KEPINCUT DUDA DINGIN

KEPINCUT DUDA DINGIN
MEMBUKA HATI


__ADS_3

Setelah kejadian mimpi seorang wanita itu, hari – hariku tetap sama seperti biasa. Pagi menemani Leona bermain, yang sekarang lagi aktifnya berjalan kesana kemari.


Cuci mobil dan café sudah ada yang menghandle, sisanya aku tinggal ngecek kinerja meraka.


Setelah hari menjelang siang dan pastinya sudah selesai bersiap, aku dan Leona plus si mbak pastinya menuju bilangan Tebet.


Kerjaan sedikit menumpuk hari ini, banyak café cabang yang harus di rubah konsepnya karna trend masa kini.


Terdengar suara Leona menangis, ku tengok jam yang mengantung dengan anggun di dinding sudah saatnya Leona makan siang.


Segera ku langkahkan kakiku keluar pintu ruang kerja, Leona yang tadi terdengar menangis sekarang sedang duduk anteng dengan di suapi seorang wanita. Sialnya wanita itu duduk membelakangiku


“Maaf pak, tadi adek nangis susah makan. Trus ada pelanggan yang ngajakin maen eh adek diem jadi sekalian di suapin”


“Kalo bapak tidak berkenan akan saya ambil dedek nya”


“Sudah mbak, biar saya yang kesana”


Segera ku ayunkan kakiku menuju meja di dekat jendela. Teringat ada wanita yang mengusik hatiku dan seringkali duduk di tempat ini saat berkunjung.


“Adek, kog anteng. Di suapin siapa sih?”


“Maaf ya pak, anaknya tadi nangis nggak mau makan. Jadi coba saya ajakin maen” Ucap wanitu itu sambil menoleh


Wanita ini, yang beberapa hari belakangan sering kali tiba – tiba muncul di mimpi. Dan tanpa sadar sering ku perhatikan saat di berkunjung ke sini.


“Oh iya silahkan, Leona susah nempek sama orang baru. Tumben sama mbak kog nggak nangis malah mau di ajakin”


Ku lihat wanita itu hanya tersenyum, Nampak manis dengan tambahan lesung pipi dan mata menyipit seperti bulan sabit.


“Mbak telaten banget, anaknya sudah berapa?”


Terlihat dia hanya tertawa garing, “Jangankan anak pak, suami saja belum ada. Masih sendiri”


“Maaf mbak, saya nggak tau”


Wanita secantik ini, masak iya belum ada yang punya ?


“Ayo dong dek maem dulu, nanti bapak sedih kalo adek nggak mau makan”


Ku tengok ada anak kecil sedang di gendong si mbak nya yang dengan susah payah menyodorkan sendok makanan.

__ADS_1


Nangis dan merona – ronta menjadikan si mbak agak kuwalahan, entah kenapa hatiku merepih. Mungkin kalo aku sudah menikah, aku pasti sudah punya anak seumuran adek itu.


Dengan langkah pasti, aku menghampiri anak tersebut “Kenapa nangis ? sini sama tante, tante gendong”


Kedua tanganku ku ulurkan, anak kecil tersebut berhenti menangis. Dengan mata yang masih basah akan air mata sedikit berujar “Mama” dan buru - buru si mbak berkata


“Adek itu tante, bukan mama ya” dengan wajah yang menghadapku dengan tatapan memohon maaf. Hanya ku jawab dengan senyuman dan tetap mengambil anak tersebut dari gendongan si mbak.


“Maaf ya anak saya meropotkan”


Aku tersadar, ini kan yang beberapa hari lalu ku lihat fotonya di Instagram.


“Tidak merepotkan, kebetulan saya memang sudah saat nya kan punya sendiri” Jawabku yang tanpa sadar terdengar ambigu. Ah nanti pasti aku dikira orang gila, batinku


Tanpa sadar, hari – hari selanjutnya aku selalu bersemangat mengunjungi café tersebut untuk menulis dan mencari inspirasi dan pastinya juga untuk bermain dengan Leona. Dan entah kenapa ayahnya pun sering melihat kami bermain dari kejauhan. Ah mungkin takut anaknya ku bawa lari, pikirku


Dari cerita si mbak, ternyata Leona telah ditinggal ibunya menghadap sang khalik entah meninggal karena apa aku tak berani bertanya karna memang bukan hak ku dan aku sadar tidak sepantasnya mengetahui cerita orang yang baru ku kenal.


“Malam ini kamu ada waktu ?”


---


Rasa yang mengganjal di hati pun sudah berusaha ku lebur dengan bercerita ke mama.


Antusias, sangat antusias saat aku menceritakan kegelisahanku pada mama dan beliau tersenyum dengan sangat ayu.


Tak lupa aku juga berziarah ke makam mendiang istriku, ibunya Leona.


Semoga mas bisa bahagia kedepannya, cari teman buat jagain Leona. Kasihan mama kalo selalu di repotkan. Ucapnya dalam mimpiku


Dulu aku dan mendiang istriku pun menikah tanpa proses perkenalan yang lama. Sudah sama – sama mantap menikah dan sepakat berpacaran halal setelah menikah.


Teringat cukup waktu yang lama kami untuk mempunyai anak, karna memang ada permasalahan dalam rahimnya.


Sampai suatu ketika dokter mengabarkan Lia, mamanya Leona mengalami pendarahan setelah satu minggu usai melahirkan.


Koma hampir 1 bulan dan berakhir pergi meninggalkan Leona yang masih sangat – sangat kecil. Hingga sekarang sudah tumpuh dengan cepat dan tak terasa sudah berumur 2 tahun bulan depan.


Lia, wanita yang juga sudah ditinggal ibu bapaknya saat masih duduk dibangku SMP, meninggal karna kecelakaan ketika kunjungan kerja.


Lia yang saat itu tinggal dengan neneknya, sering kali hadir kajian di Masjid desa sebelah. Mama yang juga sering kali ikut kajian mulai tertarik dengan pribadi Lia mencoba mengenalkan. Ternyata cocok, dan akhirnya menikah setelah perkenalan singkat saat acara Lamaran.

__ADS_1


“Malam ini kamu ada waktu?” Ucapku dengan hati berdebar, setelah beberapa kali mendengar cerita dari si mbak, dan hasil stalking dari media sosialnya bahwa wanita ini memang sedang kosong tak ada pasangan.


“Ada pak, kenapa? Leona mau main lagi ya?”


“Nggak, ini saya mau bicara sama kamu”


“Boleh pak, mampir ke rumah boleh, atau mau jumpa dimana”


“Mampir boleh, nanti saya kabari” memang kami sempat bertukar nomor, karna saat itu Leona menangis dan alhasil dibawa pulang sampai Leona tertidur.


Jam menunjukkan pukul 7 malam, setelah meeting segera ku meluncur menuju rumah wanita tersebut, Yuanita.


Setelah sebelumnya mengabarkan jika akan mampir kesana.


“Mau bicara apa sih pak, serius banget?” Ucapnya dengan nada tertawa setelah aku mengangsurkan martabak manis beli di pinggiran jalan tadi.


Setelah duduk di kursi teras depan rumah,


“Sebelumnya saya mohon maaf jika kehadiran saya mengusik kamu. Kamu pastinya juga sedikit banyak tahu tentang saya.


Jika ada ucapan saya yang sudah melebihi batas, dan mengganggu diri kamu mohon di ingatkan.


Sebelumnya, saya ingin bilang. Saya duda, mamanya Leona meninggal setelah melahirkan karena pendarahan. Di umur saya yang segini, dan melihat kamu dekat sekali dengan Leona, maka saya berniat membuka hati dan serius menjalin hubungan dengan kamu. Kamu pasti tau niat saya bagaimana.


Sebelumnya saya sudah siap akan penolakan kamu, tak sepantasnya kamu memilih saya yang duda. Tapi melihat Leona, percaya diri saya tambah bebarapa persen saja.”


Dengan hati yang masih berdebar, aku mencoba melanjutkan beberapa untaian lagi,


“Jadi, saya Akmal Maulana berniat serius dengan kamu Yuanita. Saya tak bisa berjanji apapun dengan kamu, yang pasti saya akan


berusaha jujur dan membahagiakan kamu semampu saya sekuat saya”.


---


**Bersambung\~ **


Bantu Suport hasil halu ku ya,


semoga bisa jadi teman ngeteh


Salam, Alleya !

__ADS_1


__ADS_2