengerti, gadisnya juga butuh privasi, ia mengangguk disusul Keira melangkah keluar setelahnya.


Sesampainya disana ia menyelesaikan ritualnya, keluar dari bilik toilet, ia melihat dirinya dicermin besar yang disediakan disana. Sedikit berantakan. Hah, ini bahkan lebih baik daripada keadaannya seminggu yang lalu. Mematut kembali wajahnya kemudian menambahkan liptint agar bibir mungil itu tidak terlalu pucat.


Ia melangkah dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Menyapa siapa saja yang tersenyum ke arahnya. Pemandangan yang sudah biasa ia lihat sejak lebih dari dua tahu yang lalu.


"Ini sangat beresiko, kau sendiri yang bilang. Jadi biarkan saja ini sampai aku mati dengan sendirinya."


Langkahnya terhenti kala ia mendengar pernyataan itu. Lebih tepatnya, karena suara itu, lagi-lagi ia mendengarnya. Ia melihat kearah pintu disampingnya yang agak sedikit terbuka. Sedikit mengintip lewat celah, stagnan, matanya membola sempurna, hatinya dipenuhi sesak seakan pasokan udara yang ada disana hilang begitu saja. Ia bisa melihat dengan jelas presensi itu hanya dari belakang saja. Ya dia adalah Dave.


Brakkk


Tidak, ia tidak akan melakukan itu. Mendorong pintu dengan kasar akan membuat kedua presensi itu mengetahui keberadaannya. Maka yang ia lakukan adalah membuka pintu perlahan lalu masuk.


Keira mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan penuh luka itu, satu dari mereka membelalakkan matanya kala mendapati ia masuk dengan tenangnya. Keira pun mengisyaratkan pria yang tengah menatapnya itu agar tetap diam. Keira mendengar semuanya, percakapan mereka yang begitu memekakan telinga dan sangat menyakitkan baginya. Dari percakapan itu ia bisa menyimpulkan beberapa fakta,


Fakta jika Dave belum begitu mempercayai cintanya. Fakta bahwa memang eksistensinya tidak berarti sebesar itu dalam hidup Dave hingga ia memilih pergi dengan membawa penderitaan itu seorang diri. Fakta jika cintanya tak bisa menahan Dave agar tetap disisinya.


"Jangan menatapku seperti itu, aku pergi."

__ADS_1


Tepat Dave membalikkan badannya, ia sungguh terkejut luar biasa karena seseorang yang ia tinggalkan berdiri dihadapannya dengan wajah merah dan genangan air mata. Ini yang tidak ingin ia lihat saat maut menjemputnya nanti, wajah sedih dan air mata Keira. Itu sangat menyakitkan bagi Dave. Lebih baik mati dengan kebencian dari pada harus melihat air mata gadis itu jatuh karena kematiannya.


Dan sekarang Tuhan lagi-lagi mengujinya, dengan menghadirkan kembali gadis yang ia tinggalkan. Kenapa harus serumit ini kisah cintanya? Tak bisakah ia mati dengan tenang?


"Keira..."


Lirih Dave,


Dave melihat Keira berjalan ke arahnya, mata yang semula begitu penuh dengan cinta, sekarang hanya tersisa kebencian dan kecewa untuknya. Keira mengunci tatapannya pada netra kelam Dave, pun sebaliknya. Dave melihat luka yang begitu besar dari mata indah itu, Dave bisa merasakan apa yang Keira rasakan saat ini melalui tatapan itu. Keira berhenti tepat didepannya,


Plaakk


Untuk pertama kalinya Keira menampar Dave. Pun Dave hanya bisa diam sembari merasakan sensasi ngilu dipipinya.


Flashback off


Keira POV


"Ra?"


Aku menoleh kebelakang, Daren berdiri disana dengan sorot mata khawatirnya. Aku berlari kemudian memeluk Daren dengan sangat erat.


Daren memelukku, kemudian kami melangkah keluar dari ruangan yang menyesakkan itu dengan Daren yang masih memelukku. Terdengar helaan nafas dibelakang sebelum kami benar-benar keluar dari sana.


Seperti biasa Daren membukakan pintu mobilnya untukku.


Tidak ada percakapan didalam mobil. Kami hanya terdiam, suasana kembali beku. Tidak ada candaan atau kekonyolan yang biasa Daren lakukan. Kami hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan itu berlangsung selama perjalanan pulang kami.


"Masuklah, tenangkan dirimu. Aku akan kembali lagi nanti."


Ucap Daren saat kami telah sampai dirumahku. Aku mengangguk, Daren tahu apa yang aku butuhkan saat ini. Ketenangan dan waktuku sendiri. Daren pergi tanpa mengatakan apapun lagi selain itu. Aku tahu perasaan Daren saat ini, Daren pasti khawatir. Hah, aku pasti menyakitinya lagi.


Sesampainya dikamar aku melepas sepatuku kemana saja, kemudian melangkah masuk ke kamar mandi. Aku lelah, aku akan berendam sebentar . Setelah setengah jam lamanya berendam, aku bangkit menyalakan shower dan membersihkan tubuhku.


"Hiks...hiks.."


Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Isakanku lolos begitu saja, ini sangat menyakitkan. Aku menangis, melihat diriku sendiri dicermin. Sangat berantakan dengan mata bengkak dan hidung yang memerah. Aku melangkah keluar menuju balkon kamarku untuk mencari udara segar. Aku sangat membutuhkan itu saat ini.


Semilir angin membelai wajahku, aku ingin sepertinya, aku ingin menjadi angin jika aku bisa memilih atau apa saja yang tidak bisa merasakan cinta dan sakitnya. Kulihat matahari sore menyinari dengan cerahnya, berbanding terbalik dengan keadaanku sekarang. Pikiranku masih terpaku pada kejadian siang tadi. Pertemuanku dan Dave.

__ADS_1


Kupikir setelah bertemu kembali dengannya aku akan bahagia, tapi nyatanya seribu kali lebih menyakitkan. Apalagi saat mengetahui fakta itu. Fakta jika cintaku tak cukup untuk menahannya agar tetap bersamaku. Aku ingin bertanya padanya mengapa ia pergi? Tak tahukah ia jika itu sangat menyakitkan untukku? Banyak sekali pertanyaan yang ingin ku tanyakan saat bertemu dengannya, tapi saat melihatnya, rasa kecewa, benci, dan rindu meluap hingga semua pertanyaan itu menguap begitu saja.


Aku selalu berharap jika orang yang kutemui tadi bukanlah Dave. Bahkan aku berharap agar tidak dipertemukan kembali dengan pria itu. Dia datang dengan membawa warna baru dihidupku, hingga aku lupa warna indah yang dia berikan hanya semu. Kemudian dia pergi membawa kembali warna indahnya dan hanya menyisakan hitam dan abu-abu.


Aku tak tahu kenapa sampai saat ini aku masih saja mencintainya, kendati Dave telah begitu banyak menorehkan luka. Saat melihatnya itu mengingatkan ku akan luka yang dia berikan, tapi saat jauh darinya aku sangat merindukannya. Kenapa Dave harus datang dan pergi sesukanya? Kenapa harus kembali saat hati ini belum sepenuhnya merelakan atas kepergiannya?


Lebih dari itu, aku tak ingin terus-menerus menyakiti Daren. Aku memang terluka, tapi tanpa kusadari aku juga melukai Daren. Dia yang selama ini selalu mendukungku, selalu ada disetiap kondisiku, dia yang selalu merelakan waktu istirahatnya hanya agar aku tidur dengan tenang. Aku terus menyakitinya dengan terus memberinya harap. Memang Daren tidak pernah mengharapkan cintaku, bagi Daren aku ada disampingnya saja sudah cukup. Tapi bukankah itu tidak adil? Aku juga ingin merasakan cinta untuknya.


"Ra? Ini sudah malam, tidurlah."


Aku tersentak dalam lamunanku, sejak kapan Daren disana? Dan ini sudah malam? Berapa lama aku melamun disini?


"Ra?"


Aku menoleh, ekspresinya tetap tenang meski dia tahu jika aku bisa pergi kapan saja. Tapi,


"Kau minum?"


Pertanyaanku membuatnya terpaku, ekspresinya tidak setenang tadi. Daren mulai gugup.


"Daren?"


"T-tidak, ayo tidur. Besok aku ada jadwal operasi, jadi harus tidur lebih awal."


Aku mengangguk, bukan waktu yang tepat untuk mendebatkan sesuatu saat ini. Aku membaringkan tubuh diranjang, Daren kembali setelah menutup jendela kemudian duduk disebelahku, aku pun menarik tangannya untuk bantalan kepalaku, itu sangat nyaman. Dia mengusap kepalaku seperti biasa, tapi kali terasa berbeda untukku. Aku hanya seperti sedang memanfaatkannya, ini sangat menyesakkan hingga air mataku keluar dengan sendirinya.


"Jangan menangis, tenanglah."


POV end


____


like rate vote follow ya🤣💜


kritik sarannya juga okay


see u next part


oiya terimakasih buat yang uda mampir💜

__ADS_1


__ADS_2