KEPINCUT DUDA DINGIN

KEPINCUT DUDA DINGIN
KAMPUNG HALAMANKU


__ADS_3

            Hari ini kami akan melakukan perjalanan udara, penerbangan menuju Bandara Juanda Sidoarjo. -Sidoarjo ya teman – teman, bukan Surabaya jangan sampai salah.-Merupakan bandara tersibuk kedua di Indonesia setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta berdasarkan pergerakan pesawat dan penumpang. Bandara ini melayani rute penerbangan dari dan tujuan Surabaya dan wilayah Gerbangkertosusila.


            Pagi sebelum adzan subuh berkumandang, mas Akmal sudah terduduk rapi di teras rumah. Dengan baju daster kebangsaan ibu – ibu di rumah dan tanpa make up menyambutnya di pagi buta ini. Selesai berganti baju, kami pun siap membelah jalanan ibu kota yang masih sangat sepi ini.


Penerbangan yang cukup singkat, 1 jam 30 menit tapi mampu merontokkan tulang – tulangku. Terlalu lama duduk selalu berakibat seperti ini. Taka da sanak saudara yang menjemput karena memang kami tak memiliki kendaraan yang mumpuni untuk sampai sini. Taksi Konvensional yang ku hubungi kali ini, untungnya tetangga sendiri di kampung dan sudah jadi langganan ketika aku pulang.


“Siapa ini mbak Yun ? Calonnya ya” Paklek Sabar, -begitu aku memanggilnya-


Pertanyaan nya hanya ku jawab dengan senyuman, Sudah bisa di pastikan tak sampai 1 jam gossip


ini akan menyebar di kalangan tetangga.


Rumah Joglo sudah berdiri dengan gagahnya di depan pasang mata ini, rumah peninggalan nenek yang masih kokoh sampai saat ini menjadi tempatku lahir, tumbuh, dan berkembang. Rasa lelah perjalanan luruh sudah setelah melihat senyum Ibu Bapak ku.


“Alhamdulillah sudah sampai rumah, gaada halangan kan selama perjalanan ?”


Kugelengkan kepalaku, sembari meraih tangan ibuku yang sudah keriput dan ototnya nampak dimana – mana. entah sampai kapan lagi umurnya, tapi aku belum bisa membahagiakannya.


“Pak, Buk ini mas Akmal” Kuperkenalkan pria yang sejak tadi berdiri di belakangku. Segera dia mengganti posisiku dan ber ramah tamah dengan orang tua ku.


Cuci kaki dan tangan jangan lupa, kalo di daerahku sesepuh bilang kalo habis dari luar rumah minimal wajib cuci kaki agar setan – setan dijalanan tidak ngikut masuk ke rumah. Kalo di daerah kalian gimana ??


“Ayo sarapan dulu, dilanjut nanti ngobrolnya”


Teriakan ibuku menggema di penjuru rumah, entah karna rumah ini besar tanpa sekat, atau karna memang rumah ini tak begitu banyak perabotan yang menjadikan suara akan terdengar lebih nyaring.

__ADS_1


Sayur terong di campur tahu, berlauk kan ikan asin tipis dan juga sebakul nasi telah menari – nari bak di iringi irama merdu yang menambah tabuh genderang perang di lambungku meronta – ronta dengan suara yang amat miris minta segera di isi dengan bongkahan makanan khas rumahan. Tak ada yang bisa menandingi masakan ibuku –menurutku-.


Ada juga semur ayam dan juga ikan goreng, mungkin karna Ibuk takut mas tidak bisa menyesuaikan dengan makanan kampung.


Setelah selesai sarapan aku bergegas mencuci piring dan beberes dapur dan menyapu. Menggantikan posisi yang seharusnya dikerjakan oleh ibuku. Memang sudah kebiasaan kalo aku pulang, tugas ini akan berganti tahta.


Mas Akmal jalan beriringan dengan Bapak, mungkin menuju sawah depan rumah atau entah duduk – duduk di kursi teras.


Oh iya, rumahku berada di sebuah Kabupaten yang cukup ramai tidak terlalu kampung atau gunung. Kediri – Jawa Timur ? siapa yang pernah dengar ?


Jawa Timur hampir selatan, jauh dari hiruk pikuk kota besar, namun cukup banyak manusia yang berdatangan untuk menimba ilmu, bukan menimba air ya ..


Kampus Kesehatan yang banyak menggaet mahasiswa dari Indonesia Timur, Kampus Agama dan juga Kampung Inggris yang sudah pasti diketahui masyarakat dari segala kalangan. Tak hanya masyarakat lokal, masyarakat dari mancanegara pun tak tanggung – tanggung datang untuk berkunjung.


---


seperti anak sendiri ..


“Bapak udah sempat di telfon sama Yuyun, cerita singkat tentang ada lelaki yang nglamar. Emang sudah serius beneran ?”


Bapak duduk disampingku, di kursi lincak terbuat dari bamboo dibawah pohon melinjo dengan menghadap pemandangan hijau dari tumbuhan jagung dan kacang tanah. Musim kemarau, tanaman tersebut tak memerlukan air cukup banyak.


“Atas restu Allah, saya serius pak. Saya memang tidak bisa selalu berjanji membuat dia bahagia, tapi saya berjanji untuk membuat tangisnya keluar karna tangis bahagia, dan ucapannya selalu terlantung doa. Saya tidak sempurna, semoga dengan adanya dia ibadah kami akan jauh lebih sempurna”


“Jawaban dia gimana ? Kamu juga harus bisa mengerti dia. Keluarga kami seperti ini, bukan dari kalangan orang berada. Kalo kamu sudah serius kamu pun harus bisa terima segala konsekuensi nya nanti. Ibu dan anakmu boleh menerima akan latar belakang kami, tapi keluarga besar kamu ? Omongan negative pasti ada. Jika tidak dari keluarga, pasti dari kalangan teman atau rekan kerja.

__ADS_1


Kamu harus bisa jadi pagar untuknya, siap melindungi wanitamu rumahmu dari segala gangguan dunia luar. Ada saatnya dia jatuh terpuruk akan menghadapi suatu hidup kedepannya dengan seiring berkembangnya zaman. Yang harus kamu tau, memang dari luarnya dia cuek selalu perfect tapi aslinya dia gampang nangis kalo tertekan. Jangan samakan dia saat di tv dan di dunia nyata”


Kalimat panjang yang berupa nasehat – nasehat akan ku catat dengan amat sangat rapi di ingatan kepalaku. Bisa dijadikan bekal untuk menapaki kehidupan rumah tangga nantinya. Belajar kembali apa yang seharusnya dijalankan dan apa yang harus di tinggalkan.


Wanita yang ku pilih kali ini, semoga memang yang terpilih oleh Tuhan. Jodoh dari Tuhan yang memang tepat di waktu yang tepat pula. Bukan berarti nantinya aku akan melupakan Lia, tapi mungkin waktu kita bersama hanya sebatas beberapa ribu hari saja. Sangat – sangat singkat.


Dia tetap istriku, ibu dari anak ku yang telah berjuang demi terlahirnya malaikat cantik yang tetap membuatku bertahan tanpa keluh kesah sampai saat ini.


Nasehat – nasehat dari bapak terus terucap, berdatangan meminta untuk ku pelajari. Restu dari Bapak pun sudah ku dapatkan, sampai saat ini perjalanan masih mulus seperti jalanan ibu kota.


Selisih paham dan masalah pasti sudah menanti, tak akan bisa di tampik lagi. Tuhan selalu menguji umatnya dengan batas kemampuan.


Bukan hanya kesenangan yang di dapatkan dalam berumah tangga, kesedihan pasti ada. Entah factor dari dalam atau luar.


Kuat -  kuatnya kita menjalani bersama, janji sehidup semati yang nanti nya terucap akan dipertanggung jawabkan.


“Mas, kenapa nglamun aja disini ?”


Tanpa sadar, ternyata pembicaraan panjang dengan bapak sudah berakhir. Dan akupun sudah berpindah tempat duduk di teras rumah. melihat kendaraan berlalu lalang ternyata membuat pikiranku pun melayang, memikirkan segala yang akan terjadi ke depannya.


---


**Bersambung\~ **


Bantu Suport hasil halu ku ya,

__ADS_1


semoga bisa jadi teman ngeteh


Salam, Alleya !


__ADS_2