Kembalikan Jari Bayiku!!!

Kembalikan Jari Bayiku!!!
Langkah Selanjutnya


__ADS_3

Suryono pulang dari makam dengan wajah sumringah, tak disangkanya kalau aksinya untuk mencuri jari bayi Ningsih berjalan sangat mudah. Kini ia tinggal kembali ke Mbah Sirto dan melanjutkan tirakatnya.


“Gimana, Mas? Nggak diganggu hantu di makam?.” Tanya Rista sambil menyajikan kopi dan nasi goreng buatannya setelah Suryono selesai mandi.


“ Nggak ada apa-apa tuh, Dik. Mungkin yang jaga kemarin malam lagi apes aja. Makanya digangguin sama kuntilanak genit.” Jawab Suryono yang langsung disambut tawa oleh Rista.


“ Iya, Mas. Apalagi Ibu-ibu sekarang gosipnya ngeri, udah main fitnah aja kalau itu hantunya si Ningsih. Padahal diakan orang baik, gak mungkin dia jadi arwah gentayangan.” Ujar Rista yang sukses membuat Suryono tersedak.


“ Hati-hati Toh makannya, Mas. Aku ndak bakalan minta kok, wes sarapan tadi di dapur.” Ujar Rista yang langsung menyodorkan segelas air kepada Suryono.


“ Oh iya, Dik. Hari ini Mas mau berangkat ke kota ya. Mas mau cari pekerjaan katanya si Saipul lagi butuh banyak kuli bangunan.” Ujar Suryono yang menggunakan temannya yang merupakan Mandor sebagai alasan.


“Kenapa nggak disini saja, sih Mas? Jadi petani aja, aku masih trauma keinget sama Mas Pras yang meninggal gara-gara ketimbun reruntuhan bangunan.” Jawab Rista yang sedih mengingat nasib naas yang menimpa suami sahabatnya itu.


“ Maut itu kan Allah yang ngatur, Dik. Jadi ndak usah takut, wes kamu doakan yang baik-baik saja untuk Mas ya. Selesai sarapan Mas akan berangkat.” Ucap Suryono yang hanya bisa dijawab anggukan oleh Rista.


Selesai sarapan, seperti perkataannya Suryono langsung merapikan beberapa pakaian untuk dibawanya kekota. Ia tidak mau sampai Rista curiga kalau dia tidak membawa pakaian sepeserpun, Toh nanti ketika tirakatnya sudah sempurna ia akan langsung kembali menjalankan aksi malingnya ke kota besar.


Setelah Pamit ke pada Rista, Suryono langsung berangkat. Sengaja ia menolak tawaran Rista untuk minta tolong kepada Hasan karena memang dia yang biasanya masih di rumah pagi ini untuk mengantarnya pakai sepeda motor ke jalan besar. Suryono beralasan tidak enak pada Hasan lagipula dia pasti capek karena semalam berjaga di makam Ningsih bersamanya, dan untungnya dengan alasan itu Rista mmepercayainya.


******


Tampak Mbah Sirto sedang duduk di teras rumahnya ketika Suryono tiba. Lelaki tua itu seakan sudah tahu tentang kedatangannya dan sengaja menyambutnya.

__ADS_1


“ Kamu di usir dari rumah? Kenapa bawa baju banyak begitu?.” Tanya Mbah Sirto yang langsung menyuruh Suryono duduk dan menyodorkan kopi yang masih mengepul ke arah Suryono.


“ Enak saja, Mbah Sirto ini. Saya bukannya diusir, hanya saja tadi alasannya mau ke kota jadi kuli bangunan. Makanya bawa baju lumayan banyak.” Jawab Suryono yang terlihat kesal dengan pertanyaan Mbah Sirto.


“ Kamu berhasil?.” Tanya Mbah Sirto langsung menuju ke arah tujuan Suryono.


“ Berhasil dong, Mbah. Siapa dulu, Suryono gituhhhh..” Jawab Suryono yang terlihat bangga dengan dirinya sendiri yang telah berhasil mencuri di dalam makam. Ia langsung menyerahkan bungkusan yang berisi barang curiannya tadi malam.


“ Ini baru permulaan, Sur. Jadi jangan terlalu senang.” Ujar Mbah Sirto yang langsung membuat Suryono diam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“ Terus apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Mbah?.” Tanya Suryono yang tampak tidak sabar untuk segera menyelesaikan tirakatnya.


“ Nanti malam ikut Mbah ke Curug Naga.” Jawab Mbah Sirto yang langsung membuat Suryono diam tidak berkutik.


“ Jangan memikirkan hal aneh. Jika ingin tirakatmu berhasil. Oh iya, selama seharian ini sampai kamu menyelesaikan tirakatmu kamu harus puasa.” Ujar Mbah Sirto yang langsung diangguki pasrah oleh Suryono.


Tak terasa hari sudah malam dan menunjukkan angka 10. Mbah Sirto menyuruh Suryono untuk bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke Curug Naga.


“ Ayo jangan lelet, Sur. Katanya mau cepet tercapai tirakatnya.” Ujar Mbah Sirto yang sedikit kesal melihat tingkah Suryono yang seperti lemas.


“ Sebentar Toh, Mbah. Aku lemas karena belum makan.” Jawab Suryono yang memang haus dan lapar. Perjalanan meman tidak jauh, curug Naga terletak di bagian paling selatan hutan terlarang ini. Tapi bagi Suryono yang lemas dan memang sedikit takut, terasa sangat lama dan jauh perjalanannya.


Hingga setelah setengah menyeret kakinya, akhirnya setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam. Mereka berdua tiba di Curug Naga itu. Tampak Air terjun yang mengalir sangat deras menandakan bahwa kondisi alam ini masih sangat asri tanpa tersentuh tangan manusia.

__ADS_1


“ Kamu harus semedi di batu itu.” Ujar Mbah Sirto sambil menunjukkan Batu tepat di hadapan Air terjun, lebih tepatnya di hadapan Lubang besar di dalam air terjun yang konon adalah tempat tinggal sang Naga.


“ Nggak ada pilihan lain kan, Mbah?.” Tanya Suryono yang langsung membuat Mbah Sirto kesal.


“ Kamu sedang tirakat Sur. Bukan sedang ujian.” Jawab Mbah Sirto yang langsung membuat mulut Suryono bungkam.


“ Sebelum semedi, kamu harus Adhus (mandi besar) dulu ke dalam sungai. Ayo cepat.. ndak usah takut. Aku akan menjaga kamu dari sini.” Ujar Mbah Sirto yang langsung disanggupi oleh Suryono yang dalam keadaan pasrah.


“ hadapi saja Sur, buktinya tadi malam kamu berani memotong jari bayi Ningsih. Tinggal sedikit lagi kamu akan membuat Rista bahagia.” Ujar Suryono dalam hati seraya menyemangati dirinya sendiri.


Suryono segera melucuti pakainnya dan langsung menceburkan diri ke dalam sungai. Hawa hutan yang lebat ditambah dengan arus air yang deras, membuat Suryono mengigil kedinginan. Ketika mengira kalau Adhusnya sudah sempurna, Suryono langsung bangkit sambil menggenggam barang kesayangan istrinya.


“ Pakai saja Kolormu, Sur. Kamu akan semedi tanpa memakai pakaian sama sekali.” Ujar Mbah Sirto yang membuat Suryono terkejut. Namun karena merasa tidak ada gunanya menolak, Suryono hanya mengangguk pasrah.


“ Kamu tidak usah membaca rapalan apapun. Aku yang akan menuntunmu dari sini. Tapi harus kamu ingat jangan membuka mata apapun yang terjadi. Kecuali kamu mendengar suara geraman Naga di dekatmu, baru kamu boleh membuka mata.” Jelas Mbah Sirto yang lagi-lagi membuat Suryono meneguk ludah.


“ Bagaimana kamu mengerti dan sudah siap?.” Tanya Mbah Sirto yang masih menatap wajah Suryono.


“ Si-siap, Mbah.” Jawab Suryono yang langsung diberi perintah untuk melangkahkan kakinya ke arah batu yang ditunjuk oleh Mbah Sirto tadi.


Ketika duduk di tempat yang semestinya, dengan air yang arus bertambah deras dibanding tadi. Membuat tubuhnya sedikit perih ketika air jatuh menimpa badannya. Suara air yang berisik sedikit meredakan rasa takutnya.


Ia mulai memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya untuk mendapatkan ajian yang ia inginkan. Mbah Sirto langsung duduk di tepi sungai tempatnya tadi berdiri ketika melihat Suryono sudah fokus bersemedi.

__ADS_1


“ Nuwun sewu, Nogo Wiroksono.... hamba disini bersama cucu hamba. Dia inginkan ajian Hilang Rogo.... tolong restui dia dan angkat dia menjadi pengikutmu.” Ujar Mbah Sirto dalam semedinya.


__ADS_2