Kesayangan Tuan Rav

Kesayangan Tuan Rav
Part 9


__ADS_3

Acara makan malam pun selesai, setelah sedikit berbincang. Para tamu undangan pun memilih untuk segera pulang, karena ini juga sudah malam. Sudah hampir jam 12.


'Mama akan kembali lagi buat jemput kamu sayang.' Annisa menatap hangat Zahra yang tersenyum ke arahnya.


Annisa mengelus rambut Zahra, Zahra yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa nyaman. Ini yang disebut ikatan batin antara ibu dan anak.


"Tante pulang dulu."


"Hati-hati, Tante!"


"I--iya."


"Halo, mas. Mas aku udah ketemu sama anak kita."


"Serius kamu? Di mana sekarang dia?"


"Ternyata dia ada di rumahnya temen bisnis suami aku, tuan Arga namanya. Selama ini merekalah yang telah mengurus Zahra."


"Yaudah, kalau gitu kita ke sana buat jemput Zahra."


"Iya, mas."


...****************...


Rav menatap lurus ke depan, rasanya dia tidak ingin pergi ke kampus. Ntah. kenapa seperti akan ada sesuatu yang terjadi. Nalurinya berkata 'Zahra' tapi apa yang akan terjadi dengannya?


Alfi yang melihat Zahra hanya duduk diam pun berjalan menghampiri anak keduanya itu.


"Kok kamu masih di sini, gak mau ngampus?"


"Nggak."


"Kenapa?"


"Gak papa."


Alfi duduk di samping Rav. "Kamu lagi ada masalah? Cerita aja sama Bunda."

__ADS_1


"Nggak ada masalah apapun, kok."


"Bohong, Rav itu anak Bunda. Bunda tau kalau kamu lagi ada yang dipikirkan."


Rav menghela nafas. "Sebenarnya Rav itu ngerasa gelisah, Bun."


"Gelisah kenapa?"


"Gak tau, tapi Rav terus aja kepikiran Zahra. Rav ngerasa akan ada sesuatu yang terjadi sama dia, dan Rav mutusin buat gak ke kampus."


"Oh yaudah, tapi jangan terlalu dipikirin semoga gak ada apa-apa."


"Amin."


"Bunda masuk dulu, ya."


"Hem."


Sekitar pukul 10.34 Annisa dan suaminya sudah tiba di daerah rumah Arga. Mereka sedang menunggu Faisal dan Diana.


"Sayang, apa Zahra akan percaya kalau kamu ibu kandungnya?" tanya sang suami.


Tak lama mobil milik Faisal dan Diana pun datang. "Itu mereka."


"Sa!"


"Mas."


"Kamu yakin Zahra ada di rumahnya tuan Arga?"


"Aku yakin, mas. Aku lihat sendiri kemarin ... awalnya pas Anaya bilang nama gadis yang ada di rumahnya namanya Zahra. Aku juga gak langsung ngeh itu dia, tapi setelah denger ceritanya gimana dia bisa tinggal di sana. Aku baru yakin itu anak kita, soalnya apa yang dialami Zahra itu sama seperti yang kamu ceritakan."


"Kalau gitu jangan lama-lama, ayo kita ke sana dan jemput Zahra."


"Iya."


Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil untuk segera tiba di mansion Arga, mereka sudah tidak sabar ingin bertemu anak yang selama ini mereka cari.

__ADS_1


"Mama datang sayang," gumam Annisa, dia benar-benar berharap anaknya mau menerimanya dan memaafkannya.


Di sisi lain, Zahra merasakan perasaan yang aneh. Dia merasa akan ada yang datang dan membawanya pergi.


"Semoga perasaan yang aku rasakan tidak terjadi."


Beberapa menit kemudian, Anissa dan yang lainnya tiba di mansion Arga. Para bodyguard langsung membuka gerbang.


"Maaf, ingin bertemu dengan siapa?" tanya seorang bodyguard.


"Sa--saya ingin bertemu tuan Arga, apa beliau ada di rumah?" tanya balik Annisa.


"Tuan kebetulan memang ada di rumah, tapi ada keperluan apa anda mencari tuan?"


"Ada urusan pribadi yang gak bisa kami beritahu."


"Baiklah, tunggulah dulu!"


"Iya."


Bodyguard itu pun masuk ke dalam mansion.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi Tuan."


"Masuk!"


Ceklek!


"Ada apa?"


"Ada yang ingin bertemu."


"Siapa? Apa klien?"


"Bukan."

__ADS_1


"Lalu ...?"


__ADS_2