
menatap liar dengan seringai menakutkan. Dan satu
lelaki yang lain menatapnya biasa tanpa meninggalkan
senyum ramah.
“Apa kau yang bernama Gea?” tanya laki-laki
dengan rambut pompadour. Tatapan matanya tampak
lembut, tetapi Gea sudah terlanjur takut.
“Bu-bukan ….” Gea menggelengkan kepala, lalu
berusaha menghindar dan kembali berjalan. Namun,
tangannya tiba-tiba ditarik oleh lelaki berkulit gelap.
“Jangan bohong.” Dengan gerakan tak terbaca,
lelaki itu menyingkap jaket rajut warna krem milik Gea,
hingga name tag-nya terlihat jelas. Gea lupa untuk
melepas name tag itu.
“Kau berani bohong sama kami, hah?” lelaki itu
tampak murka.
“John, bagaimana kalau gadis ini aku berikan
pelajaran terlebih dahulu? Aku bisa ....” sambung laki
laki itu seraya menyenggol John.
“Ti-tidak mau ....” Gea menggeleng, takut.
“Masih banyak gadis di luar sana yang bisa kau
mainkan, Son. Jangan sentuh gadis ini.” John
memperingatkan dengan serius.
“Cih! Lagi-lagi itu.” Soni memutar bola matanya.
“Ikutlah dengan kami.” John berkata sepenuh
hati, "Kami berjanji tidak akan menyakitimu."
Gea berusaha meminta bantuan dengan
memandang ke kanan dan kiri, namun tak ada dari
orang-orang di sana yang berani untuk sekadar
melihatnya.
“Percuma meminta bantuan. Mereka semua
pencundang,” sahut John, seolah tahu isi hati Gea.
__ADS_1
Gea yang merasa tidak punya pilihan lain,
akhirnya mengangguk setuju.
Gea berjalan diimpit oleh dua lelaki itu menuju ke
halaman belakang. Lengang dan sepi, begitulah kata
yang tepat untuk mendeskripsikan tempat itu.
Cukup lama berjalan, akhirnya mereka sampai di
depan sebuah rumah berukuran sedang. Rumput ilalang
tampak tumbuh subur di sekitar pelataran.
“Masuk,” pinta John.
Suara musik dengan volume yang cukup keras
menyambut kedatangan mereka. Kepulan asap rokok
dan bau alkohol memenuhi ruangan. Gea yang merasa
enggan untuk masuk hanya berdiri di tempat.
“Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Masuk.”
"Gea mau pulang ….”
“Baru juga sampai.” John menarik tangan Gea,
membawanya masuk.
Gea melihat ke belakang, dan pintu telah tertutup.
Gadis itu lalu mengedarkan pandangan dan menatap ke
setiap penjuru ruangan dengan perasaan takut. Ruangan
yang cukup luas dengan beberapa area permainan dan
meja bar yang menyediakan berbagai jenis minuman. Di
setiap sudut ruangan, Gea melihat beberapa lelaki
tengah bermain billiard. Ada pula dari mereka yang
tengah bercumbu mesra. Saat itulah Gea mengalihkan
pandangannya, malu.
“Lewat sini.”
Gea mengikuti John, berjalan dengan kepala
tertunduk. Ketika melewati sekumpulan lelaki dengan
celana robek dan rokok terjepit di mulut, semua
pandangan tertuju kepada dirinya, hingga ia merasakan
__ADS_1
tangannya tiba-tiba berkeringat.
John membawa Gea menuju ke lorong gelap dan
remang-remang lalu berhenti di depan sebuah pintu
besar berwarna putih.
“Masuklah."
Gea mencengkeram ujung roknya, bingung. Dia
tidak mengenal siapa pun di sini. Tempat ini begitu
menakutkan untuknya. Tanpa suara, Gea menundukkan
kepala dan menangis.
“Jangan menangis. Kau mau pulang, ‘kan?” Tanya
John dengan nada iba.
Gea menganggukkan kepalanya dengan polos.
Jari-jari lentiknya menyapu air mata yang menetes
lembut di pipinya, "Mau ..."
“Kalau begitu masuklah.”
Gea mencebikkan bibir. Gea tidak mau masuk,
Gea hanya ingin pulang.
"Masuklah. Di dalam sana akan lebih aman
untukmu." Ucap John sekali lagi.
"Apa setelah ini Gea boleh pulang?" Tanya Gea
polos."Tentu saja."
Gea mengangkat kepalan sambil menyeka air
matanya yang setia mengalir. Sambil menarik nafas, Gea
memberanikan diri untuk masuk. Saat kakinya telah
menginjak lantai marmer warna hijau, suara klik pada
pintu membuatnya sadar bahwa ia berada dalam bahaya.
Gea kemudian berbalik dan kembali menghampiri
pintu.
“Buka pintunya! Buka!” Gea menggedor berkali
kali, namun tak ada reaksi.
"Tolong buka pintunya! Tolong ..." Gea meratap
__ADS_1
di dalam ruang berbentuk kamar yang ditempatinya saat
ini.