
“Habis ini kemana? Jalan yuk refreshing cari yang seger – seger”
“Aku mau pulang”
“Pulang kemana? Ke apartemen ku aja ya. Aku kangen banget sama kamu Nit”
Sudah jadi rahasia umum, semua tau akan tingkah mas Fano terhadap wanita. Bukan satu dua wanita yang sudah masuk perangkap dan menjadi mainan nya dan aku tidak mau dan jangan sampai masuk ke lubang tersebut.
“Ayo dong Nit, aku tau kamu pasti juga seneng dan ketagihan kalo ku belai”
“Sorry mas, aku bukan wanita gampangan yang bisa se enaknya saja kamu buat mainan” ku kibaskan tangannya yang tadi sempat menarik pergelanganku.
Langkahku makin pasti, dan makin tak suka akan sifatnya menjerat wanita.
--
Siang ini DM Instagram dan kolom komentar novel online ku diserbu oleh para pembaca, aku belum konsisten menulis lagi.
Dengan ditemani sepiring pisang coklat dan jus jeruk, ku coba mengumpulkan ide – ide yang akan kujadikan lanjutan di cerita.
Sebagai penulis amatir, seringkali aku kehabisan kata – kata ketika ditengah cerita, meski plot cerita sudah ku siapkan. Tapi entah kenapa, coba boleh beri solusi baiknya ..
Handphone di meja bergoyang mengikuti irama, berteriak memanggil minta segera di lihat apa perlunya.
“Hallo, hari ini ada waktu ? Mamaku pengen kenalan sama kamu”
Siapalah aku, bukan orang dari kalangan atas seperti mereka, tapi entah kenapa selalu begini saja
“Kenapa secepat itu ? Kamu belum kenal aku. Aku bukan dari keluarga kalangan seperti kamu”
“Apalah artinya harta dan tahta jika mati pun tak dibawa ke surga” Kalo sudah membawa perihal surga dan kematian, aku selalu tak bisa berkutik lagi.
Jam 4 sore mobil Jeep Rubicon terparkir manis di halaman depan rumahku. Rumah lama yang begitu kecil yang berhasil ku beli dari uang hasil kerja kerasku sendiri.
“Udah siap ? Mama sama Leona udah gak sabar nunggu kamu di rumah” Ucapnya ketika aku keluar dari daun pintu.
“Udah, aku pakai baju gini gaapa kan ? Takutnya terlihat baju murahan di hadapan mamamu” sembari tanganku mengibas menelusuri baju ku
__ADS_1
“Yang penting kamu pakai baju, nggak telanjang ya gausah bingung”
Segera dia melangkahkan kaki membuka pintu kemudi, aku yang cengo melihat tingkahnya memutuskan untuk berjalan agak cepat menuju pintu samping.
Hello ??? Ini pria yang kemarin ngajakin aku berhubungan serius ? sungguh dingin sekali pikirku! Tak ada inisiatif
membukakan pintu atau gimana gitu ..
Jeep Rubicon Hitam berjalan dengan sangat gagah, menelusuri jalanan kota Jakarta yang sebentar lagi akan padat merayap dan mungkin dari kejauhan seperti semut – semut yang berkerumunan.
Tubuhku bergerak tak nyaman, takut karna pada zaman ku dulu mobil jeep identik dengan mobil penculikan. Biasa aku kan anak sinetron parah pada masanya.
“Emang nggak kerja ? Kog jam segini buat janji” Ucapku sembari memecah keheningan
“Kerja, lagian yang pengen ketemu kan mama” Oh tuhan, laki – laki ini kog nggak ada manis – manisnya sih.
Tak sampai setengah jam, mobil ini belok dari jalan raya besar menuju deretan perumahan mewah, yang kalo dibeli pakai uang recehan mungkin bisa saja numpuk melebihi segunung.
Pintu mobil ku buka dengan perlahan, takut salah – salah buka pintu bisa saja copot. Apalah dayaku yang hanya bermobil sekelas Ayla.
“Gendong sama Ayah aja ya, tantenya capek kalo gendong adek” awalnya anak bayi itu menonta tak mau, tapi dengan segala bujukan dibelikan es krim akhirnya nurut saja
“Yuanita ya? Apa kabar nak, sehat?” Wanita setengah tua keluar dari daun pintu yang amat sangat mewah ini,
“Iya sehat tante, maaf kesini nggak bawa apa – apa”
“Kamu kesini aja tante udah seneng, gak perlu repot bawa apapun”
Kesan pertama, wanita ini cukup ramah. Tapi entah seperti ibu mertua pada umumnya apa memang benar – benar ramaha. Ibu mertua biasanya baik di depan anaknya, dan bakal menyiksa dibelakangnya.
“Ayo dong mal diajakin masuk, jangan di biarin di teras nanti masuk angin”
Leona pun segera turun dari gendongan ayahnya, ganti menggenggam erat tanganku dan digiring masuk ke dalam dan langsung di suguhkan dengan hamparan mainan yang sangat amat banyak.
“Ayo mama main, aku punya banyak mainan belbi” lucu sekali anak kecil yang belum lancar bicara huruf r. Atau kata orang jawa pelo harus di gosok lidahnya pakai emas, atau biasanya pakai cincin. Mitosnya akan cepat bisa berbicara R.
“Iya ini tante temenin mainnya”
__ADS_1
“Mama, bukan tante” bibirnya Nampak mengerucut dengan mata yang di buat seolah – olah akan copot dari tempatnya.
“Leona kan punya mama” aku berusaha memberitahu hal yang sebenarnya, meski akan tampak susah nantinya
“Leona ndak pelnah ketemu mama, Leona pengen mama jadi mamanya Leona”
Suara langkah kaki terdengar cukup dekat, ternyata langkahnya datang menghampiri, mendekat dan semakin dekat
“Tante udah denger cerita dari Akmal, kalo Leona sering banget manggil kamu mama. Apa nggak coba kamu fikirkan ? Nggak banyak anak yang setuju ayahnya nikah lagi nantinya. Nggak sepenuhnya percaya dengan ibu sambung. Tapi bisa kamu lihat anak ini”
“Tante mohon maaf sebelumnya, mungkin akan sensitive nantinya. Saya bukan dari kalangan atas seperti keluarga anda”. Air mata menumpuk di pelupuk mata, kenapa sih gini aja udah mau nangis, batinku
“Nita, dihadapan Tuhan kita sama, tak ada bedanya. Sebelum seperti sekarang pun kami juga pernah merasakan di bawah. Roda berputar, harta tahta tak ada artinya”
Wanita berkerudung yang Nampak sangat ayu itu membelai punggungku, “Coba kamu pikirkan. Kami siap menerima segala kurang dan lebihnya kamu. Siap menerima jawabanmu yang entah bagaimana nantinya. Leona butuh ibu sambung, yang bisa mengerti keluarga kami, Akmal, dan tentunya bisa sayang Leona seperti anaknya sendiri. Itu yang paling terpenting. Cinta bisa datang karena terbiasa”.
Setelah ber sendu – sendu ria, pertemuan pertama kali ini di lanjut dengan makan malam. Celotehan ria dari mulut mungil Leona menghiasi kebahagiaan keluarga ini.
Jam setengah 9 aku sudah tiba di istana pribadiku, istana yang tidak megah dan tidak terlihat seperti istana pada umumnya. Cukup istana bagi hatiku saja ..
Ku baringkan tubuhku yang seringkali bagian pinggang terasa sakit akibat terlalu lama duduk, mungkin faktor umur yang mempengaruhi ..
Ku ingat kata demi kata dari ibunya mas Akmal, entah sudah berapa lama aku termenung dan akhirnya kuputuskan untuk memberi kabar ibu di kampung karna hari ini absen tidak telfon seperti biasanya.
“Buk, kalo semisal aku nikah gimana ?”
Jam dinding berdenting 10 kali, ternyata sudah malam. Semoga besok pagi ibu dan bapak tidak menganggap aku nglindur mengirimkan pesan hampir tengah malam.
--
**Bersambung\~ **
Bantu Suport hasil halu ku ya,
semoga bisa jadi teman ngeteh
Salam, Alleya !
__ADS_1