
Sedangkan di lain tempat, tampak seorang laki-laki berjalan ke arah hutan terlarang di Desa Krajan. Laki-laki yang terlihat terburu-buru itu bahkan tidak mengindahkan kalau sekelilingnya adalah hutan lebat yang terkenal angker bahkan di siang hari sekalipun.
“ Permisih, Mbah. Mbah Sirto!!.” Panggil laki-laki itu ketika sudah sampai di sebuah rumah panggung yang ukurannya cukup besar di tengah hutan belantara itu.
“ Kemana Mbah Sirto ya? Apa jangan-jangan dia gak ada di rumah lagi?.” Tanya lelaki itu pada dirinya sendiri, dirinya sedikit bergidik mengingat jalanan yang ditempuh penuh dengan jin-jin usil yang mengganggunya.
Tak lama setelah lelaki itu memutuskan untuk duduk di teras rumah, seorang lelaki tua dengan baju hitam dan blangkon khas jawa tampak datang dari kejauhan.
“ Mbah Sirto, darimana sampeyan Mbah? Saya sudah nunggu cukup lama daritadi.” Ujar Lelaki itu ketika Lelaki tua yang disebutnya Mbah Sirto itu sudah ada di hadapannya.
“ Kamu darimana saja Sur? Tumben lama ndak main kesini?.” Tanya Mbah Sirto kepada lelaki yang akrab dipanggil Suryono itu.
“ Saya habis pulang dari Penjara, Mbah. Lagi apes dua bulan lalu ketangkep waktu lagi oprasi, untung saja Saya ndak diamuk massa.” Jawab Suryono yang melangkah masuk ke dalam rumah ketika lelaki tua itu membukakan pintu.
“ Apes itu Cuma sekali, Sur. Kalau sering ketahuan itu namanya bukan apes, tapi memang kamu ndak berbakat jadi maling. Wes Toh,,, cari pekerjaan lain.” Ungkap Mbah Sirto sambil membawa Rokok Klobot kesukaannya dan menawarkan pada Suryono yang tampak sungkan.
“ Cari kerjaan dimana, Mbah? Sekarang yang ada pekerjaan ndak sesuai sama gajinya. Si Rista itu selalu saja ngomel kalau uang belanjanya kurang.” Jelas Suryono yang memang sebelum pergi ke rumah Mbah Sirto sempat bertengkar dengan sang Istri yang hendak pergi ngelayat ke rumah Ningsih.
“ Terus maumu Opo? Wes Toh... kalau ndak ada yang mau diomongin. Aku mau tidur.” Ujar Mbah Sirto yang memang ingin beristirahat.
“ Bantuin aku ya, Mbah!!! Aku ingin punya kesaktian yang dulu pernah Mbah Sirto ceritakan. Aku akan ngelakuin apapun untuk bisa nafkahin keluargaku.” Pinta Suryono terus mengiba ke Mbah Sirto.
“ Syaratnya berat, Sur. Apalagi kalau sampai pemilik barang itu punya dendam yang tak selesai. Kamu bisa celaka, Cah Bagus.” Ujar Mbah Sirto yang tampak ragu dengan permintaan Suryono.
“ Saya sanggup ngelakuin persyaratannya, Mbah. Saya ndak mau, karena permasalahan ekonomi saya dan Rista harus pisah.
__ADS_1
Tampak Mbah Sirto terdiam cukup lama, dia tampak menimbang-nimbang perkataan lelaki yang sudah dianggap cucunya itu.
“ Baiklah..... tapi kamu harus siapkan persyaratannya segera..” Ujar Mbah Sirto akhirnya yang langsung disambut senyuman oleh Suryono.
“ Baik... Baik... Mbah. Apa saja persyaratannya?.” Tanya Suryono yang sudah tidak sabar ketika mengingat kesaktian apa yang akan dia peroleh dari tirakat yang akan dia lakukan kali ini.
“ JARI KELINGKING BAYI YANG MATI DI DALAM KANDUNGAN BERSAMA IBUNYA.” Ujar Mbah Sirto yang membuat Suryono menelan ludah.
“ Sama suara hantu aja aku takut.. apalagi ini aku harus datangin jasadnya.” Pikir Suryono yang seketika bulu kuduknya merinding mendengar perkataan Mbah Sirto.
“ Bagaimana? Apa kamu sanggup? Kalau Ndak, jangan pernah bertanya lagi tentang hal itu.” Ujar Mbah Sirto yang terkekeh melihat wajah pucat Suryono.
“ Orang Penakut kok sok-soan mau jalanin tirakat. Dasar kamu Sur....Sur...” Ucap Mbah Sirto dalam hati.
“ Wes, Ndak papa.... daripada aku diceraikan Rista.” Pikir Suryono ketika melihat istri cantiknya yang terus terbayang di pikirannya.
“Kenapa kamu ndak pakai pesugihan saja, Sur? Kenapa memilih tirakat yang seperti itu?.” Tanya Mbah Sirto yang masih merasa heran dengan pilihan Suryono.
“ Kalau Pesugihan, nanti pasti ada timbal baliknya, Mbah. Kalau tirakat seperti ini meskipun pasti ada dampaknya, pasti yang kena Cuma Saya saja. Saya takut kalau Rista kenapa-napa karena saya, Mbah.” Jawab Suryono yang membuat Mbah Sirto tersenyum miris.
“ Gara-gara terlalu cinta, Gendeng Wes.” Ujar Mbah Sirto sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang hanya ditanggapi cengiran oleh Suryono.
“ Baiklah, kalau ini sudah keputusan kamu, Sur. Lebih cepat kamu mendapatkan jari bayi itu, maka lebih cepat juga kamu menjalani tirakat itu. Memangnya kamu sudah ketemu jasad bayi yang mau kamu curi?.” Tanya Mbah Sirto yang melihat Suryono sudah ingin segera melakukan itu.
“ Sudah, Mbah. Tadi pagi tetangga saya meninggal, namanya Ningsih. Dia meninggal dengan kandungannya yang sudah 7 bulan. Biasanya usia kandungan segitu organ tubuh bayinya sudah lengkap, Toh Mbah?.” Ucap Suryono yang mengingat tetangganya yang meninggal sedikit tak wajar tadi pagi.
__ADS_1
“ Hem... iya kalau usia segitu, biasanya organ tubuh bayinya sudah lengkap. Tapi ingat, kamu harus hati-hati!!!! biasanya makamnya akan dijaga sampai lepas 40 hari. Jangan sampai kamu di amuk massa gara-gara nyuri jari itu.” Ucap Mbah Sirto yang sudah tak nyaman duduknya.
“ Ya Wes.... kamu pulang sana!!!! Aku mau tidur.” Usir Mbah Sirto yang punggungnya sudah merasa sakit karena duduk terlalu lama.
“ Ehmmmm.... Aku nginep sini, Ya Mbah. Aku takut mau pulang... tadi saja waktu di jalan ada suara Mbak Kunti yang ngikutin terus.” Pinta Suryono yang lagi-lagi membuat Mbah Sirto geleng-geleng kepala.
“ Terus kalau sama suara Kuntilanak saja kamu takut... bagaimana nanti untuk curi jari bayinya?. Ya Sudah... kamu tidur disini. Aku mau masuk kamar.” Ujar Mbah Sirto akhirnya yang lagi-lagi hanya dijawab senyuman malu Suryono.
“ Sebentar lagi.... aku pasti bisa bahagian kamu, Sayang.” Ujar Suryono ketika melihat Mbah Sirto sudah masuk ke dalam kamar. Tak lama, ia pun juga terlelap dengan wajah tersenyum membayangkan Rista memeluknya karena senang dibelikan baju baru.
******
Sedangkan di tempat lain, Rusman dan Jamil masih dengan setia menunggu Pak RT yang tak kunjung muncul. Jam menunjukkan angka 10 Malam, tapi Pak RT ynag ditunggu tetap saja tidak kelihatan batang hidungnya.
“ Kemana ini Pak RT, Rus? Kok dari tadi kita nungguin belum juga datang.” Tanya Jamil sambil sesekali menepuk nyamuk nakal yang menggigit tangannya.
“ Aku juga ndak tahu, Mil. Apa jangan-jangan Pak RT ketiduran ya?.” Duga Rusman yang langsung dibantah oleh Jamil.
“ Ndak Mungkin, Rus. Kita tunggu saja sebentar lagi. kalau memang Pak RT ndak datang, kita pulang saja. Ndak mau aku kalau kita jaga Cuma berdua, yang ada nanti kamu ninggalin aku kayak biasanya.” Ujar Jamil yang mengingat ketika mereka dihantui saat ngeronda. Rusman meninggalkannya yang pingsan di tengah jalan karena tidak sanggup melihat rupa hantu.
Setelah beberapa lama, Akhirnya Pak RT tampak berlari dari kejauhan. Ia sungguh enak, melihat warganya yang sudah menunggu cukup lama di pertigaan.
“ Maaf ya... tadi saya harus ngantar Pak Lurah yang mau ngelayat ke rumah Ningsih.” Ujar sang RT yang tampak tergopoh-gopoh sambil membawa kopi dan beberapa cemilan kering.
“ Ya sudah, Ndak papa, Pak RT. Kita langsung saja berangkat ya... ini sudah cukup larut malam soalnya.” Ajak Jamil yang langsung disanggupi oleh Pak RT dan Rusman.
__ADS_1