KEPINCUT DUDA DINGIN

KEPINCUT DUDA DINGIN
PULANG KAMPUNG


__ADS_3

            Hari – hariku tetap sama seperti biasanya, habis subuh berangkat ke studio televisi siangnya terkadang ada meeting dengan crew, sharing – sharing dengan penyiar junior yang membutuhkan banyak bimbingan dari penyiar yang sudah berpengalaman katanya tapi aku merasa ilmu ku masih sedikit dan sama seperti mereka masih harus banyak belajar dan bertanya kesana kemari kepada yang lebih berpengalaman.


            Siang ini jadwal meeting kosong, ku pergunakan untuk menyerahkan berkas cuti kepada HRD, rencananya bulan depan mau pulang ke kampung.


“Tumben jatah cuti di ambil ngedadak gini ? Mau kemana kamu ?” Bu Rina, kepala HRD yang super baik kepada semua karyawan di studio ini


“Katanya suruh nikah bu” ucapku sambil tertawa


“Jadi bener gosip kamu kemarin di jemput sama cowok itu?”


Pantesan aja. Tadi pas nyampek studio karna masih sepi jadi nggak begitu jadi perhatian, tapi siang ini saat jalan ke ruang HRD, banyak karyawan maupun crew yang pada lihatin aku. Sampai aku berfikir, apa aku salah pakai baju sampai jadi pusat perhatian, ternyata oh ternyata terjawab sudah kegelisahanku ..


“Kog ibu tahu?”


“Halah gosipnya udah kemana – mana kali Nit, kamu ini kelewat cuek jadi orang”


“Nggak kog bu, mau pulang ke kampung. Nengokin bapak ibu, kasihan nggak ada yang nemenin”


“Kenapa nggak diajak ke Jakarta aja kalo nggak ada yang nemenin ? Disini kan kamu juga udah ada rumah sendiri”


“Nggak mau bu, katanya udah kelewat nyaman disana”


“Ya begitulah orang tua, nggak mau ngrepotin anaknya. Yang penting kamu kirimannya jangan sampai telat, rutin pulang, sebisa mungkin telfon tiap hari walau hanya sebatas tanya kabar. Gitu aja udah ayem nggak jadi fikiran orang tua”


Bu Rina, sempat mengenalkanku dengan keponakannya. Saking pengennya aku jadi bagian keluargannya, mau dijadikan menantu tapi anak beliau perempuan juga. Karna memang terdapat perbedaan prinsip yang memang sudah tidak bisa di nego lagi, akhirnya tahap pengenalan itu berhenti tanpa diteruskan lagi. Karna mungkin memang bukan jodohnya.


“Heh, elo punya cowok nggak ngasih tau gue. Gitu ya sekarang”


“Cowok mana sih mbak ?”


“Alah jangan sok bloon kamu, Rubicon Hitam kemarin di parkiran siapa ? Bapak lo ?”


Mbak Ita, dengan tergopoh memasuki ruang ganti. Meski kata – katanya sedikit kasar dan mungkin orang yang belum mengenalnya akan menganggap dia marah, itu salah besar.


Omongan boleh kasar, tingkah boleh bar – bar, tapi hati tetep begitu sabar. Aku tau mbak Ita hanya marah perihal lebih dulu tahu dari pada aku bercerita lebih dulu.


“Oh itu, baru juga kenal kog mbak. Kenalnya pun juga nggak sengaja”

__ADS_1


“Tapi dari mobilnya kog nggak asing ya?”


“Iyalah, dia yang punya The Garden”


“Yaelah, jauh – jauh dari Kediri ke Jakarta, taunya jodohnya yang sering kita datengin tiap hari. Gila – gila”


“Udah di lamar mbak, tapi belum resmi. Lamaran pun yahh gaada romantis – romantisnya”


“Yah elo mah, masih untung ada yang ngelamar” dijulurkan lidahnya sembari ketawa, aku pun ikut ketawa.


Orang lain mengira aku orang yang membosankan, cuek, judes, dan masih banyak lainnya. Sebenarnya juga nggak, kalo udah kenal aku pasti tahu aku bagaimana aslinya. Bobrok – bobrok lah sama aku.


“Akmal Maulana, usia jalan 33. Duda punya anak 1, cewek. Istrinya meninggal setelah koma karna pendarahan pasca melahirkan. Ibunya sangat – sangat baik padahal keluarga cukup ber ada”


“Anaknya gimana ? Mau sama elo emang ?”


“Lah, yang nemplok anaknya dulu. Boro – boro bapaknya”


“Apapun jalan yang kamu pilih nantinya, selagi itu baik mbak akan dukung apapun keputusanmu. Kamu sudah dewasa, sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk. Nikah sama duda nggak ada salahnya, bukan aib yang


harus di tutupi. Biarkan apa kata orang, pasti banyak berita miring nantinya”


---


Sampai rumah sebelum jam makan siang, ku sempatkan lagi menulis cerita online yang sudah dinanti – nanti pembaca, yang sudah membom bardir kolom komentar akun sosmed ku, meneror mana cerita baru kog belum update, padahal sebagai penulis pun ada masa nya ide mentok dan terkadang mood pun naik turun, kesibukan di dunia nyata pun sudah menari – nari dengan sangat lincah minta siapa dulu yang harus di selesaikan terlebih dahulu.


“Mas”


Kucoba mengirim pesan singkat melalui aplikasi hijau yang sedang meroket, digandrungi banyak orang, entah dari anak muda, remaja, dewasa sampai oma opa pun pasti punya.


Centang 2 abu – abu berubah biru dengan begitu cepat, telfon masuk tana adanya balasan


“Assalamualaikum mas”


“Waalaikumussalam, ada apa dek tumben Whatsapp duluan ?”


“Mas, jadi ikut pulang aku ke kampung nggak?”

__ADS_1


“Iya jadi, kamu udah ngajuin cuti emangnya ?”


“Bulan depan, mas kosongin jadwal ya. Udah ngajuin cuti hari ini”


“Iya, aku kosongin nanti jadwalnya awal bulan”


Mengalirlah pembicaraan dan rencana – rencana kedepannya, tentang restu yang nantinya akan kami minta saat pulang kampung.


Ibuku bilang, aku terlalu halusinasi karna putus asa di umur yang sekarang ini belum nikah. Teman – teman sekolahku pun sudah pasti tengah menunggu kelahiran anak ke 2 ataupun ke 3. Sedangkan aku masing begini –


begini saja.


“Kamu ngomong apa sih Yun ? lagi mimpi apa nglindur bilang mau nikah. Ibu bapak gak maksa kamu buat nikah cepet kog, Ibuk masih sanggup nunggu jodohmu datang. Jangan sampai karna rasa putus asa kamu jadi


edan kayak gini”


Beberapa hari lalu, setelah malamnya aku Whatsapp ibu di hari yang sudah menjelang malam dan pastinya ibuku sudah tertidur nyenyak dijam – jam segitu.


Paginya setelah keluar dari studio, Handphone ku telah menari – nari indah di dalam tas. Meminta si empunya untuk segera mengambilnya. Ternyata ibu ku yang jauh disana dengan sangat hafal akan jadwal kelar kerja.


“Beneran kog bu, ini ada yang serius ngajakin Yuyun nikah. Aku juga mau ngambil cuti buat pulang, dia mau ketemu sama Bapak dan Ibu. Mau minta restu secara resmi ke rumah. Mungkin juga sekalian mau ngelamar”


“Nggak ada angina nggak ada hujan loh ini yun. Ini kamu bukan hamil duluan kan ?”


“Ibu ngaco deh, ya amit – amit jangan sampai lah bu”


“Habisnya kamu nggak pernah bilang lagi deket sama siapa. Tau – tau bilang mau nikah”


“Ya mungkin jodohku ternyata sedekat itu bu”


Kilasan balik pembicaraan bersama ibu di telfon waktu itu, rencana ke depannya sudah mantap. Semoga di lancarkan tanpa adanya suatu halangan apapun.


---


**Bersambung\~ **


Bantu Suport hasil halu ku ya,

__ADS_1


semoga bisa jadi teman ngeteh


Salam, Alleya !


__ADS_2