
"Huum, ada yang kurang nih," ujar Rex.
"Kurang garem, ya?" tanya Zahra menatap Rex
"Bukan garem, kurang banyak." Semua tertawa mendengar ucapan Rex, dasar baby boy doyan makan. Kayanya kayu sama batu di sup pasti dia bilang enak juga.
"Mantu idaman," ujar Rex.
Zahra yang mendengarnya hanya tersenyum, sejenak dia bisa melupakan permasalahannya. Tapi perasaan kecewa itu selalu saja menghampiri.
...----------------...
"Cepat kalian cari di mana Zahra berada!"
"Baik, bos."
"Buat apa, sih. Kamu masih mikirin anak itu? Dia itu cuma bawa masalah buat kita," ujar Diana—ibu angkat Zahra.
"Bagaimanapun dia anak kita juga, dari kemarin dia tidak pulang. Ntah, di mana dia?"
"Udahlah biarin aja, ntar juga kalau dia butuh uang bakal pulang sendiri."
"Ini semua gara-gara kamu."
"Kok kamu jadi nyalahin aku, sih?!"
"Kalau kamu gak bohong tentang pernikahan Dylan dengan Aruna, Zahra gak akan pergi dari rumah ini."
"Terus apa masalahnya? Biarin aja dia pergi, seenggaknya beban kita hilang ... orang kamu juga ngedukung waktu aku bohong sama Zahra."
"Kalau aku tau dengan kebohongan ini Zahra akan pergi, aku gak mau bohong sama dia."
"Maksud kamu. Kamu lebih memilih anak angkat kurang ajar itu dibandingkan anak kamu sendiri? Kamu mau anak kita Aruna menderita dengan tidak menikah? Kalau Aruna tidak hamil di luar nikah. Aku juga gak mau ngelakuin ini, tapi mau bagaimana lagi!" bentaknya.
"Apa yang terjadi sama Aruna, kamu juga penyebabnya."
__ADS_1
"Stop nyalahin aku!"
"Emang semua itu salah kamu!"
"Mas Faisal, kamu!"
"Sudahlah, aku capek."
"Argh ...!"
Prang!
...----------------...
"Rav, kita mau ke mana?"
"Kita mau ke mall, aku mau beliin kamu baju."
"Enggak usah, aku jadi gak enak."
"Enggak, sih."
"Yaudah makanya nurut, oke?"
"Iya."
Rav pun menuruni anak tangga, ternyata di lantai bawah sudah ada Arif dan Anaya.
"Mau ke mana, Rav?" tanya Anaya. "Ini Kak, aku mau pergi sama Zahra."
"Katanya Lo mau nganterin gue?!" kesal Rex.
"Iya, tapi Lo harus penuhi dulu syaratnya."
"Harus?"
__ADS_1
"Iya, kalo enggak. Lo jalan kaki ke sekolah."
"Ish! Oke-oke."
Rex berdiri di depan Elvino, Rav mati-matian menahan tawa.
"Ka--kak Elvino. Ma--maaf."
Muach.
"Aaa!" Amanda tampak syok saat Rex mencium pipi Elvino, Elvino menatap tajam Rex.
"Rex cuma di suruh bang Rav," ujarnya saat melihat wajah Elvino yang terlihat marah.
"Rav!" Arif menatap tajam ke arah Rav.
Rav menyemburkan tawanya. "Kamu malah ketawa, sih!" kesal Anaya.
"Jangan marah, ya. Rex emang terlalu penurut. Mau aja di kerjain Rav," ujar Anaya mengusap punggung Elvino, sebenarnya Amanda juga ingin tertawa. Tapi dia tahan sebisa mungkin.
"Udah, 'kan? Ayo anterin gue ke sekolah."
"Oke-oke. Zahra gak papa, 'kan kalau kita nganterin Rex dulu?"
"Iya, gak apa-apa kok."
Rav, Rex dan Zahra menyalimi tangan Arif dan Anaya.
"Jangan marah, ya. Kak Elvino... kalau bukan karena supir Rex sakit Rex gak mau ikut sama bang Rav, dan cium Kakak kaya tadi." Rex menyengir lebar.
Elvino hanya memasang wajah datar. "Iya, udah sana berangkat," ujar Amanda.
Akhirnya Rav pun mengantar Rex ke sekolah, sekalian menuju mall.
BERTEMBUNG... Semoga Suka
__ADS_1