Kesayangan Tuan Rav

Kesayangan Tuan Rav
Part 3


__ADS_3

Pagi harinya Zahra bangun awal setelah melaksanakan kegiatan subuhnya, dia turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan. Rasanya tidak enak jika tinggal di sini tapi tidak melakukan apapun.


Zahra kelimpungan sendiri mencari-cari di mana letak dapur di mansion Rav ini, rumahnya terlalu mewah untuk Zahra. Sampai-sampai dia tidak menemukan di mana dapur.


"Zahra ngapain kaya orang bingung gitu?" tanya Anaya yang heran melihat Zahra sudah seperti orang linglung.


"Eh, ini Tante. Zahra bingung dapur di rumah ini di mana, ya?" tanya Zahra malu-malu, bisa-bisanya dia tidak tahu letak dapur. Wajar memang karena dia baru di mansion ini.


Anaya terkekeh. "Emang kamu mau ngapain nyari-nyari dapur?"


"Zahra mau masak," jawabnya.


"Gak usah, di mansion ini ada chef khusus kok. Kamu gak perlu repot-repot masak segala, udah tinggal makan aja." Anaya memberikan senyuman manisnya.


"Gak enak Tante rasanya kalo Zahra cuma diam-diam aja, Zahra udah biasa kok beres-beres rumah sama masak juga."


"Tapi kamu, 'kan tamu. Masa masak sendiri."


"Gak papa Tante, boleh ya?" mohon Zahra dengan wajah imutnya, 11-12 dengan Anaya.


Anaya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Yaudah deh, tapi masak yang simpel-simpel aja. Ini cuma sarapan doang."


"Iya, Tante. Makasih."


Cup.


Zahra secara refleks menc1um pipi Anaya. "Ma--maaf Tante, Zahra refleks." Zahra merasa bersalah karena telah lancang menc1um pipi Anaya saking senangnya.


"Gak papa, Tante udah biasa kok disosor ... disosor Rav, Rex Amanda. Dan om Arif," bisik Anaya tersenyum geli sendiri.


Zahra tertawa kecil, Anaya ini masih seperti dulu. Kaya anak kecil walaupun anak sudah tiga.


Setelah mendapatkan izin Zahra segera bergegas menuju dapur setelah ditunjukkan oleh Anaya, dia memakai celemeknya dan bersiap untuk memasak nasi goreng plus telor ceplok.


****************


"Hoam!" Rav merentangkan otot-otot tangannya, Rav duduk sambil mengumpulkan nyawanya.


"Bang, bangun!" teriak Rex dari luar kamar Rav

__ADS_1


"Gua udah bangun Bambang!" kesal Rav masih dengan suara beratnya. Karena baru bangun dari tidur.


Ceklek!


Rex masuk ke dalam kamar Rav, kamar Rav memang tidak pernah dikunci. Jadi, siapa saja bisa masuk ke kamarnya yang semuanya bernuansa gold.


"Bang, nanti anterin gue ke sekolah, ya?" mohon Rex.


"Lo, 'kan biasanya diantar supir. Ngapain nyuruh-nyuruh gue? Gak bisa gue banyak urusan!" tolak Rav.


"Supir yang biasanya nganter gue lagi sakit, masa gue jalan kaki?"


"Yaelah, Lo tinggal jalan dari sini ke sekolah. Paling 30 menit nyampe," ujarnya enteng.


"Lo enak ngomong gitu, lah gue yang jalan. Masa seorang anak CEO kaya ke sekolah jalan kaki."


"Makanya belajar bawa motor."


"Gua masih 16 tahun, nanti yang ada gue ditilang."


"Yaudah belajar sepeda."


"Ayolah, bang!" bujuk Rex lagi.


"Oke-oke, tapi ada syaratnya."


"Lu mah pake syarat-syaratan!" kesalnya bersedekap dada.


"Mau gak? Kalau gak mau yaudah."


"Ish! Iya-iya, apa syaratnya?"


"Lo harus c1um kak Elvino di depan kak Amanda."


"Hah! Gila kali yeh? Masa itu syaratnya?"


"Yaudah kalau gak mau, Lo jalan kaki sana." Rav tak kuasa menahan tawanya membayangkan Rex menc1um Elvino Kakak iparnya di depan Amanda langsung, Rav-Rav dia emang si paling jail.


"Yaudah, ok." pasrah Rex.

__ADS_1


"Gitu dong, itu baru baby boy nya bang Rav." Rav mengacak gemas rambut Rex.


"Tau ah."


Rav hanya tertawa kecil melihat Rex yang ngambek.


****************


Setelah beberapa menit akhirnya sarapan yang dibuat Zahra sudah jadi, kini dia sedang menyajikannya di meja makan.


Tak berselang lama, Anaya dan yang lainnya mulai duduk di kursi masing-masing.


Rav tersenyum kepada Zahra. Zahra yang mendapat senyuman pagi dari Rav hanya menunduk malu.


"Tumben sarapannya nasi goreng? Biasanya roti," ujar Arif.


"Soalnya yang masak pagi ini adalah Zahra." Anaya menatap Zahra yang hanya menunduk.


"Ini kamu yang masak?" tanya Rav kebetulan mereka duduk berdampingan.


"I--iya, maaf kalo rasanya kurang enak."


"Enggak, kok. Ini enak, iyakan Dad?" Rav menatap Arif.


"Iya, enak. Walaupun masih enakan masakan Anaya." Arif mengedipkan matanya membuat Anaya bersemu merah.


"Iya, deh. Masakan Bunda yang terbaik." Rex mengacungkan jempolnya.


"Huum, ada yang kurang nih," ujar Rex.


"Kurang garem, ya?" tanya Zahra menatap Rex.


"Bukan garem, kurang banyak." Semua tertawa mendengar ucapan Rex, dasar baby boy doyan makan. Kayanya kayu sama batu di sup pasti dia bilang enak juga.


"Mantu idaman," ujar Rex.


Zahra yang mendengarnya hanya tersenyum, sejenak dia bisa melupakan permasalahannya. Tapi perasaan kecewa itu selalu saja menghampiri.


BERTEMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2