
"Buka pintunya ..." Gea terus
memohon dengan mata mengedar ke seluruh sudut
ruangan. Gea mengusap matanya yang berair, mencoba
melihat lebih jelas ruang yang ditempati oleh Gea saat
ini.
Hitam dan gelap. Setidaknya itulah yang dapat
Gea simpulkan. Semua perabotan memiliki warna hitam,
sehingga memberi kesan misterius. Ruangannya pun
minim cahaya dengan langit kamar yang rendah. Aroma parfum segar bercampur Citrus dan Pinus terasa
familiar, membuat Gea kembali merasa deja vu.
"Gea mau pulang ..." Di antara rasa takut, Gea
telah mengambil tekad. Seperti yang selama ini orang
tuanya katakan, dunia luar sangat menakutkan dan tidak
cocok untuknya. Setelah ini Gea akan mengikuti
keinginan ayahnya, yaitu ... menjalani kuliah secara
privat.
Sambil menarik nafas dalam-dalam, Gea bergegas
menghampiri jendela dan menyibak tirainya. Gea
bersyukur ketika tidak ada teralis besi atau pengaman
apapun yang menghiasi jendela sehingga memudahkan
Gea untuk membukanya. Semilir angin segar menerpa
kulit wajahnya yang pucat. Suara gemericik air
menyambutnya saat jendela berhasil dibuka secara
penuh. Gea melongok ke bawah dan mengerucutkan
bibir begitu melihat aliran sungai di bawahnya.
Walaupun berarus kecil, Gea tetap merasa takut.
Bagaimana jika ada ular atau hewan melata lain yang
berbisa?
Apa ini sungai Aero?
Gea tiba-tiba teringat dengan ucapan Sarah.
Sepertinya sungai ini adalah sungai buatan yang
dimaksud oleh Sarah. Sungai Aero menjadi sungai
terbesar yang pernah dibuat dan dimiliki oleh kampus
manapun di Ibukota. Para mahasiswa Biologi
memakainya untuk meneliti berbagai jenis organisme
hidup. Gea tidak menyangka sungai yang dilihatnya saat
ini begitu panjang.
__ADS_1
Gea terlalu larut dengan pikirannya sendiri yang
terus mencari cara untuk kabur. Tidak sadar dengan
kehadiran sosok lain di belakangnya. Sosok itu berjalan
begitu pelan dan perlahan.
"Mama ..." Gea sedih mengingat keinginannya
untuk pulang dan berlindung di dalam rumahnya sendiri
semakin besar. Gea ingin memeluk ibunya."Kamu mau kemana?"
Suara dalam penuh tekanan itu membuat Gea
terkejut. Ia berbalik dan hampir menabrak dada bidang
seorang di depannya.
Gea menarik napas yang sempat tercekat ketika
melihat sepasang mata yang saat ini tengah menatapnya
adalah milik lelaki yang pagi ini membuat Gea
ketakutan.
"Kamu mau kabur melewati jendela ini?" Rey
meraih pinggang Gea sementara jari-jari tangan yang
lain mengusap pipinya yang halus.
Kaki Gea gemetaran. Entah takut karena
ketahuan mencoba kabur atau karena kehadirannya, Rey
tidak peduli. Bahkan saat Rey melihat tanda-tanda
ekspresi kakunya saat ini.
"Mau aku bantu?" Rey menguatkan rengkuhannya
di pinggang Gea, mengurung Gea sepenuhnya yang
berdiri di sisi jendela. Mereka berdiri begitu dekat tanpa
sedikitpun penghalang.
Gea tidak berani membalas tatapan Rey, dan
sebagai ganti atas sikapnya itu Gea menjatuhkan
tatapannya ke arah pintu.
"Kamu tidak bisa pergi. Kunci pintunya ada
padaku, Sayang." Rey menyeringai kepada Gea, seolah
tahu apa yang ada dipikiran gadis itu. Bibirnya mendekat
dan mendarat di pipinya yang memiliki aroma campuran
vanila dan stroberi. Rey menciumnya lagi dan kali ini
berlangsung lama.
"Ber ... henti ..." Gea berusaha menghindar.
Bibirnya bergetar ketakutan, begitu pun dengan
tubuhnya yang bereaksi sama.
__ADS_1
"Kamu tidak berubah, Sayang." Rey tersenyum
melihat reaksi Gea yang menggemaskan.
Reymond Alfaro D'angelou. Sebagai mahasiswa
semester akhir, Rey memiliki mata paling gelap dan tajam di Aero University. Rey yang terkenal dingin dan
jarang menggandeng gadis manapun kini tertarik secara
seksual pada seseorang, dan itu adalah Gea.
Rey menjauhkan diri dari Gea. Dia melihat dari
atas ke bawah tubuh gadis di hadapannya, lalu berhenti
tepat di dada Gea yang tampak begitu menonjol di balik
pakaian. Rey mengulas senyum dan menjilat bibirnya
yang terasa kering, menahan gairah yang telah lama
ditahan selama hampir satu tahun lebih.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku
menemukanmu lagi." ucap Rey penuh misteri.
Dengan satu langkah dan ayunan tangan, Rey
kembali merengkuh tubuh Gea. Tangannya mulai
menjelajahi pinggang Gea yang langsing dan berhenti di
pantatnya yang berisi. Sementara tangan lainnya sibuk
menyentuh bibir bawah gadis itu dengan kuat.
Gea yang mendapati pelecehan itu mulai gelisah
dan memukul dada Rey agar lelaki itu menghentikan jamahan di tubuhnya. Gea menggelengkan kepala,
menghindar ketika Rey hendak menciumnya. Gea terus
menghindar hingga bibir lelaki itu hanya menempel di
pelipisnya.
"Gea tidak mau ...." Air matanya mengancam
turun, namun Gea menahannya karena aksi laki-laki
asing itu selanjutnya. Rey mengangkat tubuh Gea dan
menurunkannya di tepi jendela.
"Diam atau kamu bisa jatuh." Gea menggeleng
cepat dan sebagai bentuk rasa takutnya, Gea
mencengkeram kedua bahu lebar Rey. Gea takut Rey
akan mendorongnya jatuh ke sungai.
Rey mengusap rambut Gea, lalu melingkarkan
tangannya pada pinggang gadis itu. Rey merendahkan
mulutnya ke arah mulut Gea, menciumnya dengan
ciuman yang agresif.
Mulut Rey terbuka di atas mulut Gea sepenuhnya
__ADS_1
dan memaksa bibir gadis itu untuk ikut terbuka.
Lidahnya menyerang masuk ke dalam mulut Gea.