
“ Nggak mungkin..... Anakku Nggak mungkin meninggal!!!!!!!!!.” Teriak Sumi histeris ketika bidan desa mengatakan anak satu-satunya yang tengah hamil besar itu meninggal bersama sang cucu di dalamnya.
Warga yang rumahnya cukup berdekatan langsung datang beramai-ramai ketika mendengar teriakan dari Janda tua itu. Mereka bisa menebak mungkin, Ningsih sang anak yang tengah sakit selama dua bulan ini telah menghadap batasnya.
“ Yang sabar.. Ya Mbok.... Ningsih sekarang ndak kesakitan lagi. Jadi Mbok Sum harus ikhlas dengan kepergian Ningsih.” Ujar Rista, wanita seumuran Ningsih yang rumahnya berdampingan dengan Mbok Sum.
“ Bagaimana aku bisa ikhlas, Ris? Ningsih harus mengalami kesakitan yang ndak wajar. Dan sekarang cucu ku juga harus meninggal sebelum sempat dilahirkan ke dunia.” Jawab Mbok Sum sambil membelai wajah cantik mendiang putrinya.
Masih teringat ucapan Ningsih semalam, membuat Mbok Sum semakin tidak percaya bahwa putrinya kini benar-benar telah meninggal.
FLASHBACK ON....
“ Mas Pras, kok belum pulang-pulang ya, Mak? Ningsih kangen sama dia, semenjak Ningsih sakit Mas Pras ndak pernah jengukin Ningsih lagi.” Ujar sang Anak yang membuat Mbok Sum menangis dalam hati.
Bagaimana tidak, suami anaknya itu telah mengalami kecelakaan di luar kota. Prasetyo, sang menantu yang merupakan kuli bangunan harus meregang nyawa karena tertimbun bangunan roboh karena gempa yang menimpa tempat kerjanya.
Ningsih yang masih belum bisa ikhlas akan kepergian sang suami, seringkali berbicara ngelantur. Ia akan marah pada Emaknya jika Mbok Sum mengatakan kalau Prasetyo sudah meninggal.
Puncaknya dua bulan ini, Ningsih yang tengah hamil 7 Bulan tiba-tiba menderita sakit yang cukup parah. Wajahnya yang tiba-tiba seputih mayat dan seringkali muntah darah, membuat wanita hamil itu tidak sanggup lagi untuk sekedar bangun dari tempat tidur.
Sang Ibu yang hanya bisa menangis ketika melihat Ningsih merintih kesakitan, sudah banyak dokter dan juga dukun yang ia datangkan. Namun hasilnya tetap NIHIL. Ningsih tetap menjadi kembang amben (Bunga Ranjang/ orang yang sakit parah).
Hingga tadi malam tepat jam 12, sang Anak yang tengah tertidur pulas tiba-tiba membangunkan Mbok Sum.
“ Mak.... tolong peluk Ningsih, Mak. Ningsih pengen tidur dipeluk Emak.” Pinta Ningsih yang langsung disanggupi oleh sang Ibu.
__ADS_1
“ Mak.... Nggak boleh sedih ya.. Ningsih tadi mimpi kalau Mas Pras akan jemput Ningsih. Ningsih bahagia sekali, Mak. Ningsih kira Mas Pras gak ada kabar karena gak peduli sama Ningsih, ternyata dia mau ngasih kejutan.” Ujar Ningsih panjang lebar yang membuat Mbok Sum langsung mengeratkan pelukannya sambil menangis.
“ Ya Allah.... jangan kau ambil nyawa putri dan cucuku. Aku belum siap ditinggalkan sendirian.” Doa Mbok Sum dalam hati. ia benar-benar takut mimpi sang Anak adalah pertanda buruk untuk Ningsih yang tengah sakit.
“Mak... Gak boleh nangis ya.... Maafin Ningsih yang harus ikut Mas Pras. Waktu itu Ningsih udah bilang kalau Cuma Ningsih yang akan ikut biar Emas gak kesepian disini, tapi ternyata kata Mas Pras Ningsih dan anak Ningsih harus ikut semua. Mas Pras mungkin gak mau pisah sama anak nya ya Mas? Padahal Ningsih udah mohon-mohon untuk gak usah bawa cucu Emak.” Jelas Ningsih yang lagi-lagi hanya dihadiahi tangisan oleh Sang Ibu.
“ Nggak papa... kalau kamu dan anak kamu harus ikut suamimu. Itu kan sudah kodrat seorang istri, Nduk. Yang penting sekarang kamu harus sembuh ya... ndak boleh sakit-sakitan lagi.” Jawab sang Ibu yang tidak bisa menahan air matanya.
Ningsih yang mendengar itu hanya bisa tersenyum dan kembali tertidur di pelukan sang Ibu.
Keesokan harinya, Mbok Sum panik ketika melihat sang Anak belum juga bangun dari tidurnya. Bolak-balik Ia mengecek keadaannya, hingga terpaksa ia mendatangi bidan desa yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Ia memutuskan mendatangi sang bidan sendiri karena tidak enak pada tetangga-tetangganya yang sudah berulangkali dimintai tolong.
“ Dimana Mbak Ningsihnya, Bu?.” Tanya sang Bidan ketika mereka sudah sampai di rumah Mbok Sum.
“ Ada didalam kamarnya, Bu Bidan. Mari saya antar.” Jawab Mbok Sum yang langsung mengantarkan Bidan tersebut ke dalam kamar Ningsih.
“ Kenapa kamu, Nduk? Tadi Emak tinggal kamu baik-baik saja, kenapa sekarang kamu jadi seperti ini?.” Ucap Mbok Sum yang langsung histeris seraya memeluk Anaknya yang terus menerus kejang-kejang.
“ Bu... saya mau periksa Mbak Ningsih sebentar ya.” Pinta sang Bidan yang langsung meletakkan stetoskopnya ketika Tubuh Ningsih berhenti bergetar. Terlambat memang, tapi ia juga merasa aneh dengan kondisi Ningsih yang telinga, mulut dan hidungnya terus menerus mengeluarkan darah.
“ Sebenarnya penyakit apa ini? Apa Mbak Ningsih terkena santet ya?.” Ujar Agnes, sang bidan dalam hati.
“ Maaf, Bu. Mbak Ningsih dan bayinya sudah meninggal. Mungkin sebelum ini dia sempat didera demam tinggi, dan juga karena darah yang keluar terus menerus. Mbak Ningsih dan bayinya tidak selamat.” Ujar Agnes yang langsung merengkuh Ibu Ningsih yang terus-menerus histeris.
FLASHBACK OFF....
__ADS_1
“ Kita langsung makamkan hari ini ya, Ndak baik kalau jenazah dibiarkan terlalu lama.” Ujar Ustadz Faiz kepada Ibu-Ibu untuk segera memandikan Jenazah Ningsih.
Tak lama ketika para Ibu-Ibu pemandi Jenazah memandikannya, panggilan dari dalam pemandian kepada Ustadz Faiz terdengar cukup keras.
“ Ada Apa, Mbak Rista? Kok Ibu-Ibu manggil saya.” Tanya Ustadz Faiz yang baru saja memberikan ukuran tubuh sang Mayit kepada warga yang bertugas menggali kubur.
“ Ini Ustadz... Darah yang keluar dari wajah Ningsih terus keluar. Kami Ndak tahu bagaimana caranya menghentikan darahnya.” Jawab Rista yang begitu sedih melihat kondisi sahabatnya.
“ Ya sudah saya coba bantu.” Ujar sang Ustadz yang langsung menghampiri sang mayit.
Ustadz Faiz membawa daun kelor yang terletak tak jauh dari tempat pemandian, ia mengusapkan daun yang sebelumnya di remas-remas itu ke bagian yang mengeluarkan darah, sambil terus membaca An-Nas, ayat kursi dan Alfalaq Ustad Faiz terus membersihkan darah yang keluar. Hingga setelah cukup lama, akhirnya darah berhenti mengalir dan sang Ustadz mempersilahkan pada Ibu-Ibu untuk melanjutkan memandikan jenazah Ningsih.
Setelah melewati proses yang cukup panjang, hingga sore harinya Jenazah Ningsih baru berhasil dimakamkan karena Sang Ibu meminta tolong untuk menunggu Sang Besan yang masih dalam perjalanan.
*******
“ Bapak-Bapak nanti siapa yang kebagian jaga malam pertama di Makam Ningsih?.” Tanya Pak RT setelah acara tahlilan yang diadakan di rumah Ningsih setelah Maghrib.
“ Memangnya masih harus dijalankan tradisinya ya, Pak RT?.” Tanya Jamil yang hari ini kebagian jadwal pertama menjaga Makam Ningsih.
“ Iya, Mil. Tradisi harus tetap dijalankan. Kita Ndak mau toh, kalau jenazah Ningsih dijadikan jimat atau alat untuk ilmu hitam.” Jawab sang RT yang mengerti keresahan warganya. Memang sudah tradisi dari dulu, jika ada warga yang meninggal tengah mengandung harus dijaga bergantian agar tidak ada yang memanfaatkan jenazahnya untuk kepentingan ilmu hitam.
Para warga yang mendengar jawaban Pak RT hanya bisa menganggukkan kepala kompak. Mereka juga tidak mau kalau jenazah Ningsih jadi santapan para penganut ilmu hitam. Selain karena kasihan dengan sang jenazah dan sang Ibu yang sudah tua, mereka juga takut kalau nantinya Arwah Ningsih akan gentayangan dan mengganggu mereka kalau ada yang mengusik mayatnya.
“ Hari ini Jamil, Rusman, dan saya yang akan menjaga duluan. Saya kerumah dulu ganti baju, nanti janji di pertigaan sebelum pos ronda ya.” Ujar sang RT yang langsung di sanggupi oleh Jamil dan Rusman.
__ADS_1
“ Waduhh.... serem ya Man, mana sekarang malam Jumat Kliwon lagi.” Ujar Jamil yang merasakan bulu tangannya berdiri ketika sudah sampai di tempat janjian mereka tadi.
“Hushh... Ndak usah mikir yang macem-macem anggap aja kita lagi ngeronda. Iya Toh?.” Jawab Rusman yang mencoba berfikir jernih meskipun ketakutan melanda dirinya.