
\*\*\*\*\*\*
\_\_Desa Alas Jati \_\_
Malam ini entah kenapa rasanya sangat berbeda. Suasana desa yang biasanya tidak semencekam ini. Rista yang bahkan sudah terbiasa ditinggal sendirian oleh sang suami, Merasa merinding.
Sejak tadi, Ia merasa diawasi oleh sepasang mata. Entah siapa itu. Berulang kali dia menengok ke luar Rumah. Namun, tidak ada siapapun disana.
Biasanya malam ini, dia akan datang ke Rumah Mbok Ningsih untuk sekedar menemaninya tidur. Namun, Ia bahkan tidak berani untuk ke Kamar Mandi sendiri.
“ Aduh.... Ini kenapa ya..??? Kok mencekam kayak gini. Gak kayak biasanya. Padahal kan Mbak Ningsih belum nyampek 7 Harinya.” Keluhnya sambil sesekali mengusap tengkuknya yang dingin seperti ada yang meniup.
“ Kalau disini aja ngerinya minta ampun, Gimana di Pemakaman ya...??? Hih......!!!!!” Ucapnya yang memutuskan untuk langsung tidur saja.
Benar perkiraan Rista, suasana di Pemakaman saat ini tak ubahnya seperti Uji Nyali. Semenjak Gangguan di Malam Pertama, Banyak warga yang tidak mau untuk menjaga makam Ningsih. Mereka beralasan, Kalau hal itu sudah kuno dan tidak usah di lakukan lagi.
Semenjak kejadian itu, Para bapak penjaga sepakat untuk menjaga dari Pos Ronda saja.
“ Kenapa malam ini, Kayak beda ya..??? Apa karena musim Tebangan..???.” Tanya Rusman yang mengeratkan Jaketnya karena dingin yang tidak biasa.
Musim Tebangan biasa disebut ketika sudah masuk Musim panen Tebu. Biasanya di malam hari, Akan dingin luar biasa ketika sudah masuk Musim Itu.
“ Kayaknya Ndak Mungkin, Rus. Wong biasanya tidak sedingin ini kok. Ini tuh kayak dingin tapi bikin merinding..!!” Jawab Hasan yang berulang kali mengusap Tengkuknya.
“ Untung saja, Ngejaganya dari sini ya. Coba kalau di makam, Beuh........ Aku yakin pasti bakalan pingsan lagi.” Ujar Rusman yang membuat Hasan dan Abdul tertawa.
AAAAUUUMMMMMMMMMMMMM.........
Suara Auman anjing yang begitu Panjang dan lirih, membuat Mereka langsung berhenti tertawa. Mereka saling melirik satu sama lain. Bukan apa, sudah lama desa ini tidak ada Anjing. Ini pertama kalinya mereka mendengar lagi setelah beberapa tahun.
“ Ini kok tiba-tiba ada suara anjing..??? Kok aku baru denger ya..???.” Tanya Rusman yang sudah menggulung Sarungnya.
Ia dan teman-teman yang lain sudah siap siaga. Mereka memang sudah bersiap, jika ada sesuatu yang menyeramkan malam ini.
__ADS_1
Hikksss...Hiikkkss......Hiikkkksss.... TOLONG.....!!!!!
“ Kalian denger..???.” Tanya Hasan.
Rusman dan Abdul mengangguk serentak.
“ Siapa yang nangis minta tolong..??? Kita cari aja yuk.” Ajaknya yang membuat Temannya itu meneguk ludah.
“ T-Tapi kan..... Siapa yang nangis minta tolong malam-malam begini.” Jawab Rusman.
“ Udah... Ayok cari aja. Siapa Tau memang orang yang butuh pertolongan.” Ajak Abdul yang mau tak mau diangguki Rusman.
Mereka bertiga langsung mencari sumber suara. Suara berasal dari Arah selatan, Berarti bukan dari Pemakaman. Tidak mungkin jika itu Kuntilanak dan kawan-kawannya, Pikir mereka.
“ Tadi dimana ya suaranya..??? Kok gak ada...???.” Tanya Abdul Heran.
Rusman sedari tadi hanya diam tidak menanggapi. Ia sudah berfikir aneh, tapi juga tidak mau ditinggal sendirian oleh Teman-temannya.
“ Iya... Kayaknya dari sini deh. Tapi kok Ndak ada ya..??? Apa jangan-jangan dia korban begal..???.” Jawab Hasan yang masih celingukan ke sana kemari.
Hiikkksss....Hikks.......Hiiikkkssss.... Tolong Saya...!!!!
Mereka bertiga langsung menoleh kearah belakang. Tampak disana seorang wanita yang duduk di Parit sawah dengan menggendong sebuah bayi.
Hiikkksss...Hiiikkkkssss.....Hiikkkssss.... Tolong saya...!!!!
Hasan dengan sigap langsung menghampiri wanita itu. Dia begitu Iba mendengar tangisannya. Berbeda dengan dua temannya yang merasa merinding mendengar tangisannya.
“ Mbak.... Sampeyan ini kenapa..??” Tanya Hasan lembut.
Hiikkssss...Hikkkksss... Tolong Saya...!!!
Jawaban yang sama terdengar, ketika Hasan kembali menanyakan keadaan wanita itu.
“ Iya... Kami pasti bantu kok. Sampeyan tenang saja. Tapi kalau boleh saya Tau, Sampeyan ini kenapa..??? Atau begini saja.. Mbaknya ikut kami ke Pos Ronda ya. Kasian Bayi Sampeyan, kalau sampeyan terus duduk di Parit kayak gini.” Usul Hasan sambil menyentuh Pundak Wanita itu.
Dingin.. Itulah yang dirasakannya.
Namun ia sama sekali tidak mempedulikan itu. Ia pikir, kalau Musim Tebangan seperti ini Sudah hal Biasa dengan hawa sedingin ini.
__ADS_1
“ Tolong Bayi Saya, Mas.....” Ucap sang Wanita lirih, Namun masih bisa tertangkap oleh telinga mereka semua.
“ Memangnya Bayinya kenapa, Mbak..??? Kita ke Pos Ronda dulu ya.. Nanti saya Anter ke Tempat Bu Bidan.” Ajak Hasan Lagi.
Rusman dan Abdul hanya meneguk ludah. Mereka masih merasakan merinding, ketika melihat Wanita di depannya itu. Bukan bagaimana, Pakaian sang Wanita yang lusuh membuat mereka tidak yakin kalau dia Manusia.
“ Tolong Bayi Saya, Mas. Kasian dia....!!!” Ujar Wanita itu lagi.
Hasan mengusap rambutnya Frustasi. Wanita di depannya ini selalu meminta tolong. Tapi tidak mau menanggapi Ajakannya sedari tadi.
“ Saya pasti tolongin.. Tapi ayo ke Pos Ronda dulu, Mbak’e... Kami bertiga harus jaga Makam saudara kami. Kami sudah terlalu lama disini, ngebujuk Sampeyan dari tadi.” Ujar Hasan yang sudah mulai tidak bisa menahan kesabarannya.
“ Jari Bayi saya hilang, Mas.. Cobak Mas Hasan Liat...!!” Ujar sang Wanita yang mengulurkan Bayinya ke arah Hasan.
Hasan terkejut bukan karena Wanita itu menyebut namanya. Ia terkejut, karena melihat sang Bayi yang putih seperti mayat dan juga Jari kelingking yang mengalir darah segar. Ia yakin kalau jari itu pasti dipotong atau terpotong oleh sesuatu.
“ AAHHHHHH....... SETTTAAANNNNNNNNNNNNNN......!!!!!!”
Teriak Abdul dan Rusman yang langsung berlari kencang meninggalkan Hasan yang masih terpaku menatap Mayat Bayi di hadapannya.
Abdul dan Rusman berlari bukan karena melihat Bayi setan itu. Tapi karena melihat Perut sang Wanita yang sobek memanjang hingga isinya menjuntai keluar. Ngeri bercampur jijik, itulah yang mereka rasakan.
Hasan hanya bisa menatap teman-temannya yang meninggalkannya seorang diri. Ralat.. Berdua dengan Hantu wanita di depannya.
“ Kenapa, Mas..??? Sudah Tau Toh...???.” Ujar Sang Wanita yang menyeringai lebar hingga mulutnya robek ke telinganya.
Mulut Hasan terkatup rapat. Keringat dingin sudah keluar membanjiri tubuhnya. Wanita itu masih tersenyum ke arahnya. Bahkan saat ini dia berdiri di hadapan Hasan.
Memperlihatkan Perutnya yang robek entah oleh apa. Darah yang terus keluar dengan deras dan Organ dalamnya yang mejuntai keluar, Membuat Hasan mual. Bahkan Tali Pusar Sang Bayi masih tersambung dengan Bayi di gendongan Hantu itu.
Ia ingin memuntahkan isi perutnya, tapi tidak bisa.
“ Tolong Saya, Mas....!!!!! Tolong Temukan Jari Bayi Saya....!!!! Atau....... SAYA AKAN MEMBUNUH SELURUH WARGA DI DESA INI...HIHIHIHIHIHI......!!!!!”
__ADS_1
Wanita itu langsung menghilang begitu saja setelah mengucapkan itu. Meninggalkan Hasan yang sudah tidak sadarkan diri di tengah malam yang dingin.