
"Santai, Rey. Tatapan matamu saat ini membuat
gadis itu ketakutan." John menyenggol bahu Rey yang
tiga senti lebih tinggi darinya. Padahal John sudah cukup
tinggi untuk rata-rata normal, 186 cm.
John lagi-lagi dibuat terkejut dengan perubahan
ekspresi pada wajah Rey. Walaupun setia dengan sikap
antipatinya tapi John melihat wajah sang sahabat
terganggu. Kerutan kecil di dahi termasuk kedua rahang
yang terpahat simetris perlahan mulai berubah tegang.
Puncak dari perubahan itu adalah ketika Rey tiba-tiba
hendak turun meninggalkan panggung, membuat John
buru-buru mencegah.
"Acara belum selesai." John mencengkram bahu
Rey, dan terkejut ketika Rey menoleh dengan tatapan
mata seolah ingin membunuhnya.
Ada apa denganmu, Rey?—jawaban atas pertanyaan
itu ternyata ada pada gadis itu. John menatap ke arah
barisan mahasiswi baru. John melihat langkah tergesa
gadis dengan pita bentuk bunga di kepala. Langkahnyanyaris berlari menjauhi lapangan, membuat Rey semakin
geram.
"Aku akan membawanya untukmu. Jadi tetap
diposisimu." Sangat sulit membuat Rey ikut terjun
dalam kegiatan kampus, terlebih dengan posisi Rey
sebagai ketua himpunan. John harus menggunakan
kesempatan ini.
Rey beralih mencengkeram bahu John, lalu
membisikkan satu kalimat bernada perintah kepadanya.
Kedua alis John terpaut mendengar permintaan itu.
Tetapi yang membuatnya terkejut adalah ...
__ADS_1
"Bawa Gea ke basecamp." Rey kemudian menatap
tepat di mata John, "Jangan biarkan gadis itu kabur.
Kalau perlu kunci pintunya sampai aku datang."
Gea? Nama gadis itu mengingatkannya dengan
Sarah. Apa gadis itu adalah gadis yang sedang dicari oleh
Sarah?
"Aku akan melakukannya, tapi berjanjilah untuk
bersikap gentle padanya." Setelah itu John pergi
meninggalkan Rey yang tidak sedikit pun menjawab
permintaan John.
Langkah lebar John diikuti oleh Sony yang tanpa
sepengetahuannya telah mendengar percakapan mereka.
"Aku akan ikut denganmu. Aku siap
menggunakan tenagaku untuk membawa gadis itu."
Ucapnya antusias dengan niat terselubung.
Langkah John terhenti, "Kita tidak sedang
Sambil menepuk bahu Sony, John memberi
peringatan kepadanya, "Jangan macam-macam. Rey bisa
membunuhmu jika kau bermain-main dengannya."
\*
"Setelah upacara selesai, tetaplah diposisimu. Tunggu
sampai aku datang." Tidak! Gea mau pulang... Pulang!
Gea mengangkat kepalanya yang sempat
tertunduk lama, dan saat terangkat matanya tanpa
sengaja bertemu pandang dengan Rey yang tidak
sedikitpun lelah untuk menatap dirinya dari atas
panggung. Rey menatapnya dengan sorot mata yang
__ADS_1
membuat Gea takut.
Gea menarik diri dari tengah barisan saat upacara
masih menyisakan beberapa menit. Ingatan akan
perilaku dan pelecehan laki-laki asing itu menjadi
pemicu tindakannya saat ini.
Gea berjalan menjauhi lapangan. Langkah
cepatnya perlahan mulai berubah menjadi lari. Keceriaan
yang selalu ditampilkannya setiap hari tak tampak sedikit
pun di wajahnya.
"Hei, tunggu!"
Gea menoleh dan terkejut mendapati dua pemuda
tengah mengejarnya.
Tidak mungkin! Mereka pasti sedang mengejar orang
lain!—Gea membatin dalam hati.
“Hei, tunggu!”
'Hindari laki-laki ini. Dia sangat berbahaya untukmu!'
Ucapan Sarah beberapa waktu lalu membuat gadis
berwajah oriental itu khawatir. Sebagai mahasiswi baru
Gea tidak pernah sedikit pun menonjolkan diri. Ia tidak
pernah mengenal siapa pun, kecuali Sarah, sahabat baru
yang telah dianggapnya sebagai kakak.
“Hei, aku bilang tunggu!”
Gea mengabaikan teriakan di belakangnya dan
terus berlari sampai berada tepat di depan sebuah
gerbang besi. Namun, mata hitam polosnya seketika
membulat, terkejut karena dua orang lelaki yang semula
berada di belakang tiba-tiba muncul menghadang.
Gea mengamati dua lelaki di depannya. Masing
masing memakai jaket hitam berlogo aneh. Mereka
__ADS_1
melihat Gea penuh selidik. Salah satu di antaranya