Kembalikan Jari Bayiku!!!

Kembalikan Jari Bayiku!!!
Penjagaan di Malam Pertama


__ADS_3

Mereka bertiga langsung bergegas berjalan ke arah pemakaman umum desa Krajan. malam yang cukup larut bagi warga kampung membuat suasana terasa mencekam, ditambah lagi dengan kematian Ningsih yang sedikit tidak wajar bagi warga desa. Meskipun Ningsih sakit cukup lama, tapi warga yakin kalau sakit Ningsih itu karena di kerjain oleh seseorang alias disantet.


“ Pak, kok saya belum pernah lihat Suryono ya? Padahal dia bebasnya sudah semingguan kan?.” Tanya Rusman ketika mereka menggelar tikar di pinggir makam Ningsih.


“ Biasalah, mungkin dia tinggal di rumah Mbah Sirto. Semenjak bebas, dia bertengkar terus dengan Rista. Tadi saja waktu saya mau ngantar Pak Lurah ngelayat, mereka masih bertengkar. Suryono sampai keluar dari rumah saya lihat.” Jawab Pak RT yang memang tadi melihat pertengkaran itu ketika hendak mengantar Pak Lurah melayat ke rumah Ningsih.


“ Aku juga heran sama dia, Pak. Kok bisa ndak kapok-kapok jadi maling? Padahal bukan hanya sekali dua kali dia ketangkep. Aku dengar sekarang dia sudah dapat surat merah dari Kapolsek, jadi kalau sekali lagi ketangkep dia akan langsung di tembak mati.” Ujar Rusman yang memang heran dengan tingkah Suryono dan juga hukum di negerinya sendiri.


“ Ya juga sih.... tapi bagusnya, meskipun dia berprofesi maling dia tidak pernah mencuri di desanya sendiri. Waktu itu aku pernah tanya ke dia, ternyata dia gak tega kalau mencuri di desa ini karena rata-rata warga sini hidupnya susah dan melarat. HAHAHA.” Ujar Jamil yang membuat Pak RT dan Rusman tertawa.


Tawa mereka langsung diam, ketika mendengar suara wanita yang juga tertawa di tengah tawa mereka. Mereka saling pandang seraya menutup mulutnya masing-masing, sambil merutuki kebodohannya yang tertawa keras di tengah-tengah makam seperti sekarang ini.


“ Kamu dengar?.” Tanya Jamil ketika suasana kembali lengang. Hanya suara jangkrik yang menemani mereka dan terdengar cukup keras.


“ Sutttt..... sudah ndak usah di bahas. Mending kalian minum kopi dan cobain cemilan yang aku baru beli ini.” Jawab Pak RT sambil menyodorkan barang yang dibawanya kepada Jamil dan Rusman.


Mereka berdua enggan bertanya lagi, ketika mendengar jawaban Pak RT. Mereka hanya bisa minum kopi dan memakan cemilan yang dibawa, karena kapok kalau mau bicara tiba-tiba di sahuti oleh penunggu makam.


“ Kok aku Ndak dikasih sih, Mas? HIHIHIHIHI.” Tanya seorang wanita disertai suara cekikikan yang cukup menakutkan.


Mereka bertiga yang mendengar suara itu, hanya bisa celingukan mencari asal sang empunya suara. Jamil yang memang lebih penakut ketimbang kedua temannya langsung meneguk ludah dengan wajah memucat. Ia berharap makhluk tak kasat mata itu berhenti mengganggu mereka yang tengah melaksanakan tugas negara.


“ Kok bingung, Mas? Aku disini.” Ujar Wanita itu lagi, dengan nada dingin berbeda dengan suara yang tadi yang terdengar centil.


“Siapa itu, Pak RT?.” Tanya Rusman dan Jamil yang sama-sama kompak langsung memeluk lengan Rtnya.

__ADS_1


“ Wes Toh... ndak usah di dengarkan. SIAPAPUN KAMU TOLONG JANGAN MENGGANGGU!!! KARENA DISINI KAMI HANYA INGIN MENJAGA SAUDARA KAMI!!!.” Ujar Pak RT yang harus mengalahkan ketakutannya sekuat tenaga melihat dua warganya itu sudah tidak bisa diharapkan lagi.


“ HIHIHIHIHI...HIHIHIHIHI...”


Mereka bertiga yang mendangar suara itu, langsung saling berpelukan erat. Suara tawa yang seakan terdengar jauh itu, semakin memekakkan telinga mereka.


“ Katanya kalau suaranya jauh... berarti.......”


“ Hantunya dekat ya, Mas?.” Ujar wanita yang langsung menyela perkataan Jamil.


Jamil yang merasa mencium bau bangkai bercampur kapur barus di sampingnya, langsung mengeratkan pelukannya kepada Pak RT.


“ Kamu kenapa Toh, Mil? Aku sesak napas loh ini kamu peluk erat banget.” Ujar Pak RT yang merasa risih dan sesak nafas di peluk erat begitu oleh Jamil.


“ Pak RT dan Rusman gak dengar Toh? Tadi ada wanita yang nyela perkataanku.” Jawab Jamil yang semakin erat memeluk RTnya.


“ Kata Mas Jamil, kalau suaranya Jauh berarti hantunya dekat Mas. Iya Toh, Mas Jamil?.” Sahut wanita berwajah pucat dan kantung mata yang sepenuhnya menghitam, yang tiba-tiba berada di depan Pak RT.


Jamil dan Rusman yang melihat wujud wanita itu, langsung berteriak dan melepaskan pelukan mereka di lengan Pak RT. Mereka berdua lari tunggang-langgang meninggalkan Pak RT yang hanya bisa terheran melihat kepergian dua warganya itu. Rusman dan Jamil terus berlari meninggalkan Pak RT sendirian di tengah makam, sampai mereka tak sadar kalau tengah beralari tanpa sandal.


“ Mereka kenapa ya? Memangnya melihat apa sih? Jadinya harus beresin ini sendirian kan.” Omel Pak RT yang bergegas menggulung plastik tempat mereka duduk tadi.


“ Mau kemana, Pak RT? Kok mau pulang aja?.” Tanya wanita itu.


“ Ya mau pulang, Toh.... Ndak mungkin kan, saya harus jaga sendirian disini.” Ujar Pak RT yang masih ngedumel dan ngomel.

__ADS_1


“ Mau saya temenin Ndak? HIHIHI...” Tanya wanita itu lagi yang kali ini disertai tawa khasnya.


Pak RT yang sadar dengan siapa ia berbicara tadi, langsung menoleh. Tampak wajah pucat dan rambut gimbal panjang itu tengah tersenyum manis ke arah Pak RT. Aroma bangkai dan kapur barus menusuk hidung Pak RT.


Jangankan untuk berlari dari tempat itu, untuk menggerakkan kakinya sekarang saja susah. Tubuhnya seakan kaku, wanita yang sering disebut kuntilanak itu terus saja tersenyum ke arahnya.


“ Kencing ya Pak RT?.” Tanya kuntilanak genit itu sambil mendekatkan wajahnya ketika sang RT yang celananya terlihat basah oleh air mengalir.


Karena tak kuat diganggu terus-terusan oleh sang Hantu, akhirnya sang RT kehilangan kesadarannya. Dia pingsan tepat di samping makam Ningsih yang masih basah.


Lain dengan Pak RT, Jamil dan Rusman langsung berlari menuju ke rumah Jamil yang memang lebih dekat dari yang lain. Mereka langsung menggedor-gedor pintu rumah Jamil.


“ Ada apa Toh, Pak? Kok sampek gedor-gedor tengah pintu malam begini.” Ujar Sang Istri yang kesal tidurnya terganggu.


“ Ada... Han.......” Belum sempat mereka berdua bicara, mereka berdua tidak sadarkan diri. Entah karena ketakutan yang berlebihan atau kelelahan karena berlari terlalu cepat.


*********


Keesokan harinya, warga dihebohkan dengan penemuan Pak RT yang pingsan di pemakaman dengan aroma tubuh yang bau pesing. Apalagi ditambah dengan cerita Sri yang suaminya dan Rusman yang juga pingsan ketika pulang ke rumah.


“ Gimana keadaan, Pak RT, Jamil dan Rusman?.” Tanya Rista yang saat itu tengah memilih sayur didepannya.


“ Semuanya ndak papa, hanya saja masih Shock. Mungkin hantunya terlalu cantik sampai membuat mereka tidak bisa lupa.” Jawab pedagang sayur yang langsung dihadiahi tawa Ibu-ibu yang tengah berkumpul belanja sayur dagangannya.


“ Apa jangan Ningsih ya, yang jadi kuntilanak?.” Tanya salah satu Ibu-ibu yang langsung mendapat tatapan tajam dari Rista.

__ADS_1


“ Kalau bikin berita jangan berlebihan, Bu. Nanti didatengin, malah kapok lagi.” jawab Rista yang langsung melenggang pergi. ia kesal ketika ada yang menjelek-jelekkan sahabatnya yang sudah meninggal itu.


__ADS_2