
Satu lengan Rey merangkul pinggang gadis itu dan
membelainya lembut. Sementara tangan yang lain jatuh
ke samping, melepas kancing baju gadis itu satu persatu
dan mengarah pada payudara kiri Gea yang ranum dan
berisi. Rey meremas buah dada gadis itu lalu memilin
dan mencubit bagian sensitifnya.
"Aku merindukanmu, Sayang." Rey melepaskan
bibirnya sekilas, lalu kembali mencium bibir Gea.
Sekujur tubuh Gea mulai panas. Ini pertama kali
Gea dicium oleh laki-laki. Tapi benarkah? Gea merasa
aneh. Dadanya terasa begitu sakit ketika Rey
menyentuhnya. Gea mengerahkan segenap kekuatan
dan seluruh kendali untuk melepaskan bibirnya dari
ciuman Rey. Usaha yang akhirnya membuahkan hasil
setelah Gea memalingkan wajahnya ke samping.
Deru napas mereka yang memburu mengisi
kekosongan ruang remang-remang itu. Rey masih
merengkuh pinggang Gea dengan posesif. bibirnya begitu dekat dengan bibir Gea yang kini terlihat
bengkak gea gemetar
karena melihat kondisi tubuh dan
pakaiannya yang kini tampak berantakan. Kancingnya
terlepas, bajunya terbuka hingga mengekspos bagian
dada, termasuk pengait bra-nya yang ikut koyak. Gea
merasa kesuciannya hilang bersamaan saat Rey mencium
dan menjamah tubuhnya. Air matanya jatuh, kemudian
__ADS_1
genangan air mata gadis itu mulai mengaburkan
pandangannya. Ketika tangan Rey terangkat ingin
menyentuh wajahnya, Gea menolak dengan menangis
kencang.
"HIKS!" Gea menangis.
"Diam." perintah singkat Rey dibalas dengan
suara isak tangis gadis itu.
"Berhenti menangis!" Tak ada rasa bersalah
sedikit pun dari kalimat yang keluar dari bibir Rey. Rey menarik kedua tangannya dari pinggang Gea, membuat
gadis itu kehilangan pegangan.
"Kalau kamu masih menangis, aku akan
mendorongmu ke sungai." Ancam Rey tanpa
meninggalkan kesan lembut.
"Tidak ... Gea tidak mau ...." Gadis itu
memeluk leher Rey, meminta perlindungan. Air matanya
bahkan semakin deras mengalir karena ancaman itu.
Tetesan deras itu jatuh membasahi kemeja Rey.
"Ti ... dak mau ..." Gea menangis hingga
sesenggukan.
"Kalau begitu diam dan berhentilah menangis."
Rey kembali mendekat dan meraih pinggang Gea. Rey
kembali pada sikapnya yang lembut dan memeluk Gea.
Selama beberapa menit mereka saling berpelukan. Rey
dengan kelembutan dan kerinduannya memeluk Gea, lalu Gea yang masih diselimuti rasa takut membalas
pelukan itu.
__ADS_1
Setelah Gea benar-benar tenang, Rey melepas
pelukannya. Rey melihat Gea setia dengan kepalanya
yang tertunduk dan kedua tangan terpaut erat
memegang ujung bajunya yang lepas.
Rey kemudian membantu Gea memasang kancing
baju satu per satu. Rey merapikan pakaiannya dengan
sabar.
Gea memberanikan diri untuk melihat wajah laki
laki di hadapannya. Kini terlihat sosok tampan Rey yang
lembut. Tangan kukuhnya turut merapikan rambut
panjangnya yang tergerai, berlanjut dengan menghapus
sisa air mata di pipinya yang pucat.
Mata itu? Kenapa Gea merasa pernah melihat
mata itu?
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Kamu
masih milikku dan akan tetap menjadi milikku..."
Ucapan Rey membuat jantung Gea berdebar dua
kali lebih kencang dari batas normalnya selama ini. Gea
semakin hanyut ketika Rey kembali mencium kening
dan bibirnya dengan lembut. Rey tidak bosan untuk
menciumnya dan Gea mulai merasa desiran aneh
dengan hal itu.
"Kamu adalah kekasih kecilku."
Gea pernah mendengar kalimat itu ... tapi di
mana?
__ADS_1
**jangan lupa vote , like and komen
ini baru aku upload jgn lupa di baca ya😊**