Kesayangan Tuan Rav

Kesayangan Tuan Rav
Part 2


__ADS_3

Rav menghentikan motornya di depan gerbang mansion, dia membunyikan klakson. Dengan tergesa-gesa seorang bodyguard membuka pagar yang menjulang tinggi di depannya.


Zahra menatap mansion milik Rav dengan kagum, rumah ini lebih mewah dari rumah orang tua angkatnya. Dia tak menyangka orang seperti Rav ternyata anak orang kaya.


Rav turun dari motornya diikuti oleh Zahra.


"Ayo Zahra kita masuk!" ajak Rav.


Zahra hanya mengangguk kecil, mereka mulai memasuki mansion dengan langkah pelan.


Di ruangan tamu yang cukup besar sudah ada Arga yang tengah membaca majalah, dan Alfi yang sedang menyuapi Rex. Walaupun Rex sudah besar dan berusia 16 tahun, tapi dia begitu manja. Mungkin karena anak terakhir.


"Bunda, Daddy!" panggil Rav.


"Rav ...!" Mereka bertiga terkejut, bukan sebab kepulangan Rav. Dia sudah biasa pulang malam karena harus mengerjakan beberapa tugas kuliah bersama teman-temannya, tapi yang membuat mereka terkejut adalah Rev membawa pulang seorang wanita dalam keadaan acak-acakan.


Alfi bangkit dari duduknya, dia berjalan menghampiri Rav.


"Rav kamu ngapain bawa cewek dalam penampilan acak-acakan begini, kamu gak ngapa-ngapain, 'kan?" Alfi mulai menangis jika benar Rav melakukan yang tidak-tidak di luaran sana.


"Eh-eh, Bun. Rav nggak ngapa-ngapain kok ... ini namanya Az-Zahra. Tadi, pas di perjalanan pulang Rav ketemu dia. Dia mau bunuh diri masa, jadinya Rav langsung tolongin dan setelah denger ceritanya yaudah Rav bawa pulang," jelasnya.


"Kamu gimana, sih. Rav kalau keluarganya nyariin gimana? Dia itu anak gadis tidak pantas kamu bawa pulang kemari dalam keadaan seperti itu, nanti orang-orang bisa salah paham," ujar Arga angkat bicara.

__ADS_1


"Rav tau Dad, nanti Rav jelasin kenapa Rav bawa dia ke sini. Tapi Bun boleh ya pinjemin dia baju, kasian."


"Iya, yuk Nak Zahra!" ajak Alfi.


Zahra menatap Rav. "Udah ikut aja, Bunda gak gigit kok." Rav menyengir.


"Bunda gak gigit, tapi nerkam," ujar Rex.


"Sst! Rex, gak boleh gitu!" tegur Arga.


"Sorry, Dad."


Zahra pun ikut dengan Alfi ke kamar tamu milik mereka, sedangkan Rex menjelaskan kronologi kejadian yang membuat Rex terpaksa membawa Zahra pulang bersamanya.


"In Syaa Allah, enggak."


"Yaudah sana istirahat, jangan lupa mandi."


"Rav ke kamar dulu." Arga mengangguk.


"Good night baby Rex," ujar Rav.


"Jangan panggil gue baby!" kesalnya.

__ADS_1


Pasalnya Rav dan Alfi selalu memanggil Rex dengan sebutan 'baby' Dia benar-benar tidak menyukai panggilan itu, diakan sudah besar kenapa masih dipanggil baby.


----------------


Alfi yang mendengar cerita Zahra tentang dirinya yang dibenci keluarga angkatnya tak kuasa untuk tidak menangis, Alfi memang masih cengeng walaupun sudah berumur.


"Kasian kamu, Nak." Alfi memeluk Zahra sambil menangis, Zahra sempat terkekeh dengan sikap Alfi.


"Gak papa Tante."


"Tante pernah ada di posisi kamu. Dibenci oleh keluarga sendiri, untung Daddy-nya anak-anak mau menikah dengan Tante. Dan kehidupan Tante berubah menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu."


"Semoga aku pun bisa seperti Tante suatu saat."


"Aamiin, huaa!" Alfi kembali menangis saat mengingat masa lalunya yang hampir mirip dengan Zahra.


"Udah Tante, jangan nangis!" Sekarang malah Zahra yang harus menenangkan Alfi yang mulai menangis kejer.


"Alfi kebiasaan kamu, bisa gak setiap denger cerita sedih gak usah nangis segala!" kesal Arga menghapus air mata Alfi.


"Orang Alfi sedih!" bentak Alfi memukul dada bidang Arga.


Zahra hanya terkekeh, andai kedua orang tuanya masih ada. Pasti kurang lebih sama seperti Arga dan Alfi

__ADS_1


BERTEMBUNG...


__ADS_2