
“ Kalian pasti akan melek semalaman, hehehehe.” Ujar Suryono yang memasukkan sesuatu ke dalam kopi yang tengah ia seduh.
“ Kamu yakin bakalan ikut ngejaga, Mas? Tumben?.” Tanya Rista yang merasa heran kenapa tiba-tiba suaminya yang super penakut itu mengajukan diri menjaga makam Ningsih.
“ Ya Toh, Dik. Aku ndak enak sama Mbok Sum, dia kan sudah baik banget sama kamu waktu Mas di Penjara.” Ujar Suryono yang gelagapan ketika aksinya hampir saja ketahuan Rista.
“ Ehmmm... iya sih, Mas. Cuma aku khawatir kamu ngejaga malah pingsan disana gara-gara diisengin kuntilanak.” Ujar Rista terkekeh ketika mengingat Pak RT yang harus rela pingsan dengan bermandikan air kencingnya sendiri.
“ Ndak usah khawatir, Dik. Mas mu ini sekarang sudah berubah, udah pemberani seperti Suparman.” Jawab Suryono dengan tangan diangkat layaknya superhero yang ia tonton di televisi.
“ Superman, Mas Sur. Kalau Suparman kan tukang sayur yang sering keliling pasar. Hahahaha.” Ujar Rista yang tertawa mendengar celotehan suaminya.
Tanpa aba-aba Suryono mengecup bibir Rista....
“ Kamu kok mesum sih, Mas?” Protes Rista yang terkejut mendapati ciuman Suryono yang tiba-tiba.
“ Kamu cantik kalau ndak marah-marah, Ris. Wes ya... jangan bertanduk terus. Mas mu ini loh sering merinding kalau ngelihat kamu bertanduk. Hahahaha.” Jawab Suryono yang langsung dihadiahi pukulan oleh Rista.
“ Memangnya aku Grandong apa?.” Ujar Rista yang tidak terima dengan pernyataan suaminya.
Suryono hanya membalas dengan tertawa. Ia sudah terlambat untuk berangkat, bukannya dapat jari bayi Ningsih, malah dia yang akan punya bayi kalau masih tetap bercanda dengan istri cantiknya itu.
*****
Tampak Pak Abdul, Maman dan Hasan sudah menunggu di pertigaan tempat mereka janjian. Mereka semua membawa peralatan yang sekiranya dibutuhkan untuk penjagaan malam ini. Termasuk Suryono yang tengah membawa kopi dan cemilan seperti Pak RT tadi malam.
Tanpa banyak berbicara, ketika anggota sudah lengkap. Mereka langsung bergegas ke pemakaman supaya tidak terlalu malam memulai penjagaan.
“ Seharusnya pemakamannya harus ditambah lampunya , ya Pak?.” Ujar Maman ketika mereka sudah selesai menggelar tikar dan duduk berempat di samping makam Ningsih.
__ADS_1
“ Iya, Man. Kalau besok ketemu sama Pak RT aku mau usuk saja, biar pemakaman desa ini sedikit lebih terang.” Jawab Pak Abdul yang membenarkan ucapan Maman.
“ Ya sudah Toh.... ayo diminum kopinya biar tambah segar mata kita.” Tawar Suryono sambil menuangkan kopi yang dibawanya ke dalam gelas plastik yang memang sudah disiapkannya.
“ Kamu ndak minum, Sur? Tenang saja... kami ndak bakal habis kok ini.” Ujar Hasan yang melihat Suryono tidak meminum kopi buatannya sendiri.
“ Aku wes kembung. Tadi sore di rumah Mbok Sum minum kopi, terus tahlilan minum kopi. Nah... baru ini saat Rista bikin kopi buat kalian, aku juga disuguhin satu gelas di rumah. Ndak enak kalau ndak diminum, bisa perang dunia nanti.” Oceh Suryono yang langsung di sambut tawa oleh mereka.
Mereka saling bercanda satu sama lain, hingga beberapa lama Maman dan Hasan mulai terkantuk-kantuk. Pak Abdul yang melihatnya langsung menyuruh mereka berdua untuk tidur. Biar ia dan Suryono yang akan berjaga.
“ Memang ngantuk itu nular ya, Sur?.” Guyon Pak Abdul yang terus menguap melihat Maman dan Hasan yang tengah tertidur pulas.
“ Yo wes, Pak. Kalau Bapak ngantuk, tidur saja. Nanti gantian.. kalau saya ngantuk saya akan bangunin kalian bertiga. Gimana?.” Ujar Suryono yang seakan menawarkan angin segar bagi Pak Abdul. Ia langsung menyanggupi tanpa banyak membantah.
“ Hehehe... Makan Tuh obat tidur.” Ujar Suryono yang memang sengaja menaruh obat tidur yang memang sudah disimpannya sejak lama ke dalam kopi yang ia buat tadi.
Suryono bergegas ke tempat penaruhan alat-alat pemakaman yang memang sengaja di taruh di sebelah gerbang agar memudahkan warga ketika ada jenazah yang meninggal malam-malam.
Pembatas Mayit sudah terlihat, Suryono lagi-lagi meneguk ludah. Ia harus bersiap dengan apa yang akan dilihatnya. Benar saja, ketika pembatas kayu itu dibuka terlihat kain putih yang kelihatannya masih belum terlalu bercampur dengan tanah.
Sesekali ia melihat ke arah Bapak-Bapak yang terlelap di sampingnya. Untuk memastikan tidak ada satu orangpun yang akan mengetahui rencana jahatnya itu. Aroma busuk sudah mulai tercium ketika pembatas di buka, Suryono langsung menutup hidungnya ketika bayu bangkai yang bahkan baunya melebihi bangkai tikus itu menusuk hidungnya.
“ Bau banget ini...” Ujarnya ketika turun ke dalam makam dan membuka pembatas terakhir.
Tubuh yang saat ini menghadap ke samping kiblat itu, langsung dibaringkan menghadap ke atas oleh Suryono. Lagi-lagi Suryono hampir muntah ketika melihat kondisi Jenazah Ningsih yang dikuburkan baru dua hari itu. Seluruh tubuh yang pucat dan dikelilingi oleh belatung dan juga hewan kecil di tubuhnya.
“ Ya Allah.. kalau bukan karena Rista aku ndak mau ada disini.” Ujar Suryono dalam hati. Jujur ia hampir menangis, karena tidak tega melihat kondisi jasad Ningsih.
Untuk mempersingkat waktu, ia langsung mengeluarkan pisau lipat dan gunting yang ia bawa dari rumah. Ia mulai membelah perut Ningsih yang masih tetap membuncit walau sudah meninggal dengan pisau lipatnya.
__ADS_1
Tidak ada darah.....
Saat proses pembelahan perut Ningsih tidak ada sedikitpun darah yang keluar..
Begitu luka di perutnya sudah terbelah cukup lebar, Suryono yang sudah memakai sarung tangan yang ia siapkan langsung merobek luka itu menjadi semakin lebar. Dia sendiri bahkan bergidik ngeri melihat hal yang ia lakukan sekarang, perutnya semakin mual ketika melihat isi perut Ningsih yang janinnya yang bahkan seperti terlihat sedang tidur. Bau yang dikeluarkan semakin menusuk hidung Suryono.
Ia yang sudah tidak tahan dan takut pingsan, langsung bergegas meraih lengan Bayi yang masih terhalang Plasenta itu. Ia langsung memotong Jari kelingking Bayi yang diraihnya itu menggunakan Gunting kecil yang sudah ia siapkan.
KRETEKKKK....
Terdengar seperti bunya tulang ketika Suryono berhasil memotong Jari itu dan langsung membungkusnya dengan kain kafan yang diberikan oleh Mbah Sirto tadi.
“ Akhirnya selesai juga..... ASTAGAAAA.” Ujar Suryono yang terkaget melihat mata Ningsih yang tadi tertutup sekarang terbuka dan seakan melihat kearahnya. Mata yang terbuka dan terlihat hanya putihnya saja, cukup membuat Suryono langsung bergegas merapikan kuburan yang ia bongkar tadi.
“ Huftt..... Lelahnya.” Ungkap Suryono ketika sudah selesai merapikan dan mengembalikan alat tadi ke tempat semula.
Suryono yang terlihat begitu lelah akhirnya tertidur juga bersama dengan Trio Macan di sampingnya saat ini yang masih tertidur pulas.
“ Sur..... Bangun Sur..... Ayo kita pulang.” Ujar Pak Abdul sambil mencoba membangunkan Suryono yang baru saja terlelap.
“ Kok sudah mau pulang Pak?.” Tanya Suryono yang sedikit kesal karena tidurnya terganggu.
“ Ini wes subuh,, kita bertiga mau jemaah di musholla. Ayo bangun.. kalau ndak bangun kita bertiga tinggal ya.” Ucap Pak Abdul yang sukses membuat Suryono langsung bangkit dari tidurnya.
Mereka berempat langsung bergegas pulang kerumah maisng-masing. Hawa dingin Khas Subuh membuat mereka ingin cepat-cepat mandi agar tubuhnya segar.
“ Kalian dengar bau bangkai tidak? Dari arah sini kayaknya, Baju kamu kok bau bangkai sih Sur?.” Tanya Maman yang membuat temannya yang lain langsung menoleh ke arah Suryono.
“ Tadi malam.... ada bau bangkai di sekitar makam.. terus aku samperin ternyata kucing yang sudah cukup lama mati. Ya sudah... aku kuburin saja biar ndak makin bau. Makanya sekarang bajuku bau bangkai terus nih.. lihat celanaku jadi kotor kan karena tanah.” Ujar Suryono yang alasannya langsung dipercayai oleh mereka.
__ADS_1
“ Untung saja, aku pintar ngeles. Hehehe.” Ujar Suryono dalam hati ketika melihat Bapak-bapak disampingnya ini langsung percaya dengan ucapannya.