
waktu untuk mengantar Gea ke tempat pembekalan
OSPEK .
"Kamu suka?" Sarah tertawa kecil melihat Gea.
Gea mengangguk cepat. Bibir mungilnya setia
tertarik membentuk senyum lebar manakala mobil yang
ditumpanginya melewati beberapa gedung tinggi yang
megah. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil sedan
warna kuning yang Gea tumpangi berhenti tepat di
depan sebuah perguruan tinggi elit yang telah dicita
citakan oleh Gea selama ini, gedung tinggi dengan
platform besar bertuliskan selamat datang.
[SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU
UNIVERSITAS INTERNASIONAL AERO].
\*
Berbagai macam suara terdengar nyaman di
telinga Gea. Tawa para mahasiswi baru, bisik-bisik para
penggosip, langkah kaki para senior dengan
kelompoknya masing-masing, berikut suara para dosen
yang tengah bercengkrama dengan anak didiknya. Suara
suara itu membentuk suatu nyanyian kesibukan yang
tiada pernah berhenti. Nyanyian yang melantun pelan.
Di tengah-tengah kesyahduan nyanyian kesibukan hanya
suara Sarah yang terdengar begitu konsisten dengan
nada suara kaku."Di depan sana ada Fakultas Teknik. Hindari
__ADS_1
gedung itu. Lalu di samping kiri ada ..." Sarah tidak
sadar bahwa Gea telah berada di dunianya sendiri. Mata
gadis itu bahkan tertarik lurus pada gedung yang telah
diberi catatan hitam oleh Sarah. Fakultas dengan rumbai
gelap bertuliskan nama salah satu jurusan, dan taman
yang dipenuhi bunga Lily berhasil menyita perhatian
Gea.
[JURUSAN TEKNIK OTOMOTIF ]
Kedua kakinya perlahan mulai bergerak menjauhi
Sarah. Gea mengikuti instingnya memasuki taman. Saat
kakinya menginjak semakin dalam, matanya tanpa sengaja menangkap sosok jangkung yang beberapa saat
lalu berhasil mencuri ketertarikannya. Laki-laki itu
tampak sibuk dengan sebatang rokok yang terselip di
sudut bibirnya. Kepulan asap putih mengelilinginya
Gea dibuat takjub dengan apa yang baru pertama
kali dilihat oleh matanya. Gea yang selama satu tahun
penuh ini berada dalam rumah dengan pengawasan
super ketat, termasuk menjalani homeschooling pilihan
sang ayah, tampak begitu polos saat melihat sosok
tampan itu. Bahkan saat lelaki itu menoleh dan
mendapatinya tengah memandang dan menatap
sosoknya yang misterius, Gea masih setia dengan
kepolosannya, tanpa dosa.
Sekilas Gea melihat keterkejutan di wajah laki-laki
itu. Namun berikutnya senyum tipis penuh kharisma
tersungging di bibirnya.
__ADS_1
“Apa kamu tersesat?" Suara yang dalam dan
rendah mengalun bagai musik nan indah di telinga Gea.
Laki-laki itu membuang rokoknya, menginjaknya sampai
abu rokok hilang tak tersisa, lalu berjalan mendekat.
Melihat matanya, nafas Gea kembali tertahan.
Mata lelaki itu begitu coklat gelap, hampir hitam, dan
Gea tidak nyaman melihat wajah lelaki itu secara
langsung, sehingga pandangannya dengan cepat
meninggalkan matanya dan beralih dengan melihat ke
tempat lain.
"Tatap lawan bicaramu saat bicara.” laki-laki itu
menjepit dagu Gea dan memaksa wajahnya agar
terangkat.
Gea yakin wajahnya tidak bisa lebih merah lagi
daripada saat ini. Gea seperti tersengat aliran listrik saat
tangan lelaki itu menyentuh dagunya. Gea berusaha
mengendalikan diri dan berharap suara yang keluar dari
bibirnya tidak bergetar, tapi yang terjadi adalah
sebaliknya. Sentuhan laki-laki itu telah membuat hatinya
bergetar.
"I-iya ..." laki-laki itu tersenyum tipis mengetahui
Gea gugup dan ketakutan.
“Ge ... Gea harus pergi ....” Gea mencengkeram
roknya sambil menoleh ke belakang mencari Sarah,
tetapi lelaki itu melangkah mendekat, mencegahnya
pergi.
__ADS_1
jangan lupa vote like and komen😊