
Satu hari kemudian ....
"Mau sampai kapan kau merokok seperti itu?"
John memandang Rey yang saat ini tengah duduk
tenang di balkon apartemen sembari menghisap rokok.
Kepulan asap tertebaran hingga ke indra penciumannya.
Sejak insiden siang itu, Rey masih setia memasang
wajah datar. Auranya yang tidak sedikitpun bersahabat,
membuat John menarik diri.
John ingat dengan kemarahan Rey. Untuk
pertama kalinya, John melihat Rey murka dan bertindak
gila seperti itu.
"**GARA-GARA KAU GEA KABUR,
*********?!"
Sumpah serapah keluar dari mulut Rey. Seluruh
tubuh lelaki itu bereaksi membentuk emosi yang
membuat para penghuni basecamp siang itu takut untuk
mendekat ataupun membantu sosok yang tengah di
hujani pukulan dan tinju. Rey memukul Sony,
mengharuskan sosok malang itu dilarikan segera ke
rumah sakit.
maafkan aku son---John menarik nafasnya yang
berat, merasa bersalah karena menjadikan Sony sebagai
sasaran empuk kemarahan Rey. John tidak menyangkal
bahwa Rey akan semarah ini, dan ini semua adalah
salahnya. Tanpa sepengatahuan Rey, John membantu
Gea kabur.
Ketika Rey berada dalam satu ruang tertutup
bersama Gea, John mengatur rencana dengan meminta
Sony untuk memancing Rey keluar ruangan. Dengan
__ADS_1
dalih mendapat panggilan darurat dari bisnis rahasia
sang ayah, cukup berhasil membuat Rey percaya. John
menggunakan kesempatan emas perginya Rey dengan
membantu Gea kabur.
John terkejut mendapati kondisi Gea yang
memprihatinkan. Pakaian yang dikenakan gadis itu
kusut, matanya bengkak seolah baru saja menangis.
Ada hubungan apa ... Rey dengan gadis itu?--
John
tidak menyangka Rey tertarik dengan Gea, junior
sekaligus sahabat Sarah, gadis incarannya saat ini.
Sepengetahuannya, Rey hanya mengencani para gadis
glamor dengan pakaian kekurangan bahan. Walaupun
John sendiri tak bisa menampik Gea sangat cantik,
bahkan tubuh gadis itu jauh dari kata biasa. Tetapi, lebih
dari itu, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah status
Siapa Gea? Kenapa Rey bersikap di luar nalar seperti
itu?
"Mau ke mana?" Rey menatap John dari atas ke
bawah. Rey melihat penampilan rapi John, kemeja polos
putih dipadu celana jeans slim fit, serta sneaker berwarna
serupa dengan kemeja.
"Biasa," balas John seraya melihat jam yang
melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Rey kembali mengisap rokok dan menatap
pemandangan luar dari pinggir balkon.
"Bagaimana kabar gadis itu? Apa kau serius
dengannya?" tanya John ingin tahu. Namun, laki-laki
yang disindir hanya menatap dingin John dengan tangan
__ADS_1
yang masih setia memainkan puntung rokok.
Rey kembali setia dengan sikap diamnya. Lama
dalam hening membuat suasana menjadi tegang.
Auranya semakin gelap ketika Rey bangkit sambil
membuang puntung rokoknya ke asbak. Rey berjalan
menghampiri John. Langkahnya begitu pelan membuat
John waspada. Bahkan saat Rey berdiri lebih tinggi di
hadapannya, John merasa aura mencekam di seluruh
sudut ruangan.
"Kau satu-satunya sahabat yang kupercaya, John."
Rey melangkah lebih dekat lalu membisikkan sesuatu di
telinga John. Tangannya begitu erat memegang bahu
John. "Jangan pernah mengkhianatiku." Rey kemudian
menepuk bahu John lalu berjalan menuju sofa untuk
mengambil kunci mobilnya.
"Jadi kau sudah tahu, akulah yang membantu Gea
kabur?" John membalikkan tubuh dan memandangi Rey
yang tengah memakai jaket.
Keterdiaman Rey membuat John kesal. Bahkan
ketika Rey hendak pergi tanpa sedikit pun menjawab
pertanyaannya, John makin murka dibuatnya.
"Gea sahabat Sarah, Rey! Aku tidak ingin kau
mempermainkan gadis itu!"
Rey berhenti dengan tangan memegang engsel
pintu. "Urus saja urusanmu sendiri," ucapnya.
"Rey!" John berteriak memanggil namanya.
Blam! Panggilan lantang John dijawab oleh suara
bantingan pintu. Rey pergi tanpa basa-basi,
meninggalkan John.
__ADS_1
\*\*\*