
"Apa kamu takut padaku?" katanya saat sampai di
depan Gea. Mereka berdiri begitu dekat dan Gea
menyadari kalau lelaki itu lebih tinggi satu kepala
darinya, padahal saat ini dia sedang mengenakan high
heels setinggi 5 cm.
Lelaki ini memancarkan aura yang membuat Gea
merinding. Apalagi dengan keadaan di sekitar mereka
yang sepi. Dia bisa saja melakukan hal-hal buruk pada
Gea. Wajah tampan tidak menjadi jaminan bahwa lelaki
itu baik. Itulah yang selalu papanya katakan kepadanya.
"Ha ... hari ini ada u ... upacara penyambutan
mahasiswi baru ... Gea takut terlambat." Gea mendengar suaranya sendiri yang agak bergetar. Sebagian karena
takut, lalu sebagian lagi karena kedekatannya dengan
lelaki asing itu.
Lelaki itu mengulurkan tangannya mendekati
wajah Gea. Buku-buku jarinya membuat gerakan
menyapu pipinya yang lembut, membuat rasa takut Gea
semakin besar. Bahkan saat tangan besar itu menjauh
dan turun ke dada untuk menyentuh name tag-nya,
tubuhnya tiba-tiba gemetar.
Gea ketakutan karena baru kali ini mendapat
sentuhan berbau intim dari seorang lelaki.
"Geara Michelle Oeral." Laki-laki itu berkata
dengan nada dan tatapan memuja saat membaca tulisan
latin di name tag yang Gea pakai.
__ADS_1
Gea terkejut ketika laki-laki itu menyentuh tangan
mungilnya, lalu membawanya ke bibir. Laki-laki itu
mencium tangannya begitu lama dan tanpa sadar
membuat Gea berkaca-kaca karena rasa takut.Gea seharusnya menolak dan menarik tangannya
jauh-jauh dari lelaki asing itu, tapi tubuhnya tidak
sedikitpun bersahabat dengan pikirannya. Gea
menerima perlakuan laki-laki itu kepadanya, termasuk
saat ciuman lain datang dan dengan berani mendarat di
pipinya.
"Aku akan mengantarmu."
\*
Gea berjalan dengan satu tangan yang setia
tidak tahu namanya. Gea merasa deja vu saat matanya
jatuh pada punggung lebarnya yang kukuh. Gea seperti
pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Gea berkali-kali mengusap matanya yang berair.
Matanya terus menatap ke segala arah, berharap
menemukan Sarah. Gea yang selama ini mendapat
perlindungan dari orangtuanya mulai tidak berdaya saat
berada di luar, sendirian.Gea menundukkan kepala saat mereka melewati
beberapa mahasiswi yang tiada henti menyapa lelaki
yang saat ini tengah menggenggam tangannya.
"Pagi, Rey!"
__ADS_1
Rey? Jadi nama laki-laki asing itu adalah Rey ...
Perut Gea mual ketika mereka tiba di lapangan
OSPEC. Para kerumunan yang sebelumnya tengah
bergosip dengan kelompok masing-masing mulai
bungkam karena kedatangannya bersama Rey. Mata
mereka jatuh sepenuhnya pada sosok Rey yang memang
lebih mendominasi dan mendatangkan minat kaum
hawa. Mereka berbisik membicarakan sosoknya yang
jangkung dan tampan. Mereka baru memperhatikan
keberadaan Gea saat Rey mendekatkan wajahnya dan
membisikkan sesuatu di telinga Gea.
"Setelah upacara selesai, tetaplah diposisimu.
Tunggu sampai aku datang." Bisik Rey diakhiri dengan
mencium pipinya sekali lagi.
Gea mencengkeram ujung roknya dengan kepala
tertunduk. Padahal mereka baru pertama kali ini
bertemu tapi kenapa laki-laki itu berani menciumnya di
depan umum? Seolah mereka memiliki hubungan ...
Remasan di ujung roknya semakin kuat saat
mengetahui siapa sosok Rey sebenarnya. Lelaki itu
berjalan menjauhi Gea untuk kemudian naik ke atas
panggung bersama para senior lain.
Gea merasa nafasnya tercekat ketika tahu secara
pasti bahwa Rey bukan hanya sebatas senior biasa ...
laki-laki itu ternyata ketua dari himpunan seluruh
__ADS_1
mahasiswa Aero University.
jangan lupa vote like and komen