Kesayangan Tuan Rav

Kesayangan Tuan Rav
Part 6


__ADS_3

Setelah mengantarkan Zahra sampai depan gerbang mansi on, Rav langsung melajukan mobilnya menuju kampus karena ini sudah siang. Dosen nya sudah pasti menunggunya.


Sedangkan Zahra dia masuk ke dalam mansion.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam," jawab Anaya. "Kamu udah selesai belanjanya?"


"Udah Tante."


"Yaudah kamu taro belanjaan di kamar, ya."


"Iya, Tante. Zahra ke kamar dulu."


"Iya."


...----------------...


"Permisi, pak." Rav menyengir saat ditatap tajam oleh dosennya yang terkenal galak.


"Dari mana kamu jam segini baru sampai?"


"Hehehe, maaf pak. Tadi, saya habis nganterin pacar saya belanja."


"Alasan aja kamu, udah sana duduk!"


"I--iya, misi pak."


Rav segera duduk di bangkunya yang kebetulan bersebelahan dengan temannya--Ammar.


"Lo abis jalan sama Alice?"


"Ya gak lah."


"Terus Lo bohong dong sama pak Rizky, bilangnya habis nganterin pacar belanja."


"Siapa yang bohong, orang bener kok."


"Siapa pacar Lo?"


"Ada deh, pokonya dia cantik dan manis."


Rav tersenyum-senyum membayangkan wajah Zahra.


Brak!


"Rav!"


"I--iya, pak. Ini juga nyimak."


Ammar cekikikan melihat Rav dibentak pak Rizky.


"Gak usah ketawa!" Rav menatap tajam Ammar.


"Sorry-sorry."


...****************...


"Permisi, mas. Pernah lihat gadis ini?"


Faisal dan Diana terus mencari keberadaan Zahra, mereka menanyakan setiap orang yang mungkin pernah melihat Zahra di sekitar sini.


"Waduh, saya gak pernah lihat."


"Oh, makasih."


"Mbak sama mas nya, pernah lihat gadis ini?"


"Enggak, Bu."


"Makasih, ya."


"Gimana, Din. Apa ada informasi?"


"Gak ada mas, aku udah tanya orang-orang tapi gak ada yang tau. Mungkin karena Zahra jarang keluar rumah, dan ketemu orang banyak jadinya gak banyak orang yang tau."


"Yaudah, kita cari ke sana."

__ADS_1


"Iya."


Kenapa mereka tidak lapor polisi padahal ini sudah dua kali 24 jam? Itu karena Faisal dan Diana ingin berusaha sendiri lebih dulu, jika dalam seminggu tidak ada perkembangan baru mereka akan lapor polisi atas kasus hilangnya Zahra.


'Di mana kamu Nak?' Faisal menatap sendu foto Zahra yang dia bawa untuk mencari keberadaan sang anak.


Zahra menatap dirinya sendiri di cermin. "Aku kangen papa," ujarnya lirih.


"Tapi kayanya papa enggak kangen sama aku, buktinya papa gak cari aku."


Zahra mengira kedua orang tuanya memang benar-benar tidak menyayanginya karena tidak mencari keberadaannya, tapi sebetulnya mereka sedang mencari keberadaan dirinya.


Jika Zahra tau yang sebenarnya dia pasti tidak akan sedih.


"Apa kalian sebegitu tidak sukanya dengan kehadiran aku?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ini sudah hari ke-5, tapi Faisal dan Diana tidak juga menemukan informasi tentang Zahra. Mereka terus mencari ke sana-kemari, tapi tak juga mendapatkan hasil.


Bahkan mereka juga sudah menyebar foto Zahra di sosial media, mereka juga mencetak foto Zahra dengan tulisan 'Orang hilang' dan menempelkannya di poster-poster pinggir jalan.


"Mas, kita harus cari Zahra ke mana lagi?"


"Aku juga gak tau, kita udah lakuin semua cara buat nemuin Zahra. Tapi masih belum ada hasilnya."


Saat mereka tengah beristirahat, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tempat di depan keduanya.


"Mobil siapa, mas?"


"Aku juga kurang tau."


Keluarlah seorang wanita cantik dari dalam mobil, walaupun usianya sudah 'tak lagi muda. Tapi wajahnya masih terlihat segar.


"Mas Faisal!" panggilnya.


Faisal bangkit dari duduknya. "Annisa."


"Apa kabar, mas?"


"Ba--baik, ka--kamu sendiri gimana kabarnya?"


"Iya, saya Diana istrinya mas Faisal."


"Annisa kamu ngapain di sini?"


"Ini loh aku datang ke sini mau ketemu Zahra. Pas aku datang ke rumah kata orang rumah kalian lagi keluar, akhirnya aku mutusin buat kembali lagi besok. Taunya kita ketemu di jalan."


"Kamu mau ketemu Zahra?"


"Iya, mas. Satu tahun setelah kita pisah aku menikah dengan seorang pengusaha. Setelah kami nikah suami aku ngajak aku tinggal di luar kota. Jadi, aku gak sempet buat bawa Zahra. Karena aku pikir aku gak lama tinggal di sana, dan pas aku pulang lagi ke sini aku mau ajak Zahra tinggal sama aku."


"Oh gitu."


"Jadi gimana, mas. Apa aku bisa ketemu Zahra?"


"Annisa, i--itu ...."


"Itu apa mas? Aku tau mas pasti keberatan kalau aku ajak Zahra tinggal sama aku, tapi nanti setelah aku ketemu Zahra kita tanya baik-baik sama dia. Mau ikut sama aku atau tetap tinggal sama kamu."


"Bukan itu maksudnya, masalahnya ...."


"Sarang hilang udah hampir satu minggu," jawab Diana.


Deg.


"Apa!"


"I--iya, Annisa. Sekarang ini kami lagi cari dia."


"Kenapa Zahra bisa hilang?"


"Jadi ...."


Rav menatap kosong ke arah taman yang ada di dekat kampusnya, dia tengah memikirkan soal foto Zahra yang tersebar di sosial media. Dia takut jika orang tua Zahra tau keberadaan Zahra. Maka, mereka akan membawa paksa Zahra


Kenapa Rav berpikir seperti itu? Karena dia tidak mengetahui yang sebenarnya, dia hanya tau kalau kedua orang tua Zahra itu jahat.

__ADS_1


"Lo lagi kenapa?" Ammar menepuk pundak Rav.


"Hah? Gak kenapa-kenapa."


"Gak kenapa-kenapa gimana, muka Lo kaya orang lagi mikirin sesuatu gitu."


"Lo tau, kan soal Zahra cewek yang pernah gue ceritain?"


"Iya, terus?"


"Gue lihat orang tuanya sebar foto Zahra di sosial media."


"Lah bagus dong. Itu, artinya kedua orang tua Zahra perduli sama Zahra.


"Bukan itu, gue cuma takut mereka nyakitin Zahra lagi kaya waktu itu."


"Iya, juga. Sih."


Rav memang sudah menceritakan semuanya tentang Zahra, Ammar pun tau betul kenapa temannya ini begitu khawatir jika Zahra kembali ke keluarganya.


"Terus sekarang gue harus gimana?" tanya Rav.


"Zahra tau kalau orang tuanya lagi cari dia?"


"Kayanya sih nggak, soalnya dia biasa-biasa aja."


"Bagus, selama Zahra gak tau kalau orang tuanya lagi cari dia. Biarin aja, daripada nanti dia minta pulang ke rumah orang tuanya. Terus diperlukan seperti yang Lo takutkan, kan bahaya."


"Nanti kalau orang tuanya Zahra tau gue tau di mana keberadaan Zahra, tapi gak kasih tau mereka. Nanti yang ada mereka laporin gue ke polisi atas tuduhan penculikan, gimana?"


"Nah, kalau kaya gitu yaudah Lo kasih tau aja kalau Zahra ada di rumah Lo."


Tak!


Rav menyentil dahi Ammar. "Lo ngasih solusi plin-plan banget. Tadi, Lo bilang jangan dikasih tau. Terus Lo bilang lagi harus dikasih tau, sebenarnya mau Lo apa sih?!" kesal Rav.


"Ya, kan gue cuma mau kasih solusi terbaik."


"Lo bukan ngasih solusi, malah bikin gue tambah pusing."


"Lo pusing gue juga."


"Pusing kenapa, Lo?"


"Mikirin mata kuliah."


"Makanya kalau sampai rumah Lo belajar, bukanya main game."


"Gimana lagi, orang game itu istri pertama gue yang harus sering-sering disentuh."


"Istri kedua Lo?"


"Nanti manusia. Kalau gue udah nikah."


"Dasar Agus!"


"Makasih."


"Kok makasih?"


"Ya Lo bilang gue Agus. Nama Agus, kan kebalikan dari Suga BTS." Ammar berkacak pinggang bangga.


"Idih! Emang susah ya punya temen army kaya Lo."


"Biarin."


"Ayang Yoongi ah Yoongi Marry Me."


"Woy nyebut! Dia laki."


"Oh iya, hehehe."


Rav menepuk keningnya sendiri, memiliki teman seperti Ammar ini memang butuh mental yang kuat.


BERTEMBUNG...


Note: pasti ada yang nanya gini "Author army, ya!"

__ADS_1


"Author fans nya BTS, ya?" Jawabnya adalah Iyah Author garis keras Yoongi Marry Me.


Dan lain sebagainya. Jadi, gini ... Panjang ceritanya ....


__ADS_2