Kesayangan Tuan Rav

Kesayangan Tuan Rav
Part 8


__ADS_3

Saat memasuki ruangan tengah, Annisa tak sengaja melihat Zahra yang sedang mengobrol dengan Rav. Annisa merasakan perasaan aneh ketika melihat Zahra, dia tidak pernah tau wajah Zahra ketika dia dewasa. Jadi, dia tidak mengenali Zahra saat ini.


"Kenapa?" Revan menepuk pundak Annisa. "Nggak."


'Siapa gadis itu?'


Para tamu undangan makan malam pun tengah berbincang-bincang lebih dulu sebelum ke acara inti, para pria mereka asik mengobrol tentang bisnis sedangkan para istri-istri ataupun pacar-pacar mereka justru mengobrol asik dengan sang nyonya rumah—Anaya. Tentunya di ruangan yang berbeda.


"Cewek yang bersama Rav itu siapa?" tanya seorang wanita yang penampilannya cukup mencolok.


Anaya menoleh ke arah Zahra yang asik mengobrol dengan Rav dan Rex.


"Oh dia. Itu, namanya Zahra."


Deg.


"Za--Zahra?!" kaget Annisa, "Iya."


"Kalau boleh tau apa hubungannya dengan kamu, Na?"


"Ceritanya panjang, tapi intinya Rav yang bawa dia ke sini. Akhirnya dia pun tinggal di sini untuk sementara."


"Oh."


"Zahra sini!" panggil Anaya.


"Aku ke sana dulu."


"Jangan lama-lama, nanti aku rindu." Rav memasang wajah imutnya.


"Idih! Wlee!" Rex rasanya ingin muntah.


"Apaan, sih. Lo juga gitu kalau ketemu Rose."


"Jangan bahas Rose dalam hal ini!" tegas Rex.


"Ck!"


Setelah mendengarkan berdebatan antara adik kakak itu, Zahra pun berjalan menghampiri Anaya.


"Iya, Tante?"

__ADS_1


"Zahra kenalin ini temen-temennya Tante."


"Halo, Tante. Aku Zahra."


"Halo juga."


Annisa hanya menatap sendu Zahra, kalau dilihat-lihat wajah Zahra, ini sekilas mirip dengan Faisal. Apakah Zahra ini anaknya yang hilang?


'Wajah dan namanya sama kayak anak aku yang hilang.'


"Kalau gitu Zahra balik ke Rav dulu, ya."


"Iya, silakan!"


Zahra pun bergegas kembali menghampiri Rav.


"Cantik banget, ya." puji teman-teman Anaya.


"Na, kalau boleh tau gimana ceritanya Zahra bisa ketemu sama Rav?" tanya Annisa dia benar-benar penasaran, apakah Zahra ini benar anaknya.


"Ceritanya ...."


Anaya pun menceritakan kejadian yang menimpa Zahra, Annisa mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan Anaya. Semua yang Anaya ceritakan itu sama dengan yang Faisal ceritakan yang membuat Zahra pergi dari rumah.


'Pu--putriku ....'


...----------------...


Acara makan malam pun selesai, setelah sedikit berbincang. Para tamu undangan pun memilih untuk segera pulang, karena ini juga sudah malam. Sudah hampir jam 12.


'Mama akan kembali lagi buat jemput kamu sayang.' Annisa menatap hangat Zahra yang tersenyum ke arahnya.


Annisa mengelus rambut Zahra, Zahra yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa nyaman. Ini yang disebut ikatan batin antara ibu dan anak.


"Tante pulang dulu."


"Hati-hati, Tante!"


"I--iya."


Setelah semua tamu pulang, Anaya dan Arga pun segera pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


"Kita tidur, yuk!" ajak Rav.


"Duluan aja sana, lagian kita gak satu kamar."


"Kalau kita tidurnya satu kamar, gimana?"


Bug.


Zahra memukul dada Rav sambil menatapnya tajam, sedangkan Rav hanya menyengir tanpa dosa.


"Lo berdua mau tidur apa mau begadang nemenin nyamuk?"


"Ini juga mau tidur!" ketus Rav.


"Yaudah sana tidur!"


"Ayo sayang, eh maksudnya Zahra."


"Dasar kumis lele!"


"Apa Lo?!"


"Apa?!"


"Udah-udah! Aku duluan." Zahra pun memilih untuk segera masuk kamar, rasanya dia pusing mendengarkan perdebatan antara adik kakak ini.


"Eg mau ke mana, Lo?"


"Mau ke kamar lah."


"Kamar Lo di sono Agus!" Rex membelokkan badan Rav menuju tangga.


"Orang kamar gue di sana!"


"Itu kamar Zahra, udah sono! Gue bilangin daddy nih?"


"Iya-iya, gak bisa apa lihat abangnya seneng."


"Kalau Lo berdua muhrim iya, lah ini kagak ada hubungan apa-apa mau satu kamar, Ngadi-ngadi."


Rav memutar bola matanya malas, Rex si paling Sholeh memang.

__ADS_1


BERTEMBUNG...


__ADS_2