KEPINCUT DUDA DINGIN

KEPINCUT DUDA DINGIN
DM INSTAGRAM


__ADS_3

“Lagi nulis ini buk, ibuk udah makan?” Sehabis magrib seperti biasa, ibuku dikampung selalu telepon tanya kabar anak tunggal yang tak tau diri ini


“Ibuk udah makan tadi, ini lagi mau nyiapin buat pesanan besok. Acara setahunan di rumah pak lurah”


“ibuk jangan ambil pesanan banyak – banyak ya, kan udah aku kirimin uang tiap bulan buat belanja”


“Nggak banyak, ini juga dibantu mbak Nar dari pada gak ada kerjaan di rumah”


“Ibuk dan bapak harus tetap sehat lo ya, bulan depan kemungkinan Yuyun pulang ke kampung”


Ibu dan bapak ku yang semakin menua dikampung, yang dengan cukup keras kepala tetap nekat kerja meski uang belanja sudah sepenuhnya ku transfer tiap awal bulan.


“Bapak sama ibuk nggak enak nganggur di rumah, badan tambah sakit semua. Uang mu itu ditabung aja buat tambah – tambah modal waktu nikah”


Bapak ku hanya pensiunan guru yang sekarang putar haluan menjadi petani biasa, sawahnya pun hanya beberapa petak saja bukan yang hamparan luas berhektar – hektar, ibuku pun hanya ibu rumah tangga biasa yang sering kali dimintai tolong oleh tetangga untuk membuatkan pesanan saat hajatan.


Sudah bisa di pastikan keluargaku seperti apa, jangankan tuan tanah atau konglomerat dulu saja bisa beli beras saja syukurnya sudah tak terkira.


Rutinitas malam ku setelah telfon bapak dan ibu di kampung hanya berkutat dengan laptop, selain penyiar berita aku juga merambah ke dunia tulis menulis. Hanya penulis pemula yang awalnya ku jadikan pelarian saat luang, ternyata mampu menghasilkan pundi – pundi rupiah.


Tak banyak pengikutku, hanya ada beberapa yang memang selalu mampir di karya hasil dari pemikiran halu ku. Entah kenapa kog mau saja yang mampir buat baca


Lumayan, hasilnya bisa buat tambah jajan.


Di sisi lain,


“Cupcup dek, kog nangis terus kan udah tadi mimik susunya nanti kekenyangan loh”


Leona, putri pertamaku dan mungkin akan menjadi putri satu – satunya. Dengan telaten ku rawat sendiri dengan sepenuh hati, meski terkadang masih perlu bantuan si mbak dan mama saat aku sibuk meeting di luaran sana.


Akmal Maulana, menginjak usia 33 di tahun ini. Duda muda dengan segudang keahlian. Tak hanya usaha café, usaha cuci mobil juga dan entah sudah berapa cabang yang sudah di dirikan di seputaran Jakarta ini.

__ADS_1


Manusia dingin yang banyak menjadi sorotan karna pencapaiannya, tak sedikit para pengusaha senior menggadang gadang akan menjadikannya sebagai menantu. Tak perduli dengan latar belakang nya yang sudah berbuntut satu.


“Mal, kamu tuh udah waktunya nikah lagi, cari istri yang bisa ngertiin kamu, yang bisa jaga Leona. Mau sampai kapan kamu begini terus, mama kan juga ada masa nya hidup di dunia gak bisa nemenin kamu terus”


“Nanti saja lah ma, Leona masih kecil aku bisa jaga sendiri ada mbak juga yang bantu kalo pas repot ke luar”


“Meski ada mbak, tapi kan lebih baik kalo ada ibu. Kalo masih kecil dia gak banyak nentang. Pasti lebih mudah asal wanita nya mau nerima Leona, mau rawat kayak anak sendiri”


“Yah mungkin itu bagian yang susahnya ma, wanita yang bisa nerima Leona”


“Semua tergantung kamu Mal, kalo sudah ada niatan pasti dilancarkan sama Allah. Mama juga siap cariin lagi kalo kamu gak mau repot repot”


“Ya nanti lah, coba dipikirin dulu”


Setelah pembicaraan dengan mama perihal menikah lagi, entah mengapa kali ini pembicaraan it uterus terngiang – ngiang padahal bukan kali pertama mama minta aku nikah lagi.


Guling kanan guling kiri, kenapa jadi susah tidur gini, segera ku nyalakan murrotal cara ampuh untuk mereda kan gundah gulana seperti ini. dan tak lama aku pun tertidur


Masya Allah, aku terbangun dari mimpiku. Siapa wanita itu ? kenapa masuk dalam mimpiku padahal aku tak merasa mengenal sebelumnya.


Segera ku beranjak dari kasurku, setelah menengok jam segera ku ambil wudhu dan menunaikan sholat malam. Memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah ku perbuat tanpa sadar


Segera ku dudukan badanku di kasur dengan bersandar pada tumpukan bantal. Ku raih Handphone di meja nakas sebelah kasur, sembari menunggu shubuh seringkali aku mencari reverensi untuk café, agar tak terlihat monoton dan selalu mengikuti trend anak muda pada zamanya.


Saat tak sengaja melihat pemberitahuan baru, segera ku buka. Tak mengenali namanya, segera ku klik user namenya, setelah terlihat foto – fotonya entah angin dingin menerpa yang entah dari mana asalnya.


 


Setelah sholat subuh aku segera bersiap dengan setelan kerja dan jilbabku, yang entah kenapa meski sudah aku


setrika dengan selicin mungkin tapi tak begitu terlihat rapi saat ku gunakan.

__ADS_1


Segelas susu dan setangkup roti tawar nuttela sudah berjalan – jalan dari kerongkongan menuju lambung dilanjut menuju usus 12 jari dan nantinya akan berakhir di kamar mandi.


Setelah briefing singkat, aku segera bersiap siap.


Satu jam tiga puluh menit, berita yang ku bawakan dengan rekan yang masih junior ini akhirnya selesai. setelah rapat singkat penutupan, aku segera menuju ruang ganti untuk mengambil barang bawaanku.


“Mbak Nita, besok siarannya ganti sama mas Fano ya rekannya mbak dulu” Kru bagian Kreatif atau apa entah aku kurang begitu faham bagiannya ini menghampiriku


“Akhir – akhir ini ratting nya sedikit menurun mbak, mungkin kalo mbak di pasangkan lagi sama mas Fano rattingnya akan naik lagi”


“Ratting turun bukan karna berita yang kita bawakan memang kurang kualitasnya ya ? kan memang lagi gak begitu ada topik yang mampu membuat masyarakat antusias jadi bukan karna pembawa beritanya”


“Aku hanya menyampaikan saja mbak, ini pun putusan dari pihak atas. Kalo mbak mau complain silahkan saja langsung”


Entah kenapa aku kurang suka dengan mas Fano, bukan karna pembawaan nya di depan kamera, tapi karna suatu hal yang sedikit mengusik kehidupanku.


Lebih baik aku mengajari junior dari pada di pasangkan sama dia sebenarnya, tapi kalo sudah begini mau complain pun nantinya tidak akan ada tindakan.


Sembari jalan menuju parkiran, iseng – iseng ku buka aplikasi Instagram ku. Banyak pemberitahuan yang masuk, menandai ku dalam komenan tentang politik yang entah bagaimana aku kurang tertarik di dunia tersebut.


Banyak DM dari beberapa pembaca ku di dunia halu, dan ada satu DM yang membuatku langsung tertarik membukannya setelah membaca user name nya.


Assalamualaikum Yuanita.


Loh bukannya ini …. Seketika hatiku berdebar entah kenapa.


**Bersambung\~ **


Bantu Suport hasil halu ku ya,


semoga bisa jadi teman ngeteh

__ADS_1


Salam, Alleya !


__ADS_2