
“Selamat Pagi, kembali lagi dengan saya Yuanita yang akan memberikan berita-berita terbaru dan teraktual, pada hari Kamis 26 April 2018.
Pemirsa, telah terjadi ledakan di gudang kembang api yang terjadi tadi malam di Somarende, sebuah kecamatan di Banyuasin provinsi Sumatra Selatan. Ledakan tersebut membuat warga setempat gempar. Menurut Badan Penanganan Keadaan Darurat Daerah (BPKDD) , ledakan yang terjadi tepat pukul 20.00 waktu setempat bermula dari sebuah toko dan gudang kembang api di kawasan Platuk, Somarende. …
Demikian berita yang dapat kami sajikan pada pagi ini, saya Yuanita dan segenap kru yang bertugas pamit undur diri. Terima kasih.
Selamat pagi dan sampai jumpa kembali.”
“Cut!! mari kita evaluasi dulu siaran hari ini”
Perintah dari Sutradara menggema di sepasang telinga ini, meski lutut gemeteran karena kelamaan duduk mau tak mau kaki ini ku paksa berjalan menuju kerumunan, disana ada sutradara, crew, penyiar semua berdiri tak ada perbedaan satu sama lainnya.
“Berita yang di bawakan hari ini cukup bagus karna masih fresh dan sedang viral, untuk tim reporter terima kasih sudah cepat tanggap mencari berita pada sumber terkait, untuk crew sekalian juga terima kasih sudah bekerja dengan sangat maksimal, terima kasih juga untuk Yuanita, tanpa penyiar senior ini berita yang kita bawakan tidak akan jadi apa – apa”
“Ah bapak bisa aja, semua ini berkat kerja keras kita semua. Terima kasih untuk crew terkait sudah bekerja dengan cukup baik”
Ya begitulah, setiap hari tiap selesai bekerja kami mengadakan evaluasi dan sama – sama berterima kasih atas kerja sama antara kita yang sudah berjuang demi bisa menyajikan berita yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.
---
Yuanita, nama panjangku yang sebenarnya cukup pendek dengan 1 kata dan tidak bisa dikatakan dengan panjang.
Perempuan asli bukan kw kw ‘pastinya’ berdarah Jawa asli yang sedang merantau di ibu kota demi bisa mencari rupiah.
Seorang penyiar senior ‘katanya’ yang sudah jungkir balik sana sini, kirim lamaran kerja, panas hujan, dibentak senior dan sebagainnya sudah pernah aku lalui. Untuk mencapai titik ini tidaklah mudah.
Umur berapa sekarang ? Udah punya suami atau belum ? adalah pertanyaan yang sangat – sangat aku hindari untuk saat ini.
Jangankan suami atau calon suami, pacar aja aku tak punya. Miris rasannya, padahal umurku sudah menginjak kepala 3.
Evaluasi telah usai, ku ayunkan sepasang kaki ini menuju tempat ganti. Terlihat mbak Ita sahabat sekaligus rekan kerjaku sedang siap – siap. Dia Host salah satu acara Talk Show, tak kalah senior dari aku, ibu satu anak yang bersuamikan Dokter Kandungan. Kehidupannya yang nyaris sempurna seringkali membuat orang lain iri sampai
geleng – geleng kepala.
__ADS_1
“Lesu amat lo ? Ntar nongki – nongki yuk biar muka lo segeran nggak kayak baju belum di setrika gitu, kucel!”
“Sorean ya ? aku mau bobok dulu nyampek rumah”
“Iyalah, habis dhuhur gitu nunggu gue kelar syuting sekalian jemput anak gue dari play grup”
Meski bisa dibilang berkecukupan perihal financial, mbak Ita tetap bisa menjadi sosok ibu rumah tangga yang ajibb, tanpa pembantu, tanpa babysitter juga tapi berusaha mempercayakan pada play grup untuk menitipkan anaknya. Tak memungkinkan membawa anaknya ke studio tempat kami bekerja.
Semoga nantinya aku bisa seperti itu, bisa handle kegiatan rumah. Nanti tapi, entah kapan yang pasti nunggu calonnya datang.
Sesampai nya dirumah rasa kantuk ku tiba – tiba menghilang, tergantikan dengan suara cacing yang meronta – ronta minta di isi dan seperti ada yang meremas bagian bola lambungku. Baru teringat tadi pagi aku bangun sedikit terlambat dan belum sempat sarapan hanya minum secangkir susu coklat kesukaan.
Benda persegi panjang di pojok dapur buru – buru ku teliti segala isinya, lemari dingin tampak kosong tak berisi pertanda waktu belanja telah tiba
Tak perlu waktu lama, sepiring nasi goreng sayur ala kadarnya ini telah terduduk nyaman di atas meja dengan di apit hangat oleh sepasang sendok dan garpu
Butiran nasi sudah tak lagi nampak di piring, segera ku cuci dan mendudukkan diri di sofa depan tivi. Alhamdulillah,
sepasang bokong dan pinggang ini telah mendarat dengan aman.
Sedang sepasang mata ini sibuk cuci mata dengan keramaian jalanan, sepasang telinga ini pun tak mau
tinggal diam.
Suara anak balita terdengar sedang menangis, seperti kepala yang di pasang entah mur, baut atau apalah itu namanya segera menoleh dan mencari dari mana sumber suara.
Suasana kafe yang hanya ada beberapa meja saja yang terisi, karna mungkin sudah banyak yang kembali dari istirahat siangnya membuat suara tangis terdengar cukup nyaring.
Tepat saat ada lelaki keluar dari ruangan sebelah kasir,
“Liatin apa lo ? lagi ngincer cowok ? tumbenan banget” ku tolehkan kepala, ternyata mbak Ita sudah terduduk rabi dengan anaknya
“Ngecengin tuyul yang ada”
“Lagian lo kebanyakan milih”
“Milih apa ? Gorengan ? laki aja gak ada yang dating gimana mo milih sih”
__ADS_1
Mbak Ita, sudah seperti Ibu, kakak, sahabat, teman tempatku berkeluh kesah. Disaat aku kehabisan uang di akhir bulan, dengan baik hatinya meminjami ku uang yang sampai akhirnya seringkali aku merasa sungkan terus saja menyusahkannya
“Nit, ada cowok cakep tuh kali aja lo cocok”
“Ledek aja terus, males deh jadinya” Tak ku pedulikan cerocosan mbak Ita yang duduk di depanku, dengan khusyuk ku nikmati roti Maryam plus es milo andalanku disini.
Sembari nyemil, ku geser layar ponselku pada aplikasi Instagram. Tak untuk mengunggah postingan ataupun insta story, entah kenapa pengen saja lihat – lihat kolom pencarian.
Terpampang foto di sebuah pantai yang luas, dengan seorang lelaki menggendong seorang anak perempuan cantik
dengan rambut di kuncir 2 seperti antena semut. Sosok ayahebel banget, senyumnya pun mampu menularkan ke siapa pun dan tak terasa bibir ini terangkat membentuk lengkungan dengan disusul kelopak mata yang ikut menyipit juga.
“Idih, ada orang ngomong gak di tanggepin giliran sekarang senyum – senyum gak jelas. Udah gila ya lo karna
gak keburu dapet jodoh ?”
“Apa lagi sih, gak punya jodoh dikatain, lagi berusaha nyari dikatain lagi. Dobel – dobel deh beban hidup gue lama – lama kak”
Suara tawa segera menggelegar di sepasang daun telinga ini, ku kerucutkan bibir ini. Sangat tau kalo aku tak benar – benar marah padanya,
“Sewot mulu, pasti lagi tanggal merah” Nah kan, tanggal – tanggal keramat seperti ini pun dia tau banget bahkan hafal di luar kepala meski hanya melihat reaksi dari mimik wajahku. Segera ku anggukan kepalaku dengan pelan
“Habis suci cocok tuh, biar cepet jadi anaknya” tambah ngelantur deh omongannya
“Mulutnya mbak, ntar anak lo terkontaminasi omongan sampah lo awas aja”
“Dia mah kalo udah main hape suka lupa daratan”
“Serah lo deh mbak” Dengan suara tawa yang masih mengocok perut, segara ku langkahkan kakiku menuju meja kasir. Keburu mules kalo tiap hari di jailin terus.
--
Bersambung~
Bantu Suport hasil halu ku ya, semoga bisa jadi teman ngeteh
Salam, Alleya !
__ADS_1