
“Mama” Balita berumur 26 bulan di depan sana dengan gimbulnya berlari menghampiriku.
“Na kangen sama mama, rumah nenek mama jauh ya. Harus naik pesawat dulu” bibir cadelnya terus saja ngoceh, entah kenapa anak ini tak nampak kelelahan.
Ku sambut pelukannya dengan agak jongkok untuk menyetarakan tingginya,
“Mama juga kangen sama Na” Segera ku gendong dan menghampiri mama nya Mas Akmal.
“Assalamualaikum ma, sehat?” Ku ulurkan tanganku untuk menyalami, dan beliau segera menarikku kedalam pelukannya dengan Leona yang masih di dalam gendonganku.
“Waalaikumussalam, Alhamdulillah sehat. Gimana kamu ? Seneng bisa ketemu bapak ibu ya”
Tak perlu ku jawab lagi, dari binar wajahku sudah bisa dipastikan dan sangat jelas mamannya Mas Akmal bisa menebaknya, seberapa bahagianya aku ketika masih diberikan kesempatan untuk pulang ke kampung dan bertemu bapak ibu dengan keadaan beliau masih seger, sehat wal afiat.
Mas Akmal segera mengambil Leona dari gendonganku, dan sudah berceloteh serta bermanja – manja dengan bidadarinya.
Sore menjelang Magrib, dihari Selasa. Mamanya Mas Akmal, Leona, serta dengan si mbak telah mendarat dengan selamat di Juanda.
Kali ini tak perlu menunggu taksi, karna Bapak mengusulkan untuk menyewa mobil saja. Agar lebih efisien di waktu, dan bisa santai dijalan. Apalagi akan ada anak kecil yang ikut serta, takut – takut rewel dijalan dan harus berhenti dulu di rest area.
Tak langsung pulang ke Kediri, karna pasti mama sudah cukup capek maklum sudah ber umur apalagi dengan Leona yang semakin hari semakin pintar dan aktif, walau ada si mbak sih yang siap sedia membantu tapi tak elok rasanya meski ada si mbak kita membebankan setiap saat padanya. Setiap orang mempunyai kapasitas tenaga, ada waktunya untuk istirahat, begitupun sekarang.
Perjalanan Sidoarjo – Kediri pun cukup memakan waktu dan sudah bisa di pastikan akan sampai rumah hampir tengah malam karna situasi jalanan yang tak menentu, bisa lancar ataupun macet.
Avanza putih melaju cukup sedang, membelah jalanan kota Surabaya. Mobil yang sudah sangat – sangat mewah untuk kalangan kampung seperti ku.
“Aku mau bobo sama mama sama mbak”
“Beneran ? Gak mau sama ayah ?”
“Iya bener”
“Gak kangen sama ayah?”
“Gak, aku kangen nya sama mama bukan sama ayah”
“Okey, jangan nakal tapi ya”
Sampai saat ini pun di loby hotel, Leona kembali masuk dalam gendonganku. Mas akmal menawari ku untuk pesan kamar sendiri, tapi aku menolaknya.
“Gak usah mas, aku sama Leona sama mbak aja gpp. Sayang uangnya bisa buat kebutuhan lain”
__ADS_1
“Uang bisa dicari dek, yang penting kenyamanan”
Rasa sungkan dan tak enak hati mengganjal di hati, tapi mau di sela pun percuma malah takutnya bertengkar. Aku tipikal orang yang, apa – apa terima saja asal jangan bertengkar.
---
Keesokannya di waktu Dhuhur kami tiba kembali di Kediri, segera para laki – laki bergegas jamaah di mushala belakang yang masih satu area karna memang mushala yang dulunya dipergunakan untuk keluarga saja setelah beliau wafat baru dipergunakan untuk umum. Maklum orang desa anaknya banyak – banyak jadi sholat pun
sekeluarga pasti punya mushala atau bahkan masjid.
Dirumah sudah ramai bude – pakde dan para sepupu karna memang ibu ku anak terakhir di keluarganya. Acara lamaran sederhana kali ini diselenggarakan, cukup simple dan begitu cepat. Semoga ini jodoh ya tepat juga, batinku.
Adat jawa, kalau mau menikah harus di cocokan weton dan pasarannya. Di hitung apakah cocok atau tidak, banyak juga yang tidak cocok dan berakhir selesai pada tahap ini. Masyarakat jawa percaya akan hitungan weton ini.
Apapun hasilnya, jika jodoh pasti akan dicocokkan.
---
“Ndul, kamu pulang kog nggak kasih kabar aku?” Suara teriakan dari Ika, sahabatku semasa Aliyah ini menggema seisi ruangan.
“Halo ponakan ateu ? Gimana kabarnya ganteng. Sehat ? Kenapa tuh nak bundamu teriak – teriak ?”
“Kenapa sih kamu ? Ponakanku kangen tuh”
“Iya, ateu nya minggat jauh. Nggak pulang – pulang, sekalian pulang nggak kasih kabar. Mana oleh – olehnya kerak telor ?”
“Elah, basi dong kalo harus bawa dari Jakarta. Beli di Pare juga sekarang udah banyak yang jual”
“Kalo dari Jakarta kan sudah terjamin keasliannya, orisinil gak pakek tambahan”
“Lo piker apaan kalek pakek orisinil kayak onderdil motor aja. Main dong ke Jakarta, nanti biar puas makan kerak telor” Saat hamil, Ika pernah malem – malem telfon hanya kepengen lihat aku makan kerak telor, untung masih ada yang jualan. Ibu hamil kalo nyidam memang suka aneh.
“Eh kamu udah ada kabar belum, sabtu anak – anak kan mau adain Reunian. Banyak yang bilang dari pihak panitia penyelenggara kamu susah di hubungin, aku ditanyain ya diem aja bilang gak tau kontak mu. Takut disebarin bok, kan udah jadi penyiar Ibu Kota”
“Edan lo”
“Elo bisa datang gak ? masih keburu atau udah harus cus lagi ?”
“Besok deh, tanya bapak dulu boleh apa enggak. Minggu sore aku balik Jakarta lagi”
“Yaelah anak gadis, mau kemana – mana pamit dulu sama bapak. Tenang, ga ada yang mau culik kog makanmu banyak soalnya”
__ADS_1
“Eh jangan sembarangan lo, nanti gue nikah gak pulang – pulang lagi lo yang kangen”
“Emang udah nemu jodohnya?”
“Tunggu aja undangan dating kerumah lo, jangan sampek jantungan loh”
“Ah elo mah, pasti becandaan mulu”
Dalam persahabatan, sebenarnya tak pernah ada rahasia di antara kita. Tapi untuk kali ini, biarlah menjadi rahasia antara aku, keluarga yang terkait dan Allah saja. Takut akan kegagalan yang pernah ku alami.
Telfon dengan Ika sudah terputus, jam di dinding sudah berdenting dengan cukup nyaring pertanda sudah tidak ada lagi kesibukan di jalanan mengakibatkan suara kecil pun terdengar nyaring.
Gosok gigi sudah, wudhu, cuci kaki juga sudah, saatnya mengistrahatkan tubuh. Ku ambil handphone untuk di charger. Terkejut akan panggilan tak terjawab beberapa kali dari Mas Akmal. Ada apa ya ?
“Assalamualaikum, ada apa mas ?” Segera ku telfon balik, takut terjadi apa – apa karna mungkin kota ini cukup asing bagi Keluarganya.
“Waalaikumussalam, ga ada apa – apa. Tadi Leona yang telfon”
“Sekarang mana dedek ?”
“Udah bobok, tadi dia pengen telfon kamu. Nunggu kelamaan jadi ketiduran”
“Maaf ya mas, tadi aku telfon sama teman di kampung”
“Iya gak papa, udah malem cepet istirahat”
“Iya mas, besok pagi aku telfon dedek ya”
Telfon terputus~ Untuk kali ini aku merasakan sedikit ada rasa tak enak hati, entah bagaimana menyebutnya. Yang jelas, kenapa telfonnya hanya karna Leona, bukan karna kepentingan pribadinya untuk menghubungiku.
Karna lelah, akhirnya aku tertidur.
---
**Bersambung\~ **
Bantu Suport hasil halu ku ya,
semoga bisa jadi teman ngeteh
Salam, Alleya !
__ADS_1