KEPINCUT DUDA DINGIN

KEPINCUT DUDA DINGIN
HOLIDAY IN KEDIRI


__ADS_3

“Dari mana pak ? Mas Akmal nya mana ?”


“Dari Sawah depan, Akmal di teras katanya masih mau


cari angin”


            Segeraku langkahkan kaki dengan amat tergesa, bukan karena apa – apa. Mas Akmal disini tamu, sudah sepantasnya kami memuliakan. Bukan malah meninggalkan seperti ini.


            Laki – laki di depanku duduk termenung melihat ke arah jalan samping rumah, pandangannya kosong.


            Kalo mau di deskripsikan, rumahku berada di nomor 3 dari jalan desa. Di pinggir jalan berdiri kokoh tugu seperti layaknya perumahan, tapi di dalamnya hanya terdiri dari 4 rumah yang itu semua masik saudara. Nenek buyut, saudara dari nenek, dan juga rumahku.


            “Mas, kenapa diem aja?” sedikit ku senggol lengannya, yang hari tampil begitu mempesona. Celana chinos abu di padukan dengan kaos hitam berkerah. Jauh berbeda seperti biasanya, yang seringkali wara wiri dengan celana bahan dan tak lupa baju kemeja nya.


            “Eh adek, gapapa liatin jalan” Senyum tampak di paksakan dari bibirnya


            “Liatin jalan apa, aku dari tadi di sini liatin mas bengong kog. Kenapa ? ada teguran dari bapak ?”


            “Nggak kog, urusan doa restu udah lancar sama bapak”


            “Eh seriusan mas ? Cepet banget ya”


            “Iya, Alhamdulillah. Dari awal mungkin Ibu sama Bapak udah berunding dulu. Jadi tadi bapak juga tanya – tanya hal dasar aja. Sama kasih nasehat – nasehat”


            “Alhamdulillah, semoga segalannya di lancarkan ya mas. Sehat – sehat. Nambah giat kerjanya karna harus ada yang terpenuhi nantinya. Mama jangan lupa di kabarin, mas pulang dulu ke Jakarta apa gimana ?”


            “Nanti coba mas omongin, mungkin beberapa hari ke depan mama langsung kesini”


            Perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta sampai rumah pun luruh rasanya. Kini hati terasa enteng, lega seperti kita selesai buang gas. Wkwk


            “Mas, nggak pengen jalan – jalan ? Ayo jalan mumpung disini”

__ADS_1


            Akhirnya dengan menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu setengah jam saja, kami sudah terduduk dengan nyaman di sebuah bangunan yang cukup megah ini. Bangunan besar di antara lima pertemuan jalan. Bangunan megah yang masuk kesini tak di pungut biaya sepeserpun, hanya parkir saja 2 ribu rupiah. Murah kan.


Simpang Lima Gumul, atau seringkali masyarakat menyebutnya Gumul. Merupakan salah satu bangunan yang menjadi ikon Kabupaten Kediri yang bentuknya menyerupai Arc de Triomphe yang berada di Paris, Perancis.


SLG mulai dibangun pada tahun 2003 dan diresmikan pada tahun 2008, yang digagas oleh Bupati Kediri saat itu, Sutrisno. Bangunan ini terletak di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tepatnya di pusat pertemuan lima jalan yang menuju ke Gampengrejo, Pagu, Pare, Pesantren dan Plosoklaten, Kediri.


Jika Arc de Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur dan mati bagi Perancis dalam Revolusi Perancis dan Perang Napoleon, namun belum ada kejelasan mengapa dan untuk menghormati siapa Monumen Simpang Lima Gumul Kediri ini dibangun. Dalam beberapa sumber menyebutkan, bahwa didirikannya monumen ini dikarenakan terinspirasi dari Jongko Jojoboyo, raja dari Kerajaan Kediri abad ke-12 yang ingin menyatukan lima wilayah di Kabupaten Kediri.


Selain sebagai ikon sebuah kota, saat ini SLG juga menjadi sentra (pusat) ekonomi dan perdagangan baru (Central Business District) di Kabupaten Kediri, sehingga diharapkan dapat membuat perekonomian Kediri semakin bertambah maju. Monumen Simpang Lima Gumul berlokasi di kawasan yang strategis dan dilengkapi dengan beragam sarana umum, seperti gedung pertemuan (convention hall), gedung serbaguna (multipupose), Bank daerah, terminal bus antar kota dan MPU (Mobil Penumpang Umum), pasar temporer (buka pada waktu-waktu tertentu) Sabtu-Minggu dan sarana rekreasi seperti wisata air Water Park Gumul Paradise Island.


            Simpang Lima Gumul memiliki luas bangunan 37 hektar secara keseluruhan, dengan luas bangunan 804 meter persegi dan tinggi mencapai 25 meter yang terdiri dari 6 lantai, serta ditumpu 3 tangga setinggi 3 meter dari lantai dasar. Angka luas dan tinggi monumen tersebut mencerminkan tanggal, bulan dan tahun hari jadi Kabupaten Kediri, yaitu 25 maret 804 Masehi.


            Di sisi monumen terpahat relief - relief yang menggambarkan tentang sejarah Kediri hingga kesenian dan kebudayaan yang ada saat ini. di salah satu sudut monumen terdapat sebuah arca (patung) Ganesha, salah satu dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu dengan gelar sebagai Dewa Pengetahuan dan Kecerdasan, Dewa Pelindung, Dewa Penolak Bala, dan dewa Kebijaksanaan.


Di dalam bangunan monumen terdapat ruang-ruang untuk pertemuan di gedung utama dan ruang auditorium di lantai atas yang beratapkan mirip kubah (dome), ruang serba guna di ruang bawah tanah (basement), diorama di lantai atas, dan minimarket yang menjual berbagai souvenir di lantai bawah. Bangunan ini juga memiliki tiga akses jalan bawah tanah untuk menuju monument.


Puas dengan melihat – lihat kendaraan yang berlalu – lalang, kami akhirnya memutuskan untuk makan di kaki lima sepanjang area Gumul yang disering kali di sebut dengan pasar tugu. Kebetulan hari ini hari Minggu, masih banyak orang yang tadi pagi pastinya ikut acara car free day atau yang sengaja datang untuk kulineran disini.


“iya, gapapa. Kenapa sih emangnya?”


“kan mas di Jakarta punya café, masak disini makan di kaki lima”


“Ya gapapa, apa masalahnya? Kalo tersugesti macam – macam malah nantinya berakhir dengan hal yang kurang mengenakkan. Kalo mau makan ya makan aja, pasti kamu kangen makanan sini”


Lihatlah, dia yang tak pernah mengeluh. Dengan rumahku yang sangat – sangat sederhana pun biasa, makan masakan ibuku dan sekarang makan di kaki lima tak nampak raut jijik di wajahnya. Apalagi saat kami pergi jalan – jalan ke Gumul kali ini dengan hanya menaiki sepeda motor scoopy ku, itupun bukan motor dengan series terbaru tapi motor yang dibelikan bapak saat aku masih kuliah dulu. Karna memang belum mampu membeli mobil. Mobil dijakarta pun hasil beli bekas, bukan baru dari Dealer.


Ku harap, semua keserhanaan ini tetap akan terjalin sampai nanti. Bukan karna dia berusaha menghargai keluargaku saja.


“Mas, ada telfon ini” Saat mas Akmal jalan ke kursi makan setelah selesai pesan makanan. Memang bukan si penjual menghampiri ke meja – meja pembeli, tapi kita sebagai pembeli yang menghampiri gerobak si akang penjual.


Sangat berbeda dengan yang ada di Ibu Kota.

__ADS_1


“Siapa? Oh Leona ini”


Nampak nama si pemanggil menggetarkan hati, “Bidadariku”. Fikiran sudah melang lang buana kema – mana.


“Mama, Mama sama Ayah kemana ? Kog nggak ngajakin aku” Suara tangis diseberang sana begitu nyaring. Mata bulat sebulat nekeran itu pun tampak mengalirkan air yang seperti sungai yang begitu deras. Bibir mungil nya di cebikkan. Pipi gembulnya tampak memerah semerah delima.


Memang Mas Akmal tak berpamitan dengan anaknya, karna ditakutkan akan susah tidur dan menangis jika di tinggal.


“Ayah masih nganter mama pulang, ketemu nenek”


“Nenek ?”


“Iya, neneknya mama. Besok ya, adek kesini jemput mama. Nanti kalo adek gak jemput, mama keenakan disini gak mau pulang”


“Gak ketemu na lagi?”


“Mangkanya adek kesini”


“Oke, siap bos”


Aku yang hanya melihat interaksi antara ayah dan anak ini hanya tersenyum, mata yang tadinya mengalirkan air sekarang pun tambak berbinar.


Oh begini rasanya, sesenang ini mempunyai anak yang sayang sama ibunya.


---


**Bersambung\~ **


Bantu Suport hasil halu ku ya,


semoga bisa jadi teman ngeteh

__ADS_1


Salam, Alleya !


__ADS_2