Kekasih Kecil Ku

Kekasih Kecil Ku
eps 7


__ADS_3

"Buka pintunya ..." Gea terus


memohon dengan mata mengedar ke seluruh sudut


ruangan. Gea mengusap matanya yang berair, mencoba


melihat lebih jelas ruang yang ditempati oleh Gea saat


ini.


Hitam dan gelap. Setidaknya itulah yang dapat


Gea simpulkan. Semua perabotan memiliki warna hitam,


sehingga memberi kesan misterius. Ruangannya pun


minim cahaya dengan langit kamar yang rendah. Aroma parfum segar bercampur Citrus dan Pinus terasa


familiar, membuat Gea kembali merasa deja vu.


"Gea mau pulang ..." Di antara rasa takut, Gea


telah mengambil tekad. Seperti yang selama ini orang


tuanya katakan, dunia luar sangat menakutkan dan tidak


cocok untuknya. Setelah ini Gea akan mengikuti


keinginan ayahnya, yaitu ... menjalani kuliah secara


privat.


Sambil menarik nafas dalam-dalam, Gea bergegas


menghampiri jendela dan menyibak tirainya. Gea


bersyukur ketika tidak ada teralis besi atau pengaman


apapun yang menghiasi jendela sehingga memudahkan


Gea untuk membukanya. Semilir angin segar menerpa


kulit wajahnya yang pucat. Suara gemericik air


menyambutnya saat jendela berhasil dibuka secara


penuh. Gea melongok ke bawah dan mengerucutkan


bibir begitu melihat aliran sungai di bawahnya.


Walaupun berarus kecil, Gea tetap merasa takut.


Bagaimana jika ada ular atau hewan melata lain yang


berbisa?


Apa ini sungai Aero?


Gea tiba-tiba teringat dengan ucapan Sarah.


Sepertinya sungai ini adalah sungai buatan yang


dimaksud oleh Sarah. Sungai Aero menjadi sungai


terbesar yang pernah dibuat dan dimiliki oleh kampus


manapun di Ibukota. Para mahasiswa Biologi


memakainya untuk meneliti berbagai jenis organisme


hidup. Gea tidak menyangka sungai yang dilihatnya saat


ini begitu panjang.

__ADS_1


Gea terlalu larut dengan pikirannya sendiri yang


terus mencari cara untuk kabur. Tidak sadar dengan


kehadiran sosok lain di belakangnya. Sosok itu berjalan


begitu pelan dan perlahan.


"Mama ..." Gea sedih mengingat keinginannya


untuk pulang dan berlindung di dalam rumahnya sendiri


semakin besar. Gea ingin memeluk ibunya."Kamu mau kemana?"


Suara dalam penuh tekanan itu membuat Gea


terkejut. Ia berbalik dan hampir menabrak dada bidang


seorang di depannya.


Gea menarik napas yang sempat tercekat ketika


melihat sepasang mata yang saat ini tengah menatapnya


adalah milik lelaki yang pagi ini membuat Gea


ketakutan.


"Kamu mau kabur melewati jendela ini?" Rey


meraih pinggang Gea sementara jari-jari tangan yang


lain mengusap pipinya yang halus.


Kaki Gea gemetaran. Entah takut karena


ketahuan mencoba kabur atau karena kehadirannya, Rey


tidak peduli. Bahkan saat Rey melihat tanda-tanda


ekspresi kakunya saat ini.


"Mau aku bantu?" Rey menguatkan rengkuhannya


di pinggang Gea, mengurung Gea sepenuhnya yang


berdiri di sisi jendela. Mereka berdiri begitu dekat tanpa


sedikitpun penghalang.


Gea tidak berani membalas tatapan Rey, dan


sebagai ganti atas sikapnya itu Gea menjatuhkan


tatapannya ke arah pintu.


"Kamu tidak bisa pergi. Kunci pintunya ada


padaku, Sayang." Rey menyeringai kepada Gea, seolah


tahu apa yang ada dipikiran gadis itu. Bibirnya mendekat


dan mendarat di pipinya yang memiliki aroma campuran


vanila dan stroberi. Rey menciumnya lagi dan kali ini


berlangsung lama.


"Ber ... henti ..." Gea berusaha menghindar.


Bibirnya bergetar ketakutan, begitu pun dengan


tubuhnya yang bereaksi sama.

__ADS_1


"Kamu tidak berubah, Sayang." Rey tersenyum


melihat reaksi Gea yang menggemaskan.


Reymond Alfaro D'angelou. Sebagai mahasiswa


semester akhir, Rey memiliki mata paling gelap dan tajam di Aero University. Rey yang terkenal dingin dan


jarang menggandeng gadis manapun kini tertarik secara


seksual pada seseorang, dan itu adalah Gea.


Rey menjauhkan diri dari Gea. Dia melihat dari


atas ke bawah tubuh gadis di hadapannya, lalu berhenti


tepat di dada Gea yang tampak begitu menonjol di balik


pakaian. Rey mengulas senyum dan menjilat bibirnya


yang terasa kering, menahan gairah yang telah lama


ditahan selama hampir satu tahun lebih.


"Setelah sekian lama, akhirnya aku


menemukanmu lagi." ucap Rey penuh misteri.


Dengan satu langkah dan ayunan tangan, Rey


kembali merengkuh tubuh Gea. Tangannya mulai


menjelajahi pinggang Gea yang langsing dan berhenti di


pantatnya yang berisi. Sementara tangan lainnya sibuk


menyentuh bibir bawah gadis itu dengan kuat.


Gea yang mendapati pelecehan itu mulai gelisah


dan memukul dada Rey agar lelaki itu menghentikan jamahan di tubuhnya. Gea menggelengkan kepala,


menghindar ketika Rey hendak menciumnya. Gea terus


menghindar hingga bibir lelaki itu hanya menempel di


pelipisnya.


"Gea tidak mau ...." Air matanya mengancam


turun, namun Gea menahannya karena aksi laki-laki


asing itu selanjutnya. Rey mengangkat tubuh Gea dan


menurunkannya di tepi jendela.


"Diam atau kamu bisa jatuh." Gea menggeleng


cepat dan sebagai bentuk rasa takutnya, Gea


mencengkeram kedua bahu lebar Rey. Gea takut Rey


akan mendorongnya jatuh ke sungai.


Rey mengusap rambut Gea, lalu melingkarkan


tangannya pada pinggang gadis itu. Rey merendahkan


mulutnya ke arah mulut Gea, menciumnya dengan


ciuman yang agresif.


Mulut Rey terbuka di atas mulut Gea sepenuhnya

__ADS_1


dan memaksa bibir gadis itu untuk ikut terbuka.


Lidahnya menyerang masuk ke dalam mulut Gea.


__ADS_2