
Rista yang masih tampak kesal pada Ibu-Ibu yang tega memfitnah Ningsih, akhirnya memutuskan untuk tidak memasak. Ia langsung pergi ke rumah Mbok Sum untuk membantu persiapan tahlilan nanti malam.
“ Ya udahlah, Ndak usah masak aja. Lagian Mas Sur juga gak akan pulang gara-gara semalam.” Ujar Rista sambil menghela nafas panjang mengingat pertengkarannya dengan sang suami tadi malam.
Ia benar-benar berharap suaminya dapat memberikan nafkah yang halal sekaligus tetap untuknya, dia tidak mau harus luntang-lantung mencari pinjaman ketika Suryono kembali tertangkap Massa karena mencuri.
“ Daripada pusing mikirin Mas Sur, lebih baik aku langsung ke rumah Mbok Sum aja.” Putusnya seraya siap-siap untuk berangkat kerumah mendiang sahabatnya itu.
******
Sedangkan di rumah Mbah Sirto, kini Suryono terlihat ragu. Ia ragu apakah akan pulang atau tidak hari ini?. Jujur saja, ia malas jika harus kembali bertengkar dengan Rista, tapi ia juga harus segera melancarkan rencana yang sudah ia susun tadi malam.
“ Mbah.... kira-kira saya gak mau di bekalin apa gitu, biar rencana saya nanti malam lancar?.” Tanya Suryono seraya mengambil Ubi rebus yang disuguhkan Mbah Sirto bersama kopi dihadapannya.
“ Memangnya kamu ndak berani kalau aku ndak bekalin apa-apa?.” Mbah Sirto yang kembali bertanya dengan nada meledek membuat Suryono sedikit kesal.
“ Mbah Sirto ini... bisanya ngeledek saja.” Oceh Suryono yang tentunya tidak berani ia katakan terang-terangan kepada lelaki tua yang akan membantunya ini.
“ Memangnya kapan kamu mau pulang? Bukannya kamu masih ragu pulang ke rumah karena takut bertengkar lagi.” Ujar Mbah Sirto yang membuat Suryono terkaget.
“ Dimana Sampeyan tahu kalau saya bertengkar dengan Rista , Mbah?.” Tanya Suryono yang merasa heran, bagaimana Mbah Sirto bisa tahu hal itu padahal dia tidak menceritakannya semalam.
“ Aku bisa nebak dari wajahmu yang sudah kayak baju ndak disetrika itu. Lecekkkk ditambah butekkk lagi. HAHAAHAHA.” Jawab Mbah Sirto yang tertawa geli melihat wajah Suryono yang tambah lecek karena gurauannya.
“ Mbah Sirto ini ada-ada saja. Saya mau pulang saja, Mbah. Lagian malam ini saya harus bisa mencuri jari itu, agar tujuan saya lebih cepat tercapai.” Ujar Suryono dengan wajah menyeringai. Bayangan Rista yang bahagia dan tidak marah-marah lagi padanya begitu membuat semangat Suryono bangkit.
“ Ya sudah..... tunggu disini sebentar.” Ungkap Mbah Sirto seraya masuk kedalam kamarnya.
Tak lama Mbah Sirto keluar dengan membawa bingkisan kecil yang dilipat kain kafan yang sudah kotor.
__ADS_1
“ Ini,... terimalah... Jimat ini akan membantu untuk melancarkan rencanamu nanti malam. Taruh di dompet atau dimana saja. Asalkan kamu yakin dia tidak akan jatuh atau tertinggal. Kalau jimat ini tertinggal, bisa-bisa arwah ibu dari jari yang kamu curi akan membunuhmu di tempat. INGAT ITUUU!!!!!.” Pesan Mbah Sirto yang lagi-lagi sukses membuat Suryono meneguk ludahnya.
“ MEMBUNUH? ITU ARTINYA AKU BAKALAN MATI? YA TUHAN... JANGAN DULU BIARKAN AKU MATI, AKU MASIH BELUM BISA MEMBAHAGIAKAN RISTA.” Ujar Suryono dalam hati, ketika mengingat konsekuensi yang ia hadapi.
“ Ya sudah, Mbah. Kalau begitu saya pamit. Mumpung masih pagi.” Pamit Suryono yang langsung diangguki oleh Mbah Sirto.
******
Sesampainya di rumah, Suryono merasa heran tidak biasanya dia berjalan tanpa gangguan makhluk tak kasat mata selama di hutan tempat Mbah Sirto tinggal.
“ Apa mungkin Jimat ini bener-bener ampuh ya? Buktinya kuntilanak yang biasanya ngikutin aku, ndak berani ketawa-ketawa lagi.” ujar Suryono yang masih menimang-nimang bungkusan kecil yang di beri Mbah Sirto.
Suryono yang setidaknya merasa lega karena jimat yang diberikan padanya benar-benar ampuh membuat Hantu tidak berkutik, tetap saja merasa was-was.
“ Hantu memang takut sama Jimat ini, tapikan Rista Ndak.... Aduhhh matek aku. Kalau sampai dia manyun lagi.” Ujar Suryono yang dengan was-was membuka pintu rumah.
Ia sempat heran kenapa rumahnya kelihatan sepi, padahal biasanya istrinya sedang menyiapkan makanan di dapur.
“ Mending aku tidur saja dulu... nanti sore hampir Maghrib aku kesana untuk bantu-bantu sekalian cari informasi.” Ujar Suryono yang langsung merebahkan diri di kasur nya .
******
Seperti rencana sebelumnya, Hampir Maghrib Suryono sudah siap untuk ke rumah Mbok Sum. Rista masih belum pulang, ia yakin dia masih sibuk disana untuk menghibur janda tua yang pasti sangat sedih saat ditinggal anak semata wayangnya itu.
“ Eh..... SURR!!! Mau kemana?.” Tanya Rusman yang sepertinya sudah tidak terlalu takut akan kejadian yang semalam.
“ Mau bantu-bantu gelar tikar di tempatnya Mbok Sum. Kamu mau kesana juga Tah?.” Tanya Suryono yang memperhatikan Rusman masih sedikit pucat tidak seperti biasanya.
“ Iya... aku mau kesana juga. Nurma kan masih bantu-bantu disana, jadi ndak enak kalau aku nggak bantu juga.” Jawab Rusman yang merasa heran dengan sikap Suryono yang tidak biasanya.
__ADS_1
“ Tumben dia rajin.. biasanya kalau tahlilan Cuma ikut tahlilannya aja.” Pikir Rusman seraya terus menatap Suryono.
“ Kamu kenapa Rus? Kok pucat sekali? Sakit kamu?.” Tanya Suryono ketika melihat wajah pucat Rusman.
“ Agak lemas saja, Sur. Tadi malam habis lari-lari terus pingsan karena diusili kuntilanak penunggu makam waktu jaga makamnya si Ningsih.” Jawab Rusman yang masih terlihat bergidik ngeri mengingat kejadian semalam.
Memang bukan rahasia umum lagi, jika di pemakaman umum Desa Krajan sering ada Hantu atau Jin yang mengganggu warga desa. Selain karena pemakamannya yang masih dikelilingi pohon-pohon besar, pemakaman itu juga belum diterangi lampu seperti pemakaman umum lainnya di desa itu. Lampu yang menerangi makam hanya satu, yaitu tepat di gerbang Pemakaman.
“ Terus yang lainnya gimana?.” Tanya Suryono yang merasa penasaran, dan juga sedikit mencari informasi untuk rencananya.
“ Jamil yang sama kayak aku keadaannya, Wong semalam kita lari berdua. Tapi yang paling memprihatinkan ya Pak RT, semalam badan dia katanya kaku jadi ndak bisa lari. Ya terpaksa akhirnya terkencing di celana, terus pingsan di samping makam nya Ningsih.” Jelas Rusman ketika melihat kondisi RT-nya tadi pagi.
“ Ngeri juga ya, Rus.... kira-kira nanti malam masih ada yang jaga ndak ya? Kalau dimalam pertama aja udah ada insiden kayak gitu.” Ujar Suryono yang bergidik ngeri membayangkan kejadian yang dialami Rusman semalam.
“ Untung aja udah di bekalin Jimat sama Mbah Sirto, kalau ndak.... pasti akan jadi bulan-bulanan demit aku disana.” Ujar Suryono dalam hati.
“ Kayaknya masih ada, Sur. Memangnya kenapa? Apa kamu mau ikut jaga nanti malam?.” Tanya Rusman yang seakan membuat Suryono mendapat angin segar.
“ Kalau memang ndak keberatan. Aku mau ikut jaga, Rus. Ndak enak juga sama Mbok Sum, selama ini beliau sudah baik banget sama Rista waktu aku masih di penjara.” Jawab Suryono yang memang tidak berbohong. Ia sangat berterimakasih pada Janda tua itu yang sudah menganggap Rista seperti anaknya sendiri.
Karena terlalu asyik berbincang, mereka berdua tidak sadar sudah ada di depan rumah Mbok Sum. Mereka langsung saja berbaur dan membantu pekerjaan para lelaki seperti memasang mic dan juga menggelar tikar.
****
Setelah acara tahlilan, Suryono masih tampak berbincang dengan warga yang masih berkumpul di halaman rumah Ningsih.
“ Nanti gilirannya Pak Abdul, Maman sama aku. Kamu jadi mau ikut kami berjaga nanti malam?.” Tanya Hasan ketika mendengar dari Rusman kalau Suryono akan ikut berjaga nanti malam di makam Ningsih.
“ Iya jadi, San. Tunggu saja di pertigaan biasanya ya... nanti aku bawakan kopi sama cemilan biar pada melek semalaman.” Jawab Suryono yang memang ada niat terselubung di balik niat baiknya itu.
__ADS_1
“ Yo Wes. Kita pulang dulu, mau siap-siap. Jangan sampai terlambat ya.” Ujar Pak Abdul yang memang paling tua di antara mereka.
“ Baik Pak.” Sahut mereka kompak seraya pulang ke rumah masing-maisng untuk siap-siap.