Kesayangan Tuan Rav

Kesayangan Tuan Rav
Part 5


__ADS_3

Faisal—ayahnya Zahra, dia menatap sendu foto Zahra yang tengah tersenyum bersamanya.


"Di mana kamu, Nak? Maafkan Ayah. Ayah gagal menjaga kamu."


"Annisa, maafin aku. Aku gagal jagain anak kita, dia sekarang pergi dari rumah karena kesalahan aku. Maafkan aku," lirih ayahnya Annisa.


Diana yang mendengar itu menatap tajam suaminya. "Apa! Jadi, Zahra itu anak kandung kamu mas?"


Faisal terperanjat. "I--itu ...."


"Itu apa? Sekarang kamu jujur sama aku, Zahra itu anak kamu atau bukan?!"


"Iya, Zahra anak kandung aku bersama Annisa!"


Deg.


Diana menatap tak percaya suaminya. Jadi, selama ini dirinya dibohongi?


Sebenarnya sebelum menikah dengan Diana, Faisal adalah seorang duda. Beberapa bulan setelah menikah dengan Diana, Annisa datang menemui Faisal dia memberitahu bahwa satu Minggu setelah Faisal dan Annisa cerai dirinya hamil. Dia datang sambil menggendong seorang bayi perempuan yang baru lahir, Faisal pun sangat syok. Kalau tau Annisa sedang hamil saat itu, sudah pasti dirinya tidak akan menceraikan Annisa, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur.


Akhirnya dengan berat hati Faisal memutuskan untuk merawat Zahra anaknya bersama Diana dengan dalih anak angkat. Annisa sempat tidak setuju, tapi dirinya juga tidak bisa merawat Zahra karena kebutuhan ekonomi yang sulit setelah bercerai dengan Faisal saat itu.


"Tapi kenapa kamu bilang kamu menemukan Zahra di depan rumah, mas?"


"Pada saat itu, aku gak berani jujur sama kamu. Aku takut kamu akan marah, pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak menceritakan yang sebenarnya."


"Pantas selama Zahra tinggal di sini. Kamu seperti sayang banget sama dia, wajah kalian pun terlihat mirip ... memang aku yang bodoh di sini. Aku percaya begitu aja."


"Diana, aku minta maaf ... aku gak tau gimana caranya buat jujur sama kamu saat itu, maafkan aku."


"Zahra tau kamu Ayah kandungnya?"


Faisal menggeleng. "Kalau kamu jujur dari awal, aku juga pasti akan sayang sama Zahra. Gimanapun dia anak kamu, anak dari orang yang aku cinta ... aku juga pasti gak akan memperlakukan dia sebagai orang asing, mas."


"Iya, Diana. Memang aku yang salah."


"Sekarang kita harus cari Zahra."


"Aku setuju, kita minta maaf sama dia."

__ADS_1


...----------------...


"Kita pulang aja, Rav. Bajunya udah cukup kok." Zahra merasa tidak enak jika membeli baju terlalu banyak, sejak tadi Rav begitu bersemangat memilih pakaian untuk Zahra.


"Kamu yakin? Padahal masih banyak loh yang bagus-bagus," ujarnya terus melirik ke sana-kemari.


"Iya, lagian aku juga gak terlalu sering gonta-ganti pakaian. Aku kalau nyaman sama beberapa baju aku bakal lebih sering pakai baju itu."


"Yaudah deh, padahal aku masih pengen beliin kamu."


Pada akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, karena Rav juga harus pergi ke kampus. Karena jadwal ngampus Rav adalah siang.


"Rav!" panggil seseorang.


"Hai."


"Kamu ngapain di sini?"


"Ini aku abis beli baju buat Zahra," jawab Rav melirik Zahra yang tersenyum manis ke arah wanita yang berbicara dengan Rav.


Wanita itu menatap jutek Zahra. "Emangnya dia siapa kamu, kok. Sampai dibeliin baju segala?"


Rav menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Dia ini siapa Rav?"


"Ak---" belum sempat Zahra menjawab Rav lebih dulu memotong.


"Dia ini calon istri aku."


Zahra dan wanita tadi dibuat melongo tak percaya. "Ka--kamu serius dia ini calon istri kamu?"


"Iya."


"Oh."


"Kalau gitu kita pergi dulu, ya. Soalnya gue juga mau ngampus, sampai ketemu di kampus ... yuk Sayang."


"I--iya."

__ADS_1


Wanita itu menatap tidak percaya, ternyata wanita kampungan itu calon istri Rav. Sudah pasti Rav dijodohin sama orang tuanya, gak mungkin Rav mau sama cewek kelas rendahan. Pikir wanita itu yang bernama Alice.


...----------------...


"Maaf, ya. Aku bilang sama dia kamu calon istri aku."


"Iya, gak apa-apa ... tapi kenapa kamu bilang aku calon kamu?"


"Dia Alice, bisa dibilang dia suka sama aku. Dia selalu berusaha buat deket sama aku, tapi akunya selalu ngehindar."


"Kenapa? Dia, 'kan cantik."


"Dia emang jadi primadona di kampus, tapi aku gak suka sama dia. Dia itu terlalu jual mahal."


"Emang kamu suka cewek itu yang gimana?"


"Yang pasti, baik, ramah, sopan, manis, cantik, pintar masak, bikin aku nyaman pastinya."


"Emang ada, ya. Cewek kayak gitu?"


"Ada dong."


"Siapa?"


Rav mengehentikan mobilnya, lalu menghadap Zahra dengan tatapan yang membuat jantung Zahra serasa ingin lepas.


"Orang itu adalah, kamu."


Deg.


Zahra memalingkan wajahnya yang bersemu merah, sedangkan Rav dia justru terkekeh.


"Jangan bercanda." Zahra mendorong Rav menjauh dari hadapannya.


"Serius, kamu mau gak kalau nikah sama aku?"


"Hah?!"


BERTEMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2