
Chapter 7 : Penjara Bawah Tanah
Penjara Bawah Tanah
Seorang gadis tengah bersandar malas pada dinding dan dia tengah duduk di Kasur yang terbuat dari kayu , dia melipat kaki nya dan melirik kea rah sekelompok wanita pelayan yang terus berteriak bahkan sebelum dia berbuat apa pun pada mereka .
“ Nona ampuni kami ! kami tidak sengaja kami di bawa pengaruh jalang Berry “ Ujar nya penuh kebencian .
“ Benar Nona kami tertipu dengan ucapan Berry dia-lah yang selalu menghasut kami !”
Mendengar omong kosong para wanita ini Akasia merasa mual dan hampir muntah , betapa tidak tahu malu nya para wanita ini . Dia merasa ada seseorang yang mendekat kemari , walaupun kekuatan nya bellum pulih namun persepsi nya semakin tajam sat dia menembus ke dunia ini . Seperti nya dia tahu siapa tamu tak di undang ini , ah dia kan memiliki sejumlah kejadian seru .
“ Siapa yang meminta kalian melakukan ini ? “ Ujar nya dingin .
Para wanita pelayan itu gemetar ketakutan , aura dingin dan tirani yang keluar dari tubuh Akasia sangat menyeramkan . Luka di dahi Akasia perlahan pulih dan salep yang di beri kan oleh dokter sangat efektif untuk nya .
“ MUlut kalian sangat tertutup rapat rupa nya ! “ Ejek nya
Swosh …….
Snap…..
Sebuah pisau terbang menuju kea rah pelayan tadi , namun sayang nya bukan pelayan tersebut yang kena melainkan dinding di belakang nya . Pelayan itu berkeringat dingin , tubuh nya menegang dan menjadi kaku dia tidak berani bergerak .Siapa tahu Akasia telah berada di belakang tubuh pelayan itu , sebuah tangan kecil terukur dan dengan sangat gesit memukul leher belakang sang pelayan .
Tring ….
Suara yang melengking menarik perhatian Akasia , dia melirik ke sebuah liontin hitam yang berada tidak jauh dari nya .
“ Um …. Hn ….m….m…. “
Akasia tersenyum menyeringai , dia melirik Bery yang akhir nya sadar . Dia sangat ketakutan pada saat ia akan menyentuh liontin di tanah itu .
“ Kamu kenapa ? Apa ada yang aneh dengan liontin ini !” Tunjuk Akasia .
Setelah mengambil liontin dari tanah , Akasia sedikit tertarik dengan symbol pada liontin ini . Bulu buurng halus berwarna hitam , dan memancarkan aura tirani tapi kejam .
“ Bukan nya ini bulu burung gagak ! “
Akasia tersenyum menyeringai , Dia perlahan melangkah menuju ranjang Berry .
__ADS_1
“Mari bermain kamu harus berkata jujur jika tidak kematian lah yang menanti mu !“
Suara yang lembut nan halus itu seperti bisikan iblis , suara yang layak nya lonceng perak berdering di telinga Berry namun dia menggigil ketakutan .
“ Hm … m…hn…um… ! ‘”
Akasia melirik wanita itu dengan bosan , perasaan dia hanya menghancurkan wajah itu , membuat kaki nya lumpuh dan menghancurkan tulang rusuk nya saja . Lantas mengapa tidak bisa berbicara , ini sangat menyebalkan .
“ Aih …. Kamu membosankan permainan Truth Or Death ini tidak berjalan baik jadi nya ! “
Wosh …..
Syut …
Tak ….
Akasia melompat ke atas danberputar , dia mengelak dengan mudah . Sebuah belati terbang dari arah belakang Akasia dan kecepatan nya luar biasa . Akasia menyeringai senang , dia melirik ke salah satu pelayan yang tatapan nya kosong tanpa jiwa .
“ AH …. Kamu memilih Death ternyata saying sekali ! “ Suara nya seperti mengeluh .
Pelayan itu tidak memberikan jawaban apa-apa terhadap Akasia , dia hanya menatap Akasia dengan tatapan membunuh .
Wajah ceria Akasia berubah menjadi datar , dan nada berbicara nya berubah .
Pelayan itu langsung berlari menuju AKasia , mata nya yang telah di selimuti warna merah tidak mengenal manusia hanya satu kata yaitu membunuh. Kuku pelayan itu menjadi panjang dan tentu nya sangat tajam , mata nya berubah menjadi merah darah dan tanpa jiwa .
Srekk….
Pelayan itu mengayunkan tangan nya dengan panic , kuku-kuku itu bahkan berhasil menggores tembok . Pelayan itu bukan lagi manusia , pelayan itu mengeram marah .
“ gr…..gr…gr….”
Syut….
Swirh……
Akasia berhasil menghindar dari serangan mendadak pelayan itu , karena penjara bawah tanah ini begitu sempit . Pergerakan nya menjadi terbatas , Akasia melirik sebuah rantai tidak jauh dari nya . DIa dengan waspada melirik pelayan yang masih mengeram itu , Akasia berlari menuju rantai dan mengambil setelah medapat kan apa yang diingin-kan nya . Akasia juga mengambil obor dan mematahkan nya dia melilitkan rantai itu dan membuat nya menjadi cambuk untuk sementtara waktu .
Serangan kedua dengan cepat dating , kali ini kecepatan pelayan itu meningkat tajam . Cakar tajam nya berhasil merobek ujung gaun Akasia , Akasia juga mengayunkan cambuk itu dengan usaha yang cukup banhyak .
__ADS_1
Ctarrr……
Cambuk itu mengenai tubuh pelayan itu dan membuat nya terjatuh , Nafas Akasia menjadi memburu dan terengah-engah . Kekuatan fisik nya sama sekali belum pulih , lagi pula tubuh yang di tempati nya terbilang lemah . Jika ini tubuh asli nya dia sudah menyelesaikan dalam waktu singkat pelayan murahan ini .
“ Hari yang sial ! “
Pelayan itu meraung denga marah.
“ Roar…..Roar … “
Akasia menjadi waspada , pelayan itu menghilang dan entah pergi kemana yang pasti dia ada di sini . Melirik kea rah dinding penjara yang lembab , dan tempat Berry tergelatak . Akasia terbelangak dan belum sempat Akasia sampai pada ranjang Berry , pelayan itu sudah menusuk tepat pada jantung Berry dan darah mengalir dari tubuh Berry . Matanya terbuka lebar dan akhir ya dia menunggal , mahkluk itu terkikik senang dan menjilat darah dari kuku nya .
“ Kau jadi ini tujuan asli mu ! “ Akasia mengeram marah .
Tidak tahu perasaan apa itu , sebuah kekuatan besar terasa mengalir di pembuluh darah nya , Kelelahan nya juga dengna cepat menghilang di gantikan dengan energy luar biasa . Akasia kembali mengayunkan cambuk rantai itu .
Snap…..
Mahkluk aneh itu dengan cepat melompat dan kembali menerjang ke arah Akasia , dengan cakar tajam dia mencoba mencakar kea rah Akasia . Kecepatan nya semakin cepat , gerakan nya juga terbilang lihai sekali .
Swosh ….
Akasia menubruk dinding dan melihat belati nya tertancap di sana , Akasia dengancepat mencabut nya sebelum pelayan itu dating lagi kearah nya . Cambuk itu melambai dan mengikat gantungan kayu di atap , Akasia bergelantungan dan menghidari terkaman mahkluk aneh itu . Mahkluk aneh itu mengeram dan semakin menggila , Akasia terjun ke bawah dan mendarat dengan stabil .
“ Apa sebenar nya mahkluk ini , Zombey bukan sih ? “
Crassh ….
Akasia terlambat menghindar luka di pergelangan tanngan nya terbuka lagi , darah nya menetes dan tercecer . Akasia tersenyum menyeringai , iris biru itu berkelip dan aura ungu samar tepancar dari tubuh Akasia .
“ Kamu membuat ku marah ! “ Ujar nya dingin.
Trak…..
Membuang cambuk itu begitu saja , Akasia maju dan menyerag mahkluk itu , dia dengan cepat mengayunkan tangan nya dan belati itu behasil menggores tangan mahkluk . Darah ungu tua mengalir deras dan juga sangat berbau busuk .
“ Darah ungu , Iblis ? “
Senyum haus darah terpampang di bibir mungil itu , melihat mahluk itu hanya mengeram dan mendesis membuat Akasia menjadi jengah .
__ADS_1